Aku Amanda Clarissa Prasodjo. Anak pertama perempuan satu-satunya keluarga Irawan Prasodjo. Aku punya 2 adik laki-laki, Pandji Axelle Prasodjo dan Ksatria Marcell Prasodjo. Mamaku, Nirina Prasodjo sudah pergi untuk selamanya saat melahirkan Marcell 3 tahun yang lalu.
Aku pernah membaca sebuah kalimat yang menuliskan bahwa wanita terkuat kedua setelah seorang Ibu adalah seorang anak perempuan pertama. Itulah aku. Di usiaku yang baru menginjak 14 tahun aku sudah dituntut harus menjadi kuat. Kuat sebagai pengganti Mama untuk kedua adikku, dan untuk melindungi Papa dari incaran wanita-wanita jahat di luar sana. Wanita-wanita yang hanya mengincar materi belaka tanpa memikirkan perasaan kami yang terluka.
Aku tidak peduli meski terkadang aku lelah bersikap seperti ini. Ya, ini memang bukan aku yang sesungguhnya. Mendiang Mama adalah wanita yang berhati lembut. Mama tidak pernah sekalipun mengajarkan kami berkata kasar apalagi berbuat arogan.
Tapi kau tau, kelembutan yang diajarkan Mama kepadaku akhirnya hanya membuatku lemah. Aku harus selalu menerima banyak perlakuan buruk dari teman-teman. Mereka dengan seenaknya memeras dan menginjak-injak harga diriku karena aku anak orang kaya yang kesepian.
Tapi kupastikan itu tidak akan terjadi lagi. Aku sekarang sudah lebih kuat dari sebelumnya.
Sudah banyak wanita yang mampu kusingkirkan dari sisi Papa selama ini dengan caraku sendiri. Cara yang sama yang mungkin akan dilakukan oleh seorang anak yang ingin menjaga keutuhan keluarga mereka.
"Siang Clara.. Clara cari Papa?" Nona Inez, salah satu staff di perusahaan Papaku. Dari caranya memperlakukanku yang berlebihan, kurasa dia salah satu orang yang harus merasakan 'tinju' dariku.
Kuhentikan langkah sombongku dan kualihkan perhatianku pada Nona Inez.
"Nona Inez, dengarkan aku! Panggil aku Nona Clarissa! Dan jangan pernah lupa untuk memanggil 'Tuan' kepada pemilik perusahaan ini. Kecuali kau ingin keluar dari perusahaan ini. Mengerti?!" gertakku padanya.
Aku tidak suka jika ada orang asing yang memanggilku dengan sebutan Clara. Itu adalah panggilan mendiang Mama untukku dan hanya orang-orang terdekatku yang boleh memanggilku begitu. Aku masih lebih rela Bi Imas, asisten rumah tangga kami yang sudah mengurusku sejak bayi yang memanggilku begitu. Ketimbang perempuan tidak berperasaan dengan topeng kemunafikan.
"Ba ba baik Nona.. Clarissa," jawabnya gugup.
Seperti itulah salah satu caraku untuk menyingkirkan sampah-sampah tidak berguna yang akan mengotori hidupku. Dan aku tidak pernah ragu untuk melakukan lebih dari itu.
--------
Di sekolah
"Clarissa, kumohon bantu aku. Ibuku sakit dan aku harus membelikan obat. Kau tau kan bagaimana rasanya kehilangan Ibu??"
Dia Cherry, seseorang yang mungkin selama ini menganggapku sebagai teman. Itu karena aku selalu memberi dia sejumlah uang yang dia minta. Tapi bagiku, dia tidak lebih dari seorang pengemis.
"Ini uang terakhir untukmu. Setelah ini jangan pernah lagi meminta apapun, dan menjauhlah dariku!" kulemparkan 10 lembar uang jajanku di wajahnya yang sok memelas itu.
Dia tidak tau aku sudah membayar orang untuk memata-matainya. Dan dari laporan yang kuterima, dia berbohong mengenai Ibunya. Ibunya sama sekali tidak sakit, dia memakai semua uang pemberianku untuk bersenang-senang bersama teman-temannya.
Dasar bodoh! Dia tidak tau siapa aku!
Aku seorang gadis kuat yang akan terus seperti ini, menghadapi hidup dengan caraku sendiri. Karena aku Amanda Clarissa Prasodjo.
=== END ===