Lihatlah, ini adalah diriku yang lain.
Saat mentari menyengat sampai pori-pori, aku mengais sisa uang dari kerja hari ini.
"Tak apa, aku lebih beruntung dari mereka." Ucapku melirik sesorang yang tengah memegang gayung di pinggir jalan itu.
Segera ku langkahkan kaki meninggalkan toko tempatku membeli roti. Ini sudah malam, setelah bekerja seharian tentu aku perlu memejamkan mataku sebentar.
"Aku pulang." Ucapku pada rumah yang sudah ku tinggali sejak kecil, gadis imut ini akan selalu pulang dalam keadaan ceria.
Lebih tepatnya, berpura-pura ceria.
Seperti biasa aku membersihkan diri sebelum tidur, aku hanya tinggal seorang diri setelah orang-orang membuangku.
Sejak kematian ayah dan ibuku, tidak ada satupun dari keluarga mereka yang ingin menampung dan mengurus diriku.
Aku sudah besar, aku mampu mengurus dirku sendiri. Setiap hari ku rapalkan mantra itu untuk menguatkan hatiku, aku harus bisa hidup di situasi apapun.
Aku mendengar seseorang tengah berbincang, segera ku intip dari jendelaku sembari mendengarkan perbincangan itu.
Sungguh menyenangkan melihat sekumpulan orang-orang itu tertawa sembari saling merangkul, Terlihat dari pakaiannya mereka adalah orang-orang yang berkecukupan.
Aku selalu bertanya, kenapa tuhan tidak memberikanku kesempatan untuk merasakan hidup layaknya orang lain?
Apa aku pernah melakukan dosa besar?
Apa orang seperti mereka tidak pernah melakukan kesalahan sehingga tuhan memakmurkan?
Lihatlah aku, setiap hari bekerja sampai malam. Anak yang seharusnya belajar malah sibuk mengais uang.
Saat semua anak gadis pergi memakai seragam, aku sendiri pergi untuk bertarung melawan kesengsaraan.
Sesekali ku tatap foto ayah dan ibu, mereka tampak tersenyum saat merangkul diriku waktu itu. Tuhan mengambil mereka karena tuhan sayang, apa tuhan tidak menyayangiku?
Aku memilih melangkahkan kakiku keluar rumah, ku tatap beberapa bintang yang menghiasi langit. Mereka sebenarnya besar, kenapa terlihat lebih kecil dari bulan?
Tuhan aku tau, hidup adalah pemberian darimu. Tapi bolehkah aku sedikit serakah? Aku menginginkan kehangatan rumah atau rasanya memiliki jutaan uang.
Aku melihat orang-oarng tadi semakin menjauh dan lenyap dalam gelap.
Davina Safitri, apa nama itu kesialan?
Berulang kali aku menenangkan hatiku yang runtuh, berjuta kali menelan pahitnya bertahan dengan kukuh.
Selalu aku singkirkan pemikiran aneh dan pertanyaan yang tidak ku miliki jawabannya. tapi sebanyak aku melupakan, sebanyak itu pula aku mengingatnya.
Aku tertenduk luruh, angin meniup kencang di sela-sela poniku.
Meski berungkali patah, percayalah aku tidak pernah menyerah.
Tapi kenapa? Jika malam bisa berganti siang, kenaapa malamku selalu kelam?
Meski di hunjami ratusan perih ribuan kali, aku tak pernah meminta mati.
Kau tau kenapa? Sebab jiwaku telah lama pergi.
Bagiku, kamatian bukanlah berhentinya nafas di raga kita. Tapi perpisahan antara raga dan jiwa adalah kematian yang sempurna.
Aku hanya menjalani sesuai aturan dunia, aku tidak mau lagi terikat ataupun di tipu lagi ke dalamnya.
Sebanyak apapun air mataku mengalir, tetap saja tidak akan ada yang mendengarnya.
Aku sendirian, aku kesepian.
Biarkan rasa ini menemani sampai langit membelah dirinya.
Sampai bumi kehilangan keseimbangannya.
Aku tidak perduli.
Hanya aku yang mampu melihat diriku yang mati di sudut jalan ini.
.
.
.
.
.
. Ayo budayakan like setelah baca. dan berikan komentar kalian🙏