“Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Kata yang trus saja terucap dari setiap mulut orang dan mulai beramai-ramai berkeliling hanya untuk menyorakkan kata tersebut. Penantian yang selama ini dinantikan akhirnya tercapai. Kesengsaraan dan penderitaan pun kini hanya menjadi cerita pedih. Merdeka, bebas dari para penjajah ketika moment bendera merah putih pertama kali dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tangis haru di mana-mana, hormat bangga pada selembar kain berwarna merah putih yang berkibar sempurna dengan backround langit biru dihiasi awan putih.
Pembacaan teks proklamasi bergema di seluruh dunia, Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya.
***
“Resti!” panggilan itu mengejutkanku, buku ditangan terjatuh. Segera kumencari arah suara panggilan itu. Sarah berlari menghampiriku dari arah ruang BK. Dengan melambaikan tangannya, aku mengernyit heran. Sedang apa anak itu?
“Huft … Resti! Itu … anu …,” ucapnya tidak jelas. Mungkin kelelahan berlari, pikirku. Sarah mulai menunjuk ke suatu arah. Aku perlahan mulai menelusuri kemana arah dia menunjuk.
“Ruang BK? Aku dari tadi di sini, tidak pernah melakukan apapun,” jelasku mulai panik. Namun, Sarah menggelengkan kepalanya pertanda tidak. Tentu saja aku semakin dibuat kebingungan olehnya.
Bukannya menjawab kebingunganku, Sarah tiba-tiba menarik tanganku untuk mengikutinya. Dia menyeret tubuh mungil ini menuju BK. Aku semakin panik, mulai mengingat apa yang telah kuperbuat. Siapa yang tidak takut akan ancaman seperti ini. Merasa tidak melakukan apapun, tapi terpanggil dan terpaksa masuk ke ruang yang menyeramkan tersebut.
“Assalamualaikum,” ucapku dan memasuki ruangan. Jantungku berpacu dengan cepat. Aku mulai merasakan desiran darah dalam tubuhku. Ujung tangan yang mulai dingin disertai keluarnya air keringat dan membasahi jilbab sekolahku.
“Wa’alaikumussalam,” jawab seseorang dari dalam ruangan. Beliau adalah bu Ratna, guru pembimbing untuk kelas XI. Tatapan ganda diberikan ke arahku. Tubuhku mulai bergetar. Rasanya ingin mengompol di saat itu juga.
“Risti ayudia putri, anak kelas XI IPA.” Aku menelan ludah dengan susah payah. Rasanya tubuhku kaku, dingin seperti mayat. Berhenti bernapas, membiarkan bu Ratna mulai berbicara.
Sarah yang dari tadi menemaniku terlihat santai saja. Kutahu dia sering bermasalah dan tidak asing lagi dengan ruangan ini. Mungkin sekarang Sarah dan bu Ratna sudah menjadi sahabat.
“Hahaha ….” Suara tertawa menggelegar di ruangan. Sarah dan bu Ratna tertawa riang. Membuatku semakin bingung apa yang terjadi di sini. Aku baru kali ini kenal bu Ratna karena aku merupakan murid pindahan sebulan yang lalu.
“Santai, Ris. Bu Ratna tidak akan memakanmu, kok.” Aku beralih memandang bu Ratna, aura mukanya berubah yang awalnya seram menjadi ceria seakan-akan terlukis sebuah pelangi di sana.
“Maaf, Bu. Ibu, memanggil saya ke sini untuk apa, ya?” tanyaku mulai rileks.
“Oh, iya. Ibu sampai lupa tujuan memanggilmu datang kemari. Kamu murid pindahan dari Jakarta, bukan? Menurut data, kamu ini siswi berprestasi terutama dalam bidang fisika, Kamu pernah ikut kejuaraan di Jepang, tapi kamu tidak lolos. Apakah Ibu benar?” Aku sontak melotot kaget, darimana bu Ratna bisa tahu tentang riwayat pretasiku? Hal yang ingin aku sembunyikan.
Sejak setahun yang lalu, aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam kegagalan tersebut. Namun, kini bu Ratna kembali mengungkitnya. Aku terdiam menunduk, tidak ada yang bisa dibanggakan.
“Ibu anggap diammu pertanda iya. Kenapa menunduk? Angkat kepalamu! Lihat dan bacalah!” tegas bu Ratna diiringi dengan menyodorkan sebuah kertas. Aku mulai membacanya dan yang benar saja. Kertas itu adalah formulir pendaftaran atas namaku dengan lomba yang sama dengan setahun yang lalu.
“I—ini?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Ingatan masa lalu mulai terputar. Tidak! Aku sudah bertekad untuk tidak mengikuti lomba olimpiade lagi.
“Kenapa? Kau takut? Lihat ini!” Bu Ratna memegang buku yang sedang kubaca tadi. Buku tentang perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka.
“Ibu harap kau mengerti. Dengar, Perjuangan belum selesai apabila apa yang diinginkan belum tercapai.” Aku merenung dan mulai mengingat kesalahanku pada olimpiade 2019. Itu adalah pengalaman pertama yang menyeramkan. Aku beruntung bisa sampai tahap sana. Di mana rasa syukurku? Sementara di luar sana banyak anak seusiaku yang sedang berjuang untuk bertempur di medan perang. Sementara aku? Aku hanyalah pengecut yang kalah hanya dengan kata tidak lolos.
“Risti, cobalah bangkit. Ibu percayakan semuanya padamu.”
***
“Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk semua orang yang mendukungku. Terutama bu Ratna tercinta. Bu, terima kasih telah membangkitkan semangatku. Piala ini aku persembahkan untuk ibu dan untuk negaraku tercinta, Negara Indonesia!” Teriakku di hadapan semua orang pada acara pidato para pemenang. Aku bisa berdiri dengan bangga di sini berkat bu Ratna. Guru pembimbing tersayang.
Note:
“Kegagalan kerap sekali terjadi. Namun, sebaik-baiknya kegagalan ialah kegagalan yang mengantarmu kepada keberhasilan.”