Pagi ini, seorang gadis bernama Yuta dengan keluarga kecilnya berada dalam mobil yang sedang berjalan menuju sebuah rumah keluarga mereka yang lain. Langit terlihat begitu cerah berawan membuat suasana tidak dingin juga tidak panas.
“Mama” Yuta berbisik dari kursi penumpang memanggil mamanya yang duduk di sebelah sopir yaitu papanya.
“Iya sayang?” Mama Yuta menolehkan kepala menatap putri semata wayangnya.
“Yuta pernah denger, kalau anak bungsunya tante Rina itu agak aneh yah?” Tanya Yuta dengan ekspresi bergidik takut.
“Ish, enggak kok, mungkin dia kelihatan aneh soalnya banyak banget tingkahnya, masih kecil umur 1 tahun 5 bulan, jadi dia lagi masa aktif-aktifnya” Jawab mama Yuta terkekeh pelan.
“Mungkin juga yah…” Yuta mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dia cowok atau cewek ma?” Yuta kembali bertanya penasaran.
“Cowok”
“Namanya?” Tanya Yuta lagi.
“Diandra” Jawab Mama Yuta.
“Owh, namanya Diandra yaaah”
Selang 2 jam kemudian…
Matahari kini tepat berada diatas kepala, menunjukkan bahwa waktu sudah sampai tengah hari. Yuta dan keluarganya baru sampai di sebuah rumah yang letaknya agak jauh dari kata ramai. Bahkan, lingkungan sekitarnya terkesan seperti sebuah desa walau tidak termasuk desa terpencil.
Yuta menyalimi satu persatu orang yang ada disana, kakek dan neneknya, tante Rina dan suaminya, anak pertama tante Rina, dan yang terakhir si bungsu yang tadi ia bicarakan dengan mamanya.
Dia terlihat lucu dan sangat aktif seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Bagi yuta, anak itu terlihat normal-normal saja tuh. Bahkan, saking aktifnya dia sudah berkali-kali jatuh karena bermain lari-larian. Jatuh bangun lagi, kalau jatuh yah bangun lagi, hal itu terjadi berulang kali.
Yuta kini sedang duduk sendirian, menatap sepupu kecilnya. Tak lupa dengan setoples cemilan ringan melekat di tangannya. Dia mengingat perbincangan dengan sepupunya suatu hari yang pernah kesini.
Flash back on.
Yuta menatap ponselnya yang berdering diatas tempat tidur. Ia meletakkan novel yang sedang dibacanya ke atas meja balkon lalu berjalan meraih ponselnya. Tertera nama Kak Qila kakak sepupunya disana. Yuta menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.
“Hallo?” yuta membuka percakapan terlebih dahulu.
“Hai yuta…, apa kabar?” Suara Kak Qila terdengar antusias di seberang sana.
“yuta baik-baik kok, kalau kakak sendiri apakabar?”
“Tentu baik lah hehe…” Kak Qila terkekeh diakhir kalimatnya. “Kakak dengar pekan ini kamu mau ke rumah tante Rina yah?”
“Iya nih, Yuta pengen liat muka anak bungsu tante Rina” Luana menjawab antusias.
“Yuta, kamu tau kan kalau kakak minggu kemaren pergi kesana…” Entah mengapa nada bicara Kak Qila terdengar mulai serius.
“Iya, tau kok, Emang ada apa?”
“Waktu malam kakak menginap disana…, tepat pukul 11:50 malam, kakak kebangun tuh yah kan…, terus kakak jalan ke kamar mandi, liat si Diandra lagi berdiri di depan cermin dekat kamar mandi, terus duduklah dia didepan cermin dan kamu tau gak dia ngapain???”
Yuta masih diam membiarkan kak Qila menyambung kalimat yang sepertinya sengaja dia gantungkan tadi sampai sebuah suara membuat atensi Yuta berubah.
“Yutaaaaaa…” teriakan mama Yuta menggema di dalam rumah membuat kak Qila di seberang sana berkata,” Mama kamu manggil tuh, entar kapan-kapan aja kakak sambungin cerita lagi”
“Yaaah, ngegantung dong” Yuta mendesah kecewa.
