WARNING!
Genre: Horor, Misteri, Thriller, Komedi.
Casting: Peinto, Radaokun, Wrwrd.
.
Disore hari pada pukul 3 sore, terdapat tiga bocah sekolah dasar sedang merangkul tasnya masing-masing dan berdiri didepan gerbang sekolah.
"Dimana ini?" ucap salah satu dari tiga bocah itu.
Bocah berbaju biru tua menyahut, "Sekolah?"
"Ehh Utsu?!" sentak bocah yang bertanya tadi.
Anak berbaju biru yang bernama Utsushima Dai ikut terkejut ketika melihat sahabatnya yang bernama Koneshima Takayuki, "Shima!"
"Oi oi!" tiba-tiba seseorang menyela perbincangan mereka berdua.
"Zomu?!" ucap mereka berdua serentak.
Bocah laki-laki yang berbaju hijau bernama Torii Nozomu menghampiri Koneshima dan Utsu. "Kalian ada disini juga?!" tanyanya kebingungan setengah mati.
"Iya!" jawab Koneshima.
"Bukannya kita ada disebuah mansion? Dan kenapa kita berubah menjadi anak sd?" tanya Utsu sambil menatap wajah kebingungan dari dua sahabatnya itu.
"AAAAAAAAAAA!!!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari dalam sekolah dasar tersebut.
"ITU SUARA TONTON!" teriak mereka bertiga serempak.
Sejenak diam menghening. Mereka saling tatap satu sama lain dengan keringat dingin mengucur dipelipis mereka masing-masing.
"Sepertinya dia sedang dalam bahaya..." ucap Koneshima memecah keheningan.
Utsu dan Zomu hanya melirik Koneshima dengan ragu.
"Oke, ayo kita kesana!" ucap Zomu menyemangati dua sahabatnya itu.
"Kalian saja duluan, aku akan pulang!" jawab Utsu sambil lari kearah gerbang depan sekolah.
"HOYY!!" Koneshima menarik kerah baju Utsu agar dia tidak melarikan diri. "Ayoklah kita susul Tonton!" ajak Koneshima dengan penuh semangat namun kedua kakinya tidak bergerak sama sekali.
"Buahahaha!! Kau ngajak tapi ga maju-maju gimana bah," ucap Zomu tertawa melihat tingkah sahabat somplaknya itu.
"Yok kapten Zomu duluan," ucap Koneshima sambil mendorong badan Zomu kedepan.
"Oke deh okeh!"
Mereka bertiga pun memasuki sekolah itu dan mencoba menelusuri ruangan demi ruangan di setiap koridor sekolah.
Saat mereka memasuki salah satu ruangan Koneshima menemukan sebuah kunci ruangan basement. Mereka pun langsung saja pergi ke basement yang terkunci. Koneshima memutar kunci dan pintu ruangan pun terbuka.
KRIEETT~
"Kenapa kalian ada disini? Ini bukan jam sekolah," ucap seseorang berbaju olahraga berwarna biru tua seraya menatap mereka bertiga dengan tatapan mengintimidasi.
"Ah—Radao sensei!" panggil Koneshima dengan ceria.
Pria berbaju olahraga yang bernama Saruyama Radao pun mendekati mereka bertiga, tercium aroma anyir dan terdapat beberapa noda merah yang kemungkinan besar itu adalah sebuah darah di bajunya.
Sontak Koneshima, Utsu dan Zomu berjalan mundur dengan perlahan. "Kenapa kalian belum pulang, hm?" Tanya guru olahraga tersebut dengan pandangan tidak suka.
"K-k-ka-kami m-mau..." jawab Koneshima dengan tubuh bergetar, lidahnya kelu tak bisa digerakkan sama sekali.
Radao mendekati wajahnya ke wajah Koneshima yang dipenuhi oleh keringat, "Hm? Mau apa?"
"Kami mau pulang! Ta-tapi gerbangnya sudah dikunci..." sorak Utsu menyelamatkan nyawa Koneshima.
"Oh," jawab Radao sensei dingin.
Guru itu kemudian berjalan kearah sebuah meja dan membuka laci dimeja tersebut, ia menggenggam sebuah kunci dan memberikannya pada mereka bertiga. "Sebelum kalian pulang, tolong bantu sensei beri makan peliharaan sensei dikebun sekolah ya?" Ucap Radao dengan senyum misteriusnya.
