Mimpi dan kenyataan saling terkait
Day 13 / 1 NOV
Perjalanan yang melelahkan.
Pada sebuah desa sunyi di tengah hutan.
Aku melintas sebuah sungai kecil bawah bukit yang membelah hutan.
Dengan air gemericik.
Padanya ada semacam pancuran yang keluar dari bebatuan kali itu. Dari alami.
Juga mata air dengan tugu batu di dekatnya. Batu itu dibuat semacam bangunan berukir. Namun dari satu batuan utuh yang diukir membentuk bangunan indah. Pelinggih ini sebagai penanda bahwa mata air itu sengaja di rawat agar bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
Namun sejuk sekali rasanya. Menyentuh sisi-sisi telapak kaki yang hanya beralas sekedarnya.
Rumah-rumah disini sangat aneh. Hanya beberapa saja. Didepannya jalan dari tanah. Atapnya dari genting tanah juga. Yang membentuk dua rangkaian dari bambu membentuk semacam segitiga. Dan dindingnya dari anyaman bambu, kepang. Dengan bagian depan hanya satu pintu dari kayu, yang menutupi rongga berbentuk segi empat. Tanpa jendela di depan rumah tersebut. Dan sampingnya juga ditutup dengan gedeg, anyaman bambu. Terus hingga di bagian belakang.
Terus berjalan mendaki sebuah undakan dari batu yang menuju ke atas sebuah bukit.
Berikutnya menemui sebuah keanehan.
Ada bangunan kecil tertutup kain. Disekitarnya membentuk gundukan seperti makam. Tapi kalau makam di hutan itu bentukannya datar biasa. Hanya dengan di tandai batu penanda. Ini dibuat gundukan yang isinya hanya batu-batu bersudut dengan ukuran yang berbeda-beda, dan ditumpuk begitu saja. Asal terkumpul. Tanpa satu penempelan yang khusus oleh para ahli, agar membentuk sebuah bentukan asli seperti layaknya, kala pertama kali di bangun bentukan tersebut. Dengan tanpa adanya orang berpengalaman, maka batu-batu itu hanya Nampak semacam tanah basa saja. Dan andai di susun juga memerlukan waktu lebih panjang. Lain jika ditemukan pada saat setelah runtuh, meskipun menghilang, tapi masih Nampak struktur bentukannya. Sehingga lebih memudahkan dalam memugar nya kembali.
Diatasnya ada batu bulat tinggi. Semacam lingga. Namun yoni nya sudah tidak ada. Berganti dengan tumpukan-tumpukan batu yang semestinya tak di situ. Namun ditumpuk sembarangan meskipun akhirnya membentuk sebuah undakan bangunan. Tapi selayaknya tak seperti itu. Hanya agar tak berserakan saja. Dan pada awal tadi menjadikan bangunan itu juga indah.
Pada bagian bawahnya ada bentuk dasar sebuah bangunan persegi empat yang bersih.
Didekatnya ditemukan berbagai macam benda yang aneh-aneh.
Ada patung. Bentuknya seperti orang duduk dengan kaki di tekuk sebelah. Dan yang lain membentuk seperti orang tengah duduk santai. Dengan tangan yang tak sejajar. Satu diletakkan di atas lutut. Dan bermahkota seperti tiara. Duduk diatas sebuah lapik bundar yang menggambarkan bunga padma. Juga tampak ada gelang, kalung kelat bahu, serta hiasan lain yang menutupi tubuh sebagai pengganti baju yang memang tak mengenakannya.
Di kolam ada tugu menyerupai bentuk bangunan yang meninggi.
Ada juga bentuk batu yang di ukir. Batu-batu ini nampaknya berasal dari tempat itu tadi. Sebagai penghias pinggiran suatu bangunan. Dimana kala sudah jadi sebelum roboh, menggambarkan satu bentukan yang sangat indah. Pada masanya. Suatu ukiran batu sebagai tempat saluran air, jaladara, atau pagar langkan dari bangunan tadi.
Serta batu-batu yang berserakan.
Tak jauh dari situ ada gundukan bukit dengan pohon beringin besar. Serta terdengar suara musik.
Yang tak berapa jauh di temukan bentukan besi yang di pukul untuk mengeluarkan bunyi suara yang merdu. Bentuknya panjang dengan pipih. Ketebalannya beragam. Yang sudah terlepas semuanya. Biasanya besi-besi itu di tata berjajar, mengeluarkan suara dengan kunci yang berbeda andai di pukul.
Lalu ada bentukan kuno dari uang dan gerabah. Uang-uang berbentuk bundar, serta tengahnya berlubang. Sebuah kekunoan yang masih Nampak sebagai penggambaran akan daerah tersebut sebagai sebuah hunian, dimana sampai sekarang penduduknya masih melestarikannya. Dimana suatu saat pernah hilang hingga ditemukan lagi.
Serta umpak-umpak batu yang tengahnya berlubang. Ada yang umpak, serta ada yang buat lumpang. Bedanya dengan itu hanya terletak pada lubangnya saja. Sebagai umpak, bila bentukannya persegi. Dan lumping kalau bulat. Sebagai penggiling padi secara tradisional, dimana bentuk itu dipakai guna tempat padi yang ditumbuk menjadi beras. Dan jika lubang untuk umpak akan persegi panjang, menyesuaikan tiang saka yang akan di tanamkan padanya. Namun bisa juga bulat, andai kayu gelondongan itu dibiarkan tak membentuk persegi. Dan langsung ditanamkan begitu saja asal tepat se ukuran dengan pembuatan lubangnya. Hanya, tentu saja di bawahnya dibuat datar. Tak seperti lumping yang mestinya membulat. Sebab dengan datarnya tempat tersebut, maka akan lebih kokoh kala berdiri suatu tiang.
