Reva sering bilang, kalau pernikahan sepupunya Haikal Surya dengan seorang gadis bernama Liliana adalah sebuah jackpot yang sesungguhnya. Kenapa bisa demikian? Ya, karena pertemuan keduanya bahkan tidak diusahakan sama sekali. Keduanya hanya mengikuti kemana semesta akan membawa mereka berdua.
Rere ingat betul hari dimana Haikal dan Lili bertemu. Beberapa jam sebelum Haikal bertemu dengan Lili, dia menelepon Rere dengan suara parau dan nada yang kelewat putus asa. Haikal baru saja diputuskan sepihak oleh kekasih yang sudah dia pacari selama bertahun-tahun. Gadis itu bilang dia tidak mau lagi menunggu Haikal yang entah kapan akan datang melamarnya itulah kenapa gadis itu lebih memilih laki-laki yang datang lebih dulu pada orang tuanya.
"Re aku berani sumpah, aku tuh udah niat mau dateng ngelamar dia tapi dianya bilang masih belum siap terus. Nah sekarang posisinya aku lagi dibawah ya kali aku harus dateng sekarang mau kukasih makan apa dia nanti, cuma kusuruh nunggu sebentar kok tapi dianya nggak sabar," kata Haikal pada Rere melalui telepon.
"Ya terus sekarang kamunya gimana? Jangan aneh-aneh ya Kal, tak babat kamu nanti," kata Rere.
"Aku mau balik aja ke Bandung. Ada satu house production yang lagi butuh editor. Aku udah masukin lamaran ke sana, semoga aja diterima," kata Haikal masih dengan suara yang pelan.
"Kal kamu udah di stasiun sekarang?" tanya Rere setelah mendenvar ada suara kereta dibelakang suara Haikal.
"Hmm..., 2 jam lagi keretanya dateng."
"Terniat..., padahal kan Haikal Surya paling benci di suruh nunggu," kata Rere lagi.
"Nggak tau lagi pengen aja ngegalau di stasiun sekalian genjrengan. Kali aja ada yang mau kasih recehan, lumayan buat beli thaitea," kata Haikal lagi. Sudah hampir sebulan ini dia menjadi pengangguran karena dipecat dengan tidak hormat setelah dituduh menggelapkan uang perusahaan. Walaupun tidak terbukti benar tapi Haikal sudah tidak sudi bekerja di sana lagi. Terlanjur sakit hati katanya. Masa karyawan teladan selama 3 bulan berturut-turut nyolong, keluh Haikal setiap kali dia curhat pada sepupunya.
"Yaudah Kal, semangat ya jangan putus asa. Cewek nggak cuma satu kok. Percaya kan sama kuasa Allah?"
"Pasti. Setelah lihat gimana kamu sama Jevan bertahan bahkan setelah berkali-kali dijauhkan aku jadi semakin yakin kalau yang namanya jodoh nggak akan salah belok ke rumah tetangga," kata Haikal.
Setelah teleponnya dan Rere diputus, Haikal membuka tas gitarnya kemudian dia mulai mengeluarkan note kecil dari sakunya. Biasanya dia menulis penggalan-penggalan lirik lagu di dalam note itu dan mumpung Haikal sedang galau dan teramat sensitif dia berusaha menuangkannya ke dalam lagu.
"She no longer needs me, Aku semakin menginginkanmu, Bahkan jika kenyataan ini berat dan buruk, Aku mencintaimu, mencintaimu dengan segenap hatiku."
Haikal langsung menyanyikannya dibantu petikan gitar yang pelan namun menyayat hati dia menenyanyikan sedikit demi sedikit bait yang baru saja dia tulis. Haikal kembali menyanyikannya dari awal. Belum sampai setengah lagu, dia mendengar ada seorang gadis yang mulai menangis di sampingnya. Lebih tepatnya duduk di samping kanan satu baris dibelakang Haikal.
"Oh maaf..., anda tidak apa-apa?" tanya Haikal pada gadis itu.
"Maaf saya jadi terbawa suasana karena lagu anda. Maaf sudah mengganggu," kata gadis itu.
"Tidak apa, saya justru senang jika lagu saya bisa sampai ke perasaan pendengar," kata Haikal lagi.
"Ya, lagu anda sangat indah. Terdengar benar-benar seperti sedang patah hati."
"Memang. Saya baru saja putus dengan kekasih saya pagi tadi," kata Haikal tanpa basa basi.
