Aku dibuat bingung dengan tingkahnya. Seakan-akan dia tahu isi hatiku. Apa aku tidak cukup pintar menyembunyikan perasaanku?
Aku menyukainya sejak dulu. Dia sahabatku. Setiap kali aku didekati cowok, aku selalu cerita padanya. Entahlah, mungkin berharap dia cemburu. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, dia malah mendukungku, memberikan saran untuk membuka hati untuk mereka. Agak kesal sih, berasa cinta bertepuk sebelah tangan, meskipun kenyataannya demikian. Kasihan sekali diriku.
Hampir setiap hari kita pulang sekolah bersama. Hari ini dia bilang, akan pulang terlambat karena masih ada urusan, begitu kilahnya. Aku tanya, seperti tak ingin memberi tahu. Ya sudah, mungkin pribadi. Meskipun aku sangat ingin mengetahui.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku langsung menuju halte bus seperti biasa. Ada yang berbeda, kali ini tidak bersama dia. Tidak mengapa. Aku memang bukan siapa-siapa.
Entah mengapa, bus kali ini sangat terlambat menurutku, sudah 30 menit aku menunggu, tapi tak kunjung kelihatan. Atau aku keluar kelas tadi terlalu lama, sehingga terlambat untuk bus yang kunaiki biasanya aku pulang sekolah? Entahlah.
Di sudut gerbang sekolah samar-samar kulihat dia. Ya, dia sahabatku sedang memegang tangan gadis cantik, yang juga merupakan teman seangkatanku. Kenapa mereka berpegangan tangan? Romantis sekali.
Aku tidak bisa mengkondisikan mimik mukaku. Sepertinya hawa panas merasukiku. Aku terbakar cemburu. Mereka berjalan berdua berlawanan arah dengan tempatku berdiri saat ini. Untunglah, dia tidak melihatku dengan kondisi seperti ini.
Tapi apa yang mereka lakukan?
Apa mereka berpacaran?
Kenapa dia tidak pernah bercerita?
Apa aku tidak pernah dia anggap sebagai sahabat?
Apa aku tidak memiliki arti apapun dimatanya?
Aku sedih.
Dan tak berselang lama, bus datang, aku menahan tangisku. Sampai rumah, aku bergegas ke kamar dan menguncinya, aku menangis dalam diam, menumpahkan air mata yang sedari tadi sudah ingin keluar.
Sejak kejadian itu, aku mulai menghindar darinya, bertepatan dengan ujian nasional. Aku juga mengganti nomor ponselku. Alasanku menjauhinya karena aku ingin fokus belajar. Padahal sama sekali tidak, dia selalu mengganggu pikiranku saat ini. Aku selalu merindunya. Mengamati sekilas dan pergi tanpa sepengetahuannya. Biar rasa suka ini aku pendam. Mencintainya dalam diam.
Usai Ujian Nasional, kegiatan sekolah sudah jarang dilakukan, kebanyakan siswa diliburkan. Hanya pergi ke sekolah di saat-saat tertentu saja, apabila ada hal penting. Aku mulai terbiasa tanpa dia. Aku mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas yang aku ingini. Mungkin dia juga demikian. Dulu dia pernah bilang ingin masuk ke universitas di kota A dan aku ingin ke kota B. Dulu aku juga menginginkan di universitas yang sama dengannya, setelah aku fikir ulang, mungkin aku hanya ingin selalu dekat dengannya. Akhirnya aku putuskan untuk menjauh.
Kelulusan telah tiba. Dengan predikat lumayan memuaskan menurutku, aku pasti bisa masuk di universitas yang aku impikan. Ya, aku sudah bertekad akan bersungguh-sungguh belajar dan mungkin melupakannya. Cukup sekali melihatnya bersama perempuan dan berjalan dengan mesra, tidak ingin melihat yang lebih lagi. Sudah cukup tersayat hatiku, dan lumayan menghabiskan air mata. Beginilah rasanya cinta tak berbalas, jangan coba-coba.
Oke, kita lanjutkan ceritaku.
Sekarang aku sudah semester 4, aku akan mengajukan magang di liburan semester kali ini, hitung-hitung mengisi waktu dapat bonus pengalaman, dan nilai plus nanti atau mungkin dapat pengisi hati yang telah lama tak berpenghuni. Meskipun kenyataannya dia masih ada di relung hati dan tak tahu bagaimana caranya mengeluarkan doi.
Aku magang di kota C, begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan magang ini yang belum tentu kita dapat di bangku perkuliahan. Pengalaman memang guru terbaik.
Saat perjalanan pulang menuju kos sementara saat magang, aku mendengar seseorang memanggilku.
16.30
"Nayara...." Sapa seorang cowok dari arah belakang.
"Siapa?" Gumamku sebelum menoleh.
"Nayara , itu kamu Nayara kan?" Dia mengulang untuk memanggilku.
Aku menoleh,
"Iya, aku Nayara. Kenapa kamu disini?" Entah dengan polosnya, mulutku ini, meloloskan kata yang sangat tidak enak didengar, maaf, bukan maksud hati.
"Aku sedang ada proyek disini, ikut dosen"
Jawabnya tanpa tersinggung.
"Oh..." Aku hanya ber'oh' saja selanjutnya diam.
"Bagaimana kabarmu? Kamu menjauhiku. Aku sangat merindukanmu"
Yaa Alloh... Apa yang ku dengar saat ini nyata? Aku seakan melayang mendapat pernyataan kerinduan dari orang yang aku suka dulu.
"Apa?" Aku berpura-pura tidak mendengarnya, karena memang dia sangat lirih mengucapnya.
