Untukmu yang tak mungkin membaca tulisan ini, aku merindukanmu.
Sengaja kutulis kisah kita disini, sebagai pelampiasan rinduku padamu yang telah membeludak dalam dada.
Aku tahu, kamu tak akan mungkin temukan tulisan ini. Karena sebisa mungkin, aku akan menyembunyikannya dari jangkauanmu. Tapi, jika suatu saat nanti kamu melihat tulisan ini dan membacanya. Aku harap tulisan ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanmu mengapa kisah kita dapat berakhir dengan air mata.
Hari itu, di tahun 2015, untuk pertama kalinya kita bertemu di Kantin sekolah. Jujur, di pertemuan pertama kita dulu sebenarnya aku sudah menyukaimu.
Aku suka pada bentuk wajahmu, warna kulitmu yang putih bersih, juga tubuhmu yang tak terlalu tinggi, dan aroma parfume–mu yang sampai sekarang masih dapat kuingat harumnya.
Dulu waktu kita masih bersama, aku terus berbohong padamu perihal aku yang membencimu di pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku terlalu malu untuk mengakui bahwa akulah yang lebih dulu miliki rasa di antara kita. Tapi sekarang aku sudah mengakuinya. Aku malu sendiri membayangkan jika kau akan mengetahui hal ini, kutebak kau pasti akan tersenyum.
Balik lagi ke topik utama. Hari itu, setelah pertemuan pertama kita. Aku terus berusaha untuk bisa bertemu denganmu lagi. Bahkan sekedar berpapasan denganmu saja, sudah membuatku terbang melayang.
Aku tak dapat memungkirinya, sapaan aneh yang kau sematkan untukku sungguh menjadi candu yang setiap hari ingin aku dengar.
Aku berusaha keras menggali banyak infromasi tentangmu dari teman-temanku yang mengenalmu.
Tahukah kamu, Lina, tetangga dekat rumahmu itu. Dia sangat berjasa dalam hubungan kita, karenanya aku tahu banyak tentangmu yang membuatku semakin jatuh hati padamu. Dia juga sering menemaniku untuk pura-pura melewati kelasmu, agar aku dapat melihatmu.
Lina juga meramal tentang hubungan kita, katanya saat itu "Chik, gue ramal lo bakal jadian sama Rendi."
Aku yang mendengar ramalannya langsung loncat-loncat gembira. Aku tahu, walaupun dia bukan peramal asli tapi aku senang karena dia mengucapkan kalimat yang sangat aku harapkan.
"lo serius?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Iya, tapi—"
"Tapi apa?" Tanyaku penasaran.
"Tapi, harus lo duluan yang memulai hubungan itu. Lo tau sendirikan dia itu orangnya pemalu banget. Walaupun tiap ketemu lo, dia pasti nyapa lo. Tapi, kalo untuk melakukan hal yang lebih dari itu, dia ngga bisa, karena dia Orangnya pemalu banget. Jadi, harus lo duluan yang deketin dia." Jelas Lina panjang lebar.
Aku yang mendengarnya, hanya manggut-manggut saja. Karena saat itu aku juga bingung gimana caranya agar bisa deketin kamu duluan.
Sepanjang malam aku memikirkan caranya. Dan akhirnya aku temukan. Aku memulainya dengan mencari akun sosial mediamu.
Aku mengetik nama panjangmu, dan kutemukan akun instagram milikmu. Semudah itu mencarinya. Setelah membuka profile–mu, aku langsung follow.
Berhari-hari aku galau, karena kamu tidak juga kunjung follback instagramku. Sampai pada akhirnya, aku dapatkan notifikasi darimu.
Aku sangat senang saat itu. Benar-benar senang. Lalu tak lama kemudian, kamu mengirim sebuah gambar yang dalam gambar itu bertuliskan "Aku menyukaimu yang baca ini" Sungguh, saat itu jantungku berdegup kencang.
Aku benar-benar tak menyangka jika kamu akan melakukan itu. Sangat diluar ekspektasiku.
Aku bingung harus membalas pesanmu bagaimana. Dengan terpaksa, aku hanya mengirimkan emotikon senyum. Tahukah kamu, sebenarnya aku ingin membalas lebih dari itu tapi aku bingung harus membalasnya dengan apa.
Setelah itu, kita semakin dekat. Kita saling mengirim pesan setiap hari. Aku juga masih suka berdiri di depan gerbang sekolah, agar dapat bertemu denganmu.
Meskipun aku harus menunggu sangat lama, untuk mendapatkan status resmi dalam hubungan kita sebagai kekasihmu, tapi aku cukup senang karena proses pendekatan yang kita lalui sungguh sangat indah.
Aku masih ingat, kita meresmikan hubungan kita pada bulan juli tahun 2016. Saat itu kita tengah makan bakso, kamu tiba-tiba menyatakan cinta padaku. Tidak romantis memang, tapi itu sangat berkesan untukku. Karena penantianku selama ini berbuah manis.
"Jadi, kita sekarang udah resmi pacaran?" Tanyamu memastikan dengan mata yang berbinar.
