Hai, Kak. Jangan lupa like, komen, dan follow akunku, ya.
Selamat membaca!
"Happy anniversary, Sayang." Leo memberi kejutan pada kekasihnya---Nana. Ia membawa setangkai bunga mawar dan sepasang cincin coupple.
Nana berbinar aura wajahnya kian cantik dan berseri.
"Terima kasih, Sayang." Ia meraih pemberian Leo dengan antusias.
Cincin ia pakai di jari manisnya. "Sweet," ucapnya lagi.
Leo duduk di sebelah Nana. Ia berucap, "Berjanji kamu tak 'kan meninggalkanku,"
Nana menatap Leo dengan gamang.
"Janji," balasnya. Nana menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
*
*
*
Masuk tahun ketiga mereka menjalin kasih. Nana mempertanyakan kejelasan statusnya.
"Sayang. Kapan mau menikahiku?" tanya Nana.
"Soal itu aku berjanji akan menikahi mu. Bersabarlah," jawab Leo enteng.
"Kapan?"
"Tunggu kamu sukses dulu."
"Tidak bisakah, kita jalani bersama-sama?"
"Aku masih memiliki tanggungjawab terhadap adikku ...." Leo menatap Nana lekat.
"Oh, begitu. Berarti aku bukan prioritas utama untukmu, Mas." Nana memalingkan wajahnya.
"Bukan begitu. Lagipula kita masih muda." Leo menyentuh dagu Nana.
"Sudah tak usah dibahas. Berulang kali kita membahasnya, ujungnya berantem," ucap Nana kesal.
"Sabarlah, Sayang---,"
"Antar aku pulang!"
"Loh, kita baru saja bertemu?"
"Antar sekarang!" Nana berdiri. "Atau aku pulang sendiri."
Leo mengalah. "Baiklah."
Disepanjang jalan kedua insan tak bersuara sepatah katapun. Nana menatap ke luar jendela sebelah kiri.
"Aku mau menikah denganmu." Leo pun bersuara. "Asalkan--,"
"Apa?" tanya Nana tak sabar.
"Kita menikah di kotaku," sahu Leo.
"Apa? Tidak salah, Mas?!"
"Tidak. Kedua orangtuaku mabuk perjalanan," balas Leo.
"Hah? Aku wanita. Seharusnya, Mas beserta keluarga yang harus menemui keluarga perempuan--,"
"Hanya itu pilihannya." Serobot Leo.
"Oh. Aku tahu, Mas berat dengan biaya kan?"
"Bukan itu--,"
"Cukup!" Nana emosi.
"Turunkan aku di sini. Dan jangan pernah temui aku lagi!"
Ciiit!
Leo mengerem mendadak.
"Maksudmu, apa?"
"Kurang jelas? Maksudku kita akhiri hubungan ini." Nana membuka pintu mobil.
Brak!
Nana membanting pintu dengan keras.
"Nana, please! Jangan gitu, dong." Leo pun membuka pintu mobil. Ia mengejar Nana.
"Na!" Ia meraih tangannya.
Nana menepis kasar.
"Mau apa lagi?!" Nana berbalik.
"Ayolah, masa bahas beginian kita putus? Mana janjimu."
"Lantas? Aku harus menunggu sampai kapan? Keburu kedua orangtuaku menjodohkan ku!"
"Please, Nana."
Nana melambaikan tangan ia memberhentikan taksi.
"Nana, tunggu!"
Taksi yang ditumpangi Nana melesat jauh. Meninggalkan Leo sendiri.
*
*
*
Ting!
[Sayang]
Nana membaca pesan dari Leo.
[Sudah dong, ngambeknya,] pesan kedua.
[Kuberi satu Minggu. Lamar aku atau menikah. Bisa?] Send. Nana membalas pesannya.
Drrt ....
Panggilan masuk.
Leo?
"Halo. Kenapa telpon? Kurang jelas, ya?" tanya Nana langsung dari sambungan telepon.
"Ayolah, Na. Tidak usah buru-buru."
"Buru-buru? Kita sudah tiga tahun, Mas. Apa salah aku meminta kepastian?!"
"Tapi--,"
"Untuk sementara waktu jangan hubungi aku lagi. Jika sudah punya jawaban dan pilihan. Hubungi aku segera!"
Klik!
Nana melempar ponselnya ke atas kasur.
Empat bulan tidak ada kabar dari Leo. Nana pun telah memblokir akses dirinya agar tak diganggu mantan kekasihnya.
Kedua orangtuanya telah menjodohkan Nana dengan Cello. Anak sahabat ibunya.
Nana membuka hati untuk Cello dan mereka melanjutkan kejenjang pernikahan. Di sisi lain, Nana masih menunggu keputusan Leo.
Malam menjelang akad.
Ponsel Nana berdering di atas meja.
Nomor tak dikenal.
Klik!
"Halo. Siapa, ya?" tanya Nana.
"Ini aku."
"Aku siapa?"
"Secepat itukah, kamu melupakan ku, Na," suaranya putus asa.
"Oh, tidak. Lalu, mau apa menelpon ke mari?"
"Aku ingin kita bersatu kembali. Aku merindukanmu, Na."
Nana diam tak mampu menjawab.
"Halo, Na. Masih di sana?"
"Iya."
"Bisakah, kita mengulang waktu yang indah?"
"Maaf. Mas terlambat, besok aku telah sah menjadi istri orang," jawab Nana mantap.
"Jangan bercanda, Na!" Leo tak percaya.
"Aku tak bercanda. Besok adalah hari pernikahanku. Dan hubungan kita sudah berakhir."
"Na, jangan tinggalkan aku. Please ...,"
"Sudah terlambat."
Klik!
Nana menangis di sudut kamarnya.
"Maafkan, aku. Ini sudah menjadi suratan takdir," ucap Nana lirih. Ia menatap baju kebaya bewarna putih yang akan ia pakai di hari pernikahannya esok.
Ting!
[Na, aku mohon. Kembali kepadaku,]
[Aku akan membahagiakan mu]
Nana meng-klik tombol blokir.
Selesai