Aku berjalan sempoyongan masuk kerumah, telah berusaha berjalan sangat pelan agar tak terdengar papa,tapiii..
braaakk
"ica,,kaukah itu?"suara papa memanggil..
papa kini tepat didepanku..
"kau ini,,anak gadis bertingkah laku liar!!" papa memarahiku..
"aku hanya minum sedikit pa,temanku berulang tahun"ujarku sambil menahan tubuhku yang sudah mulai tambah bergoyang..
"kau buat malu,kau itu seorang pengajar..............."
ocehan papa perlahan tak terdengar lagi
bruuuukk tubuhku ambruk...
yang aku tahu sekarang aku ada disebuah desa terpelosok yang jauh dari peradaban ..setidaknya begitu bagiku...
papa seorang rektor disebuah universitas ternama.papa adalah seorang profesor..kakek juga pengajar yang disegani,,begitu juga nenek moyangku terdahulu..yah begitulah..
Aku anak satu-satunya papa,mama meninggal saat usiaku 15 tahun karena terkena kanker.
papa tak mau menikah lagi,aku tak tahu alasannya.
Aku juga seorang pengajar di sebuah sekolah menengah,sebenarnya terus terang aku mau jadi pengajar karena berharap koneksi papa akan membantuku.
karena jika mendengar nama papa,orang-orang akan langsung memberikan bantuan.
Aku tak mengejar apapun dalam hidup,,semua fasilitas yang kubutuhkan telah tersedia,bahkan diusia sekarang 24 tahun,aku masih diberi uang sangu dari papa,disamping gajiku sebagai pengajar.
"kau harus belajar menghargai hidupmu,kau harus punya tujuan,punya empati agar kau tahu arti hidup"
papa berkata sebelum aku dikirimnya ke desa ini.
"belajarlah dari sana,baru kau boleh kembali kesini"kata papa lagi.
papa bahkan tak mengijinkanku membawa mobil,uang juga seadanya,barang-barang semua hanya alakadarnya.
"papa,tega sekali pada anaknya yang hanya satusatunya ini"aku bergumam dalam hati.
Aku jadi pengajar di sekolah menengah pertama disini,sekolah yang sangat tak memadai,pengajar yang hanya terdiri dari empat pengajar.
"selamat datang bu Annisa pramudya"sapa seorang
u wanita muda yang usianya tak jauh beda denganku.
"oh ya saya dahlia guru bahasa indonesia"tambahnya.
akupun diperkenalkan dengan pengajar lainnya.
Siswa disini hanya terdiri dari sepuluh murid perkelas.jika ditambahkan hanya ada tiga puluh untuk seluruh kelas.
Aku mengajar bahasa inggris..sekolah ini sungguh tak layak,tapi apa perduliku,yang penting aku akan segera minta papa memindahkanku....
Aku tinggal di sebuah rumah yang bagiku tak layak,kecil,sempit dan panas.
"ahh papa,kejam sekali"ujarku ingin menangis.
Rasa bosan menghampiriku,telah seminggu aku disini kali ini aku ingin keluar dulu..
Aku berjalan menyusuri desa,jalan yang remang hanya penerangan seadanya...
Mataku menangkap sosok seseorang yang berlari ketakutan..
"ah masa bodohlah!!jangan perdulikan ica"aku terus berjalan.
Setelah semakin jauh berjalan
"idak pak,idak pak"seorang gadis muda berteriak kesakitan ,dia dipukuli seorang pria paruh baya.
Aku hanya melihat tak mau ikut campur,lalu berjalan melangkah,pria itu sejenak melihat padaku namun lanjut memukul anak gadis itu.
Keesokan pagi dikelas,aku akan mulai mengajar.
seseorang mengetuk pintu,
"maaf saya terlambat bu"
kulirik kearah suara,dan aku hanya manggut kemudian dia duduk.
"anak ini sepertinya anak yang semalam"
kulirik lagi sambil seakan memeriksa tugas,kulihat tangannya sepertinya terluka ,bajunya lusuh.
tapi kupalingkan wajahku tak perduli..
