Kalau ada yang harus disalahkan, mungkin sebuah penyesuaian. Terkadang, sesuatu yang baru tetiba menabrakkan realitasnya membuat kita terpaksa harus memilih, antara menabraknya untuk berselisih atau mengikuti arusnya. Menolak atau menyesuaikan. Itu pilihan sesungguhnya, namun dalam banyak pertimbangan kita akhirnya memilih untuk menyesuaikan.
Aku tertawa kecil. Barisan geligiku yang tak bisa dianggap rapi mengintip dari kedua celah bibirku. Malam itu, setelah penyesuaian berkali-kali aku mengenal dan menikmati iklimnya, bangku pojok dekat dinding menjadi tempatku bertengger. Setelah lelah mengacak-acak isi kepalaku, membongkar paksa agar ia bisa mengeluarkan barisan-barisan aksara yang membentuk bab-bab cerita, aku membelokkan kemudiku ke tempat ini. Riuh orang-orang itu kerap berebut untuk bersuara. Sering kali hanya kata "setoran" yang menjadi tema kasak-kusuk mereka. Aku hanya cekikikan di balik micku yang tak pernah terbuka dan mengangguk mahfum saat akhirnya tahu apa yang mereka hebohkan itu.
Pernah, sekali aku bergabung dalam keriuhan mereka. Karena sesi yang memperbolehkan manusia tak berpigura ikutan unjuk gigi. Saat itu, hanya satu yang mengalun dari bibir kecilku. Itu juga yang menjadi tema dasar di mana tiap diksi keluar dan menyatu bersama kaumnya dalam paragraf-paragraf yang saling menyempurnakan. Lose. Kehilangan. Ya, mungkin karena aku baru saja kehilangan atau lebih tepatnya saat rasa kehilangan itu mulai memudar namun itu satu-satunya lagu yang dengan gusar kupaksa dalam alam pikiranku. Lagi-lagi, berlindung di antara pekerjaan sampinganku agar semua kata-kata itu mau muntah.
Tepukan otomatis menggema setelah percobaan kedua aku menyelesaikan lagu itu. Percobaan pertama, seorang kenalan baru hanya mengatakan aku tak bisa bernyanyi dengan kuping yang disumbat sebuah penyuara telinga. Aku tidak tahu, bagaimana mereka mendengarku, hanya berharap saja tak ada yang langsung mengatur janji dengan dokter THT. Setelah selesai dan mencicitkan terima kasih lemah aku kembali menutup mic. Bersembunyi di balik duniaku yang ramai mengawasi dinamika mereka semua dari bangku pojok dekat tembok.
Malam-malam kuhabiskan di sana, kadang tanpa sadar hingga matahari pagi menjemput hari. Kenalanku bertambah. Mereka mulai mengenali keberadaanku sebagai pendengar reguler mereka. Aku mulai bercakap-cakap dengan mereka yang bernada indah, kadang bertukar kisah dan bertukar gim seru bersama. Ya, penyesuaian ini terus berkembang hingga aku menemukan diriku tak bisa menghabiskan malam-malamku tanpa mereka. Then, there you are.
Aku telah mengikuti seseorang yang jauh lebih satu frekuensi dari genre musik dan angkatan kelahiran hingga jarang sekali aku muncul pada ruangan yang telah mengenalkan banyak malam dengan canda. Hingga suatu ketika, rasa rindu itu mampir dan membuat aku harus memutar balik kemudi ke tempat itu. Ada seseorang yang duduk di depan, ia berwajah manis. Layaknya pria-pria Korea dan ternyata setelah tahu namamu juga serupa pria-pria Korea. Suaramu berat. Aku mengangguk kecil mendengar suara baru ini. Kunikmati pertunjukan malam itu sambil sesekali bertanya kabar dengan pengunjung reguler lainnya yg telah lama tak bersua.
Dua tiga kali aku mampir di sana dalam seminggu, terkadang karena kenalan baruku yang satu frekuensi itu ingin "setoran". Terkadang, hanya karena aku ingin mendengar suara-suara penampil lainnya yang aku rindu. Bangku pojok itu kembali kosong. Aku dengan manis kembali merapatkan dudukku di sana. Bangku kecil dekat tembok. Mengamati kalian dan sesekali ikut berekspresi dengan tawa karena celetukkan. Kini giliranmu berkumandang, setelah sekian lama kamu diserobot kawan-kawan lainnya. Aku ingat, malam itu sebuah lagu dari penyanyi asal Hawaii mengalun lembut darimu. Suara khas beratmu menghilangkan semua sosok Bruno Mars dari lagu itu.
'It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do. Hey,...'
Kau menyebutkan namaku. Ya, namaku. Kurasa, tak pernah ada sedektik setelah kau hadir dan aku berkunjung kita pernah bertukar sapa sebelumnya. Atau hanya saling bertukar nama, walau jelas kita bisa mengenali nama kita masing-masing tanpa perlu berucap. Aku hanya menyengir heran, cengiran yang sedikit kupaksa. Tapi kunikmati. Karena suaramu jauh dari kata buruk. Kupikir, this one entertainment to the next level. Tanpa sadar, jemariku mengetuk meja. Kakiku bergoyang mengikuti tempo dan kau perlahan menyusup dalam kalbu.
