#Bijaklah_dalam_membaca
#Author_Vena_G
#Selamat_Membaca!
***
Keramaian ini bagai tak ada artinya bagiku dan dia yang di sana, mungkin. Acara reuni yang membosankan, menurutku.
Aku lalu menghampiri gadis itu, sosok yang kumaksud. Tiba-tiba mata kami bertemu, dan dia tersenyum padaku. Manisnya.
"Hai," sapaku.
"Hai, juga."
"Tidak ikut berdansa?"
"Tidak, aku tidak cocok di sini," jawabnya, sesekali menunduk.
Sedikit terpikirkan olehku tentang gadis ini, terlihat berbeda. Hanya dirinya yang memakai seragam SMA, tapi tampaknya ini sudah lama sekali.
"Hmm, maaf. Apa kau tidak mendengar kesepakatan bersama di grup?" tanyaku heran.
Tak ada jawaban, tapi gadis itu sekilas melihatku, lalu menyentuh tanganku. Itu sangatlah dingin seperti menyentuh sebongkah es!
Sejenak aku merasa akrab dengan wajahnya. "Kau!" Aku menatapnya penuh keterkejutan, takut akan kebenaran yang baru saja teringat olehku.
"Seseorang yang kutunggu selama ini akhirnya ada di depanku," jawabnya.
DEG!
Jantungku berdegup kencang, "Apa maksudmu?" tanyaku mulai panik.
Dia melirikku, tatapannya kosong. Secara tiba-tiba lampu di ruangan padam, seakan aku berpindah ke dimensi lain. Perasaan ini ....
Kurasakan pelukan dari belakang, hangat dan perlahan-lahan menusuk tulangku. Rasa itu kemudian beralih menjadi seperti dibakar dalam perapian, panas sekali!
"Tolong! Ahh!" teriakku, namun tampaknya sia-sia.
Suasana begitu gelap, aku tak bisa melihat apapun. Hanya rasa panas membara yang kurasakan, dan aku terikat di sebuah kursi.
Tak berapa lama terlihat seberkas cahaya dari jauh. Cahaya itu semakin mendekat, dan memunculkan sesosok gadis tadi. Jadi benar, dia mau balas dendam!
Tahun-tahun berlalu, perasaan yang selama ini takut aku penuhi, akhirnya tercapai. Dia datang, namun ketika aku mengingat kejadian itu. Membuatku tak bisa menahan emosi, benar-benar gila untuk mengingatnya kembali.
"Bagaimana rasanya ketika kulitmu terbakar?" tanyanya dari jauh.
"Cepat lepaskan aku!" Aku berteriak marah.
Perkataanku tak digubrisnya, malahan yang terdengar tawa mengerikan. Seketika tubuhku merinding ketakutan dan panas dalam tubuhku bertambah.
"Ahh!" Dia tiba-tiba berada di depanku, tangannya mencekikku dengan kuat.
"Hahaha, teriaklah sekuat mungkin! Apa kau pikir aku akan peduli? Penderitaan yang kau berikan tidak bisa dibandingkan dengan ini, saat aku memintamu mempertanggung jawabkan diriku.
Kau malah meninggalkan, dan mengkhianatiku. Kalau saja waktu itu aku tidak memberitahukannya padamu, mungkin aku masih ada di dunia ini bersama dengan anak kita," ucap gadis itu sendu, sementara aku masih menahan sakit.
"Kau tak mau menerimanya. Dan saat aku hendak melaporkanmu. Kau membohongiku bertemu di belakang sekolah, dan dengan kejamnya membakarku! Kenapa!" Tiba-tiba sosoknya berubah marah, wajahnya merah membara dan tubuhnya tampak akan meleleh.
Melihat sosoknya yang seperti itu, panas dalam diriku bertambah lagi. Namun, sebisanya aku menjawab. Syukurlah, leherku terlepas dari cengkeraman tangannya.
Aku membenarkan, "Anak kita? Kau tahu jelas itu bukan anakku, tapi pria itu! Kau sengaja memanfaatkan ketulusanku dan berlaku seolah aku yang bersalah. Kaulah yang mengkhianatiku!"
Sosok itu terdiam, tapi matanya terus menatapku.
"Aku benar, bukan? Dua bulan sebelum kematianmu, kau kira aku tak tahu alasan di balik kau selalu menolak ajakanku bepergian?
Kau salah! Aku tahu, bahkan saat kau memulai hubunganmu dengannya!" Mengingat itu membuat hatiku sakit.
"Katakan siapa yang memberitahumu!"
"Apa itu penting? Sekarang, kau tahu kenapa aku membunuhmu? Hahaha!" jawabku tak kalah, tak ada gunanya bersusah payah untuk lari, aku terjebak di dalamnya.
"Tidakkkk!" Gadis itu berteriak histeris, dan tak disangka suara tangisan terdengar.
"Ohh, ternyata kau masih ingat caranya menangis?" Aku mengejeknya dengan senang, puas akan reaksinya. Rahasia itu akhirnya terbongkar!
Gadis itu diam beberapa saat, lalu tanpa sadar melesat cepat menghampiriku, teriakannya menggema, "Kau akan mati bersamaku!" Dirinya sekejap merasuki tubuhku.
Gadis itu terus menyiksa dan menguras ragaku, sampai tak ada lagi tenaga yang tersisa.
Inilah karma yang kudapatkan, tapi aku merasa tak menyesal. Karena, keinginan rinduku adalah terbunuh oleh tangan cintaku sendiri.
Haha, memang kisah cinta yang menyedihkan. Menyimpan rasa cinta dan benci secara bersamaan.
Note: "Rasa cinta dapat membuatmu bahagia juga luka yang dalam. Alangkah baiknya saling memaafkan, dan memulai hidup dengan lebih baik." Vena G
Vena G, terima kasih sudah mau membaca🌿🍂