Aku memberi tugas pada mereka,dengan penjelasan seadanya mereka lalu mengerjakan tugas.
Hari demi hari kulalui,,jenuh semakin dipuncak akalku.kemana-mana susah,sinyal buruk ,semua bagiku penyiksaan.
Aku menatap keluar jendela kamarku,
"hmmmmapa kabar ya teman-temanku?bahkan sepertinya mereka tak ada yang mencariku...
"ampun pak,,ampun pak"suara itu terdengar lagi.
Kuperhatikan arah suara berasal,,pria itu menyeret tubuh gadis itu,,tangisan anak itu sedikit menyayat hatiku..
"apakah warga tak ada yang mendengar "aku celingak celinguk melihat,tak ada seorangpun.
pria itu memukuli dan menendang anak gadis itu,,seperti tak perduli keberadaanku..
aku menutup jendela,sepintas tatapanku bertemu dengan tatapan lemah gadis belia itu..
suara perlahan menjauh namun masih terdengar..
Entah karena jenuh,atau apapun aku tiba-tiba berlari mengejar suara itu..
sambil menarik tangan gadis itu pria itu memukuli kepalanya..
"hey,,hentikan!"ujarku mendekat
"kau itu laki-laki,kenapa memukuli gadis ini"aku berkata lantang..
"kau ye jangan nak ikut melok campur (jangan ikut campur)"
"ini anakku,,terserah aku nak kuapoi,kau jauhlah"
(terserah mau kuapakan" )"kata pria itu..
menarik lagi gadis itu,,aku berdiri di depan pria itu..
"kalau berani melangkah aku telepon polisi"kataku menantang..
Aku dulu belajar beladiri,pemegang sabuk coklat.
tak ada pria berani macam-macam padaku.
naah karena itu juga aku masih belum punyaa pasangan,padahal aku ini lumayan menarik kok.
"hey kabani budak baru !jangan cak ibat ye,,gek kuhajar pule kaba!"katanya
(kau anak baru,jangan sok hebat.nanti kuhajar kau)
tangan pria itu hendak mendarat dipipiku,,oohh belum tahu dia,,kutangkis dengan tangan kiriku kupelintir kebelakang kujatuhkan dia ketanah dan kukunci tubuhnya.
tubuhnya yang tak terlalu besar dengan mudah kurobohkan..
"kalau berani carilah lawan seimbang"ujarku.
anak gadis itu terbengong melihat kelakuanku,,ada rasa kagum pada matanya yang sayu..
Lalu ada orang-orang yang datang memintaku melepaskan pria itu.
"aku akan lepaskan kau hari ini,tapi awas jika masih berani kau sentuh dia"kataku keras dan lantang...
Kejadian itu heboh dikeesokan hari..saat aku kekelas mata siswa melihat padaku.
"bu Annisa,apa tidak apa-apa?"dahlia bertanya padaku..
"ya aku tak apa,,memang kenapa bu"aku bertanya balik.
Dahlia bercerita,dulu istri pria itu minggat saat anak gadis itu berusia ,7tahun.istrinya tak tahan dengan kekasaran suaminya.namun pria itu jadi melampiaskan kemarahannya pada anak gadis itu.
Orang-orang disini sudah memarahinya,namun pria itu malah balik mengejar mereka.
Rata-rata penduduk disini jarang dirumah,mereka lebih sering keladang dan meninggalkan anak-anak mereka.
Dahlia ternyata penduduk asli desa ini,hanya saja dia bersekolah di luarkota,,dia lulusan S2 disalah satu universitas ternama.
"mengapa kau tak memilih sekolah yang lebih layak ?"aku heran dengan pilihannya.
sungguh sayang sekolah tinggi-tinggi dan berakhir didesa ini.
"bu annisa,aku tahu segala kekurangan didesa ini.pendidikan yang kurang,pengetahuan yang sedikit,membuat desa ini semakin terbelakang"
"aku adalah seorang pengajar,aku seorang guru,,tugas itu mulia bu..aku ingin bermanfaat selama aku hidup,,apalagi yang kucari sebagai guru jika bukan untuk mendidik"ucapan dahlia begitu panjang..
