Sewaktu SMA, Lia hanya berpacaran sekali. Boleh dikata juga itulah satu-satunya masa di mana dia merasakan cinta. Merasakan degupan kencang di dadanya tiap bertemu laki-laki yang pernah menyatakan cinta padanya di bawah terik matahari bulan Juni.
Momen itu sampai detik ini pun tak pernah ia lupakan. Kala terpaan angin menyibak rambut panjang Lia. Rambutnya berkibar, mengalir searah arus angin. Lia yang waktu itu tengah duduk rehat setelah berlari jarak 200 meter, didatangi seorang laki-laki berseragam putih-abu, berbeda dengan dirinya yang berseragam olahraga.
"Umm … Lia, kan?" tanya laki-laki itu.
Lia yang merasa asing dengan wajahnya lantas mengangguk dan bertanya. "Benar. Ada apa, ya?"
"Aku gak tahu gimana ngomongnya, tapi … aku … suka kamu … ya, mungkin …."
Tentu saja Lia bingung mendengarnya. Terlebih, laki-laki itu kedengaran seperti ragu-ragu.
Lia pun terkikih-kikih, mengira laki-laki itu sedang dihukum suatu permainan perintah. Namun, Lia tak sampai hati mencampakkannya begitu saja, lantas menanggapi, "Kok 'mungkin'?"
"Soalnya … aku sendiri enggak yakin."
"Jadi?"
"Jadi … mau, gak, kamu jadi pacarku?"
Lia masih menganggap pernyataannya tidak sungguh-sungguh. Karena itulah Lia masih sanggup menyunggingkan senyum tawar.
"Nama kamu?" tanya Lia alih-alih menjawab.
"Ah, iya, maaf belum kasih tahu. Namaku Dika."
"Dika, ya? Kamu lagi dihukum permainan perintah?"
"Eh? Enggak, aku gak lagi main apa-apa." Dika lalu berjongkok di sebelah Lia. "Aku … serius."
Mau Dika berkata dia serius pun, Lia yang sempat mendengar kata "mungkin" ketika Dika menyatakan perasaannya, Lia tidak bisa menganggapnya benar-benar serius.
"Apa yang bikin kamu mikir aku bakal terima kamu? Toh, aku sendiri baru banget kenal kamu," kelit Lia dengan senyum tawarnya.
"B-Benar juga, sih."
Dika mengerut. Kepalanya dibenamkan ke sela-sela kaki yang ditekuk. Dia pasti malu.
Lia yang menyadari perangai Dika sekali lagi terkikih-kikih. Jika bukan karena sifat Lia yang hangat, Lia akan segera meninggalkan Dika dengan rasa malu yang akan teringat sampai mati.
"Gapapa, kok," ujar Lia. "Kalau kamu mau jadi pacar aku, aku gak menolak."
"… Eh?"
"Tapi aku enggak paham pacaran itu ngapain aja. Jadi aku ngajuin syarat. Kamu yang harus inisiatif."
Dengan syarat itu, Dika menjadi pacar Lia.
Hari demi hari mereka jadi lebih sering bertemu. Bicara, bersenda gurau, atau jalan-jalan meskipun hanya sebatas di lingkungan sekolah.
Meskipun Dika pacarnya, tidak ada perlakuan khusus diberikan. Lia memperlakukannya setara dengan teman-temannya yang lain. Satu-satunya yang membedakannya adalah waktu saat mereka bersama.
Perlahan, kehangatan bersimbur di sanubari Lia. Semakin ingin dia bersemuka dengan Dika. Semakin ingin mendengar suara Dika. Semakin ingin mencium bau parfumnya Dika. Semakin ingin dia menggenggam tangan Dika. Semakin rindulah dia pada Dika.
Tak pernah terbayang oleh Lia bahwa dia bisa memiliki pacar tiga tahun lamanya, tanpa masalah pelik yang mengancam jalinan kasihnya bercerai-berai.
Namun, seringkali takdir berlaku kejam. Lia diterima di universitas pilihannya, sedangkan Dika tidak. Padahal mereka menargetkan universitas yang sama. Alhasil, mereka harus dipisah jarak.
Satu-satunya yang bisa tetap menghubungkan mereka hanyalah ponsel. Namun, secanggih-canggihnya alat itu pun tidak bisa membendung rasa rindu mereka.
Tahun demi tahun, mereka disibukkan kesibukan masing-masing. Dari yang tadinya hampir setiap malam melakukan panggilan video, sampai sesekalinya saja bertukar pesan singkat.
Hingga pesan terakhir dikirim oleh Dika yang berisi satu kata.
"Maaf."
Mereka pun putus.
Lia sama sekali tidak kecewa. Dia tidak menangis atau susah tidur karena kepikiran. Dia sudah menduga cepat atau lambat akan begini. Dia sudah dewasa dan terlalu sibuk menimba ilmu daripada galau.
Namun, rasa cintanya pada Dika tidak pernah hilang. Mungkin berkurang, tetapi tidak sampai melupakan kenangan-kenangan indah bersamanya. Jika ada sebuah keajaiban di mana dia bisa kembali ke masa-masa SMA, tentu dia ingin kembali, dia ingin masa-masa itu berlangsung selamanya.
Sayangnya, mata Lia kini harus fokus ke depan demi meraih gelar sarjananya. Tidak ada waktu mengenang masa lalu. Belajar, belajar, dan belajar.
Hingga kerja kerasnya pun membuahkan hasil yang memuaskan. Lia lulus dengan nilai-nilai yang baik. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada ini.
