Cantik wajahmu tak akan berarti tanpa disertai cantik akhlakmu.
Indahnya rupamu tidak ada artinya jika kotor kelakuanmu.
Sejuk hatimu pasti akan sirna jika tidak ada iman di sana.
Jangan pernah putus asa jika Tuhanmu adalah ALLAH.
Hidup adalah proses, hidup adalah belajar, tanpa kenal batas umur, tanpa ada kata tua.
Jatuh, berdiri lagi.
Kalah, mencoba lagi.
Gagal bangkit lagi.
“Never give up”, sampai ALLAH berkata “WAKTUNYA PULANG”
Duduk menatap indahnya pemandangan sunset menjadi momen yang tak akan terlewatkan bagiku. Ku hirup dalam-dalam udara segar di sore ini. Sungguh besar nikmat yang Allah berikan. Namun, kadang kita lupa akan semua itu membuat kita semakin larut dalam keindahan dunia semata dan melupakan kehidupan di akhirat kelak.
Seperti biasa setelah kuliah kuhabiskan waktu di kampus sampai jam 17:30. Kecuali hari Sabtu dan Ahad karena hari itu aku rutin mengikuti kajian untuk menambah pengetahuanku tentang Islam.
Aku adalah salah satu mahasiswi berprestasi di kampusku. Karena itu banyak teman-teman yang memintaku untuk mengajari mereka. Alhamdulillah, sekarang massanya semakin bertambah sehingga cukup untuk biaya kuliah dan biayah hidup sehari-hari. Saat pulang selalu ku sempatkan untuk menikmati pemandangan sunset sebelum kembali ke kost-anku yang memang tak jauh dari kampus.
Aku teringat akan sosok kak Ridwan, ku panggil kakak karena dia seumuran dengan kakakku 2 tahun lebih tua dariku. Laki-laki yang tak sengaja aku kenal di sosmed. Ketakwaannya membuatku kagum akan sosok dirinya. Seiring berjalannya waktu rasa kagum itu berubah menjadi rasa yang lain. Dan tak disangkan kak Ridwan juga mengagumi diriku hingga pada akhirnya dia mengajakku berkomitmen. Karena aku tahu dan diapun tahu bahwa pacaran itu haram dalam ajaran agama kami.
Setiap hari kak Ridwan selalu mengingatkanku untuk shalat 5 waktu, membangunkanku untuk melaksanakan shalat tahajud lewat calling handphone, mengingatkan untuk puasa sunnah. Kehidupanku banyak berubah saat kenal dengannya. Hingga pada suatu hari ia pun memilih untuk pergi.
Menangis, itu sudah pasti. Aku sudah terlanjur menyayanginya. Aku pikir dia akan serius kepadaku ke jenjang pernikahan tapi ternyata begitu cepat ia menyerah. Sakit, itu wajar. Kehilangan orang yang sudah terlanjur kita harapkan bisa menjadi imam kita itu memang sakit.
Tapi, kembali aku sadar bahwa hubungan apa pun sebelum pernikahan itu haram hukumnya. Allah sudah melarang untuk mendekati zina, memikirkan dia itu sudah melakukan zina hati. Bukankah begitu ?
Astagfirullah !
Air mata membasahi wajahku dalam setiap sujudku, mengingat begitu banyak dosa yang telah aku perbuat. Begitu hina diri ini, begitu jauh diri ini dari Robb. Ku angkat kedua tanganku mulai mengadu kepada Yang Maha Besar. Dengan linangan air mata yang semakin deras ku sampaikan seluruh keluh kesahku, ku sampaikan semua kesedihan yang ku alami. Aku meminta jalan keluar dari setiap permasalahanku karena hanya kepada-Nyalah tempat meminta.
Ku teringat saat hari pertaman memakai pakaian syar’i. Dari hasil tabunganku akhirnya aku bisa membeli apa yang sudah lama aku idam-idamkan. Sebenarnya aku bisa meminta kepada orang tuaku tapi aku tidak ingin terus-terusan mnyusahkan mereka.
“Alhamdulillah yaa Allah, terima kasih engkau telah mengabulakn do’a hamba” entah untuk yang keberapa kalinya aku mengucapkan kata-kata itu.
Semua mata tertuju padaku saat hendak memasuki kelas. Berbagai macam ekspresi terlihat dari teman-temanku. Terlihat jelas ekspresi yang tidak setuju dengan penampilan baruku.
“Hahaa...Humairah, aku pikir kamu dosen. Ada apa dengan penampilanmu hari ini ? Kayak orang tua gitu !” kata salah seorang temanku diiringi dengan tawanya yang pecah.
