"UNDANGAN??" seru keempat anak seumuran.
"Ya,, aku menemukan undangan ini di depan pintu rumahku tadi." ujar Leo kepada keempat temannya.
"Aku juga mendapat surat undangan.." ujar Larry.
"Aku juga.." sambar Tedy.
"Kita juga.." ujar Viona dan Shierra.
Mereka saling tatap. Undangan yang sama? Mereka berlima pun membuka amplop bertuliskan undangan tersebut. Hanya ada satu kalimat di dalam undangan tersebut dan sebuah peta.
**Kastil Mr. John Freinskein mengundang Anda!!**
.
.
Malam ini adalah perayaan Halloween. Anak-anak memulai perjalanan mereka dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata “Trick or treat!”.
Begitupun dengan Leo dan keempat temannya. Mereka kini sudah siap dengan kostum mereka. Leo sebagai Vampire, Viona sebagai Witches (penyihir), Teddy sebagai Werewolf (manusia serigala), Shierra sebagai Hantu pengantin, dan Larry sebagai Zombie.
"Kita benar-benar akan pergi?" tanya Shierra pada keempat temannya. Jujur ia agak takut.
"Tentu saja.. Kenapa? Apa kamu takut?" ledek Teddy.
"Jangan takut, Shie. Kan ada kita.." Viona menenangkan Shierra.
Mereka berlima pun berjalan mengikuti arahan dari peta yang mereka dapat, menuju alamat kastil tersebut. Ternyata kastil itu terletak di bukit dekat sekolah mereka.
Jam tangan menunjukkan pukul 6 petang. Kini mereka berhenti di depan sebuah bangunan kuno.
"Waww.. Aku baru tahu, ada kastil sebesar ini di bukit ini.." kagum Larry, menatap kastil kuno yang berdiri gagah di hadapan mereka.
"Ya.. Aku pun baru tahu.." sambung Teddy.
"Tapi.. Apakah kastil ini berpenghuni? Kastil ini tampak tak terawat.." ujar Viona.
"Dan.. Bukankah tampak sangat menakutkan..?" Shierra langsung bersembunyi di belakang Viona.
"Ayo kita masuk!" Leo langsung memimpin keempat temannya.
Sesampainya di depan pintu masuk, Leo langsung mengetuk pintu kastil tersebut.
𝙏𝙤𝙠.. 𝙩𝙤𝙠.. 𝙩𝙤𝙠..
Tak ada sahutan maupun sambutan. "Trick or Treat..!!" seru Leo, diikuti oleh yang lainnya.
Sunyi.
"Apakah di dalam sedang tidak ada orang??" Teddy mulai merasakan hawa dingin.
Beberapa saat kemudian, pintu kastil itupun terbuka dengan sendirinya.
𝙆𝙧𝙞𝙚𝙠𝙠..
Kelimanya terkejut. Apalagi Shierra, ia langsung memeluk erat lengan Viona.
Mereka berlima pun masuk ke dalam.
𝙅𝙚𝙙𝙪𝙖𝙧𝙧.!!
Tiba-tiba pintu kastil itu tertutup. Mereka mencoba untuk membukanya, namun tak berhasil.
Shierra semakin takut. Ia semakin memeluk erat lengan Viona. Tak hanya Shierra, bahkan wajah Teddy pun kini tampak panik.
"Bagaimana ini??" Larry memecah keheningan.
"Ayo kita cari jalan keluar lain!" Leo meraih sebuah obor yang terletak tak jauh dari mereka. Memimpin teman-temannya, menyusuri kastil tersebut.
Ruangan demi ruangan mereka masuki, namun tak kunjung menemukan pintu keluar.
Gelap.
"Vio.. aku takut..".
"Tenang, Shie.. Jangan takut.." ujar Viona.
𝙋𝙧𝙖𝙣𝙜..! suara benda jatuh.
"Apa itu?!" Teddy gemetar ketakutan.
"Kok kamu jadi penakut, sih..?" ejek Larry.
"Ayo kita lihat, barangkali itu penghuni kastil ini.." ajak Leo.
Mereka menuju ke sumber suara tersebut. Membuka salah satu pintu. Ruangan itu tampak seperti sebuah kamar.
Gelap dan sangat berdebu. Bahkan sarang laba-laba tergantung dimana-mana.
Tiba-tiba hawa dingin menyelimuti ruangan tersebut.
"Aaaa..!!!" Shierra terlonjak kaget. Sesuatu yang sangat dingin baru saja memegang kakinya.
"Kenapa, Shie?!" tanya keempat temannya.
"Ta-tadi.. Ada yang.. megang kaki aku!!" gagap Shierra ketakutan.
Viona pun mencoba untuk menenangkan Shierra. Setelah memastikan tak ada siapapun di ruangan itu selain mereka berlima, mereka pun melanjutkan mencari pintu keluar.