Lekas beberapa bulan, Lia diterima kerja. Pembawaannya yang hangat hati sedari dulu selalu membantunya mudah akrab dengan sekitar.
Setahun, dua tahun, tiga tahun. Hidupnya benar-benar stabil di usianya yang menginjak seperempat abad. Meskipun hanya seorang karyawan kantoran, taraf hidup keluarganya ditopang sangat kokoh sampai-sampai adiknya sanggup mendaftar kuliah kedokteran.
Tentu saja Lia bukan tanpa pikir panjang menguliahkan adiknya. Bahkan tidak mungkin jerih payah keluarganya secara keseluruhan bisa menutupi biaya yang selangit itu.
Benar, semua itu karena Lia bersedia menikah dengan anaknya direktur perusahaan tempatnya bekerja.
Perasaannya pada Dika berusaha dia kubur dalam-dalam. Mereka yang sekarang bukanlah remaja lugu yang tak punya beban hidup. Lia sadar akan hal itu. Meskipun hatinya serasa dikoyak-koyak oleh kenyataan yang pahit tersebut.
Jauh di dalam hatinya, dia tidak rela sama sekali.
Bahkan hanya dengan sebuah pesan singkat dari Dika, perasaan yang sudah payah Lia kubur meletup, membeludak seperti air matanya yang kini mengalir deras membasahi pipi.
"Aku pengin kita ketemuan. Bisa, gak?"
Itulah pesan pertama yang diterima Lia setelah beberapa tahun berlalu.
Butuh waktu lama Lia bergelut dengan kebimbangan hatinya sebelum akhirnya membalas pesan Dika.
"Boleh," tulis Lia. "Akhir pekan. Di tempat biasa kita dulu," tambahnya.
Akhir pekan datang lebih cepat dari yang diduga. Lia bingung akan mengenakan pakaian seperti apa setelah lama tak jumpa. Padahal waktu dulu mereka berkencan, Lia tidak peduli pakaian apa yang dikenakannya selama nyaman dipakai.
"Tempat biasa" adalah tempat di mana mereka pertama kali saling bicara. Di pinggiran lapangan sepakbola samping SMA, yang kini sudah dibangun ulang menjadi sebuah tribune tiga tingkat.
Di bawah pohon yang sudah sangat rindang dibanding tujuh tahun terakhir, sesosok pria berkemeja pendek duduk menyandar di tribune tingkat tiga. Menyadari Lia mendekat, pria itu menolehkan kepalanya.
"Lama banget, ya, kita gak ketemu."
Dika mengatakan itu dengan senyum lebar. Lia yang berkehendak keras membendung semua emosinya pun tak mampu menahan air mata merembes di ujung kelopak matanya. Lia mengakuinya. Dia rindu. Rindu serindu-rindunya.
Seperti biasa, tempat itu sepi kala terik mentari memanggang bumi. Hanya satu atau dua kendaraan lewat setiap menitnya, atau bahkan lengang sama sekali.
Di waktu itu, Lia merasa ingin waktu berhenti. Dia ingin seperti ini selama-lamanya. Namun, dunia ini tidak berputar atas kehendak seorang insan. Matahari yang tergelincir hampir menyentuh ufuk. Mereka di sana bergeming tanpa sekalipun berpindah tempat. Hanya dengan obrolan panjang saja sudah mengobati kerinduan Lia.
"Hampir magrib," kata Dika.
"Gak kerasa, ya," sahut Lia.
"Nah, Lia," panggil Dika dengan muka tegang. "Mau balikan?"
Ya! Inginnya Lia menjawab seperti itu. Namun, kali ini ia tidak boleh menuruti kata hatinya.
Adiknya memiliki bakat yang tidak boleh tersia-siakan hanya karena ketidakmampuan keluarganya. Tidak seperti Lia, adiknya benar-benar jenius di tingkat yang berbeda dengan Lia ketika SMA-nya dulu.
Namun, hatinya berteriak ingin memenuhi tawaran Dika. Dia tidak kenal siapa anaknya direktur itu. Bagaimana sifatnya, kebiasaannya. Pokoknya, dia tidak pernah berkesempatan untuk tahu apa-apa calon suaminya selain wajahnya yang tampan dan memiliki suasana yang berwibawa.
Lia bergeming menatap ke langit jingga.
Dika yang sama-sama seorang pegawai kantoran tidak mungkin sanggup. Tidak, sebelum menganggapnya sanggup, pertama-tama apakah Dika bersedia? Itu pun belum pasti.
Ini bukan kondisi di mana Lia terpaksa menengadah ke langit hijau. Menolak lamaran anak direktur tidak serta-merta membuatnya dipecat. Hanya saja ini adalah kesempatan besar yang jarang sekali terjadi di kehidupannya. Lagi pula, Lia tidak bisa membohongi perasaannya.
Apakah aku harus menerima Dika kembali? batin Lia.
Dia selalu saja ragu-ragu. Padahal sejak lama pun sudah dia siapkan jawabannya.
Katakan!
Katakan!
Katakanlah, Lia!
Mengambil napas, Lia menatap Dika lekat-lekat.
"… Maaf."
Sama seperti pesan terakhir Dika waktu itu, Lia menjawab dengan satu kata.
* * * * * *
Jujur, pertama kalinya saya nulis cerita bucin kayak gini. Kemampuan saya sebenarnya ada di tema detektif. Namun, tepat saat aku tahu di sini diadakan, tema itu ternyata sudah berakhir. Ah, sialan emang.
Dah, lah …