Malam yang dingin membawa tubuh ringkih Alea dalam mimpi yang indah, terlihat dari raut wajahnya, senyum manisnya menghiasi wajah lelah setelah seharian bekerja di restoran steak di sebuah pinggiran kota ternama.
Di parkiran sebuah mall ternama.
Turun dari mobil mewah dengan senyum mengembang, dengan pakaian mahal nan nyaman du kenakan, belum lagi sendal mahal yang menghiasi kedua kakinya. Dengan tas merah hati yang menengger di bahu kirinya. Berjalan bak model dengan di tunjang tubuh tinggi semampai dengan badan berisi dan kulit putih serta rambut panjang yang berwarna hitam pekat menambah daya tarik kaum adam yang melihatnya.
Alan, pria gagah yang datang menghampiri Alea.
"Maaf, aku terlambat." lirih Alea.
"Tidak apa-apa, aju akan setia menanti mu." kata Alan sambil menggenggam tangan kanan Alea.
"Uuuh, sweat banget sih kamu." ucap Alea manja.
"Ya udah. Sekarang kita mau makan apa?" tanya Alan, yy memang jamnya makan siang.
"Aku... mau makan salad."
"Oke, kita ke resto yang ada di sana ya!" ajak Alan sambil menunjuk ke stand yang menjual salad.
Alan dan Alea pun berjalan ke arah stand tersebut, dan duduk di paling pojok sisi belakang ruang. Jauh dari hilir mudik orang lewat. Strategis buat mojok. 🤣🤣
"Silahkan duduk, tuan putri cantik." ujar Alan sambil menarik sebuah kursi untuk Alea duduk.
"Terima kasih." ujar Alea dengan senyum manisnya.
Alan pun duduk di kursi yang ada di depan Alea, mereka duduk berhadapan.
Datang seorang pelayan untuk menanyakan makanan apa yang akan di pesan oleh pengunjungnya.
"Permisi kaka, mau langsung pesan atau masih ada yang di tunggu?" ujar pelayanan wanita saat sudah di depan keduanya.
"Langsung aja, mbak... Dua ice cappucino dan satu porsi salad buah jumbo, ya mbak." ujar Alan.
"Di tunggu pesanannya, ka." ujar pelayan wanita dan berlalu pergi meninggalkan Alan dan Alea.
"Kamu gak salah? pesan salad buah ukuran jumbo? emang kamu kata, perut aku segede itu apa?" ujar Alea dengan mulut cemberut.
"Satu porsi salad buah ukuran jumbo itu buat kita berdua, sayang." kata Alan sambil mencubit gemes pipi Alea.
Tidak berapa lama pesanan mereka datang. Mereka pun menikmati salad buah ukuran jumbo bersama. Alan dan Alea dengan bergantian saling menyuapkan salad buah bergantian.
Setelah selesai dengan salad buah. Alan membawa Alea mengelilingi mall dan membeli beberapa barang untuk Alea. Terlihat dari kedua tangan Alan yang membawa beberapa paper bag belanjaan Alea. Semua itu Alan yang membelinya untuk Alea.
"Ada lagi yang mau kamu beli, sayang?" tanya Alan sambil berjalan beriringan dengan Alea.
"Itu juga udah banyak, yank. Nanti uang kamu habis ajah."ujar Alea sambil menunjuk paper bag yang di bawa Alan.
"Buat kamu, apa sih yang gak? Uang aku gak akan habis, kamu lupa... aku ini pengusaha muda loh." ucap Alan dengan bangganya.
"Pengusaha juga gak boleh boros, keles."
"Oooh jadi ini simpanan kamu yang baru." tegur seorang wanita cantik yang saat ini sudah berdiri di depan Alan dan Alea.
"Siapa dia, Alan?" tanya Alea.
"Aku, tunangannya Alan." ucap wanita cantik dengan bangganya.
"Kamu apa-apaan sih, Leni?" kata Alan dengan nada baritonya.
"Memang benar, aku tunangan mu." kekeh Leni.
"Bener dia, tunangan mu Alan?" tanya Alea bergetar, bagai di sambar petir hatinya luluh lanta mendengar pengakuan Leni.
"Dia hanya membual, yank." ujar Alan dan langsung membawa Alea pergi menjauh dari Leni.
Dengan marahnya Leni mengejar Alan dan Alea dan menumpagkan segelas es jeruk yang ada si tangan kanannya ke arah wajah Alea.
"waaaaaaaa." teriak Alea dan langsung duduk, mendapati dirinya di guyur air segayung oleh mak Nima, ibu tercinta.
"Bangun neng, di bangunin dari tadi ora bangun-bangun luh." suara omelan mak Nima.
"Apa sih, mak?" ujar Alea sambil menyeka air yang menutupi matanya.
"Noh, lu liet noh, matahari udah tinggi.. mau tidur ampe jem berape luh.." ucap mak Nima dengan tangan kiri di pinggang dan tangan kanan memegang gayung.
"Tapi gak gini juga mak, bangunin aye pake aer segayung. Ambyar dah tuh mimpi aye." dengan cemberut Alea bangun dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi.
"Anak perawan jem segini masih molor luh. Malu noh ama ayam." ujar mak Nima yang masih setia mengomel.
Di dalam kamar mandi.
"Heeet ya, si mak ganggu mimpi aye bae. Lah kapan enak ya, jadi orang gedongan. Mau beli ini itu bisa, kapan jadi anak gedongan?" keluh Alea.
"Ngoceh bae lu." ujar mak Nima dari luar kamar mandi mendengar ocehan Alea.
"Heet mak mah, denger bae ya."
"Gua punya kuping, ngapa luh." kata mak Nima.
Mimpi jangan tinggi-tinggi ya, sakit kalo udah balik ke dunia nyata. ☺️