Semilir angin menerpa wajah senduku, menerbangkan rambut kusut panjangku, menari-nari seakan sedang mengejekku. Tak mau kalah, matahari bersemangat memancarkan cahayanya menusuk mata yang memerah, menertawakan air bening yang tak kunjung berhenti.
Aku tidak suka dengan hari yang kata mereka sangat indah, karena bagiku hari-hari indah itu tidak ada. Aku lebih suka langit mendung, rintik hujan yang menyirami tanah gersang, seakan ikut sedih bersamaku yang selalu dirundung kepenatan, kehancuran, kegelisahan, dan kebencian.
Kupejamkan mata, mencoba menikmati sengatan cahaya matahari dan terpaan angin untuk yang terakhir kalinya. Aku yang sedang berdiri di atap gedung Rumah sakit melihat orang-orang dibawah sana sedang lalu lalang seperti sedang menantiku terjun bebas.
Senyum getir menghiasi wajahku, melihat pergelangan tangan yang dibalut perban, merutuk kegagalanku untuk mengakhiri hidup yang menyiksa ini. “aku tidak akan menyerah, aku akan terus menyusul Ibu meski gagal bekali-kali, Ibu tunggu aku disana” benakku meyakinkan diri yang kini sudah berdiri di tepi atap gedung rumah sakit.
“Kau sedang apa”.
Sebuah suara menghentikan kaki kananku yang sudah terulur, kembali ke posisi semula kemudian mencari sumber suara.
“Mau loncat?, kau pikir, kau akan langsung mati hanya dengan loncat dari atas gedung berlantai Lima ini, kau hanya akan mendapatkan luka patah tulang atau geger otak, tidak akan bisa langsung mati”.
Aku terdiam mendengar perkataan gadis yang berdiri tak jauh dariku, dari tatapan matanya aku seperti menangkap arti bahwa dia sedang meremehkanku, sedikit tersinggung melihatnya. Aku mencoba untuk tidak perduli, niatku untuk melompat sudah bulat gagal atau berhasil itu urusan belakangan. Toh nanti aku bisa mencobanya lagi.
“Mau bertaruh denganku”.
Suara itu kembali menggangguku, kuputar badanku kemudian memberikannya tatapan tajam, memperingatkannya agar jangan ikut campur. Tapi, sepertinya dia tidak perduli karena dia kembali angkat suara.
“Jika penderitaanmu lebih besar dari apa yang kurasakan, aku akan memberikan silet ini kepadamu” mengeluarkan sebilah silet dari saku bajunya “tapi jika penderitaan yang kurasakan lebiah besar darimu maka kau tidak boleh mati sebelum aku mati terlebih dahulu”.
Aku diam mencerna setiap perkataannya.
“Dengan silet ini kau bebas menyayat pergelangan tanganmu atau memotong urat nadi yang ada di lehermu, aku tidak akan melarangmu melakukannya dan tidak akan memanggil orang lain untuk menolongmu, kau bisa leluasa melakukannya disini”.
Aku masih diam.
“Jika kau setuju menjauh dari tepi atap itu, tapi jika tidak silahkan loncat”.
Berlahan kakiku melangkah mundur mendekatinya, kulihat senyuman manis tersungging dari bibirnya. Kemudian dia mengajakku duduk di tengah atap gedung rumah sakit.
“Siapa namamu” tanya gadis itu padaku.
“Tala” jawabku singkat.
“Namaku Sayya” mengulurkan tangannya yang langsung kusambut.
“Kau bisa cerita tentang dirimu sekarang, aku akan mendengarnya” ucap Sayya kemudian.
Aku memejamkan mata, mencoba merangkai kalimat yang ingin kuluapkan sejak dulu “Tuhan tidak adil padaku dikehidupan ini, dari aku kecil semua orang sudah menghinaku, mejauhiku, tidak ada orang yang ingin berteman denganku. Aku yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam menerima perlakuan itu. Tapi sepertinya mereka kurang puas hanya menjauhiku, mereka masih ingin lebih membuatku terpuruk dan terhina, membullyku disetiap kesempatan baik secara fisik maupun mental. Dihina setiap hari sebagai anak haram, anak seorang pelacur aku masih bisa menahannya karena aku mesih memiliki Ibu yang menyayangiku, yang akan memelukku disetiap tangisanku. Tapi kini Ibu telah tiada, tidak ada lagi tempatku bersandar, aku tidak mampu memikul beban berat ini, aku ingin menyusul Ibu saja” air mataku tak terbendung, jatuh mengalir deras di pipi.
Sayya meraba kakiku yang lebam kemudian mengelus luka kering yang ada di sikuku, seakan tau darimana luka itu kudapatkan.