“Ehh Humairah, semakin hari penampilanmu makin aneh-aneh saja. Gak usah sok alim dee loo !”
“Ihhh di kelas kita ada teroris, ngerii !"
Begitu sakit hati ini mendengar kata-kata teman-temanku. Ingin rasanya aku menangis mendengarnya tapi aku harus kuat.
"Tuhanku adalah Allah, kenapa aku harus putus asa, kenapa aku harus bersedih ? Ada Allah bersamaku” batinku mencoba menguatkan hati.
Bukan cuma itu, saat liburan semester aku memilih untuk pulang ke kampung karena rasa rindu yang sudah teramat sangat kepada keluargaku di kampung. Seluruh keluarga kaget melihat penampilanku saat itu. Mama berlari ke arahku dan memeluk erat tubuhku. Air mata langsung mengalir deras membanjiri wajahku tak kalah dengan mama.
Aku mengerti perasaan keluargaku saat itu. Dulu mereka sudah kehabisan cara untuk membujuk dan kadang memaksaku memakai jilbab tapi hatiku seperti batu sehingga tidak sedikit pun menghiraukan mereka.
Terlihat jelas rasa syukur mereka melihatku. Kepeluk erat tubuh ayah, laki-laki yang tidak akan pernah menyakiti hatiku. Ayah yang selama ini menafkahiku tapi malah kubalas dengan kedurhakaan. Mataku beralih ke arah kakakku, laki-laki kedua yang begitu menyayangiku. Laki-laki yang tak pernah lelah menasehatiku tapi dulu semua nasehatnya aku abaikan bahkan ku anggap seperti angin berlalu.
“Adikku sekarang sudah besar yaa, lihat dirimu dek terlihat jauh lebih cantik dengan jilbabmu. Kakak bangga sama kamu” kata kak Yusuf sambil memelukku dengan erat.
Benar saja yang aku takutkan kini menjadi kenyataan. Tetangga-tetangga yang dulu begitu ramah, begitu bersahabat, kini hanya menatapku sebelah mata. Saat kusenyumi pun mereka malah buang muka. Dan lagi-lagi aku harus mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan.
“Gak usah sok alim Humairah, kenapa harus pake gamis longgar kayak gitu ditambah kerudung panjang bangat ?"
“Atau jangan-jangan kamu hamil luar nikah yaa Humairah ? Astaga buat apa kerudung panjang-panjang kayak gitu kalau kelakuannya kagak baik”
“Eehhh Humairah, gak usah sok suci deh lo. Sok ingatin gue jangan pacaran segala. Kalo lo gak mau pacaran yasudah, tapi gak usah larang-larang gue. Tunggu saja, kamu gak akan menikah kalo gitu atau menikah siihh tapi dapat yang mukanya jelek, hahaa” kali ini temanku yang bicara, kata-katanya sangat menyayat hati.
Aku memang pernah menegurnya saat melihat dia mengupload foto mesranya bersama pacanya di facebook. Sungguh, tanda-tanda hari kiamat, zina dianggap hal biasa oleh masyarakat.
“Iya, betul itu. Siap-siap saja kamu jadi perawan tua Humairah, hahaa” kata teman-temanku yang lain, tapi sepertinya sekarang mereka bukan teman lagi.
Kak Yusuf terus menguatkanku. Ku yakinkan kepada mereka bahwa aku baik-baik saja. Bukankah Allah selalu bersamaku ? Kadi aku pasti akan kuat.
“Semoga saja mereka mendapat hidayah yaa, pa ma kak !” kataku dengan senyum di bibir.
“Yang sabar yaa dek. Kakak yakin, adik kakak ini pasti kuat. Kalau ada yang macam-macam sama adek lapor saja sama kakak. Nanti kakak bereskan”, canda kak Yusuf membuat kami tertawa.
🍁🍁🍁
Waktu berlalu begitu cepat. Alhamdulillah, Allah mengizinkanku untuk tetap istoqomah di jalan-Nya. Meski cobaan terus datang menghadang langkahku. Tapi, dengan keyakinan di hati aku bisa lalui semua. Di umurku yang ke-21 aku sudah bekerja. Sekali lagi, Alhamdulillah Allah selalu memberikan nikmat yang tiada batasnya.
Hatiku sedih mendengar kabar tentang temanku yang dulu, dia putus dengan pacarnya padahal sudah ada benih di dalam rahimnya. Dan tak sedikit dari mereka yang harus menikah setelah membuat keluarganya malu.
Nu’udzubillah.
Aku mencoba mengajak mereka untuk bertaubat kepada Allah dan kembali ke jalan yang lurus tapi mereka masih menganggapku sok alim.