"O-oke siap!" Ucap mereka bertiga serempak dan keluar dari ruangan basement yang berbau busuk itu.
Sambil berjalan kearah kebun sekolah yang terletak disamping kiri sekolah, mereka membicarakan tentang bau anyir yang tercium ditubuh Radao sensei. "Radao sensei itu dijadwalkan bertugas malam disekolah kan?" Celetuk Utsu sambil membenarkan kacamatanya.
"Iya, dia bertugas patroli malam disekolah." Jawab Zomu seraya memainkan kunci yang diberi oleh Radao sensei.
Koneshima berpikir sejenak lalu berkata, "Apa yang dilakukan Radao sensei disetiap malam?"
Zomu dan Utsu hanya berpaling kearah lain mencoba ikut berpikir. "Apa mungkin membunuh teman kelas kita?" Tanya Zomu dengan pandangan tak percaya.
Waktu mulai menunjukkan pukul 7 malam, sinar matahari tak lagi muncul dilangit. Sekolah pun sudah nampak gelap gulita, suasana sudah mulai mencekam ketika mereka melanjutkan pembahasan tentang apa yang dilakukan Radao sensei ketika beliau melakukan patroli malam.
"Eh, ini kan kandangnya?" Celetuk Utsu pada sahabat-sahabatnya.
Ketika mereka memandangi sebuah kandang yang kosong melompong, pikiran mereka mulai liar tak karuan. Panik, gelisah, dan kebingungan.
"Jadi... apa maksud sensei memberi kami tugas memberi makan peliharaannya?"
"Wah~ Kemana para kelinci-kelinci tersayangku? Kalian yang melepaskannya, ya?!" Celetuk seseorang dibalik tubuh mereka dengan nada yang menyeramkan.
Sontak tubuh mereka kaku tak bisa digerakkan karena terkejut dan ketakutan, mereka melirik kearah belakang dan terlihat sesosok pria berbaju olahraga dengan manik yang menyalang merah dan ditangannya membawa sebuah celurit. "S-sensei..." sapa Koneshima tergagap-gagap.
"Ada apa Koneshima muridku tersayang?" Jawab Radao dengan senyum gilanya.
Mereka bertiga berjalan mundur sampai menabrak pintu kandang tersebut, "S-sensei m-mengagetkan k-kami..." ucap Koneshima terbata-bata dan pikirannya yang kacau balau akibat hasrat ketakutan menyerang sel otaknya.
Radao ikut mendekati mereka bertiga dengan senyum yang masih setia terpampang diwajah putih bersihnya, "Ara-Ara gomen~ Kalian kaget yah?"
Mereka bertiga hanya mengangguk mantap dan pasrah pada dunia akhirat. "Cepat sana kalian cari peliharaanku!" Bentak Radao dengan sarkas.
Mereka bertiga pun kocar-kacir meninggalkan Radao yang sedang marah besar.
"Tidak seperti biasanya, Radao sensei marah terus!" Gerutu Koneshima ngos-ngosan.
Duduk sejenak didekat kuil sekolah, mereka mengatur nafas terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian terdengar suara tak sedap dibalik semak-semak tepat disamping kuil.
Mereka bertiga saling pandang lalu memutuskan untuk mengeceknya.
"Tonton?!" Teriak mereka bertiga serempak ketika melihat penampakan bocah berseragam merah tua dengan mata sipitnya. Ia nampak memeluk suatu boneka kayu yang entah bentuk apa itu.
"Kalian! Akhirnya kita bertemu!" Ucap Tonton dengan gembira.
"Tonton, yang kau peluk itu apa?" Tanya Koneshima penasaran.
Tonton menunjukkannya pada ketiga sahabatnya, "Di-didalam boneka kayu ini ada Roboro!"
Mereka bertiga terkejut bukan main, yang benar saja seorang manusia bisa masuk kedalam sebuah boneka kayu?
"Aku serius! Aku menyaksikan Radao sensei memasukkan Roboro kedalam sini! Dia menggunakan semacam sihir!" Jelas Tonton sambil memperagakan apa yang terjadi ketika salah satu sahabatnya yaitu Amano Roboro terjebak didalam boneka kayu tersebut.