“Itu memang sangat menyakitkan, tapi tahukah kamu tidak bisa melakukan apa-apa itu lebih menyakitkan. Tuhan secara sepihak hanya memberiku sedikit waktu untuk hidup di dunia ini padahal aku masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi. Aku bahkan tidak mampu mengatakan pada orang yang kusayangi bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya bisa memberikan harapan kosong pada mereka” Sayya menatapku lekat-lekat “Setidaknya kau masih bisa membuat pilihan untuk dirimu, tapi aku tidak, aku hanya bisa menunggu tuhan mencabut nyawaku”.
Kulihat dia sedang mengusap air mata diujung kalimatnya, saat mendengar perkataannya aku menyadari dia bukan orang yang dijauhi sepertiku, dia memiliki orang yang menyayanginya dan yang dia sayang. Tapi mengetahui hidupmu tinggal sedikit lagi tanpa bisa melakukan apa-apa mungkin lebih menyakitkan dari pada aku.
“Pilihan ada padamu” Sayya meletakkan pisau diantara aku dan dia.
Menatap Sayya sekilas kemudian menggeser pisau itu lebih dekat pada Sayya “kau menang”.
“Kalau gitu kau harus mengabulkan permintaanku”.
“Apa?” tanyaku mendengar penuturan Sayya.
Sayya berjalan menuju pinggir atap gedung, kemudian tangannya telulur kedepan “belikan aku Ice Cream itu” menunjuk kedai Ice Cream yang ada di seberang jalan depan rumah sakit.
“Ice Cream?”.
“Mmmm, Ice Cream. Aku sudah lama ingin memakannya, tapi aku tidak diperbolehkan keluar rumah sakin dan keluargaku juga tida ada yang mau membawakannya untukku”
“Baiklah akan kubelikan” menyetujui permintaan Sayya “Hanya itu?” tanyaku kemudian.
“Iya, ayo kita beli sekarang”
“Kita” mengulang perkataan sayya yang sedikit janggal
“Aku juga ingin ikut keluar membelinya, ayo kita kabur” tersenyum senang dengan ide yang dia lontarkan
Aku ikut tersenyum, entah kenapa senyuman itu seperti maknet untukku. Melihat senyumannya membuatku ikut tersenyum. Dadaku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, bergejolak yang membuat bibirku tertarik hingga berbentuk senyuman “apakah ini yang namanya bahagia”
Kulihat Sayya sudah bersiap menuruni anak tangga, aku segera mengikutinya, ikut berlari saat aku melihatnya berlari kecil menuruni anak tangga. Segera menyeimbangkan langkah di sampingnya.
Kami berhenti, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di lobby rumah sakit. Mengawasi satu persatu orang yang lewat, menyelidik apakah di antara mereka ada yang mengenal kami, setelah yakin dokter maupun suster yang ada di lobby tidak akan mengenali kami aku dan sayya segera berlari menuju pintu utama rumah sakit, meski tetap mengendap-endap.
Kami tersenyum senang saat usaha kami berhasil, kini tujuan kami adalah kedai Ice Cream. Dari sini kami bisa melihat orang-orang yang sedang mengantri ingin membeli Ica Cream. Kata Sayya Ice Cream di situ sangat terkenal karena rasanya yang sangat enak.
Setelah lama menunggu akhirnya giliran kami tiba, Sayya segera menyebutkan rasa yang ia inginka, kemudian aku membayar setelah Ice Cream itu sudah ada di tangannya. Kami duduk di bangku yang tak jauh dari kedai, menghabiskannya terlebih dahulu sebelum kembali kerumah sakit.
“Kau terlihat sangat senang” ucapku pada Sayya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.
“Kau juga” balas Sayya masih asik menyantak Ice Cream di tangannya.
Tala tersentak mendengarnya, senyum dibibirnya langsung sirna, bukan karena dia tidak senang tapi mendengar dia sedang merasa senang rasanya sangat aneh, selama ini dia hanya mendengar orang-orang yang terus menghina dan memakinya.
“Tala, terimakasih sudah mentraktirku”.
“Aku yang seharusnya berterima kasih. Jika kau tidak menghentikanku, aku tidak akan pernah merasakan hal seperti ini selama aku hidup di dunia ini”.
“Baguslah” ucap Sayya senang mendahului langkah Tala “Besok kau masih mau main denganku” ajak Sayya memutar badannya ke arah Tala.
Tala menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Sayya.
Keesokan harinya Sayya datang kekamar Tala, mengetuk pintu kamar kemudian menunjukkan suiter panjang selutut yang telah dia persiapkan untuk menutupi baju rumah sakit yang mereka kenakan. Kali ini sayya kembali mengajak bermain di luar rumah sakit melakukan berbagai hal yang mereka senangi. Hal itu terus berlangsung hingga beberapa hari kemudian.
