DAY 23 {11 NOVEMBER}
Di Sebelah Mesin Penjual Otomatis di Malam Hari
Aku menunggu. Malam ini. Pada suatu tempat. Dia tengah ada urusan. Dan disini sendiri aku mesti menanti, di sebelah mesin penjual otomatis. Tempat yang sudah kita sepakati untuk menunggu. Kalau pergi, nanti hanya akan berpikiran lain. Kalau pada tempat lain, akan sulit mencari titik temu nya. Kalau mau ikut enggan, mau pulang malas. Karena berpikiran kalau dia hanya sebentar saja melakukan urusannya yang sangat penting, mendesak.
Mesin otomatis sangat sepi. Satu dua orang saja yang butuh. Barangkali karena tak begitu popular. Disini. Tapi kalau di kota sudah umum. Namun pada sebuah tempat yang masih sunyi, akan menjadi benda yang begitu mengherankan. Lalu ada kesan bahwa Mesin otomatis ini benar-benar menyebalkan.
Aku disuruh menunggu. Lama sekali. Ternyata menunggu memang sebuah hal yang tak demikian berarti. Sangat menyiksa. Dan begitu membuat hati nek. Karena lama. Tak juga bisa melakukan yang terbaik. Bahkan untuk urusan di lain tempat akan terganggu.
Ah Semakin bingung rasanya. Apakah dia demikian penting? Sehingga untuk urusan demikian saja sangat lama. Atau memang urusannya yang membutuhkan waktu sangat panjang hingga tak kelar - kelar. Mungkin juga karena rumitnya apa urusan yang dia lakukan kini. Sehingga sangat menyita waktu. Untuk waktu sisa itupun tak bisa diambil.tak bisa memanfaatkan dengan maksimal. Ini jadi hal yang tak mengenakkan, buat semua. Terutama aku. Kini.
Satu dua orang yang datang ke mesin. Langsung masukkan koin. Ambil barang. Lalu pergi. Banyak sekali yang berbuat demikian. Sangat bergembira dia. Sungguh mesin yang asik. Membuat banyak orang bergembira. Dalam satu kemajuan teknologi. Dimana orang tak perlu melihat penjualnya yang terkadang menyebalkan. Juga tak perlu keluar jauh. Hanya untuk satu keinginan sederhana saja. Serta bisa langsung minum, kalau sudah mengambilnya.
Tak seperti diri ini. Sepi. Dengan termangu - mangu di keramaian. Tapi tak bisa berbuat banyak. Karena belum tentu saling kenal. Kalaupun kenal banyak urusan yang mesti di urus. Juga kemungkinan karena memang lagi tidak ingin, makanya segala yang berikutnya ada hanyalah kehampaan saja. Termangu - mangu menunggu yang tak pasti. Bahkan untuk keinginan lekas pulang juga tak kesampaian. Ini mengakibatkan pikiran bertambah tak menentu.
Aku pun mencoba memasukkan koin, dan menanti apa yang keluar. Biasanya sesuai apa yang kita pencet di tombol keinginan. Dan barang keluar seperti yang diminta. Dan pada papan lampu berjalan itu ada keterangan.
“Selamat, anda belum beruntung!”
Tentu aku mangkel.
Daripada bingung aku membuka-buka grup. Disitu banyak tertulis. “Anda dikeluarkan dari grup dengan penuh dendam.” Tambah mangkel saja ini membuatnya. Sudah capek-capek menerima, maka hanya dibuang saja. Ya kalau pas nggak aktif akibat banyak urusan, atau banyak yang mesti dikerjakan di luar mengurusi grup. Kalau Cuma untuk satu kelalaian, maka akan sedikit kecewa. Sehingga hampa, kesal dan amarah, akhirnya muncul.
Ternyata dia lupa. Dan langsung pulang. Padahal dia telah selesai sejal lama. Ketika orang tengah asyik-asyiknya melakukan urusan, lalu lega setelah purna, maka apa yang diingatnya terkadang tak bisa sejalan dengan keinginan. Dan itu membuat berbagai kenyataan akhirnya berkebalikan.
Barulah ingat sesampainya di rumah. Terasa ada suatu yang janggal. Dan itu aku, yang tertinggal di dekat mesin penjual otomatis.