"Apa kau yakin?" tanya Utsu pada sahabatnya yang bernama Momose Tonpei.
"Iya sungguh!" Jawab Tonton dengan mantap.
Mereka berempat merenung sejenak, "Bagaimana caranya kita mengeluarkan Roboro dari situ?" Tanya Zomu pada sahabatnya.
"Daripada diam saja bagaimana kalau kita keliling sekolah sambil mencari petunjuk?" Celetuk Koneshima menaikkan semangat pada sahabat-sahabatnya yang sedang buntu.
"Oke yuk!" Mereka berempat pun memasuki sekolah melalui pintu belakang.
Koridor demi koridor mereka lewati, namun tiba-tiba terdengar suara gumaman dari seseorang. Mereka berempat pun mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Hey jangan dorong-dorongan!" Ucap Koneshima pelan.
"Aku juga mau lihat!" Jawab Zomu mendesak-desakkan tubuhnya pada tubuh Koneshima.
Dan akhirnya mereka berdua ambruk dan pintu pun terbuka lebar.
CEKRIK!
"SIAPA ITU?!" Teriak seorang pria berbaju layaknya detektif lengkap dengan pistol yang sudah ditodongkan pada mereka berempat.
"M-maafkan kami k-karena mengganggu sensei!" Celetuk Utsu tergagap.
"Eh, itu bukannya kakaknya Roboro?!" Ucap Koneshima sedikit terkejut.
"Eh? Kok kalian tau aku?" Tanya pria yang bernama Amano Peinto seraya menaruh kembali pistolnya kedalam sakunya.
"Peinto onii-san! Kenapa kakak disini?" Tanya Zomu mendekati pria itu.
"Aku sedang mencari Roboro yang hilang dari rumah sejak sore tadi," jawab Peinto gelisah.
"A-anu... itu aku tadi sore bersama dengan Roboro setelah mengunjungi Radao sensei di ruang guru, saat kami ingin pulang Roboro diseret oleh Radao sensei dan memasukkan Roboro kedalam boneka ini. Aku pun mencoba bersembunyi dan mengambil boneka ini saat Radao sensei pergi dari basement," cerita Tonton panjang lebar.
Peinto terkejut akan hal itu, tak disangka Radao teman semasa kecilnya melakukan hal kejam pada adik kesayangannya. Hal itu membuat Peinto sedikit kecewa dan marah, "Itu hal yang kejam! Kalau begitu kita selidiki basement itu!"
Mereka berlima pun langsung pergi menuju basement sekolah. "Ta-tapi Radao sensei ada disana!" Ucap Koneshima ketakutan.
"Tidak apa-apa, kalian masuklah kesana cari buku atau apapun yang bisa mengembalikan Roboro! Sisanya... biar aku yang hadapi Radao-kun," ucap Peinto dengan nada sendu.
Peinto sejenak tersenyum hangat pada mereka berempat, "Setelah kita keluar dari sini aku akan mengajak kalian liburan!"
"YEAY!!" Mereka pun berempat bersorak gembira.
Tonton yang menyadari suatu hal ia terus-terusan memperhatikan sikap Peinto yang sedikit aneh, "Kak Peinto... Radao sensei sahabat kakak?"
Peinto yang sedikit terkejut akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tonton, "Kau benar... tapi karena dia melakukan hal kejam pada adikku, aku tidak akan memaafkan dia!"
Tonton tertegun mendengar perkataan Peinto, terasa perasaan aneh, curiga, firasat tidak enak bercampur menjadi satu didalam kepalanya. "Semoga saja tidak terjadi apa-apa..." gumam Tonton.
Sesampainya di depan pintu basement Zomu membukakan pintu itu dan tampaklah sesosok pria berbaju olahraga sedang duduk disebuah kursi, "Apa kalian sudah menemukan kelinciku?"
"B-belum... Sensei," jawab Koneshima gagap.
"Sudah lama tidak berjumpa yah, Radao-kun."
Radao membelalakkan matanya ketika melihat sesosok pria yang sangat ia kenali 12 tahun berjalan, "Peinto? K-kenapa kau ada disini?"
