"Nate, apa kamu tidak merasa risih ketika melihat mereka?" seorang gadis cantik bertanya kepadaku, jarinya yang ramping menujuk ke berbagai pasangan yang sedang berada di sekitar kami.
Aku tidak mempedulikan ucapannya dan terus fokus kepada ponsel yang ada di tanganku. Semantara di dalam hati, aku bertanya-tanya mengapa gadis cantik yang merupakan mantan pertamaku ini tiba-tiba mengajakku pergi keluar, terlebih lagi di sebuah tempat yang memang dikhususkan untuk pasangan.
Dia semakin terlihat semakin cantik setelah kami putus beberapa bulan lalu dan dia juga bertambah populer di kalangan laki-laki. Tapi aku masih ingat bagaimana caranya memutuskan hubungan kami. Kejam.
"Nate, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi membuat dahiku mengernyit tidak suka. Dia bukan tipe orang yang to the point, maka dari itu dia selalu memulai percakapan penting dengan basa basi yang sudah basi itu.
Mataku menatap tangannya yang sedang berada di atas tanganku, kulitnya halus, aku bisa merasakannya. Pelan-pelan, aku menggeser tangannya, kemudian menatapnya.
"Tolong cepat katakan hal yang ingin kamu sampaikan, aku juga punya kehidupanku sendiri," kataku.
Mendadak suasana menjadi canggung.
"Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?"
Deg!
Jantungku terasa seperti berhenti sejenak, pikiranku berusaha untuk mencerna perkataannya. Apa yang dia maksud adalah kembali menjalin hubungan itu?
Tubuhku bergetar, bukan karena ketakutan, tapi menahan amarah. Dia memang gadis yang cantik, tapi aku sudah tahu sebagian besar sifatnya yang sangat buruk.
"Jangan mengada-ada, kamu kan jijik kepadaku. Kamu mengolok-olok diriku di belakang bersama dengan teman dan kekasihmu yang lain," kataku.
"Nate, aku benar-benar minta maaf. Aku yang salah dan aku sadar bahwa perbuatanku sangat buruk. Kumohon Nate," pintanya sembari menggenggam tanganku.
"Sepertinya tidak bisa, aku takut kamu menyakitiku lagi. Jangan membuatku merasakan neraka yang lain. Aku percaya kalau ada banyak pria yang lebih baik di luar sana, yang lebih baik dari diriku."
"Nate, aku sudah dengar tentang kamu yang menjadi simpanan pria gila itu. Kamu ingin bebas kan? Maka akan kubantu Nate,"
Aku menatapnya tidak percaya.
"Aku yang sekarang ini gara-gara kamu. Jika ingin membantu, tolong menghilanglah dari hadapanku mulai besok sampai seterusnya!"
Aku segera pergi dari sana, meninggalkan dia yang terlihat sangat terkejut. Sebenarnya ada perasaan bersalah, tapi aku bukanlah manusia yang baik karena aku tidak bisa melupakan perbuatannya kepadaku.
Dan aku berharap dia dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan bertemu dengan pria yang sesuai harapannya. Karena aku tak mau tersakiti lagi!