Hana menangis tersedu-sedu. Ia melihat jasad suaminya, Joshua berada di dalam peti mati.
Mereka baru menikah satu bulan lalu. Tapi, baru saja mereka mengucap janji suci, mereka sudah terpisah oleh maut.
Bukannya Hana tidak tahu penyakit Joshua, kanker otak stadium empat. Penyakit yang sewaktu-waktu bisa memangilnya ke alam lain.
Josh ...
Sekarang kau sudah tidak akan merasakan sakit lagi.
Tunggu aku di sana.
Hana pulang ke rumahnya. Ia menangis lagi. Terlalu banyak kenangannya bersama Joshua di rumah ini.
Malam itu Hana tertidur. Ia bermimpi. Ia seperti berada di padang rumput.
"Hana ...."
Hana mendengar suara yang tidak asing lagi. Ia menoleh. Ia melihat Joshua.
"Joshua ...."
Hana melihat Joshua yang sedang berada di punggung kuda. Ia mengulurkan tangannya. Hana meraihnya. Joshua membantu Hana agar bisa menaiki kuda bersamanya.
Setelah posisi Hana pas, Joshua mulai menggerakkan tali kekang, tanda untuk kuda agar ia berjalan.
Saat ia merasa Hana sudah tidak terlalu takut, ia melajukan kuda tersebut hingga berlari sangat kencang.
Hana bisa merasakan angin yang mengenainya. Ia merasa bebas. Tapi lebih terutama lagi karena ada Joshua di belakangnya.
Josh ...
Aku tahu ini hanya mimpi.
Tapi ...
Terima kasih sudah mau datang ke dalam mimpiku.