Setelah ayahnya meninggal 4 tahun yang lalu, Aretha hanya tinggal berdua dengan kakaknya, Alvaro. Sejak itu pula ibu mereka pergi ntah kemana. Aretha tidak pernah mengerti kenapa kakaknya selalu melarang Aretha untuk mencari ibu kandung mereka. Bahkan Aretha tidak tahu apa alasan ibunya pergi. Setiap kali ia menanyakannya, Alvaro selalu bungkam seakan mengisyaratkan kepada Aretha jika ia tidak perlu mengetahui apa alasan ibunya pergi. Sampai kini usia Aretha menginjak 16 tahun pun, ia tidak pernah mengetahui bagaimana kabar ibunya, dimana ibunya tinggal, dan dengan siapa. Apakah ia sudah memiliki keluarga baru atau belum.
♥♥♥
Hari minggi ini Aretha sudah berjanji pada Fando akan menemaninya mencarikan kado untuk ibunya yang sedang berulang tahun.
“Mau kemana, Ar?” tanya Alvaro melihat adik satu-satunya itu turun dari tangga dan sudah berpakaian rapi.
“Mau ke mall, Kak. Nemenin Fando nyari kado buat ibunya yang hari ini ulang tahun.” jawab Aretha sambil mengulas senyum.
Alvaro mengangguk tanda mengerti.
Aretha menarik kursi meja makan lalu segera duduk untuk memulai sarapan. Ia mengambil dua helai roti tawar dan mulai mengolesinya dengan selai kacang.
“Kak Alva ...”
“Hmmm ...”
“Sebenernya mama ada dimana sih, Kak?” tanya Aretha lirih.
Alvaro tertegun mendengar pertanyaan adiknya itu.
“Jangan bahas hal itu lagi, Ar!” “Aretha cuma pengen ketemu sama mama. Udah itu aja kak.”
“Percumah Aretha ...”
“Iya tapi kenapa, Kak?”
“Udahlah jangan di bahas lagi.” Aretha memasang wajah cemberutnya dan langsung melahap potongan roti terakhirnya lalu meneguk satu gelas susu putihnya hingga tak tersisa setetes pun.
“Yaudah aku pergi dulu, kak.”
Alvaro mengangguk.
“Hati-hati, Ar.” pesan Alvaro tersenyum kaku sambil terus memandang punggung Aretha yang berlalu di balik pintu.
♥♥♥
“Mau cari kado apa?” tanya Aretha setelah masuk ke dalam mobil Fando.
“Apapun yang penting unik.”
Aretha mengernyitkan alisnya, "Unik?"
Fando mengangguk sambil diiringi senyuman khas nya. Senyuman yang sangat Aretha sukai.
Sesaat Aretha terdiam sambil berfikir. Lalu Aretha tersenyum lebar seakan lampu yang ada di atas kepalanya menyala terang menandakan ia mendapatkan sebuah ide.
“Kalo gitu kita nggak usah ke Mall.”
Fando yang sedang fokus menyetir pun langsung menoleh ke arah Aretha.
“Kenapa?”
“Udah pokoknya lampu merah depan kita belok kiri, ya.”
“Iyadeh ... Kalo udah kamu yang ngomong aku nggak berani komentar.” ujar Fando sambil mengacak-ngacak rambut Aretha gemas.
Fando pun memutar stir mobilnya berbelok ke arah kiri. Aretha mulai memperhatikan satu persatu toko yang berjejer disamping jalan dari balik jendela mobil.
“Stop! Stop! Stop! Berheti disini.” ucap Aretha saat menemukan toko yang dicarinya.
Fando memperhatikan gambar besar yang ada di depan toko tersebut. “Toko donat?” tanya Fando dalam hatinya. Aretha pun langsung keluar dari mobil. Fando yang masih bingung akhirnya mengikuti Aretha turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko.
“Ada yang bisa kami bantu?” Tanya seorang pelayan dengan ramah.