“Yaa Allah, bahkan disaat mereka sudah jelas-jelas melakukan dosa besar mereka masih sempat mengatakan itu. Seharusnya mereka takut kepada-Mu yaa Allah. Semoga Engkau memberikan hidayah kepada mereka, aamiin”, batinku.
Kupandangi taman rumah yang selalu menyejukkan hati, taman yang selalu membuatku rindu akan rumah. Tak terasa sudah setahun aku bekerja, aku mengambil cuti untuk pulang ke kampung bertemu keluarga yang sudah sangat aku rindukan.
“Dek, kakak mau bicara sesuatu. Boleh ?”
“Humairah kangen bangat sama kakak. Bicara saja kak, kenapa harus minta izin” kataku sambil menyandarkan kepalaku di dada bidang kak Yusuf dengan manja.
“Ternyata adik kakak ini belum berubah yaa, masih manja, hehee. Hmmm adik kan sudah dewasa yaa, apa adek belum ingin menikah ?” tanya kak Yusuf sedikit membuatku kaget.
“Menikah ? Kakak saja belum menikah kenapa kakak malah tanya Humairah. Lagian Humairah belum membahagiakan mama, papa, dan juga kakak”
“Belum bahagiakan bagaimana dek ? Dari hasil kerjamu rumah kita dibangun, dari gaji kerjamu kau berangkatkan mama dan papa ke Mekah. Dan sesungguhnya untuk membahagiakan kami sudah lebih dari cukup saat kau ingin berhijrah dek. Itu sudah jauh lebih dari kata cukup. In syaa Allah kakak juga secepatnya akan menikah.”
“Adek tau kan hal yang harus disegerakan dalam Agama, yaitu taubat, sholat, membayar utang, menguburkan mayat, dan menikah. Kakak memang belum menikah tapi hmm begini dek, sebenarnya ada teman kakak yang ingin ta’arufan sama adek. In syaa Allah dia baik akhlaknya dek, dia teman kakak dan satu jurusan dengan kakak. Kakak tahu betul dengan dia. Dia juga sudah bicara sama mama dan papa. Sekarang semua tergantung adek, tapi kalau memang adek belum ada niat untuk menikah gak apa-apa dek, kakak gak maksa”
“Sudah berapa juz yang dia hafal kak ? Dan juga katakan padanya bahwa aku tidak ingin ada batasan dengan keluarga”, kataku.
“Alhamdulillah dia sudah hafal 30 juz dek. Dia juga aktif di lembaga dakwah dek. Kalau adek mau kita bisa atur waktu untuk ta’arufan kalian”, jawab kak Yusuf.
“Kalau dia mau, suruh dia datang melamarku besok kak, tak perlu ta’arufan lagi. Humairah yakin pilihan kakak, pilihan mama dan papa adalah pilihan terbaik. Jika ada niat baik lebih baik disegerakan kak”, kataku yakin. Entah datang dari mana keyakinan itu tapi hatiku benar-benar yakin.
“Semoga keyakinan itu datangnya dari Allah, bukan karena bisikan syaitan, aamiin”, batinku.
“Kakak rasa adek sekarang lebih dewasa dari kakak, yasudah kakak akan sampaikan kepadanya”, kata kak Yusuf sembari memelukku dengan erat.
Acara khitbah berjalan lancar. Di dalam kamar entah kenapa hatiku terasa berbunga-bunga. Hatiku merasa semakin rindu dengan hari pernikahanku.
“Semoga dimudahkan yaa Allah, aamiin”
Semua persiapan untuk acara pernikahanku telah siap. Besok adalah hari yang sudah aku tunggu-tunggu. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan pangeranku yang belum bisa kubayangkan bagaimana rupanya.
“Bagaimanapun rupanya semoga Engkau ikhlaskan hatiku menerimanya yaa Allah karena yang paling utama adalah iman dan kecintaannya kepada-Mu. Semoga dengan bersama dengannya bisa membuatku semakin dekat dengan-Mu yaa Allah, aamiin aamiin aamiin allahumma aamiin” do’aku penuh harap.
Saat hendak tidur kudengar suara handphone-ku berdering tanda ada pesan. Kuurunkan niatku untuk tidur dan meraih handphone-ku yang ada di meja samping ranjangku.
“Heii perempuan sok alim, aku tau kau hamil luar nikah kan makanya pernikahanmu tiba-tiba begitu. Hahaa kau berlindung di balik jilbab panjangmu, dasar perempuan gak punya malu. Hahaa pasti suamimu juga jelek bangat yaa. Kasihan bangat lo Humairah” kubaca isi pesan dari nomor baru itu.
