Aku insecure, please aku tidak mau ini. Aku sudah pusing dengan ini semua. Aku lelah, kumohon pergilah kamu jauh dariku. Andai saja kau tidak ada di dalam diriku, aku sangat senang. Kumohon, mentalku sudah lelah. Kata orang, aku kurang bersyukur. Please kamu tuh tidak tahu apa yang kami alami. Kalau kamu mengalaminya, kamu tidak akan berkata seperti itu. Namun, memangku akui itu ada sedikit benarnya.
Coba bayangkan, setiap saat hatimu seperti ada rasa yang sulit dijelaskan. Rasa yang tidak kamu miliki karena kemahiranmu. Segala pencapaianmu menutup rasa itu. Bisakah kamu sedikit berempati kepada kami? Tak semua orang punya nasib yang sama denganmu.
Kumerasa, aku sudah sangat tertinggal oleh yang lain. Seperti kami sudah benar-benar tertelan bumi. Pernahkah kamu berpikir? Untuk apa pencapaian itu diletakan di status-status media sosialmu? Hanya sekedar bangga? Apa kamu tidak cukup bangga dengan dirimu sendiri? Apa kamu butuh pengakuan orang lain bahwa kamu bangga? Tolong, pikirkan. Berapa banyak orang-orang yang terpengaruh oleh statusmu itu. Entah itu apa niatmu, tak semuanya bisa sejalan.
Hai! Sesekali aku ingin menyapa kalian tanpa rasa itu. Sulit, begitu sulit. Pernahkah kamu berempati pada orang lain? Apa hanya peduli dengan dirimu sendiri? Hei! Tuhan menyuruh kita peduli kepada manusia. Apa kamu cukup termakan oleh doktrin para duniawi ini? Seakan mementingkan nafsu dunia. "AKU INGIN SUKSES! AKU INGIN BERDIRI DI ATAS MEMIMPIN KOLONI INI!" apa itu mau kalian? Dengarkan ini. Kita dilahirkan dengan tanpa apa-apa dan begitu pula pulang ke rumah aslinya. Pernah kamu berpikir itu?
Terdengar egois dan konyol. Kami hanya meminta empati kalian. Kami adalah dampak dari aura tidak sengaja kalian. Memang, semua itu baik. Namun, adakah rasa empati kalian?
Terima kasih