Masih sama sinar senja yang kulihat waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di pondok pesantren ini, dan masih sama juga kenangan yan kujaga dan kusimpan kepada dia sang impianku dikala masa-masa kelam itu.
Namanya Bilqis dia teman seangkatan dipesantren dulu, kulitnya putih hidungya mancung matanya belo, Bilqis paling suka mengenakan baju putih dengan rok hitam dan kerudung putih dia juga lebih sering tampil natural ketimbang teman-temanya yang sering menggunakan make up, tetapi menurutku itu membuatnya semakin cantik dan jujur aku tersihir oleh pesona naturalnya itu, senyum ramah nan tulus menambah nilai plus dimataku tentang sosok Bilqis, meski jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah berbincang langsung namun naluriku mengatakan bahwa Bilqis adalah gadis yang baik dan aku suka, entah Bilqis.
Beginilah susahnya menjadi santri berumur 23 tahun yang berlatar belakang kurang pendidikan agama dan selalu memiliki nilai terendah di kelas, dan tidak memiliki keunggulan di bidang keilmuan, tetapi apakah aku salah ketika mengidolakan sesosok Bilqis dengan segudang prestasinya, apakah aku bedosa? bukankah aku juga manusia yang berhak mencintai dan berhak dicintai?, aku hanya berfikir jika aku berusaha pasti akan menuai hasil dari jerih payah usahaku.
Selain dengan segudang prestasinya Bilqis juga seorang vokalis, suaranya mampu menyihir seluruh santri-santri yang mengikuti kegiatan sholawat simtudhduror di aula pesantren kami, kegiatan yang diadakan setiap satu bulan sekali pada malam jumat di minggu pertama, kegiatan yang paling kunanti-nantikan karena di majlis itu aku bisa dengan puas memandang wajah Bilqis yang begitu mempesona, anehnya aku tidak pernah merasa bosan ketika melihat Bilqis melantunkan sholawat simtudhduror. Dan aku sadar aku jatuh cinta padanya, benar-benar jatuh cinta.
“Sirrr!” tepukan keras dibahu membuatku kaget.
“kamu kenapa? Halu? kesurupan?” lutfi menanyaiku dengan khawatir karena aku hanya berdiam diri saja
“ah iya fi kenapa?” aku balik bertanya.
“ayo pulang ke komplek.” ajak Lutfi.
“nanti fi lagi nanggung.” jawabku
“kamu gila? Nanggung apanya? Acara kan udah selesai jadi ayo kita balik” dengan menggelengkan kepala Lutfi sedikit kebingungan dengan tingkahku.
Disitu aku benar-benar tersadar dan juga terkejut ketika mengetahui acara rutinan telah selesai,
“tunggu fi.” sembari mengejar lutfi yang sudah pergi meningalkanku dulu..
Aku terduduk di serambi masjid dengan tangan kanan yang sedang memegang kitab kecil nadzom Al-‘imrithi, kubaca lalu kuhafalkan kulakukan berulang kali setiap hari namun anehnya tetap saja tidak satupun bait yang dapat kuingat dengan baik, aku benci hafalan tetapi itu salah satu kewajiban yang harus dilakukan ketika menjadi santri di pondok pesantren ini, aku harus bagaimana?. Disela-sela kejenuhanku aku melihat sesosok yang tak asing berlalu dihadapanku dengan tangan kiri yang menenteng kertas kado dan tangan kanan menenteng tas plastik dengan tergesa-gesa, tidak salah lagi itu Bilqis.
“Tunggu!, Bilqis? Kenapa dia tergesa-gesa? Kenapa juga dia sendirian, tidak seperti biasanya, mungkin dia sedang menyiapkan sesuatu untuk temannya yang ulang tahun, lalu siapa?. Ah sudahlah palingan Bilqis ingin memberikan kejutan pada teman sekamarnya lagipula aku kan sedang hafalan ayolah Basir fokus fokus.” aku bergumam dalam hati.
Setiap hari mingu ba’da dzuhur seluruh santri dipondok pesantren kami menyetorkan hasil hafalannya satu persatu dan maju sesuai nomor urut absen.
“Khoirul mubasyir.” panggil mas Alvian pengampu setoranku.
Dengan langkah berat aku maju menghadap mas Alvian.
“Sudah hafal?” tanya mas Alvian
“paling ngulang yang minggu kemarin mas.” aku menjawab dengan wajah yang menunduk.
“bukannya minggu kemarin kamu juga ngulang yang minggu kemarinnya lagi ya?” tanya mas Alvian
“i i iya mas” jawabku dengan terbata-bata
“gimana mau ikut khataman kalau ngulang-ngulang terus.” sahut mas Alvian.
“soalnya...”
“sudah-sudah langsung saja kamu berdiri di depan!” potong mas Alvian.
“iya mas.” tanpa basa basi aku maju dan berdiri didepan.
aku berdiri sampai waktu jam pelajaran berakhir, begitulah aturan dipondok pesantren kami, setiap santri yang belum hafal wajib berdiri di depan sampai jam pelajaran berakhir, bagiku hal seperti ini sudah biasa karena aku langganan berdiri didepan.
Selang beberapa hari di tangga belakang, aku masih saja menghafal nadzoman yang harusnya disetorkan hari ini, aku melihat Alan teman seangkatanku yang juga sedang menghafalkan nadzoman juga, bedanya karena dia cerdas dan hafalannya kuat sekarang Alan sedang menghafalkan nadzoman kitab Alfiyah Ibn Malik.
“boleh dong duduk disitu?”
“tidak usah terlalu formal, ini kan tempat umum” kata Alan dengan dingin dan masih memandangi kitab nadzoman alfiyahnya.