Bangun tidur, aku membersihkan diriku mempersiapkan perjalanan yang akan aku lakukan dengan Sayya, selagi menunggu Sayya yang akan mengetuk pintukku, aku melihat sekeliling kamarku, kemudian merasakan sebuah kejanggalan yang baru kusadari.
Aku sudah beberapa hari berada di rumah sakit ini tapi belum ada seorang dokter yang datang kekamar untuk memeriksa kondisiku, perban yang ada di tanganku sudah berhari-hari tidak diganti, kemudian tidak ada yang merasa kehilangan disaat aku pergi keluar beberapa hari ini. Semua terasa janggal untukku “ada yang aneh”. Aku berniat akan memberitahukan hal itu nanti pada Sayya saat kami bertemu.
Tapi Sayya tak kunjung datang, waktu biasanya dia akan mengetuk pintu kamarku sudah berlalu 2 jam, aku panik segera keluar kamar masih berharap Sayya ada di luar sana. Tapi harapanku sirna karena tak seorangpun yang kuliat diluar kamar.
“Jangan-jangan” batinku saat mengingat perkataan Sayya di pertemuan awal kami yang mengatakan bahwa waktunya tinggal sedikit lagi.
Aku berniat menemui Sayya di kamarnya, namun aku terdiam kembali menyadari bahwa selama ini Sayya yang selalu mendatangi kamarku, aku tidak pernah tahu di mana kamar dan apa sebenarnya sakit yang Sayya derita, hingga dia bisa ada di rumah sakit ini.
Aku berpikir keras bangaimana cara menemukan Sayya, aku tak mau kehilangannya, aku masih ingin merasakan gejolak bahagia yang baru kurasakan ini. Akhirnya aku memutuskan pergi keatap gedung rumah sakit. Tempat pertama aku dan Sayya bertemu.
Disana aku meliahat Sayya sedang berbaring menatap langit biru yang dihiasi awan putih, suasananya sama seperti pertemuan pertama kami. Dia menyadari keberadaanku langsung tersenyum memintaku untuk mendekatinya.
“Kau sudah datang” ucap Sayya kemudian memberi isyarat padaku untuk ikut berbaring disampingnya.
“Kau sedang apa di sini”.
“Tidak ada alasan, aku hanya ingin disini”.
“Kenapa tidak datang ke kamarku, kupikir kau----’’ ucapanku terhenti.
Dia melihatku sekilas kemudian tersenyum kembali menatap langit, tidak menjawab perkataanku.
“Aku mencarimu” ucapku kemudian
“ Kau tahu kita sedang ada di mana sekarang” kali ini Sayya mengeluarkan suaranya.
“Di atap gedung rumah sakit” jawabku bingung “tentusaja kami sedang di atap, dimana lagi” batinku tidak mengerti.
“Kau salah”.
Aku semakin bingung dengan perkataan Sayya “Kenapa salah, ini jelas-jelas atap gedung rumah sakit”.
“Kita sekarang sedang berada di garis waktu, garis yang mempertemukan kita di titik waktu yang sama”.
“Aku tidak mengerti dengan perkataanmu” kali ini aku sudah duduk ingin mendengar dan lebih memahami perkataan Sayya.
Sayya ikut duduk disampingku, menatapku lembut kemudian mengeluarkan silet yang pernah dia tunjukkan sebelumnya dan meletakkannya di depanku “kau boleh mengambilnya” ucapnya kemudian.
“Apa maksutmu” ucapku kesal meninggikan suara, meraih silet yang ada di depanku kemudian membuangnya jauh sekuat tenaga.
“Kau dan aku sekarang sedang berbaring di ruangan masing-masing, garis waktu yang mempertemukan kita sekarang di alam bawah sadar” jelas Sayya masih menatap Tala tersenyum.
“Omong kosong”aku masih tidak terima dengan perkataan Sayya.
“Tetaplah hidup, kau tahu? dunia ini luas, aku yakin di luar sana akan ada seseorang yang menyayangimu denang tulus, menjaga dan melindungimu sepenuh hati, suatu saat kau pasti menemukannya”.
Aku terdiam mendengar perkataan Sayya, sebuah harapan seperti terbit di ulu hatiku, matahari yang aku tunggu sejak fajar seperti telah menghampiriku, mungkinkah itu akan terjadi, mungkinkan ada seseorang yang akan menerimaku yang hina ini.
Sayya memegang kedua bahu Tala lembut, menatap matanya dengan tulus “Aku percaya padamu, kau pasti akan baik-baik saja”
Aku tersenyum membalas perkataan Sayya.
