Aku melangkah menuju Kafe favoritku. Seperti biasa, aku ingin makan sepotong cake yang penuh coklat, gelato berbagai rasa sambil membaca novel favorit. 'Akhir pekan yang sempurna', senyumku semakin mengembang hanya dengan membayangkannya saja.
"Rania." suara seseorang yang selama 3 tahun mengisi hatiku. Aku berhenti dan berbalik menatapnya.
Matanya bercahaya, binar-binar bahagia terlihat dari sana.
Apakah aku menatapnya dengan cara yang sama?
Tentu saja tidak!
"Aku mau ngomong sama kamu."
"Ini kan lagi ngomong." sahutku ketus.
Ia melangkah agar semakin dekat denganku, tangannya terulur hendak menyentuh pundakku. Namun secepat kilat aku mundur.
"Ngomong aja, nggak perlu kontak fisik." terang-terangan aku menyatakan penolakan.
Dia tersenyum lembut, senyuman yang dahulu bisa membuah jantungku bertalu-talu.
"Kamu masih marah sama aku? Aku kan sudah minta maaf." ujarnya dengan senyum tak tergoyahkan.
"Suka-suka aku dong." jawabku sambil melirik jam tangan. "Cepetan, mau ngomong apa?" imbuhku dengan tidak sabar.
"Aku pengen kita balikan lagi, please." jawabnya dengan wajah mirip proposal permohonan pinjaman kredit bank.
Aku menghela napas, rasanya sesak. Kalimat yang sama, lagi? Aku tersenyum kecut melihat pemuda itu.
"Cindy?"
"Aku udah putusin dia."
"Kamu sadar nggak Tomi? Kamu selingkuhin aku sama dia tuh 3 kali." kataku dengan penuh penekanan.
"Aku janji, ini yang terakhir kalinya. Nggak akan terulang lagi." sekali lagi ia mencoba mendekatiku dan ingin meraih tanganku. Aku kembali mundur, tak sudi rasanya jika disentuh Tomi lagi.
"3 kali selingkuh trus aku maafin. Kamu pikir kali yang ke empat ini akan sama?"
"Tentu, aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu cewek yang baik banget, aku yang jahat dan bodoh sudah menyia-nyiakan kamu."
"Lupain aku."
"Mana bisa aku ngelupain gadis cantik berwajah boneka seperti kamu. Aku cinta kamu, Rania."
Aku terkekeh mendengar kalimat-kalimatnya.
"Terima kasih sudah memuji aku cantik seperti boneka. Karena seperti boneka, jadi bisa dimainin seenaknya. Gitu kan?" aku memandangnya sinis. "Mungkin udah nasib aku kali ya. Tapi sayangnya, cowok sejati nggak mainan boneka, Tomi."
Aku berbalik dan meninggalkannya, meninggalkan pemuda yang tak bisa menghargai kesempatan. Pemuda yang tak pantas diperjuangkan. Pemuda yang layak dilepaskan.
💔💔💔