"Oh, ternyata kamu. Ada perlu apa kau datang ke sini? Ku kira kamu sudah bahagia dengan si dia.."
=•=•=•=•=•
'Wibu' adalah julukan yang biasa tersemat pada diriku. Wibu tanpa kata akut, aku lebih menyukainya. Alasanku menjadi wibu? Jawabanku adalah untuk dapat melupakan si dia.
Si dia siapa yang aku maksud? Dia adalah mantan kekasihku. Orang yang kurang ajar karena telah memporak-porandakan perasaanku yang sebelumnya baik-baik saja. Begitu teganya dia menyebutku 'Gadis wibu akut' di depan umum dan juga kekasih barunya. Belum juga dia memutuskan hubungan, dia sudah punya pacar baru tanpa sepengetahuanku.
Kalau dilihat dari perilakunya, pacar baru dia adalah orang yang sombong. Waktu itu, dia sempat menatapku dengan tatapan nyalang nan merendahkan.
Aku benar-benar marah dan kesal padanya. Salah satu kesalahan yang belum dapat aku maafkan sampai saat ini. Dan yang paling menghujam perasaanku, di saat aku tak sengaja menginjak kakinya saat mengantre di kantin. Dia menganggap aku sengaja melakukannya, dan kemudian meminta mantanku untuk memapahnya dengan alasan kakinya sakit. Belum lagi, mantan kekasihku itu malah ikut memaki diriku dengan kata-kata kasar dan mempermalukan aku di depan umum. Miris? Bukan, bagiku itu pengalaman menjijikkan. Dia terlalu lebay, dan si mantan bersumbu pendek yang mudah tersulut emosi.
Kukira dia orang yang setia. Tapi ternyata aku telah tertipu dengan janji dan kata-kata manisnya.
"Kalau kamu bisa menang kompetisi, nanti ku ajak kamu nonton anime di bioskop."
"Setelah kamu naik kelas, nanti ku traktir makan es krim sepuasnya."
"Kalau aku sudah sukses, nanti ku ajak kamu liburan ke Jepang. Lihat bunga sakura."
Apa yang kamu katakan hanyalah kebohongan. Aku sudah memenangkan kompetisi, tapi kamu malah membatalkan janjimu dengan alasan tak jelas yang terucap dari mulutmu.
Saat aku sudah naik kelas, bahkan dengan mendapat gelar juara umum sekalipun, kamu juga berbohong. Kami memang sudah berada di mall saat itu. Tapi kamu malah langsung mengajak pulang saat belum sepuluh menit berada di sana. Alasanmu, "orang tuaku akan berangkat bekerja, aku harus menjaga adikku". Menyebalkan, kalau begitu kenapa tadi kau tidak sekalian mengajak adikmu? Sekalian juga untuk mengenalkan aku pada keluargamu.
Aku sudah bersusah-payah berjuang untuk dapat lebih dekat denganmu. Aku sudah belajar mati-matian supaya dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Tapi, ini yang kudapatkan. Memang yang kudapatkan setelah bersama dengannya membawa dampak positif, antara lain aku jadi lebih suka belajar, menghargai waktu, dan bekerja keras sehingga aku bisa mewujudkan cita-citaku saat ini. Yakni menjadi komikus sukses. Dan sebentar lagi, karya-karyaku akan diadaptasi menjadi anime sungguhan.
Tapi, di balik kesuksesanku itu, aku telah membuat kesalahan besar. Yakni pernah kepincut denganmu.
Wajah dan senyumanmu yang bagaikan topeng dan menyimpan seribu kebencian dan kesombongan. Lidahmu yang berbisa dan bagaikan belati, mampu menusuk hingga ke dasar hati. Tubuhmu sudah kotor dan ternoda, akibat dikotori oleh wanita yang telah merebutmu dariku.
Jika sebelumnya, aku tak berani menyentuhmu, kami hanya berbicara jika ada waktu luang dan jika ada perlu.
Mungkin karena kamu yang punya terlalu banyak waktu luang, kamu jadi bosan denganku. Iya kan?
Aku pun memutuskan untuk meninggalkan dirimu, dan berusaha move on. Aku membutuhkan waktu dua tahun untuk dapat melupakan kamu, dan jadilah aku yang sekarang.
Aku si gadis wibu, dengan belasan husbu dari berbagai anime. Berimajinasi adalah kehidupanku, menggambar adalah hobiku, komikus adalah pekerjaan sampingan ku, dan aslinya aku hanyalah gadis yang masih kuliah.
