Jangan bercermin pada malam hari!
Memangnya kenapa? Aku tidak mengerti kenapa Liza bilang begitu. Apa bedanya bercermin pada pagi, siang, dan malam hari? Dan lagi pun, kenapa dia mengatakan itu padaku yang jelas-jelas jarang bercermin? Kaca besar yang terpajang di kamarku saja jarang kupakai.
Akhir-akhir ini Liza sangat aneh. Maksudku, tentang sikapnya. Yang kutahu sahabatku sejak orok itu sangat suka bercermin. Ya, dia begitu memperhatikan penampilannya. Berbeda denganku yang tomboy dan serampangan ini, tetapi yang kumasalahkan bukan itu.
Aku sudah jarang melihat dia bercermin. Dan setiap kali dia bercermin, dia selalu merasa ketakutan, sesekali menengok ke belakang padahal tidak ada apa-apa.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi dengannya, aku pun bertanya. Namun, Liza sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dan malah memberikan nasihat yang aneh.
"Cya, jangan pernah bercermin pada malam hari, apalagi tengah malam di bulan purnama! Jangan pernah! Dan jika kamu tidak sengaja menoleh pada cermin, jangan berpaling! Aku mengatakan ini demi keselamatanmu, Cya," kata Liza dengan raut ketakutan.
Aku yang saat itu tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya hanya bisa melongo. Kenapa Liza tiba-tiba begini? Tidak biasanya dia membual.
"Apa yang kamu bicarakan sih, Za? Kamu tahu, kan, aku jarang bercermin. Lagi pula, ngapain aku bercermin malam-malam?" balasku seraya rolling eyes.
"Aku tahu, tapi aku tidak ingin ada korban lagi! Aku tidak ingin ada yang mati lagi!" Liza menaikkan nada bicaranya dengan mata berkaca-kaca.
Dahiku mengernyit. Liza berbicara dengan nada tinggi sambil menangis? Tidak, tidak biasanya Liza begini. Ada suatu hal yang terjadi. Tetapi apa? Apa maksudnya? Korban? Mati? Siapa yang mati?
"Apa maksudmu, Za? Korban apa? Siapa yang mati?" Aku memegang kedua bahu Liza dan menatapnya dalam.
Kepala Liza terdongak, iris hijaunya beradu pandang dengan iris legamku. "Dia, makhluk cermin. Dia suka menghasut seseorang yang bangun tengah malam untuk bercermin. Dia mengerikan, Cya. Kamu bisa mati kalau sampai bertemu dengannya."
Rautku seketika berubah. "Apa? Makhluk cermin? Mana ada yang seperti itu," kataku agak sarkas. "Jangan konyol, Za. Sepertinya kamu kurang sehat gara-gara kebanyakan bercermin. Beristirahatlah."
Tunggu, apa kata-kataku keterlaluan?
Air muka Liza berubah. Apa dia kesal? Ugh, sepertinya aku harus minta maaf.
"Err, maafkan aku, Za. Aku tidak bermaksud—"
Liza menaikkan kedua ujung bibirnya. "Tidak apa-apa. Yang penting aku sudah memperingatkanmu. Kumohon, apa pun yang terjadi, jangan bercermin pada malam hari di bulan purnama ya?" pinta Liza dengan raut memelas.
Aku mendengkus, mau tak mau mengangguk.
***
Seperti ada sebuah suara yang memanggil. Namun, suara apa? Terdengar sangat aneh dan berisik di telingaku. Ah, sial. Mengganggu tidur saja.
Aku membuka kelopak mata. Hal pertama yang tampak di penglihatanku adalah langit-langit kamar dan lampu yang padam. Aku melirik jam dinding yang terpajang di dinding samping kiriku. Oh, ternyata masih pukul setengah dua belas lewat. Tumben sekali aku terbangun tengah malam begini.
Aku memejamkan mata kembali, mencoba melanjutkan tidur. Namun, suara itu terus-terusan masuk menembus gendang telingaku. Seakan memaksaku untuk bangun. Aku mencoba mengabaikannya, tetapi suara itu semakin menjadi-jadi.
Sial, aku jadi tidak bisa tidur lagi. Gara-gara suara itu!
Mau tak mau aku membuka kelopak mata dengan paksa lantas bangun dan menyibak selimut yang membalut tubuhku. Pandanganku teredar ke sekeliling, mencari dari mana asalnya suara itu. Namun, aku tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Tanpa sengaja pandanganku jatuh pada bulan purnama yang tampak dari balkon kamarku. Oh, astaga. Aku lupa menutup balkon!
Aku segera bangkit berdiri kemudian menutup balkon kamar. Akan tetapi, perhatianku teralih pada cermin besar berbentuk lingkaran yang terpajang di atas meja rias, berhadapan dengan balkon kamar.
Entah ada dorongan dari mana, aku melangkah mendekati cermin itu. Aku ... ingin sedikit memastikan. Kenapa Liza melarangku untuk bercermin malam-malam?
Walaupun tidak untuk bercermin, aku tetap menatap kaca di hadapanku. Makhluk cermin apanya? Tidak ada apa pun, tuh.
Cya ....
Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Perasaanku saja atau memang benar ada yang memanggil namaku dengan lirih? Suaranya tidak terdengar asing.
Oh, ini suara yang sama dengan yang mengganggu tidurku tadi!
