"Kita akhiri sampai di sini saja. Aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padamu dan aku harap aku tidak pernah melihatmu lagi. Jangan lagi menjadi bayang-bayangku."
Kata-kata itu terus saja berdengung dalam telingaku. Padahal kejadian itu sudah beberapa tahun lamanya. Sebuah hubungan remaja yang baru saja merasakan indahnya cinta dan kelamnya disakiti.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana rupa mantan pacarku itu, tapi kenapa kata-katanya masih terngiang? Sungguh aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya. Yang lalu biarlah berlalu, begitu prinsip hidup yang kubangun selama ini.
Aku sadar, jika aku terus memikirkan hal itu aku tidak akan pernah maju. Yang ada malah usaha yang kurintis selama ini hancur dan bisa saja aku bangkrut. Aku segera bersiap untuk berangkat bekerja. Aku mengelola sebuah toko roti yang sudah berdiri kurang lebih hampir tiga tahun lamanya. Hasil darah, keringat, dan air mata hingga menghasilkan toko besar ini. Tidak terlalu besar sebenarnya, aku hanya melebih-lebihkan saja.
Dan kebetulan, saat ini toko rotiku sedang membutuhkan satu lagi koki yang bisa diandalkan untuk membuat roti yang lezat dan segar. Kokiku memutuskan resign karena kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan yang lalu. Sayang sekali, dia sangat kuandalkan dan seorang yang pekerja keras.
Aku yang sedang memeriksa mesin kasir menoleh saat mendengar suara lonceng kecil yang terpasang di pintu. Tanda bahwa ada seseorang yang berkunjung. Seorang karyawanku dengan sigap menghampiri orang itu. Sementara aku hanya memperhatikan dari balik meja kasir saja.
"Bu, ada yang mau mengisi posisi di bagian chef pastry," ucap karyawanku.
Aku menerima sebuah amplop coklat yang kuyakin berisi data diri orang itu. Karyawanku segera kembali bekerja setelah kusuruh. Kini aku yang berhadapan dengan seorang pria dengan pakaian cukup rapi ini.
"Apakah kamu Sarah?" tanyanya membuatku terkejut. Bagaimana bisa dia mengenalku?
Betapa terkejutnya aku, ternyata yang saat ini duduk di depanku adalah mantan yang sudah kulupakan beberapa tahun silam. Bagaimana bisa kami bertemu lagi? Apakah takdir sedang mempermainkan saat ini?
"Aku akan lihat kemampuanmu dulu agar aku bisa memutuskan apakah kamu layak bergabung dengan tim atau tidak."
"Kenapa kamu jadi sekaku ini? Kita bisa santai saja, kan? Sudah lama kita tidak bertemu, ternyata kamu sudah sukses sekarang. Sungguh iri aku, lihat aku sekarang yang hanya seorang pengangguran. Susah payah mencari pekerjaan."
"Jika kamu hanya ingin berbicara omong kosong, maaf aku tidak punya banyak waktu."
"Tunggu! Oke, maaf. Aku salah. Lalu, sekarang apa yang harus kukerjakan?"
"Ikut aku!" perintahku padanya.
Aku membawanya ke dapur, di mana tempat roti kami di produksi. Aku meminta koki di sana untuk mundur terlebih dulu. Hari ini aku rela menghentikan produksi roti untuk beberapa lama demi menguji Jeremi. Ya, Jeremi adalah mantan kekasih yang dahulu memutuskan hubungan secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Susah tidak punya perasaan lagi padaku katanya. Sungguh alasan yang membuatku mual.
"Kamu bisa buat roti apa saja. Aku akan memberimu waktu selama tigapuluh menit."
"Kau gila? Bagaimana aku bisa membuatnya secepat itu? Kamu mau balas dendam soal kejadian beberapa tahun yang lalu?"
"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi. Tolong singkirkan dulu masalah pribadi, silahkan bekerja dengan profesional. Jika sudah selesai, bawa ke ruanganku. Biar aku putuskan apakah kamu layak atau tidak."
Aku meninggalkannya dan masuk ke dalam ruanganku. Aku menghembuskan napas lelah, ternyata sikapnya benar-benar tidak berubah. Sembari menunggunya selesai, aku menyibukkan diri dengan berkas keuangan toko rotiku. Menghitung laba yang kudapat juga menghitung jumlah pengeluaran yang harus kucatat.
