Pernah dengar tentang claustrophobia? Kalau belum mari aku jelaskan secara singkat apa itu claustrophobia, sebuah phobia ketakutan yang berlebihan terhadap ruang sempit atau tertutup, misalnya lift atau ruangan tanpa jendela. Katanya phobia ini umum, apakah kalian juga punya phobia yang sama denganku?
Jujur saja, phobia ini mengerikan. Bahkan bisa saja mengancam nyawa seseorang, Aku pernah mengalaminya. Hampir mati, tapi semenjak kejadian itu hidupku benar-benar berubah.
Aku, Adellian Clark. Sekarang usiaku 26 tahun, seorang manager hotel di sebuah kota kecil yang terkenal, dan kejadian itu sudah 11 tahun yang lalu.
Flashback...
"Adelle, Don't you know that your weight is a bit of an objection from a normal kid?"
Ujar salah seorang teman sekelas ku, itu sudah biasa tiap pagi kudengar. Aku mengacuhkannya dan duduk di bangku, tapi mereka tidak berhenti mencelaku.
"Kakaknya tampan tapi sayang dianya jelek,"
"Wajar dong, mereka bukannya saudara kandung."
"Iya juga ya, dia kan anak simpanan."
"Hahaha."
Menurut mereka itu lucu, semua kisah hidupku lucu di hadapan mereka. Mereka bukan manusia, tapi aku tidak bisa melawan.
"Heh, kalau di ajak ngomong itu jawab dong!" Seorang teman sekelas ku menjambak rambutku dari belakang, sakit rasanya tapi aku terus menunduk.
"Punya telinga ga sih?"
Aku benar-benar kesal, dengan cepat aku menatap mata anak itu.
"Punya urusan apa aku denganmu?"
"Wah, kau mulai berani ya."
Dia ingin memegang tanganku, tapi aku langsung menahan tangannya.
"Lepaskan tanganku anak simpanan!"
Aku semakin memegangi erat lengan anak itu, aku kesal selalu di sebut 'anak simpanan'.
"Lepaskan bangsat!"
Alih-alih melepaskan aku memelintir tangannya, "Kau berisik sekali, dasar anak pelac*r."
Setelah mengatakan itu aku pergi, tapi sepertinya karena ucapanku anak itu tidak akan tinggal diam. Pasti setelah ini aku akan di panggil ke ruang kepala sekolah, benar-benar anak pengadu.
Aku berjalan menuju kafetaria, memesan satu batang coklat untuk menenangkan hatiku. Biasanya aku selalu makan untuk memuaskan nafsu membunuhku yang besar, aku ini juga bukan manusia biasa.
Mungkin kalian heran, tapi sanggupkah kalian di sebut 'anak simpanan' terus menerus tiap saat?Aku kesal, kenapa aku harus lahir? Kenapa pula dua orang dewasa itu memberikan tanggung jawab mereka kepada ibu tiriku?
Aku memang anak simpanan, entahlah aku tidak tahu jelasnya. Tapi jelas aku anak hasil hubungan gelap Jerry Clark si hartawan dengan sekretarisnya, dan sialnya lagi setelah lahir, wanita yang melahirkan aku meninggal. Aku tidak pernah melihat wajahnya dan tidak mau juga, tapi aku tahu dia juga bukan manusia biasa.
Setelah lahir, Tuan Jerry alih-alih merawatku dia malah tertangkap setelah di laporkan istrinya melakukan eksperimen gila. Lalu baru saja lahir aku sudah menjadi anak sebatang kara.
Selama berbulan-bulan katanya aku di biarkan di rumah sakit, pihak rumah sakit pun tidak tahu harus membawaku kemana. Sampai aku di kirimkan ke keluarga istri sah ayahku atau bisa di panggil ibu tiri, di usia tujuh bulan.
Ibu tiri memang awalnya tidak pernah terlihat peduli tapi beliau membesarkanku dengan baik, segalanya aku dapatkan. Tapi saat umurku masuk empat tahun untuk pertama kalinya dia tertarik padaku, katanya aku unik karena punya kekuatan mengendalikan air.
Aku menjadi di manja oleh ibu tiri, beliau sangat baik. Aku di beri apapun yang kumau, aku senang dengan itu. Selain itu aku juga punya kakak tiri yang baik, dia kakak terbaikku.
