Sudah beberapa hari ini gadis itu, Alia. Bekerja di rumah keluarga Pak Surya, orang terkaya nomor 1 se-Kecamatan Bandung. Alia sendiri bernama lengkap, Alia Fauzia Saraswati. Gadis yg baru menginjak umur 17tahun. Ia terpaksa bekerja sebagai seorang pembantu dirumah itu untuk menggantikan Bibinya yg telah merawat dia selama ini yg sekarang sedang sakit Sudah beberapa hari ini gadis itu, Alia. Bekerja di rumah keluarga Pak Surya, orang terkaya nomor 1 se-Kecamatan Bandung. Alia sendiri bernama lengkap, Alia Fauzia Saraswati. Gadis yg baru menginjak umur 17tahun. Ia terpaksa bekerja sebagai seorang pembantu dirumah itu untuk menggantikan Bibinya yg telah merawat dia selama ini yg sekarang sedang sakit keras.
Alia sendiri terpaksa untuk berhenti sekolah sementara, sampai Bibinya itu sembuh. Sang bibi tidak bisa membantah keputusan gadis itu, karna Alia yg sangat begitu keras Alia sendiri terpaksa untuk berhenti sekolah sementara, sampai Bibinya itu sembuh. Sang bibi tidak bisa membantah keputusan gadis itu, karna Alia yg sangat begitu keras kepala.
Dan disinilah Alia sekarang. Dirumah keluarga Pak Surya. Gadis itu tengah bersiap membersihkan sebuah kamar yg ukurannya sangat luas. Bahkan bisa dibilang 3x lipat luasnya dari kamarnya di rumah bibinya.
"Alia, jangan lupa seprainya kamu ganti ya... Setelah selesai semua, kamu bantu Mbak Inah masak didapur..." gadis itu mengangguk mengerti.
"Baik, bu..."
"Ya udah, Ibu ke butik dulu... Ingat, mas Dika 1jam lagi sampai. Semua harus sudah beres sebelum dia datang. Kasih tau Mbak Inah juga..." Bu Ines kemudian pergi. Alia kembali melanjutkan aktifitasnya yg sempat tertunda itu.
***
"mbak, masak apa ? Apa yg kudu Lia kerjakan sekarang ?" tanya Alia seraya menghampiri teman (senior?)nya yg juga bekerja dirumah itu. Gadis itu mengelap keringatnya yg mengucur dari pelipisnya. Ia baru saja selesai membersihkan kamar Dika, putra ke-2 Pak Surya.
"mbak bentar lagi selesai koq. Tinggal bikin sup aja... Tapi,,,bahan sama bumbunya ada yg kurang... Kamu bisa tolong beliin kentang, lada sama kaldu ayamnya ?" Inah memberikan uang belanjanya ke Alia dan dengan senang hati diterima oleh gadis itu.
"Yaudah Alia beliin..." ujarnya seraya tersenyum. Gadis itu kemudian beranjak keluar, mengambil sepedanya lalu melaju pergi.
"bang, beli kentangnya 1kg sama lada sama kaldu ayamnya dong. Yg biasa ya..." pinta alia ke abang tukang sayurnya.
Setelah mendapatkan pesanannya, gadis itu kembali menaiki sepedanya dan menggoesnya dengan sedikit terburu-buru. 20menit lagi anak majikannya akan sampai dirumah.
Alia terus menggoes sepedanya dengan gerak cepat, sampai didepan belokan ia tidak melihat ada taxi didepannya. Karna tidak bisa mengendalikan keseimbangannya, akhirnya sepeda yg ia naiki hampir menabrak mobil taxi tersebut dan iapun jatuh kekanan dengan sepedanya yg menghimpit kakinya. Untung saja taxi itu sempat mengerem. Kalau tidak, mungkin alia sudah tertabrak.
"Aww... Sakiiiit..." rintihnya kesakitan karna kaki kanannya terluka.
"Astagfirullah, neng... Makana hati-hati atuh bawa sepedana.. Untung amang kaburu ngerem..." supir taxi itu menghampiri Alia dan segera membantu mengangkat sepeda yg menindih kakinya. Setelah menepikan sepedanya, supir taxi itu kembali membantu Alia berdiri dan memapahnya ke sisi jalanan.
"maapin Alia, mang... Alia tadi buru-buru..." sesalnya. Ia masih memegangi kakinya yg terluka.
"Pak, buruan dong... Gak tau gue lagi capek apah ? Ah yaelah...gimana sih... Buruaaan... Gue pengen cepet-cepet tidur..." teriak seorang laki-laki dari balik mobil taxi itu. Mungkin penumpangnya..
"neng, mamang duluan nya... Si mas itu udah bawel wae dari tadi.. Maap, mamang teu tiasa bantu ngobati kaki eneng..."
"gpp mang... Alia tiasa sendiri koq... Nuhun sateuacanna..." supir taxi itu mengangguk, kemudian kembali masuk ke mobilnya dan bergegas melaju melewatinya.
Alia sempat melihat sekilas laki-laki yg ada didalam balik kursi penumpang itu menatap sinis kearahnya. Ia mengendikkan bahu acuh. Kemudian melirik kearah belanjaannya yg sudah kotor dan itu membuatnya harus kembali menggantinya dengan yg baru.
***
Didapur, Mbak Inah terlihat panik dan cemas karna sudah 15menit lebih Alia tak juga kembali. Padahal jarak dari rumah Pak Surya menuju pasar tidak terlalu jauh.
TITT...TITT...
Sebuah suara klakson mobil dari luar mengalihkan rasa cemasnya. Inah segera mematikan kompor kemudian berlari keluar untuk melihat siapa yg datang.
"eh, mas Dika udah nyampe..." ujarnya begitu melihat siapa yg baru saja turun dari mobil.
"selamat datang, mas... Sini biar Inah bantu..." ia mengambil alih tas yg ada di gendongan majikannya itu.
"Buatin gue minuman yg segar, mbak. Bawa langsung ke kamar gue aja.." titahnya dingin. Kemudia lelaki itu memasuki rumahnya dan langsung bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia kemudian menghempaskan badannya keatas kasur kingsize nya. Sebelumnya lelaki itu melepas jaket dan kaosnya dan melemparnya sembarangan. Kemudian, tak lama setelahnya ia sudah terlelap karna terlalu lelah akibat perjalanan panjang"Buatin gue minuman yg segar, mbak. Bawa langsung ke kamar gue aja.." titahnya dingin. Kemudia lelaki itu memasuki rumahnya dan langsung bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia kemudian menghempaskan badannya keatas kasur kingsize nya. Sebelumnya lelaki itu melepas jaket dan kaosnya dan melemparnya sembarangan. Kemudian, tak lama setelahnya ia sudah terlelap karna terlalu lelah akibat perjalanan panjangnya..
***
________________END________________