Disaat mereka masih sibuk mencari pintu keluar, lagi-lagi terdengar suara.
"Kalian dengar??" tanya Leo yang dibalas anggukan keempat temannya.
"Suara piano.." ucap Viona.
Mereka berlima melangkah, mencari sumber suara piano itu. Semakin mereka melangkah, alunan piano itu terdengar makin keras.
Sampai akhirnya mereka melihat seseorang yang tengah memainkan piano itu. Seorang pria yang tampaknya sudah cukup berumur, dilihat dari rambutnya yang sudah memutih sempurna. Mungkin patut jika dipanggil kakek oleh mereka.
Dengan ditemani oleh pencahayaan dari obor, Leo melangkah mendekati sosok kakek itu.
"Permisi, apakah anda Mr. John, yang mengundang kami??" Leo memberanikan dirinya untuk bertanya. Kini ia berdiri di belakang kakek itu.
Namun kakek itu tak bergeming, masih memainkan pianonya.
"Permisi, Kek.." Shierra memberanikan diri untuk bersuara.
Seketika jemari kakek itu berhenti. Perlahan kakek itu memutar kepalanya, menghadap ke arah Leo dkk.
"Aaaaa...!!!" teriak mereka semua ketakutan. Mereka semua pun langsung melarikan diri.
Entah sejauh mana mereka berlari, hingga dirasa sosok kakek itu tidak mengikuti, mereka pun berhenti. Napas mereka bahkan masih tersengal-sengal.
"Lho, dimana Shie?!" Leo menyadari jika Shie tidak bersama mereka.
"Tadi dia sama aku.. Tapi kok sekarang nggak ada?!" Viona mulai panik.
"Jangan-jangan dia ketinggal.." ucap Teddy.
"Atau malah salah jalan..?" sambung Larry.
"Ya udah, sekarang kita cari Shie dulu.. Semoga dia baik-baik aja.."
Mereka pun kembali menyusuri jalan yang tadi mereka lalui. Dalam hati, mereka berharap agar tidak terjadi hal buruk pada Shie.
.
Di sebuah ruangan yang sangat gelap, Shie duduk meringkuk ketakutan. Air mata sudah tak terbendung. Memang, di antara teman-temannya, dialah yang paling penakut.
Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Diam-diam Shie merangkak ke kolong meja. Ia menutup mulutnya, sebisa mungkin ia menahan agar tidak bersuara.
Dari bawah, ia dapat melihat kaki sosok itu. Sosok yang membuat ia sangat ketakutan. Dalam ketakutannya, ia menangis dalam diam.
"Kumohon, jangan kemari.." batin Shierra kala kaki itu melangkah menuju ke arahnya. Ia memejamkan kedua matanya.
Tak ada suara langkah kaki. Hal ini membuat Shierra membuka matanya perlahan.
"Aaaa..!!!" sosok kakek itu kini tepat di hadapannya. Menatap Shierra dengan sangat menyeramkan.
"Jangan.. jangan mendekat!! Pergi..! Pergii..!" teriak Shierra menjauh dari sosok itu.
Namun sosok itu semakin mendekat. Satu tangannya terulur, hendak meraih Shierra.
"Pergiii...!!" teriak Shierra memejamkan matanya.
Namun ternyata sosok itu tak menyakiti Shierra. Ia merasakan tangan dingin itu mengusap wajahnya lembut.
"Shie-rra.." lirih sosok itu.
𝘿𝙚𝙜..!
Suara itu.. Shierra seperti mengenalnya. Dengan rasa takut, Shierra membuka matanya perlahan.
Tak ada lagi sosok menyeramkan, melainkan sosok itu kini berubah menjadi sosok tua yang familiar bagi Shierra. "Ka-kek??"
"KAKEK!!!" teriak Shierra langsung memeluk sosok yang persis kakeknya itu. Sosok itu pun memeluk erat Shierra.
Tanpa Shierra sadari, keempat temannya kini tengah menyaksikan mereka dari depan pintu.
"Ka-kek??" gumam keempatnya bertanya-tanya.
"Sejak kapan Shierra punya kakek??"
"Jadi, ini semua rencana kakek Shierra? Tapi, kenapa ia tidak tahu nama kakek nya??"
"Dan kastil ini milik kakek Shierra??"
"Shierra memang punya kakek,, tapi setahuku sudah meninggal beberapa tahun lalu.."
Mendengar ucapan Viona, seketika Leo, Larry, dan Teddy langsung menatap Viona. Mereka berempat pun beralih menatap Shierra yang masih berpelukan dengan 'kakek'nya itu.
"Jadi.."
"Kakek itu.."
"Benar-benar han-"
Teddy tak melanjutkan ucapannya karena melihat kepala kakek Shierra kembali berputar, dan kini menatap mereka berempat dengan senyuman yang sangat menakutkan bagi mereka.
.
.
.
**The End**