CIUMAN MALAM
DAY 20 / 8 NOVEMBER
Ih… ciuman malam yang sangat mengena. Hangatnya terasa sampai ke ubun-ubun. Dan desahnya menggema hingga relung batin terdalam.
Pada malam itu kita bertemu. Pada suatu tempat sepi, selepas menonton film. Adegan yang sangat romantis. Hingga terhanyut pada satu kenangan tak terlupakan. Memang, terkadang apa yang tak ada bisa berakibat demikian. Suka atau tidak. Senang atau hanya isapan jempol semata. Yang senang akan merasa ikut larut di dalamnya. Namun yang tak suka akan membiarkan semua berlalu. Lalu terdiam. Untuk dibiarkan lepas. Dan lelap dalam sepinya. Tapi kali ini, itu yang dirasa. Satu keindahan. Mungkin bukan karena ceritanya. Tapi karena aku dan dia. Bisa bersama, saling menemani. Dan membuyarkan apa yang di keluh kesah kan sebelumnya. Serta meniti harapan untuk langkah ke depan. Walaupun kali ini kisahnya memang apik. Seindah para pemerannya yang memang menjadi ukuran para remaja. Untuk mengikutinya. Dandanan, gaya, ala juga tingkah lakunya. Itu sangat diinginkan. Sehingga tak jarang akan di temui. Di jalan-jalan atau pada sebuah keramaian. Gaya yang dia pola kan. Untuk terus mengikutinya. Walau akan habis. Seiring waktu, dan bersama dengan kebosanan di akhirnya. Hanya lama atau singkatnya sebuah kesukaan, tak bisa diukur. Untuk membiarkan hilang, dan muncul kembali.
Barulah terasa setelahnya acara manis itu. Saat kita berpisah.
Satu perpisahan yang sungguh menyebalkan. Mestilah terjadi. Atau memang harus terjadi. Ketika ada yang mengatakan jika, ada pertemuan, maka ada perpisahan. Pertemuan indah dan menyesali perpisahannya. Perpisahan selebihnya satu kata menyedihkan.pelepasan mungkin lain. Yang mengantar pada satu tujuan pasti yang lebih membahagiakan. Dan perpisahan itu merupakan waktu, dimana akan menuju pada jalan lebih indah, atau bukan satu kepastian, serta meninggalkan satu kesan. Ini yang membuat orang merasa teriris. Merintih pedih untuk apa yang dirasakan.
Seminggu sudah sejak kejadian itu. Aku berharap ada pertemuan lagi. Lagi. Lagi dan lagi. Harapannya. Tak hanya sekali saja. Mesti terulang untuk selanjutnya. Hingga sampai akhir. Sebab keinginan ini kiranya sejalan dengan apa yang sudah menjadi sebuah kewajaran. Pada satu awal, mesti ada tahapan yang mengikutinya. Untuk bisa ke langkah-langkah berikut. Dan menyenangkan batin - batin yang masih mengharap untuk satu keindahan nya.
Tapi tak pernah kutemui.
Sekali, dua kali.
Janji terabaikan.
Lupa.
Ataukah memang sengaja hendak melupakan nya?
Memang manusia terkadang lali akan apa yang sudah diucapkan. Dan hanya satu kata maaf untuk akhirnya. Yang bisa diterima atau tidak. Tapi itu satu yang sungguh tak mengenakkan. Hanya sedikit menentramkan. Sehingga kata tersebut biasa dipahami untuk bisa dimengerti. Serta membiarkan yang sudah terjadi biarlah lenyap. Seiring dengan ucapan kata menyejukkan tadi. Hanya kenyataan yang berikutnya bicara. Apakah sungguh-sungguh. Atau biarlah segalanya terabaikan. Atau memang sekedar ucapan manis di bibir belaka. Itu yang kemudian menjadi satu peristiwa penting tak penting lagi. Yang mestinya indah jadi terlupa. Dan yang harusnya engkau dan aku, kini buyar. Hanya untuk mendengarkan kata maaf. Mesti tak perlu? Atau memang sangat diperlukan?
Hingga pada suatu petang, kala asik menunggu. Hanya satu kabar menyeramkan yang datang.
Dia sudah tiada. Karena sebuah kecelakaan. Yang tak bisa dihindarkan.
Sungguh malang.
Ah ternyata itu ciuman terakhir.
Yang terakhir.