“Arrrgh!!”
“Terima kasih, semua memori anda telah dipindahkan.” Penelitian ini pun usai. Aku bersedia mengorbankan semua memori yang ada dan dalam lima menit ke depan aku akan bisa melupakan semua ingatan tentang masa lalu yang selalu saja datang menghantui setiap malamnya.
“Apa anda yakin dengan ini, Tuan?” Aku hanya bisa tersenyum puas karena akhirnya impianku kini akan segera menjadi nyata. Yakin? Tentu aku sangat yakin ini akan sukses.
“Bawa mereka pergi kemudian atur waktu jika salah satu dari mereka harus menemuiku sepuluh tahun kemudian untuk mengambil memoriku kembali.” Menghilangkan memori sungguh luar biasa. Namun, apabila masih bisa untuk diambil, kenapa tidak?
***
Sepuluh tahun kemudian ....
[Selamat! Kamu telah diterima di Universitas Hokaido, Jepang. Silahkan regristasi pendaftaran melalui email dengan ketentuan yang ada.]
“Apa ini? Kapan aku mendaftar di Universitas Hokaido? Alah, mungkin mama yang daftarkan. Rezeki, nih. Langsung regristasi aja,” gumamku dengan tangan yang sibuk mengotak-atik laptop untuk memenuhi syarat regristrasi yang ada. Kupikir jika inilah yang mama inginkan dariku. Jadi, aku akan berusaha menunjukkan yang terbaik dan akan mempersembahkannya hanya untuk mama.
Aku pernah berpikir, seandainya aku memiliki seorang ayah yang hebat dalam teknologi dan mengajari semua yang dia kuasai, pasti kini aku telah menjadi seorang ilmuan ternama dunia seperti Profesor Hernas Gerjen. Namun, sayangnya aku hanyalah seorang pria muda yang tidak pernah tahu wujud asli ayahku. Hanya bisa melihat dari hologram yang entah dari mana aku mendapatkannya. Hologram yang hanya bisa menampilkan seorang pria tua renta dengan masker penutup mulut untuk mrnutupi rupa wajahnya. Meski aku ‘tak yakin jika itu adalah ayah.
Aku juga sempat berpikir lama tentang keahlianku yang kini perlahan meningkat, aku rasa jika ini berasal dari ayah, tapi kembali lagi tentang aku yang tidak tahu-menahu tentang ayah. Aku sungguh merindukanmu, ayah walau tidak pernah memelukmu.
“Okey, sudah. Aku hanya perlu mendapatkan uang untuk bisa pergi ke Hokaido, belajar menciptakan berbagai teknologi canggih seperti pendiri Universitas ini. Siapa lagi jika bukan Profesor Hernas Gerjen, seorang ahli teknologi nomor satu dunia yang sepuluh tahun terakhir dinyatakan hilang kabar dan bahkan telah dinyatakan telah meninggal akibat kegagalan eksperimen terakhirnya. Kini, aku hanya ingin melanjutkan posisi beliau sebagai orang nomor satu dunia,” ucapku kegirangan berkhayal tentang apa yang akan terjadi.
“Kau bilang apa, Jordan? Menjadi orang nomor satu dunia?” Aku tersentak kaget mendengar suara merdu mama yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu untuk memperhatikanku.
“Iya, Ma. Jordan ingin menjadi orang nomor satu dunia seperti Profesor ---“
“Iya, Profesor Hernas Gerjen idolamu itu, ‘kan?” Rupanya mama sudah bisa menebak apa yang ingin kusampaikan. Lucu juga jika ternyata mamaku ternyata seorang peramal terkenal se Asia. Gak, jangan sampai itu nyata.
“Hehe, iya, Ma. And terima kasih karena telah mendaftarkanku masuk di Universitas Hokaido. Mama selalu tahu apa yang aku inginkan.” Aku berhambur ke pelukan mama walau mama seperto orang kaget kerena mendengar perkataanku. Apa aku salah ucap?
“Mama!” Mama terlihat kaget dan mengernyitkan dahinya mulai menatapku dengan tatapan menyelidik hingga ke penjuru kamarku. Mama terus saja melakukan hal itu hingga membuatku terus mengikuti ke mana arah pandangnya dan berharap bisa mendapati hal yang mama tangkap.
“Kau sakit, Jordan? Mama tidak pernah mendaftarkanmu untuk masuk Universitas. Kamu berbicara ngelantur. Ooow ... apa jangan-jangan tadi kamu ingin menjadi ahli teknologi karena kamu keterima di Universitas itu? Selamat, Sayang.” Mama mulai memelukku erat.
