Sebut saja namaku Ela, usia ku baru 18 tahun dan sekarang aku bekerja sebagai SPG di salah satu moll terkemuka di kota B.
Jarak tempuh tempat tinggal ku ke tempat kerja hanya memakan waktu 30 menit jika berjalan kaki, dan 15 menit jika di antar jemput oleh ayah ku.
Singkat cerita, aku kebagian jatah siff malam, dan kebetulan juga ayah tidak dapat menjemput. Alhasil aku pun berjalan kaki karena arah menuju rumah ku hanyalah jalan yang di lalu motor dan bukan jalan umum untuk angkot, maklum hanya mampu di lintasi 2 motor itu pun harus perlahan karena sisi jalan yang satunya adalah got.
Aku berjalan meninggalkan toko beriringan dengan sahabatku Rosa..
"Kamu udah di jemput, El?" tanya Rosa, saat kami menuruni anak tangga.
"Aku gak di jemput nih." jawab ku dengan murung.
"Mau aku anter gak?" tanya Rosa.
"Gak deh makasih, kasihan di kamu. Kita kan gak searah."
"Iya sih, aku juga tadi di sms sama adek ku buat beliin obat."
"Adek kamu sakit?"
"Iya, tadi sih aku berangkat kerja cuma anget badannya."
"Ya udah kamu buru pulang gih, kasihan adek kamu di rumah sendiri." ujar ku.
"Ya udah... aku duluan ya Ela." pamit Rosa dan berlalu pergi ke parkiran untuk mengambil motornya.
Aku pun melangkah kan kaki untuk pulang ke rumah. Setelah seharian berdiri bak patung dan hanya sesekali duduk karena kepala toko yang kiler.
Untuk sampai ke rumah, aku herus melewati lapangan sepakbola yang luasnya nauju bilah, belum lagi kebon singkong, belum lagi pohon rambutan yang pernah di gunakan untuk gantung diri. Dan rumah yang di lewati berjarak jauh antara rumah yang 1 dengan rumah yang lainnya.
Saat aku melewati lapangan bola yang cukup luas dan lebar. Maklum masih lingkungan perkampungan, lapangannya masih alami terbentang luas di alam terbuka yang di pinggir lapangan terdapat beberapa pohon pisang yang cukup banyak.
"Tumben, biasanya ada ajah yang maen bola. Ini ngapa sepi ya?" monolog Ela pada dirinya sendiri.
Aku pun terus berjalan hingga melewati lapangan yang luas nya naujubilah. Baru lolos dari lapangan sekarang aku harus melewati kebon singkong yang sengaja di tanam oleh pemilik lahan. Pohon singkong nya tinggi-tinggi dan berdaun lebat, mungkin sudah waktunya panen.
Angin malam yang bertiup menggoyangkan daun singkong seolah menari.
"Ya Allah kuatkan hati hamba, berani... berani..." ucap Ela.
"Ko tumben banget sih, ini jalan ngapa sepi amat sih." keluh Ela.
Sambil menengok ke belakang berharap ada yang akan lewat dengan motor berharap bisa nebeng 😅😅
Ela pun memilih memakai hendset dan memutar lantunan ayat kursi yang ada di mp3 handphone miliknya. Biar lancar dan tidak muter-muter di tempat bacaan'nya 😊
"Alhamdulillah masih ada yang ngaji." ucap Ela. Saat melewati Masjid yang ada di pinggir jalan.
"Et dah, lewatin pohon rambutan lagi." keluh Ela.
Pasalnya pohon rambutan itu di gunakan untuk gantung diri oleh orang yang putus asa saat di tinggal sang istri. Desas desusnya mah begitu dan belum lama ini kejadian nya.
"Wah mak Erot tumben jam segini jemuran apa anduk ituh.. masih di jemur bae. Ora di angkat apa ya?" ucap Ela pada dirinya sendiri.