“Aku pamit, selamat tinggal” ucap Sayya yang langsung membuat Tala meneteskan air mata saat melihat Sayya berlahan lenyap dari pandangannya.
“Sayya...., Sayya...., kau dimana, jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku masih ingin bersamamu, kembalilah, tetaplah bersamaku sebentar lagi, sebentar saja, Sayya aku mohon” mencari-cari Sayya tek tentu arah.
Setitik Cahaya mendekat kearahku, lambat laun titik itu semakin membesar memenuhi semua pandangan. Kemudian cahaya itu kembali meredup dan pandanganku kini tertuju pada langit-langit kamar rumah sakit.
“Kau sudah sadar” sapa seorang suster yang sedang memeriksa kondisiku.
Aku kembali memejamkan mata, berharap bisa kembali ke dalam garis waktu, namun usahaku sia-sia, semuanya telah hilang.
“Apa yang sedang kau mimpikan hingga kau menangis seperti ini” suster itu mengusap airmataku lembut.
“Sudah berapa hari aku ada di sini” tanyaku pada suster setelah menerima kenyataan yang telah terjadi padaku.
“ Dua hari, kondisimu sekarang baik-baik saja, nanti kau akan dijadwalkan untuk menemui dokter psikiater untuk melihat kondisimu lebih jauh” ucap suster itu lembut.
Aku tersenyum mendengarnya “terimakasih suster”.
Setelah memeriksa kondisiku, suster itu meninggalkan ruangan, aku kembali memikirkan apa yang telah terjadi padaku, memikirkan hari yang kulaui bersama Sayya.
“Meskipun semua yang kulalui bersamamu tidaklah nyata, tapi aku sungguh sangat berterimakasih padamu karena berkat dirimu aku masih bisa merasakan kebahagiaan yang bahkan sebelumnya tak bisa kumimpikan”.
Sore harinya suster yang tadi kutemui kembali memasuki kamarku. Dia memintaku untuk mengikutinya menemui dokter psikiater untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sesampai disana sang dokter mengajakku bercerita, kemudian memberikan beberapa pertanyaan padaku, lalu aku diminta kembali kekamarku.
Ditengah jalan perhatianku tertuju pada sebuah kamar yang sedang ramai dipenuhi oleh tangisan. Sepertinya pasian yang dirawat dikamar itu baru saja meninggal, aku kembali melangkahkan kakiku, namun sebuah nama yang terletak di dekat pintu kamar menghentikan langkahku.
Kubuka pintu itu pelan-pelan, tangisan semakin jelas terdengar, semua orang dikamar itu mengerumuni tubuh kaku yang terbaring di atas ranjang. Disetiap tangisan terdengar seperti mengharapkan sebuah keajaiban.
Aku semakin dekat pada ranjang, semakin barharap bahwa yang kulihat di depan pintu hanya sebuah kebetulan, berharap dugaanku salah. Aku berdoa bahwa Sayya yang terbaring di atas ranjang bukan Sayya yang kukenal beberapa hari ini.
Kakiku terasa lemas, tidak mampu menopang tubuhku, aku terduduk saat melihat wajah pucat, kurus itu adalah orang yang kutemu di atas gedung, wajah ceria itu kini sudah kaku. Air mataku tumpah ruah tak terbendung, rasa sakit kembali menelusup di dalam hatiku. Sakit yang sama saat Ibu juga pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Aku sendiri lagi, benar-benar sendiri. Disaat sebuah harapan tumbuh, dalam sekejap mata harapan itu seperti diinjak hilang sirna seketika. Ini terlalu kejam untukku melalui hidup ini kembali. Aku berlari menaiki anak tangga melangkahkan kaki menuju pinggir gedung atap rumah sakit, mengutuk setiap kejadian yang kulalui.
“Kau sedang apa”.
Sebuah suara mengagetkanku, suara dan perkataan yang sangat kukenal, aku mencari sumber suara, mengedarkan pandangan ke setiap penjuru tapi tak seorangpun kutemukan. Aku tersungkur kembali menangis tersedu-sedu, menyesali apa yang akan kulakukan. Tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, aku kembali mengingat perkataan Sayya.
“Tetaplah hidup, kau tahu? dunia ini luas, aku yakin di luar sana akan ada seseorang yang menyayangimu denang tulus, menjaga dan melindungimu sepenuh hati, suatu saat kau pasti menemukannya”.
Aku tersenyum mengingat sayuman Sayya “Terimakasih, terimakasih untuk semua yang telah kulalui bersamamu, aku berjanji padamu aku akan hidup dan menceri seseorang yang menyayanggiku seperti yang pernah kau katakan”.