Saat ini, adalah hari liburku, weekend adalah saat yang paling aku tunggu-tunggu.
Sebab saat weekend, aku bisa melakukan apapun dalam ruanganku. Aku hanya tinggal di sebuah ruangan kost yang sederhana. Aku ingin menabung untuk masa depanku nanti. Menghemat.
Kala itu, aku asyik menonton anime di salah satu aplikasi di laptop yang aku gunakan. Weekend aku mengisinya dengan streaming anime, tidak ada yang lain. Sabtu Minggu juga jadwalku libur bekerja. Yah meskipun aku juga masih bisa untuk merombak dan memperbaiki gambar-gambar di komik buatanku. Tapi, aku sedang malas gerak untuk saat ini. Aku hanya rebahan sembari melihat bagaimana husbu-ku beraksi. Xixixi..
"Gomen Shi-chan.. Hontou ni.. Arigatou.."
"Onii-chan!!! Hiks.."
"Jangan, jangan! Jangan mati.. hiks.. Tolong jangan mati dulu.." ucapku sembari memejamkan mataku menahan tangis.
Bagiku, itu adalah adegan paling mengharukan. Ini season keduanya, yang baru rilis beberapa hari yang lalu. Aku memang biasa seperti itu, menangis saat melihat adegan mengharukan pada beberapa film anime. Aku memang lebih suka yang sad ending daripada happy ending. Pernah saat itu ibuku memergokiku sedang menangis saat melihat adegan di anime.
Maka dari itu, komik buatanku selalu bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Dibuat geram, dibuat sedih, dan akhirnya nanti dibuat tertawa, tapi endingnya tidaklah bagus. Pada komik buatanku yang pertama, kubilang itu komik yang gagal karena endingnya menggantung dan kurang berkesan. Lalu aku membuat komik lagi yang lebih bagus.
Hah.. Mungkin beginilah kehidupan sebagian besar para komikus. Tapi, tidak tau juga sih, pasti ada orang lain yang lebih baik daripada aku. Ya, itu sudah tentu.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu ruanganku yang diketuk. Mengganggu saja, orang lagi menikmati weekend, dia malah datang.
Dengan langkah malas, aku berjalan ke arah pintu. "Siapaaa?" tanyaku sebelum membuka pintu.
Cklek! Krieeet..
Pintu telah terbuka, menampilkan seorang laki-laki tiga tahun lebih tua dariku berdiri di depan ruanganku. Berpostur tinggi, berkulit putih, dan wajah yang tirus.
"Oh, ternyata kamu. Ada perlu apa kau datang ke sini? Ku kira kamu sudah bahagia dengan si dia.." ucapku sembari memberinya tatapan datar, seolah tidak saling mengenal.
Aku melipat tanganku, sembari menyandarkan tubuhku pada pintu yang terbuka tak terlalu lebar.
"Aku.. Aku sudah berpisah dengannya.. Aku benar-benar minta maaf padamu." ucapnya sembari menundukkan kepalanya. Aku masih belum mengubah posisiku.
"Ooh. Lalu apa peduliku? Kamu kan bukan siapa-siapaku." balasku sembari sedikit mengalihkan pandanganku.
"Aku tau kamu masih belum bisa memaafkan aku. Aku memang sudah keterlaluan sama kamu. Oh iya, sekarang kamu jadi komikus ya?" tanyanya dengan sedikit keraguan yang terpancar dari sorot matanya.
"Kalau iya kenapa? Bukankah kamu tidak suka hal-hal berbau manga?" tanyaku acuh. Malas sekali aku meladeninya, membuang waktu saja. Husbu-ku sudah menunggu, tau?
"Tapi itu dulu. Sekarang aku bukanlah aku yang dulu lagi. Aku sudah berubah." ucapnya dengan sedikit rasa percaya diri. Aku masih menatapnya datar.
"Langsung katakan saja apa maumu. Aku masih ada perlu." balasku. Aku ingin dia tidak banyak basa-basi.
"Kalau boleh tau, apakah kamu masih single? Atau kamu sudah punya pacar?"
"Hah, sejak putus denganmu, kau pikir aku langsung single begitu saja? Aku sudah punya pacar, tau? Ada empat belas.." ucapku, aku ingin memanas-manasi dirinya, meskipun kupikir hal itu tak akan berguna.
"Empat belas? Apakah mereka dua dimensi?"
"Yah, tertawalah! Tertawalah yang keras!" ucapku penuh penekanan. Sudah pasti dia akan tertawa mengetahui hal itu. Dua dimensi tidaklah sama dengan tiga dimensi.
