Pada suatu hari! Ada suatu kota yang tampak sangat sepi, ya aku tahu bahwa hari ini adalah hari minggu atau hari libur. Tapi mengapa ada yang aneh hari ini, mengapa kota seperti tidak berpenghuni. Aku pun terus melewati beberapa bangunan perkantoran dan pertokoan dengan menggunakan sepeda-Ku namun nihil, tidak ada seorang pun di jalanan.
Apakah mereka semua sudah mati! Atau ,mungkin aku adalah satu-satu-Nya penghuni di kota ini? Atau jangan-jangan kota ini adalah kota mati, hiiiiiii? Gumam-Ku.
Aku pun terus mengayunkan sepeda-ku menyusuri jalanan pada perbatasan kota, di ujung pinggir jalan dekat hutan terlihat banyak kerumunan manusia. Jumlah-nya tidak bisa di hitung, bisa di bilang ratusan orang. Wadauu ada apa ya? Apa ada sebuah pembunuhan? Gumam-Ku lagi. Aku tidak menunggu lama lagi, langsung saja aku mendekati kerumunan itu dan bertanya pada salah satu bapak-bapak berkemeja hitam.
“Misi Pak, ada apa ini ya? Kenapa banyak orang di sini?” Tanya-Ku kebingungan.
“Ini Mbak, ada kejadian aneh beberapa hari ini di sini. Para warga di sini sering mendengar tangisan .” Jawab bapak itu dengan mengelus tangan dan pundak-Nya karena merasa merinding dan takut.
“Ahh, masa siih Pak! Yang benar.” Tanya-Ku lagi memastikan.
“Beneran Mbak. Mbak pasti orang baru di kota ini kan, jadi Mbak pasti belum tahu menahu tentang hutan ini. Di sini sudah banyak mengalami kejadian-kejadian aneh, Mbak! Karena setiap orang yang masuk ke dalam hutan itu pasti tidak akan bisa keluar dengan selamat. Sudah banyak orang pintar dan paranormal yang di bayar untuk di tugaskan mencari tahu tentang tempat itu, tapi bukan-Nya jawaban yang kami dapat melainkan mereka kembali dengan keadaan tidak bernyawa lagi dan bahkan jasad mereka berwarna hitam pekat, Mbak.” Bapak itu menjelaskan dengan rinci kepada-Ku. Aku pun kaget mendengar-Nya.
“Jenazah-Nya menghitam! Berarti darah mereka di hisap oleh MG (Mahluk Ghoib) penghuni hutan itu.” Gumam-Ku.
Aku pun hanya mengangguk. Baru saja aku ingin melangkahkan kaki untuk pergi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu berpakaian panjang berteriak sangat histeris, ternyata dia kesurupan. Dia mengamuk dan berteriak memarahi semua warga yang ada di tempat itu. Namun aneh-Nya tidak ada satu orang pun yang berani mendekati ibu itu.
Aku pun menggunakan mata batin-ku untuk melihat siapa yang sedang menguasai ibu itu. Ternyata ibu itu di rasuki tiga kuntilanak. Ibu itu mulai tertawa khas “hihihihi” dan tiba-tiba menangis.
Aku menepikan sepeda ke samping jalan dan mendekati ibu tersebut. Aku mengeluarkan ketiga mahluk itu dengan secepat-Nya sebelum mereka menguasai seluruh tubuh ibu itu. Iya memang, aku memiliki indera ke enam, di mana aku mempunyai sebuah kemampuan melihat MG (Mahluk Ghoib) sejak aku masih berusia lima tahun. Semua warga yang ada di tempat itu menatap-Ku heran dan bercampur bingung.
Aku pun memberikan penjelasan kepada warga bahwa aku bukan orang pintar atau paranormal, tapi memang kebetulan aku mempunyai kemampuan melihat hal-hal Ghoib. Mereka semua mengucapkan terimakasih pada-Ku. Aku meminta air pada salah satu warga dan memberikan kepada ibu yang sudah mulai sadar.
Ibu itu pun bercerita kalau tadi dia melihat tiga wanita berbaju putih menarik-Nya paksa untuk masuk ke sebuah tempat yang sangat megah. Mereka mengajak-Nya untuk menjadi salah satu dayang di tempat itu, tetapi dia tidak menginginkan-Nya dan melawan sehingga ketiga wanita itu marah dan masuk ke raga-Nya.
Aku mulai berpikir! Tidak mungkin aku mengirimkan salah satu MA (mahluk Astral)-Ku kesana? Karena di sana mungkin saja terdapat sebuah kerajaan Ghoib. Energi-Nya terlihat sangat jelas.
