Kay tercengang saat membaca pesan masuk di grup alumni SMA nya dulu. Sebuah undangan terpampang nyata di layar ponselnya.
Undangan pernikahan dari mantan terbarunya, Barra.
Tanpa sadar air mata Kay mengalir, Bara lelaki yang sudah 3 tahun membersamai dirinya. Hubungan mereka berakhir 3 bulan yang lalu.
Bara mengakhiri hubungan mereka karena telah di jodohkan dengan anak dari rekan bisnis orangtuanya.
Kay menghapus air matanya, sudah cukup. Ia tidak boleh menangisi lelaki itu lagi, apalagi dia sudah bahagia. Sekarang waktunya ia memikirkan dirinya sendiri, ia berhak bahagia.
"Lucu ya..."
Kay mendongak, ditatapnya laki-laki asing yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki tampan dengan setelan casualnya. Celana jeans dipadu dengan kemeja yang lengannya sengaja digulung hingga ke siku. Benar- benar tipe idamannya.
Kay hanya diam, sambil melirik ke kanan dan ke kiri tidak ada orang selain dirinya. Apakah lelaki itu berbicara padanya., "Maaf apa anda tadi berbicara pada saya?"
Lelaki itu berdecak, "ck! Apa kamu sudah melupakanku Kaylira?"
Kening Kay berkerut, bagaimana bisa lelaki itu mengenalnya. Rasanya ia tidak punya kenalan seperti,
Tunggu,dia sepertinya ga asing. Astaga...
Melihat wajah Kay yang menegang, lelaki itu tersenyum sinis, "ya itu aku..."
Kevin? Gak mungkin,
"Lucu ya Kay, kita dipertemukan setelah sekian lama. Dan konyolnya mantan pacarmu dan mantan pacarku bersanding di pelaminan"
Mata Kay membulat sempurna, bagaimana lelaki itu bisa tau kalau...
"Aku beri penawaran, bagaimana kalau kita pergi bersama ke acara itu?"
Belum hilang rasa terkejutnya, Kay kembali di kagetkan dengan ucapan Kevin padanya.
Kevin meletakan kartu nama miliknya di meja, "itu kartu namaku, hubungi aku kalau kamu bersedia. Setidaknya kita harus terlihat bahagia didepan mereka, " Ucap Kevin lalu pergi meninggalkan Kay yang masih mematung ditempatnya.
Kay mendudukan dirinya dikursi, hari ini penuh kejutan baginya. Pertama undangan pernikahan mantan kekasihnya, yang kedua ia bertemu dengan Kevin Prawira mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya saat SMA dulu dan yang ketiga tawaran Kevin untuk pergi bersama ke acara pernikahan mantannya, Bara.
Ini tawaran gila, bagaimana bisa pergi ke pernikahan mantan dengan membawa mantan sebagai gandengannya. Terdengar Aneh bukan?
Kay memutuskan untuk pulang ia harus beristirahat sekarang sebelum bertambah gila, pikirnya.
****
Beberapa hari berlalu, Kay belum belum memberi jawaban dari tawaran Kevin beberapa waktu lalu.
"Mbak Kay, ada yang cari"
"Siapa?" Tanya Kay pada Asistennya Della
"Cowok mbak, ganteng lagi" jawab Della
Kay hanya geleng- geleng kepala semua laki-laki akan di anggap ganteng oleh Della.
Kay segera menemui orang yang mencarinya, ia tercengang saat tau kalau Kevin-lah orangnya. Baru saja Kay ingin kabur tapi Kevin sudah lebih dulu melihat lalu memanggilnya.
Dengan malas Kay akhirnya menemui Kevin, "Kenapa?"
"Gimana tawaranku itu?"
Kaya menghela nafas, malas meladeni Kevin. Ia tidak ingin berurusan dengan lelaki itu lagi.
"Aku ga bisa, udah janji sama temen buat pergi ke sana."
Kevin mengangkat sebelah alisnya,"siapa?"
"Bukan urusanmu" Kay bangkit hendak meninggalkan Kevin namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Kevin.
"Aku masih mencintaimu Kay sama seperti dulu"
Kay menoleh, "dasar gila!"
"Aku tau aku lelaki brengsek, mengakhiri hubungan kita tanpa alasan lalu menghilang. Aku pergi karena sebuah alasan Kay kedua orangtuaku bercerai dan mama yang depresi memilih untuk bunuh diri lalu koma selama berbulan- bulan, papa yang merasa bersalah akhirnya membawa mama ke luar negeri mau tidak mau aku harus ikut pindah."
Kay membelalakkan matanya, mengapa Kevin selalu saja membuatnya terkejut.
" Aku tidak ingin membuatmu menunggu tanpa kepastian , aku pikir akan lebih baik kalau.. kalau kita berpisah. Tapi...." Wajah Kevin berubah masam sementara Kay diam tak menyahut, Ia masih menunggu kelanjutan ucapan Kevin.
"Ternyata itu tidaklah mudah, perasaanku padamu masih sama, Aku masih mencintaimu Kay"
Setelah pertemuannya dengan Kevin tadi siang, Kay menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Ia kembali teringat dengan Kevin cinta pertamanya dulu. Mereka pernah menjalin hubungan saat Kay masih mengenakan seragam putih abu-abu sementara Kevin adalah mahasiswa semester tiga juga salah satu sahabat kakaknya Ken.
