Dulu aku memiliki banyak impian karir, tapi sekarang.. Kenapa aku merasa tersesat di tengah jalan, ya?
"Nak,”
Aku menoleh, kutatap Ayah yang menunduk. “Kenapa, Ayah?”
“Kalau kau dewasa kelak, gapai cita-citamu yang setinggi langit, ya.”
Hidup itu kejam, bagai tak pernah letih mematahkan ratusan ekspetasi, membuat harsa mengepak hening berteman sepi.
Kala itu, Ayah terbaring tak berdaya. Senja menjadi saksi bisu, perihal betapa perihnya menatap senyum Ayah yang bagai batu rubi, enggan terpancar lagi. Sedikit demi sedikit kulitnya membiru, wajahnya beku.
Saat itu, duniaku, seolah menjelma jadi debu.
Ayah yang beranjak pergi dari Buana meninggalkanku seorang diri, mengorek luka dalam kanvas kalbu.
Menyakitkan? Iya, banget ..
“Assalamu’alaikum, anak-anak. Hari ini, pelajaran BK akan membahas tentang cita-cita.” Bu Laila, salah satu guru BK sekolah kami.
Ia meletakkan buku-buku. “Kalian sebentar lagi lulus SMP, lho. Jadi, Ibu akan membantu jalan kalian ke depan.”
Gendis, namaku yang terdengar Jawa banget, haha. Perasaanku cukup kacau saat ini, karena diriku sendiri belum memutuskan untuk menjadi apa saat dewasa.
Terlalu santai, ya?
Bu Laila berdehem panjang, memainkan spidol papan.
“Ibu panggil namanya secara acak, oke, Gendis.”
Aku tersentak, “S-saya?”
“Iya..”
“Ehm.. Sayangnya, saya belum memiliki rencana ke depannya, Bu.”
Tatapanku jelas melihat Bu Laila berdecak beberapa kali. “Maaf, Bu.” Cicitku.
Bu Laila menunjukku, “Bakat minatmu apa, Gendis?”
Jemariku bertaut gugup. “Apa, ya..”
“Tidak tahu juga?”
Aku malu, “Iya, Bu.”
Bu Laila membuang nafas sembari memijit hidung, tangannya yang tadi bermain spidol kini terhenti. “Waktu kecil impianmu apa sih, nak?”
Impianku waktu kecil ...
“Dulu, saya ingin menemukan Ibu saya yang menceraikan Ayah. Tapi sekarang saya tahu itu tidak mungkin.” Ucapku, tersenyum.
“Ah..” Bu Laila menghentikan aktivitasnya, “Maaf..”
“Tidak apa, Bu.”
“Kalau begitu, Ibu akan memberimu waktu selama satu minggu untuk memikirkan rencana ke depannya. Baik itu cita-cita, melanjutkan SMA atau SMK, dan mengambil jurusan apa. Jangan sampai lupa, ya.”
Merepotkan, aku tidak terlalu suka ini.
“Baik, Bu.”
***
Impian..
Cita-cita..
Aku benar-benar berpikir keras dengan secangkir kopi di malam hari. Kusesap perlahan, membiarkan mata memandang manisnya halom penuh bintang.
Di saat-saat seperti ini membuatku merindukan Ayah, mungkin jika dia ada di sini, aku bisa menanyakan apa yang cocok untukku di masa depan.
“Huft..”
Gendis, Gendis. Kau terlalu berkhayal.
“Arghh!! Susah sekali!”
Aku frustasi.
Drap drap – Suara langkah kaki mendekatiku.
“Yo, Gendis!”
Oh, Manda. Teman sekelasku, aku ingat, dia tertawa tadi waktu aku kebingungan di Kelas.
Teman tak tahu malu.
“Apa?” Aku membalas, ketus.
“Kau marah? Karena masalah di Kelas tadi, ya.”
Aku diam, tak membalas.
“Ih, aku minta maaf! Toh, aku tidak tertawa keras, kan”
Kujewer telinganya, “Tidak keras dari mana! Teman tidak tahu biadab.” Sungutku.
Manda menggebu, “Maaf!”
Melepaskan gadis itu, aku kembali duduk tenang. Tanganku mengetuk-ngetuk meja sambil berpikir keras.
“Sedang memikirkan doi, ya?” Suara Manda mengangguku.
“Ga,” Tangkasku.
“Lalu?”
“Ck, sedang berpikir akan masa depan yang suram!” Aku menyentil dahinya. “Pu-as?”
Manda mengangguk, “Oh.. Kau sudah menentukannya?”
“Huft.. Belum, andai saja Ayah di sini, pasti aku bisa mendapat cita-citaku.”
Manda duduk di sampingku, ia meminum secangkir kopi – eh, kopi milikku?!
“Oi-“ Aku hendak protes.
Tapi Manda menyela, “Menurutku, sebuah cita-cita atau impian berasal dari dirimu sendiri, bukan orang lain.”
“Tapi, dia kan ayahku.”
“Namun, ini adalah hidupmu. Tak peduli seberapa banyak luka yang di peroleh karena hancurnya ekspetasi, kau harus tetap berjuang. Jangan pernah merasa puas dengan dirimu yang sekarang, oke?”
“....”
Kurasa.. Manda benar.
Cita-citaku, impianku, itu adalah pilihan yang berada di kedua tanganku. Menjadi pribadi yang lebih mandiri, tanpa merengek pada bayangan Ayah lagi.
“Tumben, kau bicara bijak begini? Aku terkejut.”
Manda melotot, “Mengejekku, ya?”
“Iya."
“Kau!”
Aku tertawa, “Hahaha”
Malam itu aku benar-benar telah membuka mata, ini semua karena Manda. Kini aku mulai berpikir, bakat dan minatku apa, ya?
Ah, jika diingat-ingat bukankah aku cukup puitis sebagai anak Sekolah Menengah?
“Apa aku bisa mendapat penghasilan dari itu?” Gumamku.
“Bisa!” Manda berseru, semangat.
“Aku menemukan informasi, kau bisa mendapat uang dengan mengirim karya puisimu ke sini.. Dan dalam jangka waktu satu sampai dua bulan, jika karya puisimu lolos seleksi, kau akan mendapat uang hingga satu juta!”
Aku menatapnya binar, “Serius? Semudah itu?!”
“Iya! Coba dulu deh, aku juga ada beberapa lomba puisi yang bisa kau ikuti.”
Lagi-lagi, karena Manda, aku banyak melakukan hal positif saat ini.
Selain mengikuti beberapa lomba juga rutin mengirim puisi ke media cetak, aku juga mulai belajar membuat cerpen. Sedikit demi sedikit, dengan penuh tekad dan semangat.
Dan akhirnya, sekarang aku menjadi penulis novel kontrak berbayar. Banyak prestasi yang kudapat dari menulis, mengisi waktu luang dengan mengikuti beberapa campaign, aku merasa senang.
Benar-benar senang, seolah harsa tak lagi mengepak hening berteman sepi.
“Saya, Gendis, memiliki cita-cita menjadi seorang penulis!”