Akhir-Nya aku pamit untuk pulang, namun para warga tidak mengizinkan aku untuk pulang! Mereka malah menginginkan aku untuk mengungkapkan misteri hutan tersebut. Sebab warga sudah gerah dangan kejadian-kejadian aneh yang terjadi belakangan ini. Aku juga tidak mungkin masuk kesana seorang diri. Aku akan membantu mereka dengan mengajak keempat sahabat-ku yang kebetulan memiliki kemampuan seperti-Ku. Aku akan kembali lagi ke tempat itu bersama sahabat-sahabat-Ku ketika mereka sudah tiba di kota ini.
Setelah aku sampai di rumah aku segera menelpon Anna, Inna, Zahra, dan Zihan. Mereka berempat merupakan anak indigo. Mereka adalah sahabat-Ku saat kami masih sekolah. Kemampuan mereka berempat tidak usah di tanyakan lagi, sebab mereka sudah berpengalaman dalam hal Ghoib. Mereka berjanji akan datang lima hari lagi ke kota-Ku.
Dan waktu yang di tunggu-tunggu akhir-Nya tiba! Mereka berempat benar-benar datang ke rumah-ku dan sangat penasaran dengan hutan itu. Jam 05:00 sore, kami pergi untuk melihat hutan itu dari batas kota. Kami belum memasuki hutan itu hanya melihat-lihat keadaan di sana.
Terlihat ada beberapa mahluk di sana. 75% mengandung energi negative. Bahkan ada beberapa yang mencoba menggertak kami seolah tidak ingin diganggu.
Kami berlima memutuskan untuk pulang dan besok pagi akan kembali masuk ke gerbang yang ada di dalam sana. Berlima, tanpa membawa pasukan. Hanya kami berlima.
Malam-nya aku Anna, Inna, Zahra, dan Zihan ngobrol-ngobrol membahas tentang apa yang akan kami lakukan besok pagi. Setelah berdebat panjang lebar kami memutuskan akan membawa air yang sudah dibacakan ayat-ayat suci Al qur’an dan beberapa botol kosong untuk menangkap MG (Mahluk Ghoib) yang nakal dan kami di mandikan dengan air do’a yang sudah di do’akan oleh salah satu ustad yang sudah menganggap kami berlima seperti anak-Nya sendiri. Kami pun akhir-Nya memutuskan untuk beristirahat agar besok pagi siap untuk menjelajahi gerbang ghoib di hutan itu.
Keesokan pagi-Nya tepat pukul 09:25, kami berlima sudah berada di batas kota dan bersiap untuk masuk ke dalam hutan. Bahkan ada beberapa warga yang mengantar kami dan kami menitipkan sepeda motor kami di salah satu rumah warga. Kami berlima masuk ke dalam hutan tanpa rasa ragu! Baru saja kami melangkahkan kaki beberapa meter, terdengar suara seorang perempuan menangis.
Bahkan nada-Nya sangat sedih dan begitu pedih. Begitu terasa penyesalan dan kebencian yang sangat dalam dari tangisan itu. Wujud-nya saja tidak terlihat. Kami berlima saling pandang memandang dan kami memilih untuk melanjutkan langkah menuju gerbang ghoib tersebut.
Gerbang ghoib itu terletak pada antara dua pohon yang berseblahan, kami pun masuk tanpa basa-basi. Berjalan menyusuri pepohonan yang menjulang tinggi dan tepat berada di sebuah gerbang besar yang di jaga oleh sesosok manusia setengah naga. Kami meminta izin untuk masuk dengan sopan , namun dia menolak dan berdebat dengan Anna dan Zihan. Maka terjadilah perang antara mulut ke mulut sehingga membuat salah satu dayang yang berwujud naga keluar. Bahkan dayang itu mempersilahkan kami berlima untuk masuk.
Kami masuk ke sebuah ruangan yang sanga luas seperti aula yang kental dengan nuansa naga dan rusa. Semua dayang dan pengawal-nya berwujud separu manusia separu naga.
“Huuhh, ini siih setengah siluman semua, seharus-Nya tadi kita bawa aja Khenzo, Nis?” Gumam Zihan pada-Ku.
Khenzo adalah teman tak kasatmata-Ku yang juga berwujud naga.
“Kalau kita bawa Khenzo nanti mereka ngira kita mau perang lagi.” Jawab-ku sambil tersenyum tipis.
Banyak mata yang memperhatikan kami berlima, bahkan ada juga yang melotot dan menjulurkan lidah naga-Nya. Semua berjenis naga kelabu. Dayang tersebut membawa kami ke depan seorang sosok perempuan berwujud separu naga separu manusia memakai baju merah mengkilap dengan banyak permata dan berlian tak lupa dengan mahkota berlian di kepala-Nya. Dia bahkan tidak terlihat begitu ramah kepada kami.