“Nah, iya, Ma. Mama hebat dalam menebak,” pujiku yang membuat mama tersipu malu dan akhirnya keluar dari kamar. Aku melanjutkan membaca persyaratan regristrasi. Aku memenuhi persyaratan yang ada dengan jujur kecuali untuk persyaratan yang terakhir, ternyata persyaratran terakhir memuat tentang agar kita segera mengirimkan sebuah proposal baru hasil karya sendiri beserta teknologi yang pernah diciptakan.
Sempat kuberpikir untuk mundur, tapi tidak semudah itu untuk menyingkirkanku karena aku kebetulan telah memiliki proposal yang jadi sekitar tiga hari yang lalu beserta alat teknologi yang telah kubuat. Namun, aku takut jika teknologi yang biasa ini akan ditolak dan aku pun tidak akan pernah bisa lagi mendapatkan kesempatan yang langka ini.
Akhirnya aku memilih untuk membuat proposal baru dan segera merakit sebuah teknologi yang kini banyak dibutuhkan semua orang yaitu, sebuah robot asisten yang bisa menjadi apa saja bagi majikannya. Menjadi sosok penghibur, perawat, pembantu, bodyguard dan lain sebagainya. Setelah sebulan aku berkutat dengan ilmu dan ketersediaan yang terbatas, akhirnya aku bisa menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan.
“Ma, aku pamit. Aku akan segera menggantikan posisi Profesor Hernas dan menguasai dunia.” Mama hanya mengangguk dan mengikhlaskan kepergianku begitu saja.
***
Bertahun-tahun telah berlalu, aku sangat sulit beradaptasi di negara ini. Bagaimana tidak? Mulai dari makanannya yang berbeda, hingga rasa rindu rumah terus saja menghampiri. Kini, kuhanya bisa duduk, mengamati setiap butir salju yang turun dari langit.
“Tuan, anda dipanggil untuk menghadap Profesor,” Mr. Jo, robot yang telah kubuat datang membawa kabar. Untuk apa menghadap profesor jika hanya melalui holgram? Aku ingin menemuinya dan berjabat tangan. Ya, beginilah teknologi membuat semua orang malas semakin malas dan bahkan saat bertemu masih saja memakai hologram.
“Kali ini Tuan disuruh menghadap langsung di laboratorium utama.” Aku terkejut, laboratorium utama? Apa aku bermimpi?
“Siapa yang mengirimimu massage?”
“Pengirim massage atas nama Hernas Gerjen.” Aku masih belum percaya dengan apa yang kudengar.
“Katakan sekali lagi!”
“Pengirim massage atas nama Hernas Gerjen, Tuan.”
“Akhirnya, aku bisa bertatap langsung dengan Profesor Hernas Gerjen, tapi mengapa dia memanggilku?” Banyak pertanyaan yang mulai bermunculan. Namun, saking gembiranya, aku langsung membuang semua pertanyaan itu dan mulai fokus melatih diri di depan cermin untuk berbincang dengan profesor.
***
“Jordan, mahasiswa unggulan kampus. Apa kabar, Nak?” Sumpah, kali ini aku tidak dapat berkata-kata dengan apa yang kulihat. Profesor idolakju tepat berada di depan mataku serta menyapaku dengan ramah.
“Okey, kamu pasti baik-baik saja. Saya langsung pada intinya saja. Saya hanya ingin mengambil memori yang tertanam di otakmu dan akan menonaktifkanmu karena kamu telah menyalahgunakan otak yang telah saya buat dengan susah payah agar kamu bisa menggantikan saya dalam menghadapi kejamnya dunia. Namun, kamu malah ingin menguasai dunia ini? Jangan harap! Kamu adalah robot, bukan manusia. Kamu tidak pernah menyadari akan hal itu!” Aku? Aku robot? Tapi, aku yang menciptakan robot, bukan?
Aku memundurkan langkah perlahan. Mimpiku untuk menguasai dunia lenyap begitu saja. Kini, aku harus kabur terlebih dahulu. Apa aku salah dengar? Aku robot? Tidak! Aku adalah manusia!
“Sial! Pintunya tertutup. Aku hanya bisa melawan,” gumamku tapi ternyata terdengar oleh orang yang tidak jelas itu.
“Melawan? Remot controlmu ada pada saya. Lihat tabung di sebelah kananmu.” Aku menoleh dan mendapati mama yang telah tertidur dalam keadaan berdiri. Mama? Tidak mungkin. Mama tidak mungkin robot. Kenapa otakku terasa berputar? Ini ....
“Robot, tetaplah robot. Diciptakan oleh manusia dengan teknologi canggih. Aku salah telah menciptakan dan menaruh memoriku padamu. Kini, kau hanya akan menjadi pajangan sama seperti yang lain.”
_END