Aku tahu itu dari siapa, sakit hati ini membaca pesan itu tapi hatiku jauh lebih kasihan. Mengapa dia bilang seperti itu padahal jelas-jelas dialah yang seperti itu. Rasa bahagia di hatiku berhasil mengalahkan rasa sakit saat membaca pesan dari sahabatku sendiri sejak SD-SMP tapi entah kenapa dia berubah seperti memusuhiku.
Kubuka kedua mataku, kulihat senyum mama membuat bibirku juga refleks tersenyum. Aku bangun dari tidurku dan langsung memeluk mama dengan erat.
“Sudah jam berapa ma, Humairah telat bangun yaa ma ?” tanyaku sembari melepas pelukanku.
“Nggak kok sayang, ini baru jam 3, ayo kita sholat tahajud sama-sama !” ajak mama.
Setelah itu kami tidak tidur lagi sampai pagi. Acara pernikahanku semakin dekat membuat hatiku dag dig dug tapi penuh kebahagiaan.
Ku lirik jam dinding, sudah jam 08:30 sebentar lagi aku akan keluar dan melihat pangeranku. Setelah ijab qobul selesai aku baru keluar. Tak lama kemudian kakak dan mama datang menandakan aku akan segera keluar. Detak janjungku semakin kencang, kak Yusuf yang menyadari hal itu mencoba menenangkanku.
Perlahan ku lihat samar-samar wajah pangeranku. Semakin dekat wajahnya semakin jelas di mataku.
Deg
!
“Wajah itu, wajah yang pernah kukagumi karena ketakwaan pemiliknya. Tidak, bukan pernah tapi sampai sekarang. Yaa Allah wajahnya jauh lebih gagah dari yang pernah ku kenal. Yaa Allah, apa aku tidak mimpi ?" batinku.
“Ka..kak Ridwan ?” hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Ku tatap mata kak Yusuf, sepertinya kak Yusuf mengerti maksudku tanpa harus ku katakan.
“Kakak juga baru tahu kalau kalian sudah kenal. Begini, Ridwan adalah teman kakak, kita satu jurusan. Bukan teman tapi sahabat baik. Dulu Ridwan sering cerita tentang kamu yang kenal dengannya di facebook sampai akhirnya dia memutuskan berpisah. Bukan karena tidak sayang tapi karena rasa sayangnya semakin besar kepadamu hingga takut menimbulkan fitnah. Ia memutuskan untuk pergi untuk lebih memantaskan diri sebelum datang menemui walimu. Tapi kakak belum tahu kalau perempuan itu adalah kamu. Kemarin Ridwan meminta kakak membantunya mencari perempuan yang dulu ia kenal di facebook, dia cuma memperlihatkan facebook kamu karena semua foto-foto kamu kan sudah bersih di medsos. Yaa kakak baru tahu ternyata perempuan itu adalah adik kakak sendiri" kak Yusuf menjelaskan panjang lebar, hatiku tersentuh mendengarnya. Aku pikir kak Ridwan pergi karena tak sayang lagi padaku. Air mata bahagia membasahi wajahku. Dengan lembut kak Ridwan menghapus air mataku.
“Jangan menangis istriku, maafkan kakak yang dulu telah melukai hatimu. Izinkan kakak mengobati luka yang telah kakak gores di hatimu” kata kak Ridwan dengan lembut.
“Maaf kak, dulu Humairah sudah berpikiran yang nggak-nggak sama kakak. Humairah pikir kakak sudah tidak sayang sama Humairah” kataku masih dengan linangan air mata.
“Tak perlu minta maaf, semua salah kakak. Kakak minta maaf yaa. Tapi, kita harus mensyukuri semua karena dengan itu membuat kita semakin dekat dengan Allah. Sudah sudah, kakak tidak mau istri kakak yang cantik ini menangis” kata kak Ridwan sembari menghapus air mataku.
Yaa Allah, terima kasih atas segala nikmat-Mu. Engkau hadiahkan kebahagiaan yang begitu besar di balik sakitnya hinaan-hinaan orang terhadapku. Semoga dengan bersamanya membuat kami semakin dekat dengan-Mu yaa Allah, aamiin.
TAMAT
Semoga kalian suka ! I know ceritanya agak ehmm yah like that, tapi semoga setidaknya cerita ini bisa menghibur !😄😆
Ini cerita yang sudah lama bangat saya tulis dan hanya mendekam dalam folder yang hampir terlupakan di laptop saya ! Iseng-iseng aja publis-nya !😂😄🤗