Tak ada mantan yang patut ku kejar. Tak ada kata yang patut ku lerai. Andai ada seorang yang mencariku dan bilang “ Aku mencintaimu.”
Hati ini tak ada kepastian lagi. Mencari belahan jiwa di setiap doa, namun harapan itu selalu pupus dan pupus.
Pernah dikala aku sepi, sunyi, dan menyendiri. Ia datang dengan sayapnya dan mengulurkan jemari lentiknya...
“Are u Oky??”
Aku memandangnya sekilas, dia tampak sedikit mengusik ketenanganku. Menggetarkan hatiku dengan caranya sendiri.
“Aku baik kok. Memangnya kamu siapa?? kita nggak saling kenal...!!”
“Peduli boleh kan?? ya udah kenalan...!” inisiatifnya menjulurkan tangan.
“Maksa??”
“Gue Andriano Galliani, dan lo??”
“BUKAN urusan LO..!!!”
“Raisa Angelina, itu nama lo kan??”
“Kok kamu tau??”
“Itu nama lo ada di name tag. Lo itu cantik..., kalau... lo nggak nangis dan cengeng lagi. Hahahaaa,” tawanya dengan senyum mengembang membentuk guratan cekung di pipinya.
“Nggak konsisten banget sih. Sebentar-sebentar ngomongnya Lo terus ganti Aku. Gimana sih,” mengacak rambutku.
“Apaan sih...,” kesal ku padanya.
“Ouhh iya. Ini name card gue. Kalau lo butuh, lo bisa hubungin gue secepat mungkin.”
“NGGAK BU-TUH...!!!”
“Simpan aja. Siapa tahu 'rindu',” senyumnya dengan rambut yang sedikit acak-acakan menambah kesan cool tersendiri.
“Apaan sih ni orang. Ge'er banget sih sampai bilang rindu,” pikirku bergelut sendiri.
“Udah nggak usah ngomongin gue.”
“Ihhh, siapa juga yang ngomongin kamu.”
Yahhhh, hari terlalu cepat untuk berganti. Banyak hal yang selalu ku lalui bersama sahabat dan juga saudara baruku.
Sebuah jackpot yang luar biasa bisa bertemu dengan saudara kandung yang lama tak jumpa sejak lahir. Dia Almira Mutiara Bintang.
Nama yang indah ya?? entah siapa kakaknya dan siapa adiknya. Itu masih sebuah teka-teki membingungkan.
*_*
Bila di katakan pacaran?? kami belum pacaran. Dan aku belum punya mantan. Tapi...
Kalau mantan yang bisa memikat hati ini itu ada. Dia..., Andriano Galliani telah merebut hati ini dengan pertemuan yang tak terduga.
Aku selalu mencoba untuk pergi meninggalkan dia. Menghapus kenangan yang membuatku semakin dekat dengan arti dari makna 'cinta'.
“Mending kamu nggak usah nemuin aku lagi. Aku mohon ini pertemuan terakhir kita.”
“Kite neduh dulu ya?? nanti kamu sakit kena air hujan.”
“Nggak perlu...!!”
“Kalau kamu nggak perlu pun aku tetap maksa...!!” menggendongku ke sisi halte.
“LEPASIN...!!” meronta.
“Udah..., udah gue lepasin.”
“Ini dia, alasan kenapa aku pengen ngajauhin kamu...!! dan rasa ini terus tumbuh dan menjadi bukit.”
“Kamu terauma soal cinta?? iya??”
“Enggak...!!” ucapku menahan air mata.
“Lo nggak akan nagis. Lo nggak akan bilang semua ini, kalau lo nggak terauma.”
“Cukup Rian...!! Cukup...!!”
“Oky. Kalau lo memang nggak mau ketemu gue lagi. Tapi, kalau suatu hari nanti permuan kita lebih dari enam kali ini, kita jadian..!! Izin peluk boleh??”
“Enggak...!!! dan ini pertemuan terakhir kita, aku bakal pergi sejauh mungkin. Sampai kamu nggak bisa nemuin aku.”
“Gue maksa...!!”
“Iya, puas sekarang..!!?? Percuma juga aku nolak kamu.”
“Maaf, aku terlalu egois,” mendekapku dengan pelukannya.
“Iya, maksih. Maafin aku.”
Waktu yang berharga.
Waktu yang singkat.
Dan waktu yang indah untuk menjadi pelajaran berharga.
Inilah proses. Rencana Tuhan yang tidak pernah kita ketahui...
Di saat kita sedih, akan ada orang yang datang untuk kita. Semakin di kejar ia akan menjauh. Namun tidak ada yang tahu takdir illahi, yang memberikan hadiah terindah untuk kita nantinya.
______________________
Komen aja kalau ada saran atau kritik ya, teman teman...., wkwkwk. Cuman penulis amatir, yang asal nulis aja...
Jangan lupa like, lagi gabut aja... 😑🙂🤣🤣🙏