Sejak hari itu, aku tak sengaja datang dan tetap kau suguhkan sebuah lagu dengan menyebut namaku hingga aku benar-benar datang hanya untuk... mendengar namaku disebut dalam alunan nadamu. Bukankah menjanjikan sebuah candu? Candu yang butuh penyesuaian. Ya, aku menyesuaikan hingga menambahkannya menjadi sebuah tambahan agenda malamku. Ke tempat itu, mendengarmu bernyanyi.
Hari berlalu. Kupikir kau hanya akan ada pada malam hari, tapi tak bedanya denganku. Kadang aku akan menyesuaikan siangku yang sunyi karena pelantang suara komputerku rusak dan memutar sebuah lagu yang menjelma menjadi beralbum lagu di tempat-tempat tak terjamah. Lalu, kau menyapaku. Out of nowhere. Hanya tahu, kau berkata simpul sedang jalan-jalan saja. Obrolan kita mulai lebih dalam, kita bertukar asal, bertukar kegemaran. Aku tetap menyambutmu ramah tanpa berpikir aneh. Hanya kembali menyesuaikan ritme yang kau mainkan.
Sampai suatu malam, aku sedang duduk beramai-ramai di tempat tongkronganku, dengan kaumku dan cowok manis bergenre metal yang terang-terang ku prospek. Karena siapa yang tak mengaminkan wajah manis khas melayunya dengan dagu lancip dan suara yang nyaris membuat kaca-kaca bergetar? Jelas, aku tak ingin melewatkannya. Kau masuk. Dan entah mengapa, aku kelu seketika. Duniaku goncang karena aku tahu, kita telah bertukar canda yang tak biasa, aku menyesuaikan permainan lagumu dari tempat asalmu. But I put you there, at your territory and never wanted to drag you with my armpit to where my place was. Tidak pernah sekali pun aku ingin membawamu ke sini. Aku hanya membisikkan kata, "mampus" dari bibirku yang direspon tawa oleh karibku.
Malam itu, pukul dua dini hari. Kau hanya bilang mencari tempat yang ramai agar kau bisa mengerjakan tugas yang nyaris jatuh garis matinya. Mungkin menghindari kantuk yang sewaktu-waktu bisa melanda. Ruangan itu makin sepi saat satu-satu permisi untuk pulang dan memejamkan mata. Kita hanya berempat, mengobrol santai sambil mendengar musik latar dari asalmu. Suara aduan pensil dan mistar di atas kertas yang menciptakan garis-garis di sana. Kau menjawab sekenanya atau terkadang sesekali nimbrung dan tertawa kecil. Aku di sebelahmu. Menyesuaikan mata kantukku dan giatnya kau mengerjakan tugasmu. Kau tanyakan usiaku dan kutanyakan usiamu. Aku tertawa dengan responnya dan kau bohong dengan meyakinkan. Yang jelas, aku paham kita berdua sama-sama menyesuaikan. Dan, sejak malam itu, aku, kamu, menyesuaikan sesuatu yang tak akan sama lagi.
Konyol terkadang semesta membuat kita harus menyesuaikan banyak hal untuk seseorang yang belum tentu kita tahu eksistensinya. Tapi sejauh itu, aku meyakini kamu nyata. Hari-hari aku lalui untuk menyesuaikan kamu yang hadir justru menjadi pemicu ledakan kembang api versi imajinasi di rongga dadaku. Terkadang aku dengan sengaja hadir pada jam-jam tak biasa untuk sekedar, menyesuaikan keberadaan dan perasaan yang muncul saat ingin bertemu denganmu. Atau terkadang, aku hadir saat kau memintaku untuk datang. Hal demikian, justru membuat penyesuaian itu menjadi kebiasaan. Dari situlah, kebiasaan menjadi boomerang yang meledakkan kepalaku dan mencabik jantung jiwaku dikemudian hari.
Saat aku berlatih padus dengan beberapa adik-adik satu gerejaku, dengan iseng aku memarkirkan pantatku yang bohay secara virtual. Kamu muncul, itu percakapan kita selanjutnya. Aku tau kau mengimani hal yang sama, aku tahu nama belakang dari buyutmu yang turun temurun digariskan. Tak mengelak, aku seperti menjilati ludahku sendiri. Selama ini, tak ingin aku bergaul lebih dekat dengan lawan jenis yang berasal suku seperti ayahku. Entah mengapa, mungkin rasa sakit hati dan akar pahit pernah menggerogoti di sana. Namun, kamu yang hadir siang itu, di sela latihanku bersama adik-adik di gerejaku, telah mencuri dan meyakinkan hatiku bahwa aku ingin menjatuhkan di sana dengan aman. Aku tak menyadari, hal itu ternyata kesalahan yang terus terasa dipergantian waktu.
