Ditinggalkan mungkin sakit, tapi bagaimana dengan meninggalkan? kurasa sama.
.
Malam ini terasa sangat sunyi dan sepi bagiku, walau seharusnya ini adalah malam yang sangat berisik dan mencekam. Saat ini diluar sana tidak ada yang terdengar selain hujan lebat dan gemuruh petir, angin kencang yang menghantam pepohonan seolah memperingatkanku, bahwa tidak ada yang lebih baik selain berada didalam rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.45
Sekarang ini jangankan tidur, mencoba untuk memejamkan mata pun sulit. Banyak hal terlintas di benakku.
Semenjak ayahku tiada, hidupku kian terasa sepi. Kini kami hanya tinggal bertiga, aku, adikku Nova dan juga ibuku.
Walau sebenarnya rumah ini tidak pernah sepi, selalu ramai orang berkunjung dan bertamu, meski kebanyakan dari mereka kesini untuk menemui adikku dan sesekali ada tamu ibuku. Tapi tetap saja aku merasa kesepian.
Haha.. lucu kan? Seakan aku sudah tidak ada lagi disini, seolah aku tak terlihat. Bahkan ibuku saja sudah tak pernah berinteraksi denganku, ketika aku berbicara dia hanya diam dan tak menanggapinya, itu dikarenakan kini ia sudah pikun. Setiap harinya ibuku hanya menangis dan bersedih, sambil memandangi foto keluarga kami.
Seingatku saat ayah meninggal, aku jatuh sakit. Setelah aku sembuh, saat itu pula aku pulang dan mendapati ibuku sudah dalam keadaan seperti ini.
Kini aku hanya bisa berbagi beban bersama adikku.
Adikku, ia gadis yang kuat dan tegar, jauh lebih tegar dibanding aku. Dengan berbagai macam cobaan yang menimpa keluarga kami, dia tetap bisa tersenyum dan menyemangati aku dan ibuku. Satu - satunya saat dia terlihat lemah, ya saat seperti ini, disaat ia tertidur.
"Kak.. lo belum tidur?" Nova terbangun ketika kubelai rambutnya.
"Ga bisa tidur gue" sautku menanggapi pertanyaannya.
"Kenapa.. lagi mikirin apa sih?" tanyanya penasaran
"Sini cerita" sambungnya lagi.
Akupun mulai menceritakan keresahanku selama ini kepadanya.
Satu hal yang tak kusangka dari tanggapannya setelah mendengar semua ceritaku.
"Karena lo udah meninggal"