Mungkin juga batu kulumpang. Kalau batu ini biasanya berbentuk bulat tinggi. Dan dipakai sebagai bagian tengah sebuah pengorbanan. Mungkin telur atau darah ayam cemani yang dikorbankan di atas batunya seraya membasahinya untuk sesaji bagi para sesembahan.
Terus jalan menyusuri jalanan setapak tengah hutan yang penuh tanaman hutan. Dan agak sulit di lewati.
Lalu Sampai pada sebuah tempat yang terjaga. Disitu banyak gundukan-gundukan dengan kain yang menyelubunginya. Pertanda kalau tempat ini sangat di jaga.
Dari salah satu gundukan tersebut muncul batu berbentuk kepala yang seperti ular atau salamander. Jika dilihat dari satu sisi. Pada sekitarnya di beri payung.
Lalu melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hutan di arah sebaliknya. Ada hutan dan ladang yang ditanami banyak pohon ubi kayu. Setelahnya ada jalanan menurun dengan berkelok-kelok yang mengerikan. Kalau tak waspada bisa tergelincir.
Di ujung perjalanan itu pada bagian bawahnya ada gua yang lumayan dalam. Namun buntu. Kanan kirinya tebing. Kayaknya semacam sungai purba yang suatu saat pernah mengalirkan air yang berlimpah ruah sehingga membentuk sungai tersebut. Namun kali ini dengan curah air yang luruh dari gunung tak seberapa besar. Sehingga bangunan yang ada di situ tetap lestari. Dengan dijaga oleh dua harimau. Gua itu sendiri bisa untuk bersembunyi harimau atau ular jika sebuah waktu mereka dating. Tapi kali ini tak ada. Dan biasa untuk tinggal.
Di sampingnya ada batu yang terjepit di sela-sela sungai purba tersebut.
Lalu aku jalan lagi. Menuju kearah tadi. Tapi pada sebuah persimpangan sempit, terus menyusuri jalanan setapak yang hanya cukup untuk satu orang saja. Menuruni tangga tanah. Dengan tangga-tangga itu dibentuk mengikuti kontur tanah yang mering. Sehingga memudahkan para pejalan yang hendak melintasinya.
Disitu ada bangunan lagi. Ada empat bentuk bangunannya. Serta bentukan manusia aneh yang dihormati.
Dibelakangnya ada sebentuk kolam. Yang airnya tertutup. Namun bila hujan dan mungkin air memenuhi kolam ini, maka akan dialirkan lewat saluran kecil. Yang sampai sekarang tak banyak air meluap menyusuri sungai kuno tersebut. Sehingga apa yang di bangun di tengah itu tetap aman.
Dan terbangun.
Huh mengerikan sekali rasanya.
Namun aku mencoba untuk tidur kembali.
Dan berhasil. Aku tidur.
Aku tertegun. Terasa dingin sekujur tubuh. Mimpi itu benar-benar menyeramkan. Aku di gigit ular. Ular hitam yang sangat besar. Serta mematuk ujung jempol kaki ku. Terasa sekali. Seakan nyata. Bahkan rasanya masih terbawa setelah terbangun. Ini tak baik. Mesti segera mencari primbon, apa arti dan makna dari semua itu.
Aku tertegun, kala ada binatang di bawah kakiku. Dia main-main. Kucing nakal tetanggaku yang suka main ke rumah. Dia hanya mau pergi kalau sudah kenyang. Lalu kembali lagi kala lapar. Tapi bulunya bagus. Banyak yang suka. Terkadang anaknya lucu-lucu. Sama pemiliknya bisa di jual. Satunya laku dua ratus. Lumayan dikala masa pandemi begini. Uang itu bisa untuk mengisi perut yang kesulitan.
Tentang mimpi itu. Aku terngiang selalu. Ada apa gerangan. Jangan-jangan ini tentang sesuatu.
Dia yang aku impikan. Dia yang aku inginkan. Gadis manis itu selalu hadir didalam nya.
Yang membuat tak bisa tidur kembali. Terkadang mimpi akan hilang sekitar lima menit kemudian.
Tapi setelah memimpikannya aku tak ingin dia hilang. Bahkan akan aku catat dia sebelum benar-benar lupa. Kalau sudah lupa benar-benar akan hilang dari ingatan. Dan mimpi itu lama munculnya lagi. Inilah satu keinginan. Mungkin harapan yang aku impikan. Dan tiap malam menjelang tidur selalu berharap dia yang muncul.
Kali ini benar-benar satu yang menyebalkan. Ular itu terasa sakit kala menggigit. Namun hilang dengan sendirinya. Begitu terbangun
Itu yang melegakan. Hanya saja sedih. Kala tak bisa bertemu dengannya. Dan terkadang mimpi menjadi pertanda akan datangnya sesuatu di kemudian waktu.
Mimpi di gigit ular akan bertemu dengan pujaan. Mimpi panen akan gatal-gatal. Mimpi kejatuhan bulan akan dapat rejeki. Ya kali untuk saat ini akan dapat jodoh beneran seperti yang aku impikan. Digigit ular.
Makanya malam menjelang tidur ini. Aku berusaha sebaik mungkin membersihkan diri, pakai pengharum, dan semua bantal guling ku ganti dengan yang baru. Berharap dapat mimpi yang indah.
Ah! Aku menjerit. Terbangun.
Mimpi itu bukannya tentang perkawinan.
Aku digigit kucing menjengkelkan itu.