"Mai, Mai, kamu di mana jangan bikin aku khawatir dong," ucapku yang kini sedang mencari adik kesayanganku Mai di hutan belakang rumah kami.
"Mai jangan bikin kakak takut dong, cepetan keluar udah mau sore nih," ucapku lagi sambil memeriksa di balik batang pohon.
Kami sedang bermain petak umpet di belakang rumah kami, walau sudah di beritahu oleh tetangga sekitar kalau hutan belakang rumah kami berhantu karena banyak anak-anak yang hilang secara misterius.
"Mai, keluar lahh, kamu yang menang hari ini," ucapku yang sudah mulai ketakutan.
"Hoammm, mengapa kakak sangat lama untuk menemukanku sih," keluh seorang gadis cantik yang sedang duduk di bawah pohon yang sudah ku periksa beberapa kali yqng tidak lain adalah Mai adikku.
Hatiku merasa lega melihat adik semata wayangku kini berada tepat di depanku, dengan rasa lega itu Aku langsung menghamburkan pelukanku ke Mai tapi malah melihatku dengan tatapan aneh tapi aku tidak perduli itu.
Beberapa minggu setelah kejadian itu tingkah Mai terasa aneh bagiku dan semakin banyak saja anak-anak dan juga hewan ternak yang hilang maupun mati dengan mengenaskan, jantung, hati, dan juga bola mata korban hilang.
Mamah dan Papah sudah mulai melarang kami untuk keluar bermain di hutan belakang karena takut akan terjadi sesuatu pada kami. Tapi yang membuatku bingung Mai selalu saja merengek agar di perbolehkan keluar dan mengatakan kalau dia lapar.
"Mai kenapa ya? Tingkahnya sunguh aneh sekali tidak seperti Mai yang biasanya," batinku entah bertanya pada siapa.
Beberapa minggu berselang dan kini semua ternak sudah habis di jual dan mati secara misterius, semua yang terjadi di desa ini terasa sangat aneh bagiku di tambah lagi perubahan fisik yang di alami Mai tidaklah wajar, tubuhnya menjadi semakin tinggi dan berisi dalam waktu satu hari bahkan gaya bicaranya pun terasa aneh bagiku.
Pernah juga aku tidak sengaja melihatnya sedang memakan daging mentah yang masih berlumuran darah di kamarnya, bukan hanya itu Aku juga menemukan banyak tulang-belulang hewan dan juga manusia di bawah ranjangnya.
"Mai, maukah kamu ikut bersamaku menyelidiki tentang kasus kematian yang misteri ini?" Aku bertanya pada Mai, sebenarnya aku merasa ketakutan karena Mai menatapku dengan tatapan aneh dan menyeramkan sekali.
"Sepertinya aku harus tekankan padamu kalau namaku adalah Lis bukan Mai," ucap Mai sambil menatap tajam ke arahku.
"Tapi mungkin seru juga kalau memecahkan misteri ini, aku pasti akan terkenal," sambung Mai dengan senyuman aneh yang membuat bulu kudukku berdiri.
Kemudian kami berdua menjalankan rencana untuk memecahkan misteri kematian aneh yang terjadi di desa kami, diluar rumah terasa sunyi dan terasa lebih menyeramkan walaupun kini sedang siang hari.
"Mai, sebaiknya kita ke arah hutan belakang rumah karena semua masalah ini mengarah ke sana," Aku menyarankan kesana karena di sana adalah tempat Mai bertingkah aneh.
"Baiklah terserah kamu saja," sahutnya kemudian berjalan mengikutiku dari belakang.
"Mai, jangan hanya bercermin terus kamu harus melihat jalanmu," ucapku sambil memperhatikan sekeliling.
"Mai, Mai kenapa kamu diam sih, jangan membuat suasananya jadi makin seram dong," ucap ku seraya menyingkirkan semak-semak agar bisa kami lewati.
"Tidak terasa Aku berjalan sudah sekitar dua jam tapi belum juga kunjung menemukan petunjuk dan apa lagi ini? Kenapa dari tadi aku bertemu dengan pohon ini terus," ucapku yang kini sudah merasa lelah dan mengantuk.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan hutan ini, rasanya aku hanya berputar-putar saja disini selama dua jam lebih," pikirku, kemudian aku memutari pohon besar yang pernah menjadi tempat persembunyian Mai waktu itu.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok Mai yang sudah tergeletak di atas tanah dengan sekujur tubuhnya berlumuran darah dan kondisinya sama persis dengan mayat-mayat yang lainnya.
Aku langsung berlari memeluk adik kesayanganku Mai, walau aku berlumuran darah aku sudah tidak perduli lagi, sekarang aku hanya menagis dan menagis hingga air mataku tidak bisa keluar lagi, kemudian aku kembali kerumah untuk mengambil cangkul untuk menggali kuburan Mai.
Dari kejauhan aku mendengar suara kebisingan warga yang menangis histeris, aku kemudian mempercepat gerak kakiku, aku mulai gelisah dan betapa kagetnya aku ketika melihat semua korban kini berdiri bersama keluarga mereka dengan ke adaan yang sehat bugar.
Sedetik kemudian ada suara teriakan yang berasal dari arah belakangku saat aku menoleh mataku terbelalak malihat seorang anak yang merobek tubuh ibunya sendiri menggunakan pisau dan detik berikutnya mulai lebih banyak lagi yang berteriak dengan kejadian yang sama.
Aku kemudian berlari ke arah perbatasan desa berharap bisa selamat dari ke anehan ini, Aku terus berlari hingga sosok Mamah dan Papah berdiri di hadapanku, Aku dengan segera memeluk mereka dengan sanagat erat.
"Aneh, kenapa Mamah tidak memelukku balik?" batinku merasa aneh, kemudian aku melepas pelukanku saat aku mendongak melihat wajah kedua orang tuaku aku langsung berteriak karena mereka sudah tidak memiliki bola mata lagi. Aku kemudian berlari kembali menjauh dari desa.
"Kakak, Kakak, mengapa kamu meninggalkan aku di hutan," ucap Mai yang tiba-tiba berada di belakangku sambil menyeret satu kakinya dengan membawa pisau di tangan satunya.
"Ahhhhhhh, pergi kamu bukan Mai, Mai sudah meninggal," teriakku terus berlari.
"Kamu tidak akan bisa kabur lagi kakak ku sayang, hahahahaha," ucap seorang gadis dengan gaun cantik yang sudah berlumuran darah.
"Ahhhhh, aku mohon jagan bunuh aku," pintaku yang kini sudah terpojok di bawah pohon besar belakang rumah.
"Aku sudah mengincarmu sejak dulu, aku sangat menyukai gadis sepertimu, kamu rela membunuh sahabatmu sendiri demi memuaskan keinginanmu itu," ucap gadis itu.
"Tidak tidak aku tidak membunuh," Tubuhku bergetar hebat mendengar hal itu, jantungku berdegup dengan kencang dan cepat.
"Kakak kamu harus mati," ucap Mai yang tiba-tiba langsung mengayunkan pisau ke arah wajahku.
"TIDAAAKKKKKK, AHHHHHH,"teriakku untuk terakhir kalinya.
Makasih sudah mau baca, maaf ngak terlalu seru baru pertama buat cerita horor soalnya...