Peinto hanya menatap benci pada Radao, "Bukan urusanmu."
Radao dengan panik mendekati Peinto dengan wajah yang sangat marah, "Bukannya kita sudah berteman selama 12 tahun? Katakan saja apa yang kau butuhkan, aku akan mengabulkan permintaanmu Pein-chan~"
Selama mereka berdua berdebat, Zomu, Koneshima, Utsu dan Tonton menggeledah basement dengan sangat hati-hati. Tak berapa lama kemudian mereka menemukan semacam buku sihir yang bertuliskan 'Kutukan Iblis'. Tanpa pikir panjang mereka pun mengambil buku tersebut dan keluar dari basement.
"Apa yang kau lakukan pada Roboro?" Tanya Peinto dengan amarah yang membuncah.
Radao yang tadi panik berubah kesal ketika mendengar nama 'Roboro' dari mulut Peinto. "Menurutmu?" Ucap Radao dengan senyum gilanya.
Peinto terkejut melihat ekspresi yang Radao pasang, "Kau sudah gila Radao-kun..."
"Ya, aku memang gila!" Teriak Radao sambil berlari kearah Peinto dan memukul tengkuk Peinto.
"Jangan ganggu rencanaku, Peinto." Radao pun kemudian meninggalkan Peinto yang jatuh pingsan.
Dilain tempat, Zomu, Koneshima, Utsu dan Tonton sedang membuat lingkaran sihir menggunakan darah kambing yang ia curi di basement tadi.
"Sudah selesai!" Ucap Koneshima dengan senang seraya mengusap keringat yang membanjiri pelipisnya.
Tonton dengan gesit menaruh boneka kayu itu ditengah-tengah lingkaran sihir. Beberapa menit kemudian lingkaran itu bersinar terang, dan nampaklah sesosok bocah berbaju kuning lengkap dengan kacamata bundarnya.
"ROBORO!!" Teriak mereka berempat dengan sangat senang.
Roboro menatap sahabat-sahabatnya itu dengan kebingungan, "Kenapa kalian ada disini?"
Mereka pun berlari memeluk Roboro dengan terharu, "Akhirnya kau kembali!"
Roboro yang masih kebingungan pun ikut memeluk mereka dengan senang hati, "Apaan sih kalian haha!"
JLEBB!
"A-akh—"
Roboro yang tadinya merasa senang telah bertemu dengan keempat sahabatnya itu dengan kecewa menyaksikan tubuh Zomu tertusuk celurit yang dipegang oleh gurunya itu, "Zo-zomu?"
"Bocah-bocah sialan!" Teriak Radao sambil mengacungkan celuritnya pada Tonton.
Dengan cepat Roboro mendorong Tonton lalu ia menyeret Koneshima yang masih shock ketika melihat mayat Zomu yang tergenangi oleh lautan darah, "Zomu..."
"Kita harus lari secepatnya!" Teriak Roboro menahan tangisnya.
"KALIAN TIDAK BISA LARI DARIKU!!" Teriak Radao sambil berlari mengejar mereka berempat.
BRAKK!!
Seketika tangga yang mereka naiki runtuh karena terdapat bom yang sudah dipasang oleh guru gila itu. "HAHAHA!! MAU LARI KEMANA KALIAN?!!" Radao menapakan kakinya ketubuh Koneshima yang terjatuh dari runtuhnya tangga dan lompat tepat didepan Utsu.
"Utsu~ Padahal kau tidak pernah membantah perintahku, tapi kau sekarang membangkang yah~"
CRAKK!!
Radao menebas tubuh Utsu sampai tak bernyawa lagi. "Sekarang tinggal kalian berdua, hihihi~"
"Seram..." gumam Roboro ditengah pelariannya. Ketika ia melihat seutas benang putih yang terikat pada pilar sebelah kanan dan kiri, "Ini pasti jebakan! Tonton lompat!!"
Tonton yang sudah ngos-ngosan, ia tak menghiraukan teriakan Roboro dan ia pun terpeleset karena jebakan benang putih yang menghalangi jalan mereka.
"Kena kau!" Radao mempercepat larinya dan mengacungkan senjatanya kearah Tonton.
"TONTON!" Teriak Roboro mencoba menolong sahabat satu-satunya itu.
