Tiap malam yang sunyi, suara aneh dari dalam lemari kosong itu menjadi irama. Selalu menemani mimpi buruk, dan membuat pikiran berfantasi hal mistis.
Namaku Josua, remaja 16 tahun yang terkenal karena tidak takut dengan yang namanya hantu. Teman-teman selalu memujiku akan hal itu.
Namun sebenarnya, itu hanya sebuah omongan kosong belaka. Aku, sangat takut pada hantu. Di setiap malam ketukan lemari berbunyi beberapa kali, itu membuat bulu kuduk berdiri.
Tok Tok Tok
Ah, lemari itu berbunyi lagi. Jam dinding menunjukkan bahwa sekarang pukul sebelas malam.
"Ketukan kali ini berbunyi tujuh kali, biasanya cuma enam.. Kenapa, ya?"
Benar, ini aneh. Biasanya ketukan itu berbunyi enam kali, namun hari ini ada yang janggal. Kenapa ketukan itu berbunyi sebanyak tujuh kali?
Kriieettt
Eh.. Sedikit, pintu lemari itu terbuka sedikit!
Aku tersentak dan mundur beberapa kali di atas ranjang. Mataku bergetar, kulihat ada tangan yang keluar dari sela-sela pintu.
Tangan yang memiliki kuku panjang, dan sebilah pisau berlumur darah.
Pintu lemari terbuka semakin lebar, dan aku hendak lari namun kakiku tidak bisa bergerak. Seolah ada yang mengunci.
"Khi khi khi, tidak bisa. Tidaak~ biiisa~ kaaabuuurr~" Alunan pria yang cukup berat dari lemari.
Sebuah kaki mulai nampak, disusul kepala yang muncul. Wajah rusak, dengan rambut hitam berantakan. Dia.. Tidak memiliki mata, apa lagi sebilah pisau ada di tangan kanannya!
Gaspp! Aku menutup mulutku, segera menyembunyikan tubuh menggunakan selimut. Kurasa, dia tidak memiliki mata itu hal yang bagus.
Dengan itu aku bisa lari, namun kaki ini benar-benar terkunci!
"Hehehe, bersembunyi? Bocah bersembuuunyiii~" Pria itu melangkah.
Derap langkahnya yang berat di malam sunyi, dengan iringan suara jam dinding. Kurasa dia semakin mendekat padaku, tetapi itu tidak mungkin.
Tidak.. Mungkin, ka-
"KEEETEEEMUUUUU~!!!!!"
Dia membuka selimut dengan sigap, pandanganku disambut olehnya yang tersenyum lebar, sangat lebar.
Matanya yang kosong, dengan senyuman lebar seolah mulutnya telah robek, ini... Menakutkan.. Instingku berkata untuk harus segera lari.
Dia mendekatkan wajahnya, "Petak umpet telah uuusai !!" Ujarnya.
"TELAH USAI, TELAH USAI, TELAH USAII!!" Seperti orang gila, dia mengucapkan kalimat itu berkali-kali.
"Hehe, waktunya untuk memberi hukuman pada pemain petak umpet yang kalah." Berpaling, lelaki itu mendekat.
Dia mengangkat pisaunya, "Dua mata.. Untuk mataku, hehe.. HEHEHEHE, MATA BARU UNTUK DIKOLEKSI!!!!"
"...Tidak-" Aku menutup mulutku, jantungku berdetak sangat cepat.
Apa ini? Kematianku? Benarkah?
"MAATIIII!!"
Aku, akan, mati-
"Jo! Kamu ngapain, mau ngecungkel mata sendiri?" Ujar ibu yang tiba-tiba berada di depanku.
"I-ibu, aku masih hidup?"
"Ada apa, sih? Kau tiba-tiba berteriak sambil hendak menyongkel matamu sendiri. Ini membuat Ibu takut!"
Sekarang aku berada di.. Kamarku?
Tidak, kami harus kabur dari sini. "Ibu, ayo kita pindah rumah. Sementara mari menginap di Rumah paman, kumohon."
Aku tahu dia akan kembali lagi, ketakutan itu akan terjadi lagi.
Aku harus pergi, sejauh mungkin.