“Gapapa, biar kamu kepo hehe, sana gih entar mama kamu ngamuk lagi, kakak matiin yah teleponnya, bye bye”
“Bye kak Qilaaa…” yuta menutup sambungan lalu meletakkan kembali ponselnya.
Flash back off.
Yuta terdiam sejenak memikirkan apa yang dibicarakan kakak sepupunya waktu itu namun terbuyarkan oleh teriakan milik mamanya.
“Yutaaa, Yuhuuu, kumpul bareng sini” panggil mamanya dari arah ruang keluarga.
Yuta tersadar bahwa dia duduk sendirian di teras sedangkan yang lainnya sudah masuk ke dalam rumah. “Bentar ma” Yuta menyahut dari teras.
Matanya menatap langit berwarna jingga yang terlukis dengan begitu sempurna. Hembusan angin sore menerpa tubuhnya memberikan perasaan rileks. Suara ranting-ranting yang saling bertabrakan membuat suasana tersendiri. Dedaunan pohon bergerak seirama dengan angin yang terus beterbangan. Entah mengapa, hari ini hawanya terasa sedikit aneh.
Yuta berlari kecil ke arah ruang keluarga. Semua orang sedang berkumpul disana saling berbincang satu sama lain, namun atensinya berpindah pada suara larian yuta.
“Sini sayang, duduk sebelah mama” Kata mamanya menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.
“Yuta mau ke kamar mandi dulu hehe…” Yuta cengengesan menatap mamanya. “Kamar mandinya ada di sebelah mana yah te?” Sambung Yuta bertanya pada tante Rina.
“Kamu lurus aja kesana, deket dapur situ kok” Kata tante Rina menunjuk kearah dapur.
“Oke, makasih te”
“Iyah” Kata tante Rina ramah.
Yuta berjalan kearah yang ditunjuk oleh tante Rina tadi, Dia menolehkan kepala kanan dan kiri menatap sekeliling. Matanya berhenti pada sebuah pintu yang ditebak adalah kamar mandi. Yuta melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi. Kakinya berhenti melangkah menatap… sebuah lukisan? Lukisan besar seukuran cermin seluruh badan. Lukisan seorang perempuan cantik dengan kebaya putih melekat sempurna di tubuhnya. Wajah polos tanpa make-up, tatapan tajam menusuk memberi kesan berbeda.
Cukup lama Yuta terpaku dengan lukisan itu. Dia berfikir kira-kira siapa yang ada di lukisan itu? Entah mengapa matanya seperti menatap ke arah Yuta atau itu hanya perasaannya saja? Pada akhirnya Yuta mengangkat bahunya kemudian berjalan mengabaikan perasaan aneh yang menggelayuti hati dan pikirannya.
Matahari tergantikan oleh bulan. Langit biru berganti hitam. Bintang-bintang bertaburan tanpa malu memperlihatkan cahayanya yang beragam. Suasana terasa dingin bagi Yuta, Kini dia sedang bersiap untuk tidur. Baju tidur sudah melekat di tubuhnya. Tangannya bergerak kearah meja hendak mematikan lampu kamar kemudian menyalakan lampu tidur. Menarik selimut kemudian menutup matanya.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit berjalan, jam demi jam tak berhenti, tepat pukul 11:45 Yuta merasa terganggu dari tidurnya. Dia menggeliat kecil mencari posisi yang nyaman agar bisa kembali tidur.
Yuta frustasi dan akhirnya bangun dari tidurnya ke posisi duduk. Menyibakkan selimut kemudian turun dari ranjang. Kakinya berjalan kearah kamar mandi dekat dapur.
Matanya sayup-sayup memperhatikan sekeliling yang sepi. Saat hendak memasuki daerah dapur kakinya berhenti berjalan. Dia sembunyi dibalik tembok pembatas dekat pintu masuk. Kepalanya menyembul ingin melihat seseorang yang sedang berdiri di depan lukisan? Bukan, itu bukan lukisan melainkan sebuah cermin. Bagaimana bisa? Yuta tau disitu hanya ada lukisan dan bukan cermin.
