Menyulut Lentera
.
Author : Wie_Tan
.
.
Lentera itu, bersinar dalam gelap, menggantung pada sesuatu yang kokoh agar ia tetap bertahan meski angin, hujan, badai menghantam.
Lentera itu, ia harus tetap bertahan,
ia harus tetap menerangi kegelapan. Namun, lentera itu, ia tidak abadi.
Apakah suatu saat ia akan mati dan tak dapat disulut lagi? Ataukah.. ah lentera, apa peduliku dengan keindahanmu. Bagiku, kau ada atau tidak itu bukan masalah.
Lentera, apakah kau akan tetap bertahan tanpa tali atau paku yang membuatmu bergelantung dan tetap terus bercahaya dengan segala keterbatasan yang kau miliki itu? Kau yang berbeda dari lentera lainnya.
Haha.. aku hanya bisa tertawa.
“Ibu!” huh, pagi yang suram ini membangunkan aku dari tidur dan membuatku memanggil ibu. Ibu, apa kabar? Bagaimana caranya agar aku dapat mendengar suara ibu lagi? Karena,
walau aku panggil ribuan kalipun ibu tetap takkan datang untuk mengantarku mandi dan
makan.
Kata bi Elsa, tetangga sebalah yang katanya berjualan obor itu, ibu sudah pergi dan tak akan kembali lagi. Tubuh ibu ada pada tempat yang gelap, bahkan obor bi Elsa tak mampu meneranginya.
Lalu aku bertanya, “seperti apa gelap itu?” Ia menjawab, “gelap itu, bagai hari ini Yustitia”.
Aku tak tau mau kemana dan untuk apa. Seakan-akan hidupku ini terlalu abu-abu, tidak jelas.
Sampai pada akhirnya kuputuskan untuk mencari seperti apa itu kegelapan dan bagaimana bentuk cahaya. Akan menjadi terlalu sulit bagiku untuk melukiskan cahaya dan kegelapan.
Dalam pandanganku, di dunia ini semua sama. Tidak ada yang hitam, tidak ada yang putih,
tidak ada yang berwarna. Ketika orang sibuk membicarakan tentang berapa burung yang
lewat dilangit pagi itu, aku hanya dapat berusaha menangkap suara-suara burung itu.
Tetapi tetap saja tak dapat aku menghitungnya, ternyata suaranya sama.
Ketika mereka sedang bingung mencari tempat yang teduh tak terkena sinar matahari, aku justru ingin mencari dimana matahari itu. Matahari yang katanya panas, terik, menyilaukan, juga tak pernah
menerangi langkahku.
Sampai pada disuatu sudut aku terhenti. Seseorang meraih tanganku,
“Hai, aku Anora, aku menjual lentera untuk penerengan. Mungkin kau berniat membelinya?”
“Apa itu? Untuk penerangan katamu? Apakah dia akan menghasilkan cahaya?”
“Iya, kau benar sekali”
“Tapi aku tak ada uang untuk membelinya, bolehkah aku memintamu untuk menyulutnya saat ini juga?”
“Tidak bisa kawan, jika kunyalakan sekarang, sinarnya takkan tampak. Ia akan terlihat jika dinyalakan dalam kegelapan”
“Tunggu ya, aku mau bilang bibi dulu, siapa tahu dia akan membelikannya untukku”
Ternyata bi Elsa sangat baik denganku, ia membelikan aku satu lentera agar aku dapat melihat cahaya.
Namun, setelah bi Elsa menyalakan lentera itu untukku, tak ada yang dapat aku lihat. Kini aku
menyadari, aku buta dan tak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk melihat cahaya saja aku tak
mampu. Aku hanya menyusahkan orang lain saja.
Kini aku baru tahu, beginilah yang
namanya kegelapan itu. Saat aku tak tau harus berbuat apa tanpa ibu, aku benar-benar tak tahu untuk apa hidupku ini. Sampai pada esok harinya, aku kembali bertemu Anora.
“Anora, lentera yang kau berikan kepadaku itu rusak, buktinya aku tak bisa melihat cahayanya”
“Benarkah, coba bawa sini, biar aku lihat”
“Benarkan kataku, lentera itu tidak menyala”
“Iya, lentera ini belum dapat menghasilkan cahaya, maafkan aku, tapi ijinkan aku untuk menggantinya. Dengan lentera yang sinarnya lebih terang”
“Sungguh?”