“Ah iya. Kami ingin memesan donat ulangtahun.” jawab Aretha cepat.
Fando menaikkan satu alisnya, “Donat ulangtahun? Nggak pernah denger ...” ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
“Silahkan tulis ucapannya.” pelayan itu pun memberikan secarik kertas dan sebuah pulpen. Kemudian, Aretha langsung menuliskan ucapan ulang tahun untuk ibunya Fando.
“Ini mbak, udah.”
“Tertanda siapa?”
“Fando Hernandes.” jawab Aretha. Pelayan itu pun kemudian langsung mencatatnya.
“Silahkan tunggu sebentar.”
Aretha dan Fando pun mengangguk. Lalu mereka berjalan ke meja kosong yang ada di dekat jendela sambil menunggu pesanan.
Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya seorang pelayan menghampiri meja Aretha dan Fando dengan membawa satu box besar.
“Ini pesanannya.” ucap si pelayan tersenyum ramah sambil menyodorkan box yang dibawanya.
“Terimakasih.”
Kemudian pelayan itupun berlalu kembali ke dapur.
“Kamu tunggu disini. jangan kemana-mana, ya. Aku mau bayar dulu ke kasir.” kata Fando. Kemudian, ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kasir. Saat sedang menunggu, tiba-tiba mata Aretha menangkap sosok yang tidak asing lagi dan sangat ia kenal baru saja lewat. Tanpa berfikir panjang Aretha langsung keluar dari toko dan berlari mengejar sosok yang berjalan tidak jauh darinya itu.
“Tunggu ...” ucap Aretha sambil menepuk bahunya. Seketika ia pun menoleh dan langsung membulatkan matanya saat melihat Aretha.
“Ma ... ma ...” kata Aretha terbata-bata. Matanya langsung berbinar menatap wanita yang ada di hadapannya.
“Siapa kamu?” tanya wanita itu memasang wajah dingin.
“Ma ... Mama lupa sama aku? Aku Aretha, anak mama.”
“Aku tidak pernah melahirkan anak bernama Aretha.”
Deg! Mendengar kalimat itu, batin Aretha serasa ditusuk oleh ribuan anak panah. Sakit, benar-benar sakit.
“Jangan bohong Ma, aku bisa melihat kebohongan di mata Mama.” Aretha mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.
“Kamu salah orang. Aku bukan ibumu.”
“Nggak! Aretha nggak mungkin salah orang. Meskipun Mama ninggalin Aretha sejak kecil, tapi sampai sekarang Areta masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Mama.” papar Aretha mulai berkaca-kaca.
Wanita itu terdiam menatap Aretha.
“Ma ... Aretha kangen, Mama kemana aja selama ini? Mama tinggal dimana? Sama siapa?”
Dengan lembut Aretna menggenggam kedua lengan wanita yang ada di depannya. “Kita pulang yuk, Ma. Kak Alva juga pasti senang melihat Mama lagi.” ajak Aretha menatap wanita itu dengan penuh harap.
Tapi dengan kasar ia menghampaskan genggaman tangan Aretha.
“Dengar Aretha! Aku tidak pernah mempunyai anak sepertimu! Aku tidak pernah menginginkanmu lahir ke dunia ini. Tidak pernah! Kau hanya sebuah kesalahan, mengerti?” paparnya menatap Aretha penuh kebencian.
“A ... Apa maksud Mama sebagai sebuah kesalahan?” tanya Aretha lirih. Air matanya mulai keluar mengalir di pipinya.
Wanita itu langsung membuang wajahnya ke arah jalanan.
“Sayang ... Sedang apa kamu disini? Kenapa lama sekali? Tadi kamu bilang hanya mem–” orang yang baru saja datang menghampiri wanita itu tidak sempat melanjutkan ucapannya saat melihat Aretha.