Mungkin karena aku selalu berlatih kekuatanku dan setelah berlatih ibu Ellise (panggilan ibu tiri) menyuruhku beristirahat dan makan yang banyak aku jadi makan terus-terus hingga berat badanku lebih dari anak-anak biasanya. Ibu dan kak Louis tidak memikirkan hal itu, mereka senang karena aku tumbuh dengan sehat.
Aku tidak merasa tersisih ataupun berbeda, sampai setelah masuk SMP aku jadi sering di bully. Aku tidak mengatakannya pada ibu maupun kakak karena aku sadar sekali jika aku akan merepotkan mereka saja, aku tidak akan membalas jika mereka tidak menyinggung asal-usulku dan keluargaku.
Entah siapa juga yang menyebarkan bahwa aku ini anak simpanan, membuat masa sekolahku selama di SMP buruk sekali. Aku sering di bully dan awalnya memang dengan kata-kata saja tapi lama kelamaan mereka main fisik, aku malas melawan jadi kubiarkan saja.
Di mulai dari memasukkan isi bak sampah di tas ku, menghancurkan buku sekolahku, menyembunyikan baju dan sepatuku, mendorongku dengan kasar, menjambak, dan pernah beberapa kali menguncikan aku di lemari loker sekolah.
Yang terakhir benar-benar keterlaluan, beberapa kali hampir membuatku mati. Ah tapi aku tidak pernah mengadu, memikirkan bahwa itu hanya masalah yang lalu.
'Adellian Clark have to come to the principal's office."
Aha, lebih cepat dari yang kuduga. Anak itu pengadu, dia anak walikota jadi dia tidak terima. Kali ini pasti aku akan dapat skorsing, berapa lama ya?
Saat masuk ke ruang kepala sekolah aku terkejut, ada ibu Ellise disana yang sedang berdebat dengan orang tau anak itu.
"Nyonya Clark anak anda sudah gila! Bagaimana dia bisa mencelakai kulit putriku yang indah ini," seru ibu anak itu.
Mama Ellise dengan tatapan meremehkan menjawab, "Memang sudah keturunannya kulitnya jelek, kenapa jadi salah anakku?"
"Nyonya Clark ucapan anda sangat tidak sopan!"
"Lalu apakah ucapan anda tentang anak saya gila itu sopan?"
Hening, ibu itu tidak berani melawan Mama Ellise. Lalu Mama melanjutkan ucapannya,
"Mr Konrad I am very disappointed in you, saya menitipkan anak saya disini untyk di perlakukan baik-baik bukannya untuk di hina!" Seru Mama Ellise pada kepala sekolah.
"Nyo-nyonya tunggu dulu-"
"Saya sudah terlanjur kecewa, mulai hari ini keluarga Clark tidak memiliki hubungan dengan sekolah ini lagi." Setelah mengatakan hal itu, Mama Ellise mengamit lengan Aku dan pergi.
Aku tidak bisa bicara apapun selama perjalanan, tapi dia tahu ibunya pasti sedang marah besar. Kami pergi ke arah rumah Sakit, tempat kak Louis di rawat.
Kak Louis mendapatkan cedera berat karena jatuh dari lantai dua, kakinya patah dan tulang tangannya satu retak. Itulah kenapa aku kesal sekali hari ini dan berani melawan karena aku sedang khawatir pada kakak, setelah sampai di lobby rumah sakit Mama berbicara sesuatu.
"Sekarang pergilah ke ruangan kakakmu, Mama mau membeli makanan. Kamu mau di belikan apa?" Tawar Mama, sepertinya dia sudah tidak terlalu marah.
"Terimakasih Mama, tapi tidak usah."
"Baiklah, Mama pergi dulu."
Mama pergi ke luar rumah sakit, sementara aku menuju lift rumah sakit. Sebenarnya aku malas lewat lift karena aku takut di tempat yang sempit, tapi aku juga lelah jika harus naik tangga untuk menuju lantai 3.
Biasanya lorong di dekat lift ini ramai tapi sekarang sepi sekali, tapi aku langsung masuk ke lift dan menekan nomor lantai 3. Aku sudah merasakan hal-hal yang aneh saat masuk, tapi aku berharap agar cepat lift nya sampai.