“Sungguh, mari ikut aku”
Aku tahu saat itu Anora berusaha meraih tanganku, sejak itu baru aku sadari bahwa Anora pincang dan salah satu tangannya buntung.
Aku dapat mendengar sedikit keluhan Anora yang
kesulitan saat berusaha menggandengku, tapi itu bisa dia atasi. Dia membawaku entah ke
tempat yang seperti apa, tapi disana begitu ramai dan aku mendengar beberapa suara asing
yang menyambutku.
Sampai pada akhirnya ada seseorang yang bersuara lembut mirip bi Elsa,
mengambil alih genggaman Anora pada tanganku.
“Selamat datang sayang, apa kau yang bernama Yustitia?”
“i..iya”
“Apa kau tidak mengenalku?”
“aku tidak bisa melihat, bagaimana aku dapat mengenalmu?”
“kau masih bisa mengingat suara bukan? Ingatkah saat kau mulai cemberut saat tak bisa melihat
cahaya yang terpancar dari lentera Anora?”
“ehm.. bi..bi Elsa?”
“Iya sayang, awalnya bi Elsa ragu untuk mengajakmu kemari, namun berkat bantuan Anora, bi Elsa jadi semakin yakin kalau kamu harus bibi ajak kesini”
“ini tempat apa bi?”
“Sekolahan sayang”
“apa? Sekolahan? Bibi jangan bercanda membawaku ketempat aneh itu”
“Tidak, aneh apanya?”
“Hanya orang normal yang bisa berada disitu”
“Siapa bilang? Anora salah satu bagian dari tempat ini”
“Tapi Anora bisa melihat, dia tau seperti apa gelap dan seperti apa cahaya yang katanya
menerangi setiap manusia itu, kecuali orang buta"
“Tidak Yustitia” Anora menjawab, “Pernahkah kau berfikir betapa sulitnya usahaku untuk membuat satu lentera dengan satu tangan? Dan aku telah membuat 10 untukmu, karena aku pikir kau tidak akan mengatakan lentera yang terang itu adalah rusak”
“Ma..maafkan aku Anora”
“Tidak apa-apa. Karena aku telah berjanji untuk memberikanmu lentera yang lebih terang, maka saat ini lentera itu sudah ada dihadapanmu, tinggal maukah kau menerimanya atau
tidak”
“dimana?”
“disini”
“sekolahan ini maksudmu?"
“iya, kau akan mengerti bagaimana cara melihat cahaya”
“sungguh?”
“iya, cahaya itu ada didalam sana, coba kau jemput cahaya itu Yustitia”
“bersamamu?”
“tentu”
Sejak saat itu, aku mulai mengerti bagaimana cahaya yang dibentuk oleh Anora, Dewi cahaya
itu dalam kegelapanku. Anora membawaku pada suatu tempat dimana cahaya tak dapat kulihat secara nyata, namun dapat aku rasakan kegelapan yang pernah menyelimuti hidupku itu perlahan berubah menjadi sebuah titik terang dalam jiwaku.
Aku mulai memiliki harapan dalam hidupku, dengan apa yang telah diberikan-Nya untukku.
Aku tak tahu bagaimana Tuhan membimbingku untuk menemukan pembuat lentera itu, Anora, nama yang sama dengan nama Dewi cahaya.
Dalam keterbatasannya, ia dapat menerangi jalan orang lain dengan lentera yang ia buat. Dan bagiku, ia lebih dari itu. Ia dapat
membuatkanku sebuah lentera yang lain, lentera yang tadinya rusak karena terjatuh dari penggantungan dan padam, kembali dapat ia sulutkan. Menjadi lentera yang dapat berdiri sendiri, bahkan kini juga dapat membagi sinarnya pada yang lain.
Lentera tak perlu tahu bagaimana bentuk sinarnya. Yang ia tahu hanya berusaha menerangi siapa saja yang ada disekitarnya.
Meski tanpa tali penggantung dan paku, tetap harus berusaha menjadi penerang. Agar hari-hari menjadi lebih indah dengan sinar-sinarnya, walau
aku sendiri tak dapat melihatnya.
Kini aku tak dapat meremehkan lentera yang tidak sempurna, haha.. salut, dia bisa kembali bersinar dengan segala keterbatasannya.