"Saya juga, saya baru saja mengetahui fakta jika saya mengencani laki-laki beristri. Saya benar-benar jahat ya," kata gadis itu.
"Belum tentu. Jika laki-laki itu yang membohongi anda artinya anda tidak jahat," kata Haikal lagi.
Gadis itu jujur merasa dikuatkan. Setelah dijudge dan dicaci habis-habisan seharian tadi dia merasakan kehangatan dengan kalimat Haikal barusan.
Keduanya mengobrol cukup banyak mencurahkan isi hati masing-masing tanpa sadar jika mereka melewatkan sesi perkenalan diri. Obrolan mereka bahkan tidak terputus karena ternyata mereka berdua memesan tiket kereta yang sama. Kereta yang akan membawa mereka untuk pulang ke Bandung.
"Neng, rumahmu di mana? Ini sudah malam, kalau diizinkan saya ingin mengantar anda selamat sampai tujuan," kata Haikal yang merasakan enggan berpisah dengan gadis ini.
"Rumahku ada di daerah Padalarang A'. Tidak usah diantar saya bisa pulang sendiri kok," kata Lili.
"Aku antar ya, kebetulan rumahku ada di daerah Lembang jadi masih searah. Tenang saja aku bukan orang jahat kok," kata Haikal membuat Lili mengangguk.
Haikal benar-benar mengantar Lili sampai ke rumahnya dan menjelaskan dengan rinci perihal siapa dirinya dan bagaimana dia bisa berakhir mengantarkan anak gadis pak Har ini sampai ke rumahnya. Di luar dugaan, Haikal bahkan dijamu dengan begitu baik oleh keluarga itu. Pak Har sendiri juga menawari Haikal untuk ikut makan malam bersama sebelum diperbolehkan pulang.
Obrolan mulai dari yang santai sampai agak serius terjadi antara ayahnya Lili dan Haikal. Mereka berdua asik mengobrol di ruang tamu sedangkan Lili dan ibunya sedang menggoreng bakwan di dapur. Pak Har dan Haikal juga membicarakan soal karir hingga akhirnya Haikal memberanikan diri untuk mengajukan diri membantu pekerjaan Pak Har.
"Kamu yakin?" tanya Pak Har.
"Yakin pak, kalau Bapak memperbolehkan saya akan datang lagi besok membawa CV, Surat lamaran kerja dan persyaratan lain yang Bapak minta," kata Haikal.
Pak Har terlihat menimbang-nimbang kalimat Haikal sampai sang putri yang baru datang dari dapur membawa sepiring bakwan membantu meyakinkan ayahnya, "A Haikal ini lagunya enak banget lho Pak, resep pisan aku dengernya," kata Lili.
"Ya sampe nangis juga katanya," kali ini ibunya Lili yang menggoda putrinya.
"Dicoba saja Pak, siapa tahu jodoh," kata Ibu lagi.
"Bu...."
"Ya maksud ibu jodoh sama Bapak, kerjanya cocok gitu loh," kata Ibu mengoreksi.
"Yasudah besok kamu ikut ke kantor Bapak ya jam 8, Bapak tunggu. Ini kartu nama Bapak," kata Bapak membuat Haikal tersenyum bahagia.
Sekitar 2-3 bulanan Haikal bekerja dengan Bapak. Dia tidak diangkat menjadi karyawan tetap memang tapi sudah lumayan karena setiap kali Haikal dipanggil untuk membantu Pak Har memberinya uang saku. Hitung-hitung cari pengalaman, siapa tahu setelah ini dia dikontrak.
"Neng, malam minggu ada acara nggak?" tanya Haikal pada Lili yang tengah menyirami bunga di halaman.
"Tidak ada, tapi kalau mau ngajak pergi bilang Bapak dulu. Aku nggak berani kalau Bapak nggak bolehin," kata Lili.
Haikal mengangguk kemudian berjalan masuk ke dalam rumah untuk menemui Bapak lagi, padahal baru saja dia antar Bapak pulang agar Bapak bisa beristirahat, ini malah sudah mau dia ganggu lagi.
"Pak punten, malam minggu besok saya boleh bawa Neng Lili jalan-jalan?" tanya Haikal tanpa rasa takut.
"Mau ke mana?"
"Cuma jalan-jalan di sekitaran kota sambil lihat suasana kok Pak nggak akan saya ajak aneh-aneh," kata Haikal.