Tigapuluh menit sudah berlalu, tapi Jeremi belum juga datang ke kantorku. Aku mendengus kesal, akhirnya aku yang akan menghampirinya. Aku mengernyit melihat dapur yang ramai oleh beberapa karyawan toko.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Dapur hampir terbakar, Bu."
"Apa?"
Mendengar hal itu aku segera memeriksa keadaan di dalam. Benar saja, ada sebagian noda gosong di sudut dapur. Salah satu kokiku sedang berusaha memadamkan api. Beruntung hanya api kecil sehingga tidak perlu sampai memanggil pemadam kebakaran.
Aku mencari keberadaan Jeremi. Pria itu sedang meringkuk di lantai dapur. Ekspresinya terlihat sangat ketakutan. Aku berjalan mendekatinya untuk melihat bagaimana keadaan pria itu.
"Sarah? Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Tenang saja, aku baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius, kamu tidak perlu khawatir," ucap Jeremi memegang kedua tanganku.
"Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku tidak akan meminta ganti rugi, jadi silahkan pulang," kataku dan melepas perlahan tangan Jeremi.
"Apa? Lalu bagaimana aku, apakah aku diterima bekerja?"
Astaga, apakah dia tidak paham dengan situasi saat ini? Aku sudah ingin meledak saat ini, tapi berusaha kutahan. Akhirnya dengan perlahan kujelaskan jika Jeremi tidak kuterima bekerja di tokoku.
Aku tidak menerimanya bukan karena masalah masa lalu. Bukan karena itu, melainkan karena memang Jeremi tidak cocok bekerja di toko ini. Yang kubutuhkan seorang koki bukan penghancur dapur. Aku sengaja meninggalkannya di dapur tadi hendak melihat bagaimana cara dia bekerja jika tidak di awasi. Sepertinya pria itu tidak sadar jika ada kamera pengawas di dapur. Aku melihat gerak-gerik Jeremi yang sangat jelas tidak menguasai dapur. Bahkan beberapa kali dia mengambil alat yang salah.
🥨🥨🥨
Sebuah pesan dari Jeremi membuatku terkejut. Pagi tadi dia mengirim pesan padaku dan memintaku untuk datang menemuinya di sebuah rumah makan. Sebenarnya aku malas bertemu dengan pria itu lagi, tetapi katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan padaku.
"Ada apa kamu memanggilku kemari?"
"Sarah, maafkan aku. Aku benar-benar bodoh telah melepasmu dulu. Sekarang aku sangat menyesal. Jadi aku bermaksud mengajakmu untuk kembali, ayo kita kembali seperti dulu. Kita mulai lagi dari awal. Kamu mau, kan?"
"Maaf, Jeremi. Seperti yang pernah aku bilang, aku sudah melupakan semuanya. Melupakan kejadian saat itu, juga melupakanmu."
"Apa karena aku yang tidak bekerja? Tenang saja, setelah ini aku akan berusaha mencari pekerjaan. Atau kita bisa bekerja sama menjalankan tokomu itu. Aku yakin kita akan sukses besar."
Aku menggelengkan keoala tidak habis pikir. Bagaimana ada manusia seperti Jeremi yang sangat bebal. Pagi hariku yang indah mendadak lenyap saat ini.
"Dengar, Jeremi. Sebuah hubungan yang sudah putus tidak akan bisa bersambung lagi. Mungkin bisa, tapi tidak akan pernah sama seperti dulu. Pasti akan ada rasa canggung di antara kita, karena kata putus sudah terlanjur terucap. Juga kita sudah berpisah cukup lama, sudah tidak ada lagi tang tersisa saat ini. Bukan karena masalah materi, aku mengatakan hal ini murni karena memang perasaanku sudah selesai denganmu. Kuharap kamu mengerti."
Aku masih menahan sabarku hingga saat ini. Kuharap Jeremi paham dan sadar dengan perbuatannya ini. Pria itu terdiam dan pandangannya menunduk, memainkan jarinya.
"Aku harus pergi sekarang. Kita bisa menjadi teman, tapi aku tidak menerima teman yang hanya memanfaatkanku saja."
Setelah mengucapkan hal itu aku pergi meninggalkan Jeremi yang masih diam. Aku merasa apa yang kukatakan sudah benar. Aku tidak mau mengulang hubungan yang pernah gagal. Kaca yang pecah tidak akan mudah kembali seperti semula, pasti akan tetap ada bekasnya. Sama seperti hubungan ini, walau aku menerimanya kembali tetap akan ada perbedaan.
🥨🥨🥨