"Bagaimana kabarmu?" Hanya itu saja yang muncul, sedangkan kalimat setelahnya tadi tidak terucap.
"Baik, kamu?"
Demikian jawabku yang singkat seakan kecewa, mungkin aku hanya salah mendengarnya.
"Aku baik juga, aku seneng ketemu kamu. Oh iya, maaf aku tidak bisa lama-lama, aku ada janji." Dia agak terburu-buru rupanya. Dan aku merasa pertemuan ini terlalu singkat, aku kecewa. Dengan wajah yang agak menunduk dia melanjutkan bicaranya.
"Mana ponselmu?"
Aku yang menggenggam ponsel sedari tadi langsung disautnya, dan dia mengetikkan sesuatu di sana. Beberapa saat kemudian aku mendengar ponselnya berbunyi namun diabaikannya. Kemudian dia mengembalikan ponselku, dan aku hanya terpaku menatapnya.
"Aku pamit Nayara, Assalamualaikum." Akhirnya dia berlalu.
"Waalaikumsalam" jawabku lirih dan kecewa.
Beberapa saat kemudian, kesadaranku kembali. Entahlah pertemuan pertama setelah hampir 2 tahun tidak bertemu rasanya aneh. Aku seperti mimpi, tak sadarkan diri. Aku bergegas menuju kosku dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Aku berasa gila setelah bertemu dia. Mungkinkah aku masih sangat menyukainya?
Ting...
Ponselku berbunyi pendek, tanda pesan masuk. Nomor baru tertera disana.
+6285xxxx
"Hai cantik, ini aku Arka, disave yaa"
Deg...
Arka.... Dia Arka. Yang tadi aku temui, kok bisa dia tahu nomor ponselku? Ah, aku terlalu lupa ingatan untuk mengingatnya.
Dan lagi, dia memanggilku cantik?
Aku cantik?
Aku sudah melayang saat ini.
Aku hampir lupa membalas pesannya. Tak akan aku sia-siakan kesempatan ini. Semoga rasa sukaku akan bersambut.
"Oke Arka"
Aku tidak bisa tidur memikirkan pesan yang hanya sebaris itu. Menunggu akan ada pesan selanjutnya. Tapi kenyataannya tidak ada hingga pagi menjelang. Kasihan sekali diriku ya?
Seperti biasa, hari ini aku magang.
Saat jam makan siang, aku akan ke kantin.
Eh tunggu, drrrrrrttt drrtttt.
Ponselku berbunyi, telepon dari Arka. What? Arka? Aku panik tapi aku tidak bisa melewatkannya. Dengan bismillah kupencet tombol hijau itu.
"Iya" sapaku terlebih dahulu.
"Halo Nayara"
"Halo Arka" dengan sedikit menyembunyikan rasa grogiku.
"Nay..."
"Iya"
"Aku pingin ngomong sesuatu"
"Apa?"
"Kenapa kamu menjauhiku? Kamu mengganti nomer ponselmu dan tidak memberi tahu aku. Aku bingung cari kamu Nay. Aku.... A.. ku..."
Suaranya tertahan, namun tak berselang lama aku mendengar dia melanjutkan kata-katanya.
"Aku kangen kamu Nay"
Demi apa, jantungku meloncat entah kemana. Aku tidak cukup pandai menjawab pengakuan kangennya. Aku hanya diam dengan hati yang kegirangan.
"Nay, Nay... Kamu masih denger aku kan?"
Kembali kudengar dia bicara.
Dengan menarik nafas, dan mengaturnya, aku mulai menjawab.
"Iya, maaf Arka. Aku hanya kaget"
"Bisakah kita ketemu?"
"Nanti sore tepat seperti kemaren, di tempat yang sama, aku akan menunggumu."
"Terima kasih Nay."
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi. Aku juga merindukannya.
Sejak janjian kala itu, hampir setiap hari kita bertemu, walau hanya menceritakan apa yang masing-masing kita lalui saja, membuatku sungguh merasa bahagia.
Tepat sebulan aku di kota C, sudah waktunya kembali. Bagaimana dengan Arka? Mungkin setelah aktif perkuliahan dia juga akan kembali ke kota A. Aku merasa sedih. Seperti akan berpisah. Huh... Memikirkannya saja aku tidak kuat.
Pada hari aku akan kembali, dia mengantarkan aku menuju stasiun.
"Nay..."
Dia seperti akan mengatakan sesuatu.
"Iya Arka"
"Nay, aku suka kamu."
"Apa?"
Aku kaget, tidak menyangka akan mendapat pengakuan suka dari Arka. Bagaimana ini? Aku bingung.
"Nay... Aku sungguh kehilangan kamu saat kita lulus dulu. Kamu menghilang."
"Aku hanya tidak ingin terluka."
Entahlah aku dapat kata-kata dari mana. Aku bingung harus sedih atau bahagia.
"Aku menyukaimu sejak dulu Arka."
Aku melihat raut mukanya kaget.
Suara Pengumuman kedatangan kereta yang akan aku naiki segera datang. Arka menyentuh tanganku. Arka menggenggamnya erat.
"Arka, aku harus pergi."
Biarkan kota ini jadi kenangan kita berdua. Pertemuan pertama setelah 2 tahun berpisah.
Arka melepaskan tanganku.
"Sampai jumpa lagi Nayara"
Entahlah aku jadi tak rela jika harus pergi.
Tapi kakiku segera melangkah masuk menunggu keretaku berhenti. Aku tak lagi mengamatinya. Aku harap apa yang aku dengar tadi nyata dan bukan hayalanku saja. Semoga.
End