"Ya boleh, kalau anaknya mau silahkan saja. Tapi ingat, pulang sebelum jam 10 malam."
Haikal dan Lili benar-benar pergi seperti yang sudah dijanjikan. Lili pikir Haikal hanya ingin mengajaknya berjalan-jalan biasa, tapi dia ternyata malah menyatakan perasaannya dan bilang pada Lili jika diperbolehkan Haikal ingin datang melamarnya.
Lili awalnya menolak, luka trauma yang diciptakan oleh mantan kekasihnya masih belum mengering tapi sekarang sudah dipaksa untuk menjalani hubungan yang baru dengan orang yang baru saja dia kenal bahkan tanpa kesengajaan.
"Aa bercanda kan?"
"Nggak, kalau kamu perbolehkan minggu depan Aa datang ke rumahmu. Nanti setelah ini aku ijin dulu pada Bapak biar Bapak dan Ibu tidak kaget, tapi semuanya tergantung padamu."
"A, aku itu habis putus cinta belum sembuh. Sakit dibohongi sama laki-laki, agaknya saya nggak mau coba-coba lagi," kata Lili.
"Nah kebetulan, aku juga nggak mau main-main lagi. Sudah trauma pacaran. Maunya ya sah saja dulu baru kita pacaran."
Lili akhirnya memperbolehkan Haikal melamarnya, dia datang bersama Papa John dan Mama Chitta ke rumah Pak Har, langsung menemui kedua orang tua Lili untuk melamar dan hari itu juga mencari tanggal yang tepat untuk hari pernikahan.
Sejak Haikal melamar Lili, dia semakin rajin membantu Pak Har. Atas kegigihannya itu pula akhirnya Haikal mendapatkan posisi di kantor calon ayah mertuanya itu. Pernikahan keduanya tidak digelar besar-besaran. Sederhana tapi berarti. Alasannya karena Haikal yang memang belum sanggup memberikan kemewahan pada Lili makanya dia tidak mau terlalu banyak menghamburkan uang dan beruntungnya Lili mendukung alasan Haikal.
###End###
Epilog...
3 tahun setelah pernikahan
"Sayang..., astaga kamu ini molor aja terus. Katanya mau bantuin istrinya nyabutin rumput. Heh bangun Haikal Surya," kata Lili masih terus berusaha membangunkan suaminya itu.
Haikal hanya berdeham dan dengan setengah sadar menarik Keenan dari gendongan istrinya dan membawa putra sulungnya itu masuk dalam pelukannya kemudian kembali tidur.
"Astaghfirullah..., pemales banget. Haikal sayang..., Papinya Keenan bangun. Jangan bikin aku emosi ya, kalau karena emosi ke kamu adek bayi kenapa-kenapa beneran nggak selamat kamu," kata Lili kali ini sambil memukuli Haikal dengan guling yang terjatuh ke lantai.
"Iya ampun, mami ampun, sayang jangan dipukulin lagi iya ini bangun. Udah ya istriku sayang jangan marah-marah lagi, kasihan adek diperut. Ok...?" kali ini Haikal sudah bangun, berdiri tepat dihadapan istrinya. Dia juga menyempatkan diri mengelus perut Lili yang mulai membesar.
"Bangun makanya. Mentang-mentang weekend terus mau tidur seharian. Janjinya kemarin apa? mau bantuin kan? Aku udah susah jongkok ini," kata Lili.
"Iya yuk, kakak sini gendong Papi. Yuk kakak ikut Papi bantuin Mami ya," Haikal kemudian menggendong Keenan yang sejak tadi hanya duduk diam di kasur sambil sesekali terkekeh melihat Maminya memukuli Papi dengan guling. Mungkin menurut dia itu lucu.
Haikal dan Keenan kemudian menuju ke dapur, bukannya membantu malah menganggu Mami yang sedang memasak sarapan. Haikal sengaja menggunakan tangan mungil Keenan untuk mencolek-colek pipi mami Lili. Tadinya Lili ingin marah, tapi melihat senyum di wajah kedua kesayangannya ini emosinya luntur. Alih-alih marah, dia malah memeluk Keenan dan menciumi sulungnya yang kini mulai tertawa geli di gendongan sang ayah.
"Mi, nggak nyesel kan nerima lamaranku?" tanya Haikal kemudian.
"Nggak sama sekali," jawab Lili sebelum keduanya kembali menggoda Keenan.