“Apakah kalian kesini untuk mengantarkan nyawa kalian?” Ucap-Nya kepada kami berlima.
“Kami kesini tidak untuk menyerang kalian, kami hanya ingin melakukan negosiasi agar anda melepaskan semua tawanan anda terutama yang bernama Kinan. Dia tidak bersalah.” Jawab-ku sembari menatap wajah—Nya.
Dia bahkan sedikit terkejut melihat wajah-Ku. Kinan adalah salah satu korban pesugihan kedua orang tua-Nya, kedua orang tua-Nya telah meninggal dan sebagai ganti-nya Kinan di jadikan tumbal. Bapak-bapak berkemeja hitam itu memohon kepada kami untuk membebaskan Kinan terlebih dahulu.
“Itu tidak mungkin, dia adalah tawanan-ku. Dia akan aku jadikan persembahan untuk siluman serigala agar di jadikan istri-nya.” Jawab-Nya sembari tertawa menggelegar ke seisi ruangan. Anna, Inna, Zahra, dan Zihan sudah terlihat emosi.
“Oohh iya, apa kamu sudah lupa dengan 300 tahun yang lalu kamu di kurung oleh salah seorang ustad bersorban putih yang memiliki tahi lalat di atas bibir-Nya. Dimana seluruh pasukan-Mu di musnakan oleh ustad itu. Kau bahkan di kutuk oleh salah satu jin muslim, bahwa kamu dan seluruh pasukan-mu akan di musnakan oleh salah satu keturunan ustad itu. Apakah kamu ingin kejadian itu terulang kembali dengan-Ku?” Tanya-Ku sembari tersenyum sinis pada-Nya.
Dia memperhatikan wajah-Ku dan terlihat begitu takut.
“Kamu…apakah kamu keturunan ustad bersorban putih itu?” Tanya-nya dengan nada yang bergetar dan takut.
“Iya, memang dia orang-Nya…kenapa! Takut ya! Dia bahkan bisa memusnakan seluruh pasukan-Mu dan mengurung-Mu di dalam botol 100 atau bahkan 200 tahun kedepan.” Jawab Zahra dengan nada yang tinggi bahkan sedikit menggertak.
Seluruh anak buah sang ratu begitu marah dan ingin menyerang kami berlima. Ratu itu terlihat begitu takut dan bahkan untuk menatap wajah-Ku saja dia tidak berani.
“Baiklah aku kan membebaskan-Nya.” Jawab-Nya.
“Aku mau kamu membebaskan semua tawanan-Mu dan jangan pernah sekali-kali kamu mengganggu warga di kota ini lagi. Aku akan mengawasi-Mu dan jika kamu melanggar aku akan membuat-Mu menyesal selama 100 tahun.” Ancam-ku.
Dia terlihat begitu takut dan menyuruh panglima tersebut untuk membebaskan tawanan-nya. Kami kemabali melewati lorong itu dengan membawa delapan orang. Kami berlima kembali memagari tempat itu agar kerajaan itu tidak akan mengganggu warga atau siapa pun. Dan kami menyuruh delapan orang tersebut untuk berjalan ke arah depan agar bisa keluar dari hutan itu.
Lalu kami kembali melanjutkan pejalanan kami untuk mencari asal suara tangisan yang begitu pedih dan menyayat hati. kami berlima pun meneruskan perjalanan dan menyusuri jalan yang terjal, pepohonan dan semak belukar yang sangat tinggi. Hari pun sudah semakin sore, akhir-nya kami berlima memutuskan untuk membangun perkemahan dan makan. Karena kami sudah membawa bekal dari rumah.
Pasukan kami pun datang. Kami tidur dan meminta mereka untuk berjaga. Dan tepat pada tengah malam, suara itu pun akhir-Nya terdengar lagi, tangisan yang begitu pedih dan menyayat hati.
Aku membangunkan keempat sahabat-Ku, kami beranjak dan mencari sumber suara itu. Di atas sebuah batu besar terlihat seorang perempuan berbaju merah sedang duduk, dia bukan sosok kunkun (kuntilanak), tetapi berwujud perempuan dengan rambut yang sangat panjang.
Kami pun melakukan komunikasi dengan-Nya. Dia adalah korban kekejaman pemerkosaan yang di bunuh saat sedang berwisata dengan teman-teman-Nya. Teman-teman-Nya selamat, tetapi dia meninggal saat perjalanan menuju Rumah Sakit. Dia menangis meratapi nasib-Nya yang sangat pedih. Karena dia belum siap untuk meninggal. Kami berlima hanya bisa mendoakan-Nya. Dan kami menyudahi perjalanan kami dengan rasa yang sangat memuaskan.
*****