Suatu hari, di kediaman menteri Hao..
"Semoga cahaya matahari selalu menyinari kalian" ucap semua orang serempak.
Teleza dan Hao Xiang, kedua pasangan yang di takdirkan untuk menikah di hari ini, setelah sekian banyak cobaan yang melewati mereka berdua.
Hari yang bahagia, pesta pernikahan, cincin yang melekat di jari manis mereka berdua adalah persaksian pernikahan mereka hari ini.
Dua insan yang saling mencintai itu sangat bahagia hari ini. Karena, di hari inilah ikatan mereka tak akan pernah terpisahkan sampai maut mendatangi.
Pesta minum-minum bersama dilakukan, Teleza yang tidak begitu suka bersosialisasi memilih untuk berdiam diri di dekat danau di luar kediaman.
"Suamiku, aku izin di luar dekat danau saja ya. Kau tahu sendiri kan, aku tidak begitu suka bersosialisasi" ucap Teleza.
"Ya sudah, jangan lupa datang ke kamar pengantin nanti ya" sahut Xiang tersenyum sambil membelai kepala Teleza.
Teleza keluar dan menghirup udara segar. Ia merasa sangat lega berada di luar, karena ia tidak benar-benar mengenali tamu undangan di dalam.
Dorr..dorr... Suara tembakan terdengar dari dalam, merah darah juga berceceran kemana-mana. Teleza yang takut akan hal buruk yang menimpa suaminya, segera masuk ke dalam.
"Suamiku...Xiang...Xiang..hiks..." panggil Teleza sambil menangis akibat melihat begitu banyak nyawa yang hilang disana.
"Kau mencari suamimu?" Tanya seorang pria dengan tangan yang dipenuhi darah.
"Si, siapa kamu? Dimana Xiang? Dimana suamiku?" tanya Tereza histeris.
"Suamimu? Heh" pria itu menyunggingkan senyuman sinis di bibirnya, ia mengangkat sebuah kepala utuh tanpa badan.
"Maksud mu, ini?" Tanya pria itu.
Teleza menutup mulutnya rapat-rapat, matanya berlinang air mata, sedangkan jiwanya syok.
"Ke..kenapa...siapa kamu? Hiks" Teleza duduk bersimpuh tak bertenaga.
"Ya, kepalanya sudah kupenggal! Begitupun dengan semua orang disini, termasuk sang raja" ucap pria itu.
"KENAPA? APA SALAHNYA?" Teriak Teleza.
"Gadis cantik, gadis kecil sepertimu tidak tahu apa-apa! Jadi...sebaiknya kau tutup mulutmu saja ya" ucap pria itu tersenyum.
"Penjaga, tangkap wanita ini" lanjut pria itu.
"Apa yang kalian lakukan? Lepas..lepaskan aku" Teleza memberontak dengan tangisan yang terus mengalir di wajahnya.
"Hiks...suamiku..." Teleza terus menangis.
Teleza di bawa oleh beberapa penjaga ke penjara bawah tanah. Teleza yang sudah tidak kuat akhirnya pingsan disana.
Setengah jam kemudian..
"Sudah bangun?" Tanya pria yang tadi di temui Teleza sambil memegang kepala suaminya.
Teleza mengarahkan telunjuknya sambil gemetaran,
"Kau!! Kau lagi?!!" Seru Teleza.
"Ya, ada apa? Kau tidak suka denganku?" Tanya pria itu.
"Apa yang kau lakukan pada suamiku, dimana dia? Ke..kepa-la tadi pasti bukan kepala suamiku kan?" Teleza menangis.
"Tentu itu kepalanya" ucap pria itu santai.
"Ke..kenapa? Apa masalahmu dengannya?" Tanya Teleza menangis.
"Apa kau tahu, siapa aku?" Tanya pria itu dan disahut dengan gelengan kepala oleh Teleza.
"Aku adalah pangeran pertama, yang harusnya menjadi penerus ayah nanti menjadi menteri"
"Ia merebut hak ku menjadi penerus ayah! Ayah selalu pilih kasih padaku dan lebih menyayangi dia! Heh, membunuh nya wajar bukan?" Jelas si pria.
"Hanya itu?" Tanya Teleza tersenyum.
"Iya, tentu" jawab pria itu lagi.
"Heh.. gila! Anda sepertinya sudah mengalami penyakit jiwa!" Hina Teleza.
Pria itu mengangkat pedangnya, dan mengarahkan nya ke arah leher Teleza.
"JANGAN BICARA SEMBARANGAN, WANITA JALANG!" Marah pria itu.
"Apa salahku? Bukankah benar apa yang kukatakan, hanya demi harta...kau tega membunuh saudara sendiri" ucap Teleza tersenyum dengan tangis yang terus mengalir di pipinya.
Pria itu bertambah marah, dan sedikit menggores leher Teleza dengan pedang itu.
"Akhh" lirih Teleza.
"Kenapa? Ingin bunuh? Bunuh saja aku! Semenjak kematian keluargaku, dan sekarang...suamiku meninggal, tiada harapan untukku. Untuk apa aku hidup? Bunuh aku! Bunuh...bunuh sekarang juga..hiks...hiks" tangis Teleza.
Pria itu terdiam, ia mengambil alih pedangnya lagi.
"Takut?" Ujar Teleza.
"Bukan...aku--" pria itu kehabisan kata-kata nya.
Saat itu juga, pria itu melihat cincin yang dikenakan Teleza. Cincin pernikahan antara Teleza dan Xiang.
"Heh, bagaimana kalau kau berikan cincin itu padaku? Maka, mungkin saja aku akan mengampuni mu" ucap pria itu tersenyum sinis. Karena, ia tidak mau ada barang peninggalan Xiang sedikit pun.
"Tidak! Bunuh aku saja, jangan ambil cincin ini" bantah Teleza menegaskan.
Pria itu menarik tangan Teleza secara paksa, berharap dapat mengambil cincin itu dan menghancurkan nya.
Tapi nihil, Teleza terus saja menjaga cincin itu. Sampai, cincin itu terjatuh di lantai penjara.
Pria itu, dan juga Teleza segera mengambil cincin itu. Tapi tetap saja, Teleza lah yang menang. Ia mengambil cincin itu dan mendekapnya di kedua tangan.
Karena kesal, pria itu memotong pergelangan tangan Teleza, sampai akhirnya cincin itu terlepas, bersama darah yang mengalir dari tangan Teleza. Tidak lupa, pria itu menusuk dan memotong cinvin itu sampai berkeping-keping
Urat nadi Teleza yang terpotong, membuat dirinya ikut meninggal di tempat, dengan kebahagiaan yang di dapat pria tadi.
« SAD END »