Tetapi dari mana asalnya suara itu? Siapa yang memanggilku? Apa cermin ini? Haha, tidak mungkin. Lawak kamu, Cya.
Aku kembali menatap pantulan bayangan diriku di cermin. Namun, yang kulihat hanyalah gadis berambut cokelat sebahu yang mengenakan piama—aku, dan gadis berambut hitam panjang—
Glek.
Tu-tunggu. Apa-apaan di belakangku?
Aku mengucek-ucek mataku berkali-kali, tetapi apa yang kulihat sama sekali tidak berubah. Di belakangku, tepatnya di depan balkon dan di bawah bulan purnama, seorang gadis—atau apalah karena aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas—berambut hitam panjang yang terjuntai hingga kaki dan mengenakan _dress_ putih selutut, berdiri seakan-akan menatapku.
Cya ....
Suara itu lagi!
Refleks kepalaku menoleh ke belakang. Namun, yang kulihat bukanlah gadis tadi, melainkan Liza. Lagi, aku mengucek mata. Ternyata yang kulihat benar-benar Liza!
Akan tetapi, kenapa Liza bisa ada di kamarku? Dan lagi, tatapannya—
—seram. Aku merinding.
Aku menoleh ke cermin lagi, tetapi pupilku langsung membulat melihat sosok itu masih ada di tempatnya. Begitu aku menoleh, yang ada hanyalah Liza yang berdiri di depan balkon, di bawah sinar rembulan, dan—eh?
Po-posisi mereka ... kok sama?
"Li-liza?" Aku memberanikan diri untuk membuka suara.
Gadis berambut cokelat tua sepunggung yang mengenakan dress putih selutut itu mendongak. Iris hijaunya menatapku tajam.
Sejenak aku merasa terpana dan tercengang. Seingatku Liza tidak memiliki dress itu. Dan lagi, Liza tidak pernah menatapku tajam. Tanpa sadar kakiku bergerak mundur hingga menabrak meja rias.
Kaki Liza yang tidak mengenakan alas melangkah mendekat. Lalu, entah bagaimana, dia sudah berada di hadapanku—tepat di depan wajahku!
Aku meneguk saliva lagi. Bulu kudukku bergetar hebat. Dan netraku terbeliak. Bahkan aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Liza berubah menjadi sosok yang kulihat di cermin tadi—berambut panjang semata kaki, dress putih—yang jika diperhatikan lebih jeli—bernoda bercak merah, berkulit putih dan pucat seperti mayat, dan berwajah menyeramkan.
Aku tidak berani menatap wajahnya, tetapi tangan kanan sosok itu mencengkeram daguku erat, membuatku menatap wajahnya paksa. Sial, tangannya dingin sekali! Tubuhku sudah menggigil hebat.
Sepasang bola mata yang nyaris keluar itu menatapku nyalang. Aku baru sadar kepalanya bocor dengan luka sayat memenuhi wajahnya. Saat dia membuka mulut, tampaklah lidah panjangnya mencuat seperti ular.
Si-siapa sebenarnya sosok ini?!
Jangan bercermin pada malam hari.
Dia, makhluk cermin.
Sial, sial, sial! Seharusnya aku mendengarkan perkataan Liza! Jika benar sosok di hadapanku adalah makhluk cermin, itu artinya aku akan mati!
"Khekhekhe, seharusnya kau mendengarkanku, Gadis Bodoh. Padahal aku sudah memperingatimu," ucap sosok itu dengan suara yang memekakkan telinga.
Aku menggertakkan gigi. "Apa maksudmu?! Siapa kamu?! Dan di mana Liza?!" tanyaku bertubi-tubi dengan nada tinggi.
Sosok itu tertawa, menampakkan giginya yang sudah rontok seperti nenek-nenek. "Seperti yang kubilang, aku adalah makhluk cermin. Maksudku? Kenapa tidak kau tebak sendiri? Omong-omong, sahabatmu itu sudah lama mati. Salahnya sendiri bercermin pada malam purnama," jawab Makhluk Cermin.
A-apa? Li-liza sudah—?
Kalau begitu, Liza yang kutemui selama ini siapa? Liza yang kutemui tadi siang siapa?
Melihat wajahku yang syok, sosok itu tertawa lagi. "Kau tidak akan menemukan mayat sahabatmu itu karena siapa pun yang sudah kubunuh akan kubawa ke dunia cermin," ujar Makhluk Cermin terkikik-kikik. Bola matanya yang mengerikan menilikku dalam. "Tetapi tenang saja, karena kau akan menyusulnya!"
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, aku merasakan tikaman tajam di dada kiriku. Refleks aku memuntahkan sesuatu yang kental dan amis ke lantai karena tidak tahan dengan rasa sakitnya. Begitu aku menunduk, kuku Makhluk Cermin yang sangat tajam bak pisau menusuk dada—mungkin tepat di jantungku—kemudian mendorongku mundur.
Saat itulah aku merasa tubuhku terserap ke cermin. Pandanganku memburam karena tak tahan dengan rasa sakit ini. Hal terakhir yang kulihat adalah aku terjatuh dari sebuah pintu berbentuk lingkaran yang kuyakini adalah cerminku.
Siapa pun, kuberitahu kau. Jangan pernah bercermin pada malam hari, terutama saat bulan purnama, atau sosok itu—Makhluk Cermin—akan membunuhmu dan membawamu masuk ke dunia cermin.