Hay, perkenalkan namaku Kumala Pundarika. Biasa dipanggil Rika. Saat ini umur aku sudah melewati 25 tahun. Aku tipe perempuan yang suka asal ceplas ceplos tapi selalu menyesal setelah emosi mereda, cerewet serta perhatian kepada semua orang yang bener-bener dekat dengan aku, keras kepala, pendiam dan tidak mudah bergaul. Kalau untuk kecantikan ya bisa dibilang relative aja lah. Aku seorang perempuan dengan kulit putih dan mata sipit. Ya, karena aku orang minioritas bukan mayoritas. Aku ingin membagikan sedikit kisahku tentang foto RA Kartini yang menurut sebagian orang aneh.
Aku lulus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) pada tahun 2013 dan aku langsung melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Aku kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti yang berada di kotaku. Aku mengambil jurusan pariwisata bukan perhotelan. Memang di kampusku hanya ada dua jurusan yaitu perhotelan dan pariwisata aja. Sebenernya selain di kotaku juga ada Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung atau yang biasa dikenal dengan nama eNHaii serta ada UPH (Universitas Pelita Harapan.) Aku tidak mengambil kuliah di eNHaii dikarenakan terlalu jauh serta membutuhkan biaya untuk ngekos. Sedangkan UPH biayanya terlalu mahal dan hanya orang-orang yang berada dari kalangan mengengah ke atas yang bisa masuk ke kampus tersebut. Selain itu sebagian orang selalu memberikan singkatan untuk kampus UPH adalah Uang Papa Habis.
Pada saat itu aku memilih jenjang pendidikan D4 (Diploma IV) karena pada saat aku mengikuti USM (Ujian Saring Masuk) belum ada jenjang pendidikan S1. Tetapi pada saat PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru) dimulai baru diinformasikan kampusku sudah ada untuk jenjang pendidikan S1. Dan bagi yang ingin pindah jenjang pendidikan dari D4 ke S1 saat itu ditawarkan, tetapi pada saat itu hanya menerima 10 murid aja. Aku tidak memilih untuk pindah jenjang pendidikan karena pada saat itu masih belum terakreditasi dan kebanyakan untuk jenjang pendidikan S1 lebih banyak teori ketimbang praktek. Sedangkan untuk jenjang pendidikan D4 itu malah kebalikannya yaitu kebanyakan praktek ketimbang teori. Makanya aku memutuskan untuk tetap mengambil jenjang pendidikan D4.
Singkat cerita untuk acara PKKMB sudah selesai dan aku sudah resmi menjadi seorang mahasiswa. Kalau aku tak salah ingat waktu masih kuliah di semester pertama itu kami belajar pendidikan dasar termasuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, computer, olahraga, pendidikan agama dan beberapa mata kuliah yang tidak aku hafal. Masuk ke semester dua hingga semester empat ada yang namanya mata kuliah teknik dan etika memandu baik itu teori maupun praktek.
Untuk semester kedua itu aku belajar memandu dari bandara, Sunda Kelapa, Musium Fatahilah, Monas, Museum Nasional dan terakhir Taman Mini Indonesia Indah. Semester ketiga kampus kami memilih untuk pergi ke daerah Bandung + Kampung Naga dan ujian prakteknya ke Jawa Bali Overland. Sedangkan semester keempat kami melakukan praktek memandu di Kepulauan Seribu dan ujian prakteknya mengadakan bidding yang akan disepakati pemenangnya. Biasanya untuk mata kuliah memandu ini minggu pertama kelas teori dan minggu kedua kelas praktek. Untuk kelas praktek biasanya aku dan teman-teman jurusan UPW (Usaha Perjalanan WIsata) harus tiba di kampus pukul 06.00 WIB dan berangkat paling telat pukul 06.30 WIB. Tidak ada yang boleh terlambat 1 menit pun karena akan ditinggal oleh dosen kami.
Untuk kelas teori memandu biasanya kami menggunakan ruangan audiovisual yang berada di lantai 2 gedung baru. Yaa, namanya gedung baru di kampus jadi cahaya matahari kurang masuk. Sehingga banyak sekali sosok-sosok tak kasat mata di sana.
Terlebih di ruangan audiovisual ada foto RA Kartini yang bisa aku lihat dari mata batin memiliki aura yang tidak biasa. Yaa, fotonya seperti terlihat hidup dan memancarkan kesedihan. Bukan hanya aku aja yang merasakannya. Tetapi, ada salah satu temanku yang memiliki kemampuan sama denganku dan ilmu spiritualnya lebih tinggi dari aku yang merasakannya juga.
Bahkan teman aku yang tidak memiliki kemampuan itu juga merasakan bahwa foto RA Kartini di dekat ruangan audiovisual ini hidup. Memang di lantai 2 gedung baru ini tempatnya mahasiswa perhotelan yang sedang menjalankan praktek housekeeping. Beredar informasi dari senior ataupun mahasiswa perhotelan emang untuk foto RA Kartini tersebut ada penunggunya.
