Day 22 (10 November 1945)
PERTUKARAN IDENTITAS
“Alin bagaimana kalau kau jadi aku dan aku jadi kamu,“ ujar Alien.
“Baiklah. Tapi kalau digoreng aku nggak mau lo ya. Takut rasanya nggak enak.“
“Oke. “
Mulai saat itu kebalikannya. Si Alien jadi Alin. Dimana-mana selalu membuat kejutan. Tentu saja setelah semua terkejut.
Membuat kue dengan cepat. Berdandan sangat menor. Menyetir mobil hanya pakai telepati.
Segala sesuatu dibuat dengan menakjubkan. Sehingga teman-temannya merasa aneh dan saling curiga mencurigai.
Ada apa gerangan dengan Alin? Sehingga ada perubahan dalam dirinya.
Itu pertanyaan yang terus berkecamuk dalam diri para teman-temannya. Dan membuat mereka selalu ingin mengikutinya untuk tetap ingin menguak kebenaran dalam diri si Alin.
...............
Sementara Alin yang jadi Alien di pesawat yang serba canggih justru kesulitan.
Mau apa-apa takut salah. Ini mesin beda dengan mobil. Nggak ada setir, nggak ada rem. Semua serba tombol otomatis.
Bahkan terkadang tombol itu tak terpakai. Hanya menggunakan gerakan tangan atau suara saja.
Itu yang membuat semakin bingung. Ingin dia menyanyi, tapi pesawat malah jadi eror. Sebab getaran nya sudah bisa menimbulkan rasa aneh. Bisa-bisa nanti jalan sendiri terus menabrak tiang listrik sampai gelap gulita. Atau justru tercebur ke comberan. Kan bau.
..................................
“Heh Lin sini deh.“
“Ada apa?“
“Sini. Kita makan-makan dulu ya kan?“ ajak teman-temannya. Mereka tengah membeli sesuatu yang sangat bermanfaat. Gurita panggang. Daging itu di potong kecil-kecil. Lalu di tusuk pakai penusuk. Dari jeruji sepeda yang biasa buat jalan jalan ke desa-desa terkucil. Sembari memandang sunset dan sunrise. Dan melihat jembatan merah serta perahu berhenti tapi di naikin. Hanya untuk Selfi. Setelah ditusuk itu, kemudian di panggang diatas api menyala. Sampai matang saja,, tak perlu gosong juga. Baru dilumuri dengan bumbu dan rempah. Di panggang lagi. Kepalanya di tusukkan pada ujung jeruji itu. Jika hanya daging saja murah. Paling dua puluh ribu. Tapi kalau pakai kepala akan jadi dua lima. Lumayan selisih lima ribu bisa untuk makan labi-labi. Nah barulah setelah matang di bakar dengan api pakai gas tabung itu. Lalu dimakan dengan saos dan kecap. Nikmat.
“Apa itu?“
“Biasa, makan gurita panggang kesukaanmu.“
“Wah tak suka aku!“
“Ah masa... ini lo, enak kali.“
“Tidak lah. Muak kali ku tengok.“ Alin tetap tak mau tak.
“Ih... kau tuh aneh ya.“
“Masya.“
Teman-teman jadi sebel sama si Alin.
Masa makanan enak di bilang tidak.
Minuman segar di bilang bikin serak.
Kan aneh.
____________________________________
“Alin sini deh,“ ujar teman-temannya yang melihat Alin yang anggun mendekat.
“Apa?“
“Pintu ini kan terkunci. Mungkin bisa kau buka. Soalnya kau ini sangat aneh,“ kata temannya lagi yang menunjuk pada pintu kuat dari bahan besi yang dilapisi dengan baja anti peluru. Supaya bisa terbuka. Sebab dari tadi enggak terbuka.
“Ya bisa lah.“
Dari jari si Alin keluar sinar lazer yang sangat menyilaukan. Sinar itu menggugat pada tempat kunci di tengah pintu kuat itu. Semuanya menggaris dan memutus kunci pengait tersebut.
Semua menjadi semakin heran. Bilamana si Alin belajar mengelas? Kemarin? Esok lusa? Atau sehari setelah HUT Hapsak. Tak ada jawaban.
,........,.................
“Alin itu ada preman yang mau malak,“ ujar man teman nya lagi. Tentu saja sama si Alin yang lagi sakti. Serta tengah membikin heboh itu.
“Kau bisa usir dia dengan senjata las mu itu kan?“
“Tentu bisa,“ kata si Alin yang Alien. “Lihat aja.“ Segera Alin mengeluarkan jurus mautnya sekaligus mantra-mantra sakti guna mengeluarkan kesaktian yang dia miliki. Walau sebenarnya itu hanya biasa saja di Europa sana. Sebab itu hanya senjata biasa yang biasa di bawa jika bepergian, takut ada preman gurita yang malak di tengah jalan. Nanti dia akan main tembak begitu saja sama si musuh itu.
Sinar lazer segera meluncur dari jemari si Alin. Tentu saja dengan dilambari tenaga dalam yang hebat, dan ajian yang digdaya, maka segalanya sesuai dengan rencana.
“Mak... “ Preman itu menjerit dengan suara nyaring.
“Kan dia lari pontang panting.“
“Haha sambil pegang Berutu. Berutu nya terbakar.".
“Biar kapok dia,“ ujar Alin bangga.
“Haha... padahal dia bukan preman. Dia tuh tukang koran yang tengah selesai mengantar koran. Kebetulan saja tampangnya demikian. Tapi dia baik loh,“ jelas temannya sembari mengekeh.
“Wah keliru ya.“
---------------------------
“Sudah lah. Kita tak cocok ganti peran,“ ujar Alin mengeluh saat si Alien kembali ke rumah nya yang pesawat tapi piring itu.
“Iya aku juga kesulitan.“
“Masa dalam pesawat tak bisa ngapa-ngapain. Hanya masuk botol saja kerjaannya. Kan malas.“
Keduanya bertukar identitas. Lagi.