Dan saat itu pula, aku langsung masuk ke kembali ke ruanganku, tapi dia langsung memelukku dari belakang.
"Ish! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" ucapku memberontak untuk melepaskan diri. Dan kini, aku telah bebas, aku berdiri berhadapan dengannya.
"Apa.. kau masih mencintaiku?" tanyanya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Aku mencintaimu, tapi itu dulu. Pergilah!" ucapku penuh penekanan pada kata terakhir. Aku sudah muak dengan semua yang berurusan dengannya.
"Aku benar-benar minta maaf soal yang dulu, jadi sekarang.. Ayo balikan." ajaknya. Aneh sekali. Tiba-tiba mengajak balikan. Mungkin..
Ah iya! Bagaimana aku bisa lupa?! Apa karena dia melihat punyaku yang sudah tidak rata lagi? Dan juga penampilanku saat ini sangat berbeda dari biasanya. Saat ini aku hanya mengenakan t-shirt putih polos yang pendek, serta celana berbahan jeans yang hanya menutupi seperempat kakiku. Haaaaa!
Tapi, bukan itu sekarang. Kenapa tiba-tiba mengajak balikan? Dan semudah itukah dia mengucapkan kata 'maaf'?
"Hmm.. Kenapa tiba-tiba kau mengajak balikan? Kau pikir aku akan langsung percaya padamu, setelah kau sukses menghancurkan perasaanku, hah?" tanyaku lagi, aku tidak ingin jadi orang yang lemah. Aku tidak mau tersiksa lagi hanya karena ucapan dan janji yang terucap olehmu.
"Ternyata dia bukan orang yang setia. Diam-diam dia mencari pacar simpanan hanya karena dia tak punya uang. Aku memang belum jadi orang sukses, tapi setidaknya dia mau bertahan sampai aku sukses nanti.." ucapnya sembari menundukkan kepalanya.
"Sebaiknya kau mengaca. Kau pikir, tidak ada hati yang sakit setelah ditinggalkan begitu saja?" tanyaku, aku ingin dia segera sadar dengan apa yang telah dia lakukan padaku.
"Iya, aku benar-benar minta maaf. Sekarang aku tau perasaanmu. Jadi, kamu mau balikan sama aku?"
"Kamu bekas, dan aku tak suka barang bekas."
"Hmm kamu pun bekas. Kamu bekasku dulu, dan tidak salah kan menggunakan barang bekas?" ucapnya membalikkan kata-kataku. Wajahku merah padam, aku benar-benar marah. Dia datang hanya untuk membuatku marah dan merusak moodku?!
"Ooh, ketahuan deh maksudmu. Kamu cuma mau menggunakan aku, iya kan? Kamu kira aku bodoh? Kamu kira aku masih lemah seperti dulu? Kamu kira aku mau kamu permainkan? Dulu aku pernah kepincut denganmu, dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Camkan itu!" ucapku dengan tegas. Meskipun perasaanku kembali sakit, tapi aku akan berusaha kuat. Aku bukan orang yang lemah!
"Jadi.. kamu udah tolak aku?" tanyanya ragu. Dia memang kebanyakan basa-basi.
"Haih.. Sudah jelas, masih bertanya.. Kenapa kamu jadi bodoh begitu sih? Apakah IQ-mu anjlok? Hah, mungkin karena itu, kamu jadi dipermainkan sama dia. Dia mengira kalau kamu itu nggak selevel sama dia, makanya dia cari simpanan lain. Hah, sudahlah. Aku capek berdiri lama-lama."
Ucapku mengakhiri perdebatan sembari menutup pintu tanpa menyuruhnya masuk. Mungkin aku ini tidak sopan, tapi aku hanya sedang menahan emosiku. Aku bisa saja memperburuk suasana dengan membalas kata-kata kasarnya yang pernah dia ucapkan padaku, tapi aku masih mempunyai adab. Aku masih punya etika. Aku masih bisa mengontrol emosiku.
Dan begitulah akhir dari cerita ini. Janganlah kamu jadi pengkhianat kalau tidak mau dikhianati. Jangan pula menyakiti hati seorang wanita.
Karena, yah kalian pasti tau alasannya.
-Tamat-
=•=•=•=•
Mampir yuk ke cs Nino. Salam dari SeiMi^^
Btw terima kasih sudah membaca cerpen Nino ya! Jangan lupa tinggalkan like dan komen nya..