“kamu kenapa, wajahmu pucat?” tanya Alan penasaran.
“biasa lan hafalan.” Jawabku dengan santainya
“mungkin caramu hafalan yang kurang tepat sir.”
“bagi dong tips hafalannya.” tanyaku penasaran.
“kalau aku biasanya satu bait kubaca berulang kali sampai hafal baru melangkah ke bait berikutnya.” Alan mengarahkanku.
“ah masa iya cuma begitu lan.”
“kamu ngga percaya?” alan mananyaiku balik.
“iya iya percaya.”
“kita kan sama-sama nyantri jadi apa salahnya saling berbagi.” tambah alan.
“tapi kalo nggak hafal-hafal gimana lan?”
“kan udah biasa kalo ngga hafal-hafal.” Alan sembari menertawaiku.
Perlahan entah kenapa setelah kejadian itu kami jadi sering tukar pikiran dan juga kami menjadi teman dekat dia sosok yang dewasa juga humble, mungkin itu yang membuatku nyaman ketika bertukar pikiran Alan.
Pangung yang megah sudah berdiri,pamflet agenda tahunan yaitu haflah akhirussanah sudah disebar ke berbagai media, waktu yang ditunggu-tunggu seluruh santri di pondok pesantren kami dimana para santri yang khatam kitab sesuai tingkatannya berhak ikut khataman dan Alhamdulillah aku berhasil mengkhatamkan kitab nadzom Al-imrithi. Selain khataman, untuk meramaikan haflah akhirussanah juga diadakan bazar santri yang berisikan macam-macam hasil karya santri yang diperjual belikan disitu, tak mau ketinggalan setelah sesi acara khataman aku berkeliling bazar sembari menikmati suasana satu tahun sekali itu.
Tiba-tiba saja aku terhenti karena dari kejauhan aku melihat Alan menghampiri sosok yang sangat aku kenal dan aku kagumi. Ya itu Bilqis, lalu sedang apa mereka berdua di keramaian seperti ini?, mereka juga nampak sangat dekat dan asyik dengan obrolan mereka.
Saking penasarannya aku mendekati mereka, tujuanku hanya satu ingin mendengar percakapan mereka.
“... kamu yakin mas? ....”
“... soalnya aku yakin kamu memang yan terbaik untukku ....”
“... ah pasti kamu bercanda mas ....”
“... kenapa? kamu ragu? Kita kan sedang dalam masa taaruf ....”
“... aku sadar kita lagi taarufan, tapi apa tidak terlalu cepat? ...”
“... menurutku ini waktu yang tepat qis ....”
“... baik mas kalo kamu sudah yakin aku juga siap ....”
Cukup! Cukup! Aku tidak kuat mendengar semua ini, hatiku hancur aku tak menyangka ternyata teman akrabku memiliki hubungan spesial dengan gadis impianku, selama ini bahkan mereka sudah taaruf, apakah ini nyata ataukah hanya drama seperti di tv, aku berharap kalau ini semua hanyalah mimpi. Tolong siapapun bangunkan aku, ketika aku tersadar jika semua ini nyata dan bukan ilusi apalagi mimpi aku langsung bergegas pulang ke pondok pesantren tanpa menghiraukan siapapun, semenjak kejadian itu aku merasa sangat terpukul, beberapa hari aku mogok makan bahkan sampai-sampai teman sekamarku mengira bahwa aku kesurupan.
15 tahun berlalu, Bilqis hidup bahagia bersama Alan, waktu memang begitu cepat berlalu begitupun rasa kecewa serta kebodohanku yang pernah menyukai seorang Bilqis, dalam kasusku ini aku tersadar jika tolak ukur kebahagiaan ternyata bukanlah pemaksaan yaitu merelakan, juga tentang pemantasan diri bagaimana aku dengan segala kekuranganku yang mengharapkan Bilqis dengan segala kelebihannya akan aneh jadinya ketika diriku bersanding dengan Biqis yang begitu sempurna, tetapi sudahlah itukan sudah berlalu, sekarang akupun sudah bahagia bersama Yana isteriku yang bersedia memantaskan diri bersanding denganku. Dan kebahagiaan kami semakin lengkap ketika kami dikaruniai putra yang kami beri nama Yusuf Abimanyu, sekarang dia sudah berumur 12 tahun dan kumasukkan pesantren sama seperti aku waktu muda dulu.
“mau sampai kapan ayah berdiri disitu?, ini kan sudah mau masuk waktu maghrib” Yana menegurku yang sedari tadi aku sedang bernostalgia tentang masa laluku.
“maaf bu tadi ayah hanya bernostalgia sejenak.” sembari tersenyum kecil aku melihat wajah isteriku.
“ayo cepet yah kita pulang, ini kan jatah liburan semester yusuf .” eluh ptraku yang sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah.
“iya iya kita pulang ba’da maghrib, soalnya kan pamali pulang waktu maghrib.” Jawabku sembari menenangkan Yusuf.
Sejenak aku menatap putera dan isteriku dengan senyum bahagia, aku bersyukur karena Yana dan Yusuf adalah jawaban atas patah hatiku bertahun-tahun yang lalu, tuhan memang selalu memberi sesuatu lewat jalan yang tidak terduga, terkadang sesuatu yang jelaspun belum tentu menjadi takdir kita, malah sesuatu yang samar bahkan tidak diduga-duga menjadi takdir kita, sunguh tuhan maha membolak-balikan hati. Takdir tuhan memang siapa yang tahu? Aku teringat kata-kata sujiwo tejo “menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa brencana menikah dengan siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa”.