"Roboro! Lari saja!" Ucapnya dengan pasrah.
"AARRGGHH!" Tonton pun ditebas oleh Radao.
"Maafkan aku teman-teman!" Ucapnya sedih sambil berlari menuju atap sekolah.
"Kau tak bisa lari lagi, Roboro."
Roboro yang sedikit ketakutan dan panik karena tidak ada jalan keluar lagi. Ia berjalan mundur sampai menabrak palang ujung lantai. "Ra-radao sensei... maafkan aku," ucap Roboro dengan isak tangis yang bergejolak.
Radao menghentikan langkahnya sejenak, Roboro yang melihatnya pun kebingungan. "Peinto... kau bisa diam sebentar tidak?" Ucap Radao memegang bahu sebelah kirinya yang terkena tembakan pistol dari arah belakang.
"Hentikan!" Teriak Peinto emosional.
Roboro terkejut melihat aksi kakaknya itu, "Onii-san?"
Peinto yang mendengarnya pun tersenyum hangat kepada adik kesayangannya itu, "Tenang saja... kakak akan menyelamatkanmu dari sini."
Secercah cahaya harapan menerangi hati Roboro, namun dalam sekejap cahaya itu redup ketika melihat kakaknya yang tertusuk oleh celurit tajam milik Radao.
"Ugh—"
"Jangan harap kalian kabur dariku."
Peinto pun jatuh terduduk sambil memegang luka tusukan diperutnya. "Uhuk! Uhuk! Larilah... Roboro,"
Roboro yang tak kuasa menggerakkan sekujur tubuhnya ia jatuh terduduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis kencang.
"Kasian sekali nasib kalian," Radao yang menyaksikan dua saudara itu tertawa kecil seraya mendekati Roboro.
Ia mengangkat tubuh Roboro dengan mencekik bocah itu, dan mengangkat tinggi-tinggi kearah ujung lantai. Siap untuk dijatuhkan dari lantai 4 sekolah.
"HENTIKAN!!" Teriak Peinto marah.
"Ka-kakak... tolong aku..." ucap Roboro sambil menangis tersedu-sedu dan pada akhirnya dijatuhkan oleh Radao.
BRUKK!!
Terdengar suara kencang dari tubuh bocah malang yang dijatuhkan oleh Radao, kedengarannya seperti seluruh tulang remuk tak bisa dipulihkan.
"Jahat—!" Teriak Peinto memukul-mukul lantai.
Radao mendekati Peinto dan menarik dagunya dengan sarkas, jemarinya yang bergerak mengusap air mata yang mengalir deras dari manik oranye terangnya. "Kenapa kau menangis, Pein-chan?"
"Kau sangat jahat! A-aku membencimu!" Teriak Peinto sesunggukkan.
Radao menendang perut Peinto yang tertancap celurit dan membuat sebuah luka bertambah dalam. "Akhh!" ringis Peinto mencoba untuk bertahan dari perihnya yang tak tertahankan.
"Oh~ Kasihan sekali kamu Pein-chan~♡" ledek Radao penuh seringai dan pikiran yang liar.
Peinto terbatuk dan darah segar mengalir di area bibirnya yang kian memucat, "K-kenapa kau lakukan ini padaku? Apa kau membenciku?" Tanya Peinto menahan air matanya yang sedikit mencuat diujung kelopak matanya.
Radao berjongkok dan menatap Peinto dengan senyum penuh kebucinannya, "Tidak~ Kau tau saat kita masih disekolah disini, kita selalu bersaaaamaa setiap saat! Kau mengingatkanku untuk beberapa hal, menjaga kesehatanku! Bercanda bersama! Jalan bersama! Bermain bersama! Apa kau tau apa yang aku rasakan?!" Jawab Radao penuh emosional.
Peinto yang sudah lemas karena kehabisan darah, dia hanya menatap pasrah pada temen semasa kecilnya itu. "Aku bersikap begitu—"
"RASANYA BAHAGIA SEKALI!" Tegur Radao dengan nada yang tinggi. "Tapi ketika ada bocah menyebalkan itu, kau jadi tak peduli lagi padaku. Aku tak terima! Aku ingin—"
"SUDAH CUKUP!" Teriak Peinto dengan amarah yang sudah diujung tanduk. "Aku bersikap begitu bukan karena hal lain... kaulah satu-satunya sahabatku yang aku sayangi. Jadi tolong... jangan anggap itu sebagai sebuah perasaan spesial," ucap Peinto dengan tersedu-sedu.