Kay kenal dengan Kevin karena Kevin sering datang ke rumahnya untuk membuat tugas kuliah bersama Ken. semakin mengenal Kevin Kay memiliki perasaan lebih pada lelaki itu, hingga akhirnya Kevin mengutarakan perasaannya pada Kay saat dirinya berulang tahun ke 17 tahun.
Kay menerima Kevin sebagai kekasihnya hingga enam bulan berlalu hubungan mereka sangatlah baik, tapi tiba- tiba saja Kevin menghilang lalu mengirim sepucuk surat untuk mengakhiri hubungan mereka.
Kay tidak mengerti dimana letak kesalahannya, hingga Kevin memutuskan hubungan mereka dan menghilang bagai ditelan bumi. Tidak ada yang tau dimana keberadaan lelaki itu.
waktu berlalu tahun pun berganti Kay sudah melupakan Kevin, hingga beberapa hari yang lalu mereka bertemu kembali.
Lalu hari ini laki-laki itu datang menemuinya dan mengatakan bahwa ia masih mencintainya. Ini benar- benar gila, pikirnya
Sungguh Kay dilema, tapi saat melihat tatapan Kevin tadi siang Kay melihat tidak ada kebohongan disana.
"Arghhhhhh... Kenapa jadi begini" Kay mengehentak- hentakan kakinya ia benar- benar bingung sekarang.
****
Pada akhirnya Kay tidak menghadiri undangan dari Bara dan mengabaikan tawaran gila dari Kevin padanya.
Hingga beberapa minggu berlalu, setiap hari Kay selalu menerima setangkai bunga mawar merah lengkap dengan sepucuk surat. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Kevin.
To: my future Wife
Kehilanganmu aku merasa seperti kehilangan separuh diriku
To: my future Wife
Semesta pernah berkata 'tanpa meminta kamu akan menerima apa yang semestinya jadi milikmu'
To: my Future Wife
Aku percaya segala sesuatunya tercipta berpasangan dengan waktunya masing- masing sama seperti aku dan kamu.. akan bersatu di waktu yang tepat.
To: my future Wife
Kamu dan aku adalah ketidaksengajaan yang diatur oleh semesta, saling terikat dalam doa dan akan di persatukan dalam bahtera rumah tangga.
Kay tersenyum setiap kali membaca kata- kata yang ditulis Kevin padanya, setiap hari selalu saja ada setangkai mawar juga surat diatas meja kerjanya.
Tapi ada yang aneh sudah beberapa hari tidak ada bunga yang dikirim padanya. Dan itu membuat Kay merasa ada yang hilang, entah apa Kay tidak mengerti.
Apa Kevin sudah menyerah? Apa dia pergi lagi... Atau mungkin terjadi sesuatu padanya???
Mengingat penjelasan Kevin saat terakhir mereka bertemu membuat Kay takut, dengan cepat ia mengemasi barang- barangnya dan bergegas pergi. Tapi kemana ia harus mencari lelaki itu, ia bahkan tidak tahu dimana Kevin tinggal.
"Kak Ken pasti tau"
Tanpa membuang waktu Kay langsung pulang ke rumah orangtuanya. Karena percuma menghubungi kakaknya ditelpon terlalu banyak pertanyaan yang harus ia jawab nantinya.
Kay tiba dirumahnya, dengan wajah bingung pasalnya rumahnya begitu ramai. Apa ada acara? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahunya.
"Kay, kamu pulang nak? Mama baru mau menelpon kamu untuk pulang siang ini"
"Ada apa ma?"
"Mama punya kabar bahagia. ada yang mau melamar kamu"
Jantung Kay serasa berhenti berdetak. Ini bukan kabar gembira untuknya.
Tidak, ia tidak boleh menerima lamaran ini. Bagaimana mungkin ia mau menikah dengan laki- laki yang bahkan belum pernah di temuinya.
"Mah... Tapi..."
Mama Kay langsung menarik putrinya ke ruang tengah dimana semua orang tengah berkumpul menunggunya.
Mata Kay membulat, ia melihat sosok yang sangat ingin ia temui.
Kevin
Lelaki itu duduk diapit oleh kedua orangtuanya, tersenyum lebar ke arah Kay.
"Kevin dan orangtuanya datang ke sini mau ngelamar kamu." Kata Mama Kay
Kay menutup mulutnya tak percaya, Kevin lalu bangkit menghampiri Kay.
"Kay, aku tau kamu belum maafin aku. tapi kali ini aku ingin membuktikan keseriusanku dan maaf beberapa hari ini aku ga kirim bunga ke kantormu, aku pergi menyusul mama dan papa agar mereka mau melamar putrinya pak Rasyid jadi istriku. Kamu mau kan nikah sama aku?"
Semua orang yang berada di ruangan dibuat tegang menunggu jawaban Kay, beberapa orang yang tahu kisah perjalanan cinta mereka hanya bisa pasrah kalau Kay masih sakit hati dan menolak Kevin.
"Kay, jawab nak" kata papa Kay yang sudah tidak sabar menunggu
Dengan wajah tertunduk malu Kay akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Alhamdulillah"
The End