Aku membalasnya dengan anggukan dan senyum yang tak luntur dari wajahku. Aku tidak tahu bagaimana kondisi wajahku saat itu, tapi aku dapat memastikan bahwa pipiku saat itu memerah karena malu dan juga hati yang berbunga-bunga.
Setelah resmi berpacaran, kita semakin sering menghabiskan waktu bersama dan aku semakin jatuh cinta padamu, begitu dengan kamu.
Saat itu aku dapat menangkap sorot matamu yang setiap kali menatapku penuh dengan cinta. Aku sangat berterimakasih padamu, karenamu aku dapat merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang dengan tulus.
Setalah 2 bulan berpacaran, kamu sama sekali belum pernah menggenggam tanganku. Padahal aku benar-benar ingin merasakan bagaimana hangatnya genggamanmu ketika menggenggam tanganku.
Masih ingatkah kamu ketika dulu aku memaksamu untuk menggenggam tanganku?
"Kamu sama sekali belum pernah pegang tanganku. Kamu jijik ya sama tanganku?"
"Engga, Chik. Aku engga jijik sama tangan kamu."
"Kalo gitu pegang tanganku sekarang!" Ucapku tersenyum sambil menyondorkan tangan kananku padamu.
"Tapi, tanganku sekarang lagi kotor. Nanti tanganmu juga ikutan kotor."
"Yaudah. Kalo kamu ngga mau pegang tanganku sekarang, aku ngga mau lagi ketemu kamu!"
"Yaudah. Sini!"
Untuk pertama kalinya, kamu menggenggan tanganku. Dapat kurasakan tanganmu yang begitu dingin saat menggenggam tanganku. Sebenarnya, aku tahu kalau saat itu kamu sangat grogi. Tapi aku pura-pura tidak perduli, karena aku sangat menikmati momen itu. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dalam perutku.
Aku menceritakan momen itu kepada temanku— Rika. Aku bercerita padanya dengan bermaksud ingin memamerkan kemesraan yang kita miliki. Tapi ternyata reaksinya ketika mendengar itu, malah biasa saja. Seperti tidak ada istimewanya di matanya.
Lalu Rika bercerita kepadaku kalau dia sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar berpegangan tangan, yaitu berciuman.
Aku yang mendengarnya saat itu, sangat terkejut. Aku tak menyangka jika gadis sepolos Rika, ternyata sudah pernah melakukan hal sejauh itu.
Sepanjang malam, aku memikirkan ucapan Rika, perihal dia yang sudah sering berciuman dengan pacarnya.
Kau tahu, semakin aku memikirkannya, semakin aku sangat penasaran bagaimana rasanya berciuman. Aku ingin merasakannya denganmu. Tapi aku sangat yakin bahwa kamu tidak akan mengindahkan keinginanku itu.
Terbukti ketika esoknya, aku memintamu untuk menciumku. Kamu langsung menolaknya mentah-mentah. Hahaha... Jika kamu ingat, aku benar-benar malu pernah melakukan hal itu.
Setelah satu tahun kita berpacaran, tiba-tiba jenuh menghampiriku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bahwa cintaku sudah mulai pudar untukmu.
Terlebih lagi, kita selalu melakukan hal yang sama berulang kali. Tidak ada perkembangan dalam hubungan kita. Ditambah Rika yang terus memanas-manasiku bagaimana nikmatnya berciuman. Hal yang tak pernah kudapatkan darimu.
Lalu tanpa sengaja, aku bertemu dengan Arya. Siswa dari sekolah lain. Kami bertemu di Rumah sakit. Dia meminta nomor whatsapp–ku. Tanpa pikir panjang aku langsung memberikan nomorku padanya.
Hal yang saat ini sangat aku sesali. Harusnya hal itu tak pernah aku lakukan. Aku menyesal. Sangat menyesal.
Esoknya, Arya mengajakku nonton Film bioskop. Aku mengiyakan ajakannya. Dia begitu hebat dalam mencairkan suasana. Aku nyaman berada di sisinya.
Setelah pulang nonton bioskop, dia mengajakku untuk mampir di rumahnya. Sepi. Tidak ada orang, hanya kami berdua.
Saat itu aku memintanya untuk mengantarkanku pulang, tapi dia malah memintaku untuk menemaninya.
Ditengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba dia menatap mataku sambil menggenggam tanganku. Lalu dia berkata, "Aku tahu kamu tidak bahagia dengan hubunganmu. Aku bisa kok bahagiain kamu!"
Dia langsung melumat bibirku. Aku kaget tapi aku tidak menolaknya. Untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya berciuman. Aku terbuai hingga kami melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan.
Bukannya menyesali perbuatan itu, kami malah melakukannya lagi. lagi dan lagi. Aku merasa seperti ada hal baru di tengah-tengah kejenuhanku dalam hubungan kita.
Aku semakin bosan dengan hubungan kita, aku merasa saat itu, aku sudah kehilangan cintaku untukmu sepenuhnya.
