"Jadi kamu pilih aku atau dia?" tanya Nari dengan nada kecewa dan sedih.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Nari mengambil tasnya yang berada di atas meja dan pergi meninggalkan Rino.
Nari pulang dengan taksi online. Sepanjang perjalanan Nari menangis sampai tiba di depan kostnya.
Ia sudah menduganya semenjak sikap Rino berubah cuek dan tidak lagi menggunakan inisial namanya. Ternyata benar, Rino sedang dekat dengan seorang perempuan yang bernama Gita. Nari mencari tahu tentang hubungan Gita dengan Rino langsung melalui Gita.
Hatinya semakin terasa sakit saat mendengar bahwa Rino sudah dua kali menyatakan cintanya pada Gita. Rino bahkan sering memberikan hadiah pada Gita. Mereka juga sering bertemu dan jalan. Bahkan pernah Gita mengatakan bahwa ia ingin pergi di temani oleh Rino.
***
Setahun telah berlalu, Nari mencoba untuk melupakan Rino namun tidak pernah bisa. Masih tersimpan perasaan cintanya pada Rino. Walaupun tidak pernah sedikitpun Rino peduli pada Nari.
Nari tidak ingin terus-menerus seperti ini. Nari ingin sekali mencoba membuka hatinya untuk yang lain. Namun tidak pernah bisa. Selama itu Nari sering depresi bahkan hampir putus asa dan mencoba untuk bunuh diri. Ia kesal dengan perasaannya yang selalu saja masih mengharapkan Rino kembali.
Nari ingin sekali mengetahui tentang perasaan Rino yang sebenarnya. Mengapa Rino ingin Nari menjadi kekasihnya jika ternyata Rino lebih memilih yang lain dibanding dengan Nari? Apa yang membuat Rino berselingkuh? Kenapa tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rino? Kenapa Rino tidak pernah mengatakan maaf pada Nari? Semua itu selalu berada di kepala Nari.
***
Beberapa tahun kemudian.
Nari sudah terbiasa dengan rasa sakitnya. Nari mulai membuka hati. Suatu hari seorang lelaki yang bernama Ken datang dan menyatakan cintanya pada Nari. Ken adalah sahabat Nari sejak di Sekolah Dasar. Awalnya Nari ragu untuk menerimanya. Ken terus meyakinkan Nari dan selalu membuat Nari bahagia.
Setahun Nari berhubungan tanpa status dengan Ken. Ken masih setia menunggu jawaban dari Nari. Rasa cintanya pada Nari tak berkurang sedikitpun. Hingga suatu ketika Rino datang menghampiri Nari.
"Nari!" Seseorang memanggil Nari saat Nari sedang bermain di taman dengan Ken.
"Siapa dia Nari?" tanya Ken.
"Bukan siapa-siapa. Sudah biarkan saja" kata Nari.
"Nari, dengarkan aku!" lelaki itu menarik lengan Nari.
"Apa? apa yang mau kau katakan?" tanya Nari
"Aku mohon, aku ingin kita balikan"
"Gampang banget ya, kamu tau seberapa sakitnya luka ini?" Nari sambil menepuk dadanya. "Kamu tau luka ini selalu membekas sampai saat ini! Terus dengan mudahnya kamu datang dan memintaku untuk kembali!" Nari tidak dapat menahan emosinya.
"Kamu yang memutuskan hubungan ini Nari. Dimana letak salahku?"
"Hah! tidak ada perempuan yang mau di selingkuhi. Tidak ada perempuan yang bahagia ketika kekasihnya selingkuh. Kamu tanya dimana letak kesalahan kamu? Sehat kamu?" Emosi Nari semakin meningkat dan luka itu kembali terasa sakit.
"Nari, aku mohon kembali padaku"
"Ayo, kita pergi dari sini! Aku muak melihat orang itu" Nari menarik tangan Ken dan pergi.
Sejujurnya masih ada perasaan Nari untuk Rino. Hanya saja tidak ada perkataan maaf dari hati Rino. Bahkan, Rino tidak menyadari letak kesalahannya.
"Aku tidak memaksamu untuk bersamaku. Aku akan memberimu waktu untuk menentukan pilihanmu. Apapun keputusanmu aku terima" kata Ken.
Nari yakin kebahagiaan dia ada di Ken. Nari tidak ingin lukanya terbuka kembali. Karena sekali orang berselingkuh ia akan terus berselingkuh. Tidak ada penyesalan sedikitpun dari Rino. Bahkan Rino tidak peduli dengan perasaan Nari.
Nari bertemu dengan Ken di Cafe langganan mereka. "Ken, aku sudah mendapatkan jawabannya".
"Apa kamu yakin dengan jawaban kamu? Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan lagi?"
"Aku yakin Ken"
"Aku memilih ..."
"Terima kasih Nari. Bolehkah aku memelukmu?" kata Ken.
Lima bulan berlalu, Ken melamar Nari dan mereka menikah. Pilihan Nari sangat tepat. Ken tidak mengingkari janjinya.
_Tamat_