Atau yang dia lihat tadi sore memang cermin dan bukan lukisan? Entahlah. Hawa dingin terasa menerpa tubuhnya. Aneh, suara guntur membuat hawa semakin mencekam. Cahaya remang-remang membuat Yuta tidak bisa melihat jelas siapa yang ada di sana. Lagi, suara guntur terdengar keras beserta kilat menyambar membuat cahaya masuk melewati celah-celah ventilasi.
Dia melihat anak kecil seperti Diandra tengah bermain suit. “Yang benar saja, bagaimana bisa suit dengan cermin? Kelakuan anak kecil memang beragam haha…” Yuta bergumam dalam hati sambil tersenyum simpul.
“Yey, aku menang” Jerit Diandra. Yuta terperanjat kaget. Jantungnya berdetak keras. Pikirannya kacau dipenuhi berbagai pertanyaan. Bagaimana bisa menang bermain suit dengan sebuah cermin? Itu hanya cermin. Cermin memiliki sifat memantulkan, jadi tidak mungkin seseorang bisa menang bermain suit dengan cermin.
Yuta kembali melihat Diandra.
Diandra? Itu seperti Diandra atau bukan? Bukan, itu bukan Diandra. Seorang gadis kecil dengan baju tidur. Lucu, tapi sayang suasana tidak mendukung, bajunya kusut, rambut lepek tak terawat. Pertanyaan Yuta hanya satu, Apakah dia manusia? Yuta sendiri tidak yakin.
Mendadak Yuta merasa memiliki sebuah kesalahan. Apa yang salah dari sikapnya selama disini. Mengapa hatinya terasa gundah? Seolah dia berbuat kesalahan semenjak datang kesini. Ah, Yuta lupa mengucapkan salam. Penjaga di sini sepertinya tidak terima kehadiran Yuta karena sikapnya yang tidak sopan.
Sekarang Yuta harus apa? Minta maaf? Tidak mungkin, itu terdengar ekstrim. Matanya membelalak ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Meski samar-samar, langkah kaki itu terdengar begitu jelas. Dengan cahaya remang-remang Yuta melihat kearah sana sekali lagi. Dia terlihat diam di tempat.
Petir menyambar, cahayanya lagi-lagi masuk kedalam dapur membuat suasana di sana terasa mengerikan. Bukan, bukan petir yang membuatnya terasa mengerikan tapi seseorang di sana yang membuatnya mengerikan. Setiap ada cahaya petir, dia selalu terlihat semakin mendekat.
Yuta merasa tubuhnya kaku tidak mau bergerak. Kakinya seolah ditahan walau dia sudah memaksa untuk jalan. Detik itu juga akhirnya Yuta berlari sekuat tenaga kembali ke kamar. Dia mengunci pintu dari dalam. Menyandarkan tubuh di balik pintu. Untungnya pintu ini hanya bisa dibuka dari arah pengunci. Nafasnya terasa tersenggal-senggal, jantungnya berdetak lebih cepat. Keringat bercucuran di dahi dan seluruh tubuhnya, namun hawa terasa masih dingin.
Yuta segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang kemudian menutup seluruh badan hingga kepala dengan selimut. Dia masih takut.
Suara pintu terbuka mengetuk gendang telinga Yuta. Jantungnya kembali berdetak hebat. Bagaimana bisa seseorang membuka pintu itu?, tubuhnya gemetaran di balik selimut. Samar-samar suara langkah kaki memasuki indera pendengarannya.
Dari balik selimutnya, Yuta merasakan ada yang memegang tangannya. Hawa dingin menusuk kulit tangannya walau sudah dibatasi selimut tebal. Kilat kembali menyambar dengan keras membuat Yuta kembali terkejut.
Rasanya seolah waktu berjalan begitu lama. Pegangan tangan itu terasa tidak mau pergi. Waktu terasa berlalu begitu lama. Yuta akhirnya bisa bernafas lega saat merasa pegangan itu sudah hilang dari tangannya. Namun, dia masih tidak berani membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tidak terasa mimpi datang menjemput.
~The End~