Hari itu, aku memutuskan untuk menemuimu setelah sekian lama aku menghindarimu. Aku memintamu untuk mengakhiri hubungan kita, tapi kamu menolaknya.
"Kita harus putus. Karena aku sudah tidak perawan lagi! Aku engga cukup baik untuk kamu." Ucapku dengan kesal, karena kamu terus saja menolak permintaanku untuk putus darimu.
Aku terpaksa mengatakan itu, karena aku pikir dengan mengatakan itu kamu pasti akan marah dan segera memutuskanku. Tapi ternyata reaksimu diluar ekspektasiku.
Aku melihatmu menitikan air mata. Kamu menangis. Aku tidak percaya, saat itu kamu menangis.
"Dengan siapa?" Tanyamu lemah, suaramu hampir saja tak kedengaran saat itu.
Aku hanya diam, karena aku masih terkejut dengan reaksimu.
"Jawab Chicka! Dengan siapa kamu melakukannya? Biar aku bunuh orang itu!"
Nadamu mulai meninggi. Aku semakin terdiam, dan juga ketakutan dengan ucapanmu.
"Chicka Jawab dengan siapa kamu melakukannya? Kapan?"
"Satu bulan yang lalu!" Ucapku padanya. Akupun tak kuasa menahan air mataku. Aku juga menangis. Aku tidak tahu untuk apa air mataku saat itu, karena aku sama sekali tidak menyesali perbuatan itu.
"Ah, Sialan!!!" Untuk pertama kalinya aku mendengar dirimu mengumpat. Aku semakin menangis mendengarnya.
"Chicka, kenapa kamu melakukan itu? Kamu tahu kan aku ngga pernah melakukan itu padamu karena aku ingin menjaga kamu, Chicka!" Aku dapat merasakan bagaimana frustasinya kamu saat itu dari nada bicaramu yang mulai melemah.
"Karena aku juga Ingin ngerasainnya seperti teman-temaku."
Aku tidak menyangka kalimat itu dapat lolos dari bibirku dengan mudahnya.
"Chika, harusnya kamu sadar hal yang kamu inginkan itu salah."
Aku hanya menunduk, menangis, tapi tak menyesali perbuatanku. Saat itu aku benar-benar tengah terbuai nikmatnya melakukan dosa, sampai tak menyesalinya sama sekali.
"Chicka, berjanjilah kamu tidak akan melakukannya lagi. Aku akan tetap mencintaimu, bagaimana buruknya kamu."
Diluar ekspektasiku. Kamu sungguh tulus mencintaiku saat itu, tapi kenapa aku begitu bodoh sehingga tak memahami ketulusan cintamu itu.
Setelah hari itu kita melanjutkan hubungan kita, aku berbohong padamu perihal aku yang sudah tak lagi berhubungan dengan Arya. Tapi, aku semakin bosan dengan hubungan kita. Ditambah sikapmu yang semakin protectif kepadaku. Aku benar-benar jengah. Aku seperti terkurung dalam sangkar, dan aku tak menyukainya.
Saat itu, aku benar-benar ingin lepas darimu, segala cara aku lakukan agar kamu muak dengan tingkahku. Tapi ternyata kamu malah semakin mencintaiku. Aku tertekan, karena aku sudah tidak mencintaimu lagi.
Aku putuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Meskipun kamu menolaknya, aku akan tetap mengakhiri hubungan kita. Dan, akhirnya kamu menyerah. Dengan terpaksa kamu menyetujui permintaanku yang ingin putus darimu.
Aku benar-benar bahagia. Akhirnya aku bebas darimu, dan melanjutkan hubunganku dengan Arya dengan bahagia. Begitu pikirku saat itu.
Setelah kita putus, Lina memberitahuku bahwa kamu lebih sering terlihat murung dan kamu juga mulai merokok, padahal dulu kamu sangat tidak ingin mencobanya.
Aku sungguh merasa bersalah ketika mendengar itu. Aku tahu, akulah penyebab semuanya. Maaf, aku telah sangat menyakitimu.
Tepat 2 bulan setelah hubungan kita berakhir, Arya mencapakanku. Ia mengatakan padaku, bahwa ia balikan sama mantannya.
Aku benar-benar hancur mendengarnya, setelah semua yang kuberikan untuknya, dengan teganya dia melakukan itu padaku.
Aku menangis sepanjang hari, mengurung diri dalam kamar. Aku merasa hidupku sudah hancur.
Dan sekarang aku sangat menyesali dosaku dulu. Hingga sekarang aku tak pernah lagi berhubungan dengan Lelaki manapun, karena aku takut di buat patah sekali lagi.
Aku harap, kamu dapat memafkan kesalahanku padamu. Aku tidak berharap kamu mau menerimaku kembali, karena akupun merasa sudah tak cukup pantas untuk mendampingimu lagi.
-TAMAT-
******
Serius, bikin cerpen ini banyak banget hambatannya. Mulai dari tulisan ini yang ngga ke-save, dan ngga sengaja ke publish.