Aretha yang tidak percaya dengan pemandangan di depannya, tiba-tiba saja ia merasakan lemas di seluruh badannya dan pandangannya pun seketika hilang.
♥♥♥
Perlahan Aretha membuka kedua matanya. Mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya agar lebih jelas.
“Aretha, kamu sudah sadar?”
Aretha berusaha bangun dan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ia melirik sekilas pada arah suara itu, kemudian memilih membuang wajahnya ke arah lain. Dia masih tidak percaya dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
“Aretha aku mohon ... Aku bisa menjelaskan semuanya.”
“Nggak perlu.”
“Udahlah. Lagian nggak penting menjelaskan yang sebenarnya pada anak yang tidak berguna itu.” celetuk seseorang yang bersender di daun pintu.
“Diamlah!”
“Dia benar. Aku memang tidak berguna. Pergilah! Aku sudah tidak membutuhkan penjelasanmu.” ucap Aretha lirih. Hatinya sudah cukup sakit dengan semua kenyataan yang di lihatnya hari ini.
“Aku akan tetap menjelaskannya. Terserah apakah nanti kamu akan membenciku atau tidak.”
Perlahan Aretha memutarkan kepalanya hingga matanya menatap lekat sosok yang ada di sampingnya.
“Kami memang menjalin hubungan sejak lama,” ungkapnya.
Aretha tertegun. Ia manatap jijik sosok yang ada di hadapannya. Ia tidak habis fikir dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana bisa mereka berdua mempunyai hubungan? Apa mereka sudah tidak waras?
“Aku bukan anak kandung ibumu,” lanjutnya.
“Aku adalah anak dari istri pertama ayah. Ibuku meninggal ketika aku berusia 17 tahun dan tiba-tiba ayah memutuskan untuk menikahi wanita yang umurnya pun hanya berbeda 3 tahun lebih muda dariku. Akupun tidak keberatan awalnya, tapi lama kelamaan aku malah menyukainya. Kami saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa sepengetahuan ayah.” jelasnya sambil menghembuskan nafas pelan.
Aretha kembali tertegun sekaligus semakin tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“ Ayahmu meninggal oleh serangan jantung yang tiba-tiba, itu karena dia mengetahui hubungan di antara kami.”
“Bukan hanya mengetahui hubungan di antara kami, tapi juga ...”
“Juga apa?” tanya Aretha dingin.
“Tapi juga mengetahui jika anak yang dilahirkan oleh istrinya adalah hasil hubungan gelap denganku. Setelah ayah meninggal, dia memutuskan untuk pergi karena tidak ingin jika nanti kamu mengetahui yang sebenarnya.”
Mendengar penjelasan itu, Aretha langsung membuang wajahnya. Hatinya benar-benar sakit mendengar semua penjelasan itu. Seakan pisau tak henti mencabik-cabik hatinya dengan kejam hingga tak berbentuk lagi.
“Pergi!”
“Tapi, Ar ...”
“Pergi!!!” perintah Aretha dengan nada tinggi.
“Baiklah, aku akan pergi.” Ucapnya pasrah lalu berjalan pergi keluar di ikuti oleh wanita itu di belakangnya. Meninggalkan Aretha sendiri di kamar tersebut.
Perlahan butiran demi butiran pun keluar dari pelupuk mata Aretha. Ia sudah tidak kuat lagi menahan air matanya.
Sekarang semua pertanyaan Aretha terjawab sudah. Alasan ibunya pergi. Alasan ibunya tidak menganggapnya sebagai anak. Alasan ibunya tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Itu karna Aretha hanyalah sebuah kesalahan. Dan alasan Alvaro tidak pernah mempergenalkan sosok yang ia ceritakan sebagai kekasihnya. Jadi, itu alasannya? Aretha mengerti sekarang.
Hatinya meringis mengetahui semua kenyataan pahit itu. Apalagi kenyataan bahwa ayah kandungnya adalah orang yang selama ini dia anggap sebagai kakaknya.
_The End_