Hariku akhirnya diisi untuk menyesuaikan keberadaanmu yang merona di hari-hariku yang monoton. Entah ucapanmu, entah kata-kata yang tertoreh, entah gerammu karena kesalmu yang tiba-tiba itu bagaikan kumpulan pensil warna yang mengguratkan lukisan abtrak namun manis dalam buku gambar hidupku. Aku nyaman denganmu, bahkan kutemukan dirimu sebagai hal yang kunanti dalam 24 jamku. Hingga kita dekat dan aku memastikannya. 16. Angka keramat untuk kita. Entah dirimu mengingatnya atau tidak walau setelahnya angka 23 akan menjadi momok bagi kita berdua. Atau setidaknya untukku sendiri.
Aku menyadari satu hal belakangan, setelah kita akhirnya tak lagi beriringan. Namun, kenangan manis itu tetap melekat untukku. Banyak manusia dua dimensi itu tahu, aku dan kamu "dekat". Bahkan, hingga sekarang beberapa masih mengira kita tetap "dekat" dan aku merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan bahwa kita tidak "dekat" dengan hati kering dan jiwa kosong kepada mereka. Ke-"dekat"-an itu, akhirnya aku mengerti. Aku tahu apa yang mendasarimu "melakukan" banyak hal denganku, yang aku harus menyesuaikannya, di depan banyak orang di suatu kesempatan. Untuk sebuah aktualisasi diri mungkin, untuk sebuah tangga eskalator menuju tingkatan sosial yang lebih unyu-unyu. Namun yang jelas, kamu membawaku di dalamnya. Walau sejatinya, aku menyesuaikannya denganmu bersama hatiku. Nyatanya, kau tidak. Cukup menggemparkan bukan? Atau biasa saja. Ya, hanya hatiku yang tak mendapat sambutan hangat hatimu kurasa.
Kau masih bertanya tentang ini itu, pendapatku yang entah bermanfaat untukmu atau tidak. Kita masih hangat sampai ada saat kau memiliki lingkaranmu sendiri. Aku tetap bersamamu untuk bungkam perihal lingkaran barumu, karena kita sama-sama tahu kita takut ketahuan bukan? Lamat-lamat, aku dengan sadar tak ingin menempelimu terus di lingkaran barumu walau semesta tahu aku mendukung apapun yang kamu lakukan. Caraku, agar kamu lebih nyaman; menyesuaikan diriku untuk menghilang dari sisimu agar kau dapat melebarkan potensimu ternyata itu cara tambahan untukmu pula menggeserku perlahan. Walau kita masih tetap ada di sana. Kesadaran ini beralasan, semakin segan aku melangkah mendekatimu. Merasakan bahwa diriku bisa saja mengganggumu. Itu caraku menyesuaikan diri denganmu.
Ternyata, hidung manusia pun semakin tajam. Banyak pertanyaan yang menderaku, mungkin juga kamu. Yang untuk menjawabnya, aku tak semampu saat Ujian Negara. Aku pun tak tahu bagaimana untukmu merespon hingga mereka mengatakkannya padaku. Sungguh miris mendengar atau membaca langsung jawaban-jawabanmu. Ternyata, aku menjatuhkan hatiku kembali di tempat yang tidak aman. Hanya karena seiman, tetangga dalam leluhur dan mungkin sekalimat janji yang masih berputar dalam otakku, bisa menjadikanmu alibi untuk tempat paling tepat kuserahkan hatiku utuh. Mungkin seharusnya aku bisa sepertimu, melakukan semua hal "uwu" dengan kepala hangat dan hati yang dingin. Itulah yang seharusnya kulakukan. Namun justru, kuserahkan hati hangatku bulat dengan meyakini kau sepenuhnya akan bertanggung-jawab. Aku salah. Aku tak bisa bertahan, aku bisa sinting jika terus berpegangan pada sehelai benang yang kau julurkan untuk membantuku bertahan di atas jurang. Selain terima kasihku kepada "manusia-manusia usil" yang terus bertanya dan membuatku lelah. Entah denganmu?
Bukankah penyesuaian itu gila? Aku menyadari, kutak ingin menyesuaikan lagi. Walau penyesuaian itu harus beralih hanya untuk hatiku. Ia belum dewasa, untuk sekedar tak terbakar amarah melihat atau mendengarmu berteguran hangat dengan yang lainnya. Aku masih berjuang sendirian, menikmati luka koreng yang kupipil perlahan berharap cepat sembuh dan tak berbekas. Aku ingin menyalahkan siapapun walau di waktu yang sama juga tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas, kau manusia terberat dan termanis yang harus kusesuaikan dalam hidupku sampai detik aku membubuhkan tanda titik dalam cerpen ini. Aku harap kau tak membacanya, lagi pula untuk apa kau membacanya. Bukankah membuang waktumu saja untuk sekedar "melihatku"?
adjust, a sanity that contains piece of hurt and sprinkle of sane.
Depok, 1 November 2021