Sepanjang hari aku terngiang ucapan Dahlia..aku tersenyum membayangkan jika papa bertemu dahlia pasti akan seru,,perbincangan yang berisi tentang ilmu mengajar,,aku tertawa seketika..
para siswa melihat padaku terheran.
"bagaimana keadaanmu,apakah bapakmu masih marah"aku bertanya pada gadis itu..
"idak bu,bapak diem be dirumah"katanya.
(tidak bu,bapak hanya diam)
Hari minggu saatnya libur,,namun pekerjaan ku menumpuk,,cucian bajuku seminggu belum kucuci,
rumahku berantakan,bahan makanan habis..
"hah,,sungguh bukan hari libur kalau begini"aku mengeluh..
kemudian ada ketukan dipintu,,aku membuka pintu,,terlihat anak gadis yang kutolong dan seorang lagi siswa perempuan dikelas yang sama.
"mau apa kalian kesini?"aku bertanya
"kami nak menyapi rumah ibu,,kami nak nolongi gawean ibu"kata mereka
(kami mau membantu membersihkan dan menolong kerja ibu"
aku dengan senang hati mempersilahkan,memang aku tengah malas..mereka berdua bercerita dan tertawa sambil mengerjakan pekerjaan ini.
Aku merasa terhibur juga dengan kedatangan mereka,,
rumahku sudah bersih,cucian telah dijemur,aku melihat takbada makanan yang tersedia..
"hey kalian mau ikut gak,aku mau kemini market"aku bertanya..
"galak lah bu,kami ni dak kela belanje disitutu"kata mereka..
(mau bu,kami gak pernah belanja disana)
Jarak ke mini market lumayan jauh,kami bertiga naik angkot sekitar satu jam,itu di kecamatan terdekat..
Aku membolehkan mereka memilih apa yang mereka mau..mereka terlihat senang sekali padahal mereka hanya memilih makanan yang murah,,sangat murah bagiku.
Kamipun pulang kerumah,,berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih..
"cukah sandi luni ade guru cak ibu ni ye"
(andai dari dulu ada guru seperti ibu).…..
Ada rasa bahagia di hatiku saat melihat mereka begitu bahagia..
Waktu demi waktu berlalu,papa sama sekali tak pernah menghubungi aku padahal telah setengah tahun aku disini..
Aku semakin akrab dengan Dahlia,,para siswa dan siswi yang 30 orang ini mereka semua ramah padaku..
Mereka minta aku melatih beladiri ,agar mereka bisa mempertahankan dan melindungi diri sendiri.
Aku merasa senang saat mereka membutuhkan ilmu yang kumiliki.
Berbagai kegiatan aku pelopori dan didukung oleh guru-guru yang lain.
Aku tak asal lagi dalam memberi tugas,aku beri mereka materi yang terbaik yang kubisa...
Rumahku selalu penuh oleh siswa,ada yang membantuku ada yang mengantar hasil kebun pemberian orang tua mereka,yang sering kuberikan pada tetangga-tetanggaku.
Semester genap akan berlalu,,aku mulai betah disini
bisa membantu,bisa memberi,bisa mengajarkan ilmu yang ternyata bisa sebahagia ini.mungkin jika aku mengajar dikota tak akan terlalu berharga ilmuku,,tapi disini ilmu yang kupunya ternyata sangat berharga...
Aku yakin sebentar lagi papa akan menghubungiku,,bagaimanapun aku anaknya.
Hanya saja kali ini aku telah berbeda,,aku telah menemukan yang kumau,,menemukan tujuan hidupku ...aku putuskan akan mengajar didesa ini hingga Tuhan akan menentukan jalanku yang lain...
"oi bu,,galak kujodohke saje ngan kakangku ye,,tunak budaknya"kata seorang murid laki-laki,,yang disertai tawa seluruh siswa dan para guru..
(bu mau gak kujodohin sama abangku,baik orangnya)....
Terima kasih,.....