Ting!
Lift berhenti di lantai dua, kukira akan ada yang masuk tapi ternyata tidak ada. Saat pintu lift terbuka ternyata tidak ada siapa-siapa, lalu siapa yang menekan tombol dua?
Dengan kesal aku langsung menekan nomor tiga lagi, dan menunggu. Sialnya entah kenapa lift ini turun ke lantai 1, dengan kesal karena melihat tidak ada yang masuk aku langsung menekan nomor 3 lagi.
"Iseng sekali," ketusku.
Tapi tepat setelah mengatakan itu, lift berhenti.
"Lagi? Astaga, akh!"
Lift ini naik tetus menerus, aku sudah menekan nomor 3 tapi lift ini terus naik! Dengan panik aku menekan tombol darurat, tapi percuma tidak bekerja!
"Hiks, kenapa ini?"
Aku dengan sesengukan, berdoa lalu menekan nomor tiga. Tapi setelah melihat layar ternyata sekarang aku berada di lantai 8, gila lantai teratas.
"Mesinnya eror ya?"
Kring!
Teleponku berdering, Mama menelpon. Aku ingin mengangkat tapi tiba-tiba lift ini turun tiba-tiba dengan kecepatan tinggi untuk turun, dengan ketakutan aku memegangi telinga dan menutup mata. Ini benar-benar menakutkan, aku takut.
"Mama...kakak..."
Bum!
Liftnya benar-benar turun dengan kecepatan tinggi membuat hancur pintu dan ruangan lift, kesadaranku hilang...
*****
"Hei, Adelle kamu kok gak malu sama berat badanmu?"
"Coba bayangin kalau dia naik lift atau jembatan pasti keberatan, ga mau ah naik bareng dia."
"Adelle kamu obesitas ya?"
"Kamu gendut banget, beda sama keluargamu."
Aku menutup telingaku, kesal rasanya dengan ucapan mereka.
"Adelle, Adelle, perempuan itu cantik kalau kurus."
"Kalau gendut katanya ga bisa melahirkan lho."
Sudah tidak tahan lagi aku mendengarnya, lalu langsung aku berdiri dan berteriak.
"Gendut pun hidupku bahagia! Aku juga bisa kurus! Awas saja nanti jika aku berubah kalian semua akan terima akibatnya!"
Setelah mengatakan itu semuanya menjadi gelap, dan saat membuka mata lagi aku melihat bahwa aku ada di rumah sakit. Saat menoleh aku bisa melihat kak Louis yang langsung memelukku, dan ada Mama juga yang tersenyum haru.
"Adelle syukurlah kamu sudah bangun." Ujar Mama Ellise.
"Berapa lama aku pingsan?"
"Setengah bulan, katanya kamu tidaka kan pernah bangun jika tidak menghadapi rasa takutmu sendiri. Tapi ternyata kamu bisa." Balas kakak.
"Jadi tadi yang kudengar itu rasa takut terbesarku? Aku bisa melawannya?"
"Iya, kamu hebat sayang." Mama memelukku.
"Mama..."
"Iya?"
"Ajarkan aku pola hidup sehat, aku ubgin menjadi seorang atlit."
End flashback...
Ya begitulah tekadku, kejadian lift itu membuat kepalaku terbentur keras dan membuat kakiku hampir tidak bisa di selamatkan. Aku bersyukur bisa selamat bahkan dapat mengalahkan ketakutan terbesarku, aku benar-benar berlatih keras. jika di tanya masih takut pada Lift atau tidak, masih. itu trauma terbesarku, dan trauma ini sungguh buruk tidak bisa dianggap enteng.
Aku menjadi atlit boxing wanita yang terus memenangkan pertandingan, pindah satu ring ke ring lainnya tanpa ada kekalahan. Mendapat julukan 'sadistic boxer' adalah sebuah julukan yang membawa namaku menjadi besar, tapi setelah mengalami kekalahan yang besar aku berhenti dan menjadi manajer hotel.
Itulah kisahku, aku menuliskannya hanya untuk memberi ide pada Charlotte (adik sepupuku) yang seorang penulis. Sekarang saatnya aku bekerja di bagian resepsionis, sampai berjumpa lagi.