Setiap kali mata kuliah memandu teori kami menggunakan ruangan audiovisual itu. Sering kali aku memperhatikan foto tersebut ketika pintu ruangan audiovisual terbuka. Aku juga sering kali ke toilet dan setiap ke toilet selalu ada perasaan yang tidak nyaman untuk pergi ke toilet yang berada di lantai 2 gedung baru itu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti menjadi tahun. Selama mata kuliah memandu aku selalu menggunakan ruangan audiovisual untuk kelas teorinya. Dan aku sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti itu. Meskipun tidak nyaman saat ke toilet tapi ya sudah mau di apain lagi. Mau jalan ke toilet yang berada di lantai 1 juga memakan waktu sekitar 10 menit untuk bulak baliknya. Jadi mau gak mau aku tetap ke toilet yang di situ.
Singkat cerita, pada awal tahun 2015 aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat amat berarti buat hidup aku hingga sekarang. Di mana seseorang ini mempunyai kemampuan yang bisa membaca dan mengerti isi hati dan pikiran aku tanpa aku memberitahukan detailnya. Dia mempunyai kemampuan yang sama dengan aku, tapi kemampuan ilmu spritualnya lebih tinggi dari aku. Aku menganggap orang itu awalnya sebagai adik angkat buatku. Lama kelamaan perasaan itu timbul begitu saja.
Sampai suatu ketika aku berada di semester empat dan sedang dalam proses latihan untuk bidding. Di kampus kami bidding dilakukan seperti kita melakukan presentasi kehadapan client. Di mana client yang ada dihadapaan kami adalah para dosen dan mahasiswa ataupun mahasiswi yang menonton acara bidding tersebut.
Saat itu bidding di bagi menjadi 16 kelompok. Di mana masing-masing kelompok mempunyai anggota 4 sampai 5 orang. 8 kelompok yang pertama memilih untuk mengambil materi objek wisata yang ada di luar negeri. Sedangkan 8 kelompok sisanya memilih materi objek wisata yang ada di dalam negeri.
Pada saat itu 8 kelompok yang memilih materi di luar negeri sudah mempresentasikan di hadapan dosen dan mahasiswa atau mahasiswi yang menonton. Sedangkan 8 kelompok sisanya baru besok yang akan berpresentasi. Waktu itu kampus sedang libur dan aku baru tau bahwa saat itu kantin tutup. Dan aku tidak membawa makan siang seperti biasanya. Alhasil aku menahan lapar dari siang hari hingga malam hari.
Singkat cerita sebelum aku masuk ke ruangan audiovisual untuk latihan bidding besok hari bersama dengan teman-teman kelasku, aku memutuskan untuk mencari tau apa yang sebenernya terjadi di foto RA Kartini tersebut. Dalam kondisi pada waktu itu aku sudah tepar alias sakit dan aku memaksakan diri untuk berkomunikasi dengan foto tersebut.
Saat itu aku didampingin oleh orang yang sangat amat berarti untukku itu dan salah satu sahabatku yang berbeda jurusan dengan aku. Sahabatku itu mengambil jurusan perhotelan berbeda sekali dengan aku yang mengambil jurusan pariwisata. Aku bertemu dengan sahabatku itu ketika kami mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Dhammasena, karena aku dan sahabatku itu Bergama Buddha. Waktu itu dia sudah memperingati aku untuk tidak melakukan tindakan yang seperti ini. Tapi aku tetap nekat melakukannya. Dengan terpaksa dia menuruti kemauanku ini. Aku disuruh untuk memegang foto lukisan itu dan focus ke sana. Saat aku sudah fokus entah kenapa aku nangis tersedu-sedu. Dan disaat itu aku hanya bisa melihat ada sosok perempuan yang bersedih. Saat itu aku langsung melepaskan tanganku dari foto itu karena udah merasa tidak sanggup lagi. Pada saat itu aku seperti merasa akan pingsan untungnya ada dia dan sahabatku yang menolong aku.
Setelah kejadian itu akupun yang masih penasaran dan tidak bisa mencari tau kembali apa yang sebenernya terjadi dengan foto itu hingga aku lulus kuliah pada tahun 2017 lalu. Aku juga tidak tau apakah foto RA Kartini di ruangan audiovisual tersebut masih ada atau tidak. Dan sebenernya aku menginginkan untuk foto tersebut dibakar saja karena ada sosok perempuan yang terperangkap di dalam foto tersebut dengan menunjukan raut wajah kesedihan.
Itulah kisah aku saat masih duduk di bangku kuliah. Dan sebenernya masih banyak kisah aku yang berhubungan dengan “mereka.”