Hei! Bagaimana kabarmu di sana? Bahagia?
Senyummu selalu terbayang di malam gelap. Keberadaanmu membuatku rindu, rindu akan pertemuan.
Pada memori lama, yang tidak bisa kulupakan. Angin bukit berhembus lembut, kamu memakai mahkota bunga melati yang kususun. Kami menyaksikan matahari tenggelam dengan hati tabah.
Akankah ada nasib lain? Kurasa ini sangat berat bagiku dan begitupun kamu.
Aku masih teringat senyummu pada saat itu, kau terlihat kuat dan bahagia. Realitas mungkin tidak. Kamu selalu memendam emosi sendiri, tak pernah Sudi membagikannya kepadaku.
"Gilang," ucap lembut seorang perempuan yang memakai mahkota bunga. Tatapannya tenang penuh kepasrahan.
Aku paksa untuk menatapnya. "Iya? Ada apa?"
Ia melihat langit, mulai menggelap, seperti keberadaan persahabatan kami. Mulai menghilang.
"Kalau aku tidak ada, apakah kamu akan sendirian?" tanyanya, rasa kehilangan di hatiku setelah mendengarnya muncul. Aku tidak ingin menangis di hadapannya, tetapi bilur air mata memaksaku mendobrak keluar. Dengan tanpa ekspresi.
"Tentu, aku akan sangat merasa kesepian. Ku -mohon, sembuhlah dari penyakit itu," jawabku, menatap Intan. Ia juga tidak dapat membendung rasanya. Kami berpelukan, yang tidak akan terlupakan.
"Aku akan operasi besok. Ini demi kamu, ya. Tadinya aku tidak ingin hal itu terjadi. Karena resiko berhasilnya sama dengan..." Ucapannya terhenti, ia mempererat pelukannya.
~~
Keesokan harinya, hari yang memilukan datang.
Aku mendapat kabar dari ibu Intan bahwa sebelum operasi penyakit Intan kumat, membuatnya terbebas dari penderitaan selama ini yang dialaminya.
Tak rela, tapi apa? Apa bisa kukembalikan semua itu?
Pada sore hari, di bukit yang sama. Aku menatap langit keorenan. Terhampar pasrah, rasa kesepian menyelimuti.
Dalam sunyi, seseorang dengan nada yang sangat familiar terdengar.
"Gilang!" ucapnya dengan lembut.
Aku terbangun dan melihat sosok itu. Yah, perempuan yang selalu ada di dalam pikiranku. Apa ini nyata? Aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Aku menangis. Terisak hebat.
Perempuan itu hanya tersenyum dengan melambaikan tangan, seakan dia ingin melakukan salam perpisahan kepadaku. Kemudian ia menghilang dalam suasana haru.
Terima kasih