Dengan penuh tanda tanya di kepalanya, Ela terus berjalan sambil sesekali melihat ke belakang lagi. Merasa bingung dengan jemuran putih yang panjang menjuntai hingga ke tanah. Mungkin handuknya panjang ukuran jumbo. Sanggah Ela tidak berfikir negatif.
Akhirnya Ela baru berpapasan dengan seorang ibu saat melewati lapangan bulutangkis yang terdapat lampu hingga menerangi jalan.
"Baru pulang, El?" sapa bu Darsih.
"Iya bu. Ibu dari warung ya?" tanya Ela, yang melihat bu Darsih menenteng kantong kresek hitam.
"Oh iya, ini Rara minta di masakin mie." jawab bu Darsih.
"Oooh ya udah atuh, Ela duluan ya bu. Jadi ikut laper." pamit Ela dengan sopan.
"Iya, ibu juga pasti udah di tunggu Rara."
Akhirnya Ela sampai di depan rumah, dengan pintu yang tertutup rapat.
"Assalamualaikum, ibu." ucap Ela, sambil mengetuk pintu.
"Waalaikum salam." suara ibu dari dalam rumah.
Kreeek (pintu di buka ibu)
Aku pun mencium punggung tangan kanan ibu.
"Ayah, mana Ela?" tanya ibu.
"Ayah gak jemput, bu."
Aku masuk ke dalam rumah yang di susul ibu setelah menutup pintu.
"Kamu jalan ya, El?"
"Iya bu. Ela mandi dulu ya bu."
"Iya."
Beberapa menit kemudian, aku duduk di sofa sambil membawa piring berisi nasi dan juga terong balado masakan ibu. Ibu sedang menonton film lewat layar televisi.
Ibu melirik ku yang tengah makan malam sambil sesekali melihat ke layar televisi.
"Ela.." ibu memanggil namaku.
"Iya, buuu."
"Kamu jalan kaki sendiri, berani...?" tanya ibu dengan ragu.
"Iya berani lah bu... ngapain takut, orang di kampung sendiri ko."
"Di jalan tadi ramai gak?"
"Jalan raya mah rame bu. Tapi jalan di gang sepi, tumben deh. Masa Ela gak nemu orang sama sekali. Ketemu bu Darsih pas di lapangan bulutangkis, udah deket rumah." cerocoh Ela tanpa jeda.
"Oh iya bu, aku baru ingat nih." kata Ela, yang sukses membuat ibu kaget.
"Nyantai aja dong, gak usah bikin ibu kaget." kata ibu.
"Mak Erot punya anduk ukuran jumbo loh, bu. Tadi aku liet."
"Liet apa? tau dari mana kamu?"
"Di jemuran depan rumah mak Erot lah bu. Orang kayanya mah itu mak Erot lupa ngangkat anduknya." ujar Ela.
"Emang warna apa anduknya, Ela?"
"Warna putih, bu. Panjang banget ampe nyengser ke tanah."
Karena aku sudah selesai makan, aku pun meninggalkan ibu sendiri dan berjalan ke dapur untuk mencuci piring bekas makan ku.
Setelah selesai dengan mencuci piring, aku kembali menghampiri ibu yang masih menonton televisi.
"Kamu yakin itu anduk, Ela?"
"Yakin lah bu."
"Kamu tau gak? Mak Erot sekeluarga lagi pulang kampung, tadi siang mak Erot dapat kabar kalo keluarga di kampung ada yang meninggal."
"Lah terus, yang Ela liet tadi apa bu?"
"Tapi tadi ada rambut hitam di bawah itu handuk yang ngejuntai ke tanah, Ela pikir itu orang buang rambut yang abis di gunting?" ujar Ela, mengingat rambut.
"Astaghfirullah Ela, itu mah kuntilanak terbalik." ujar ibu, dengan keterkejutan nya.
"Haaaaaa?"
Setelah selesai bersih-bersih, aku pun