"Kau membunuh semua muridmu yang tak bersalah demi mendapatkan cintaku?" Tanya Peinto dengan muka yang kacau balau menahan sebuah sakitnya kehidupan, perihnya luka diperutnya, amarah, emosional, hanya demi meladeni satu keegoisan.
Radao terduduk diam, ia menunduk sejenak. "Iya..." Radao menjeda kalimatnya, sebuah tetesan air mata jatuh ditelapak tangan Peinto yang sudah berkunang-kunang tak kuasa menahan lukanya itu. "Aku mencintaimu... tapi aku sudah berbuat jahat padamu dan yang lainnya, aku tidak pantas mendapatkan cintamu."
Peinto menatap sendu pada Radao yang telah putus asa, "Sejujurnya aku tidak membencimu... tapi aku juga tidak bisa mencintaimu."
Radao mengangkat kepalanya menatap wajah Peinto yang sangat pucat, terlihat mata yang sembab dipenuhi oleh air mata kesedihan. "K-kenapa?" Tanyanya sedikit panik.
Peinto hanya meringis dan menyipitkan kedua manik oranyenya, "Aku sudah tidak tahan lagi dengan luka ini... Radao-kun."
Seketika Radao tersadar akan luka Peinto yang sangat parah akibat ulahnya,"Ti-tidak! Bertahanlah! Aku akan panggil ambulance!"
Radao yang menekan handphonenya dengan kasar mencoba memanggil ambulance, namun sebuah tangan yang dingin mencoba menggagalkan aksi Radao. "Kenapa?" Tanya Radao putus asa.
Peinto tersenyum hangat padanya. "Jika kau memanggil ambulance, kau akan dipenjara Radao-kun."
Dadanya sakit. Seakan tertancap sebuah pedang yang baru saja diasah. Radao menjatuhkan handphonenya dan menggenggam erat tangan kanan Peinto seraya menangis tersedu-sedu, "Jangan mati kau bodoh!"
Pria berambut cokelat yang sedang bersandar ditembok itu hanya tertawa kecil, "Aku ini pria kuat! Tidak mungkin aku mati karenamu!" Peinto menjeda kalimatnya sejenak demi menghirup udara malam untuk terakhir kalinya, "Karena kau itu lemah Radao-kun..."
Seketika tubuh Peinto melemas, seakan tidak ada roh yang bersemayam didalam tubuh itu. Ia menutup matanya dengan senyum damainya. "Pein-chan, tidak...!" Teriak Radao sambil memeluk tubuh Peinto yang tak bernyawa.
Sebuah bisikan meraungi gendang telinga Radao lalu dengan cepat ia menidurkan mayat Peinto diatas lingkaran sihir.
Pria berbaju olahraga itu tersenyum puas, "Dengan begini mayat-mayat anak kecil itu tidak terbunuh dengan sia-sia."
Tiba-tiba lingkaran sihir itu bercahaya merah terang dan beberapa menit kemudian tubuh Peinto hidup kembali dengan ingatan yang masih sama. "Radao-kun... apa yang kau lakukan padaku?!" Tanya Peinto dengan wajah yang sangat terkejut.
Radao mendekati Peinto yang tangan dan kakinya terikat oleh tali tambang, ia mengecup pipi kanan Peinto dan mengusap pipi kirinya dengan lembut. "Kau akan selalu disisiku selamanya, Pein-chan~♡"
TAMAT.
.
🎃ɧą℘℘ყ ɧąƖƖơῳɛɛŋ🎃
( ' ⑅̄ ' )
🍬ᵀᴿᴵᶜᴷ ᴼᴿ ᵀᴿᴱᴬᵀ!🍬
.
"𝙱𝚎𝚛𝚒 𝚔𝚊𝚖𝚒 𝚙𝚎𝚛𝚖𝚎𝚗,
𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚔𝚊𝚖𝚒 𝚓𝚊𝚑𝚒𝚕𝚒."
👻