Namaku Winter Sonata. Aku seorang wanita muda yang bersemangat di hari kemarin. Kini, aku hanyalah wanita kulit berbalut tulang yang terbaring di kasur rumah sakit. Aku seorang wanita yang di vonis pengidap kanker, stadium empat. Sisa-sisa hariku, hanya di hitung kurang dari 365 hari. Kanker itu telah menguasai seluruh ragaku. Bercampur menjadi racun di dalam darahku.
Apa yang ku inginkan? Di sisa 365 hariku. Berbuat baik? Tentu. Kini, aku telah melakukan amal setiap saat. Menjadi lebih sabar. Bahkan, berusaha memperbaiki segala hal di masalaluku.
Hanya satu yang tertunda.
Aku tidak mampu berbaikan dengan satu orang. Dengan seseorang yang aku anggap musuhku. Hingga untuk menyebut namanya saja, perutku mendadak mual, dan aku akan jatuh pingsan, karena sangat membencinya hingga dalam tiap nadiku, darahku akan berdesir panas karena wanita itu. Sebut saja dia adalah Wind. Si wanita angin yang aneh. Pada siang hari yang panas, dia mampu menjadi badai tornado dalam hidupku.
Aku meletakkan pena. Dari setiap orang yang telah berbaikan denganku. Hanya Wind, yang belum aku coret namanya. Aku sangat sulit memaafkan wanita itu. Bagiku dia telah merebut segalanya dariku. Walau, jika aku perhatikan dengan seksama lagi. Milikku tetap berada di sisiku. Lalu, dia hanyalah wanita angin yang asyik dengan dunia sendiri. Sebut saja dia hidup sendirian. Namun, tetap membuatku iri.
Aku naik ke ranjangku. Aku tau ada sosok bayangan hitam yang terus menatapku dalam diam. Namun, aku bersikap pura-pura tidak menyadari kehadirannya.
Aku merebahkan kepalaku. Aku sudah sangat mengantuk. Apalagi, malam telah begitu larut. Aku memutuskan untuk segera mulai terpejam. Tidak lama kemudian, diantara segala kelelahan dan kantukku, aku bisa melihat sosok tangan yang membentangkan selimut untuk diriku. Pria itu adalah sosok yang aku sebut sebagai kakakku. Sebut saja namanya Cloud, pria yang mampu beradaptasi dengan musim dingin seperti diriku.
Aku tersenyum ramah seraya mataku terus terpejam kala pria itu terlihat memutar langkahnya setelah memberikan selimut untukku. Samar-samar, aku merasakan pria itu menjauh dari diriku. Namun, selanjutnya ada rasa hampa kala suara pintu terbuka dan tertutup kemudian.
Pintu yang tertutup itu bagaikan udara yang menghilang dari rongga dadaku. Aku mendadak sesak. Sulit bernapas. Aku merasa kesepian. Aku merasa sendirian.
Aku tertawa getir.
Aku membuka mataku perlahan. Melihat hanya kekosongan yang aku miliki. Lalu, aku bergerak miring, mengubah posisi tidurku, hanya untuk melihat pintu yang tertutup rapat. Aku meringis kemudian. Dia terus menjagaku dengan tanpa kata lelah. Dia akan pergi setelah aku terlelap. Entah, hal ini terus membuat sepasang mataku kembali basah hanya untuk menangis kesendirianku.
Aku segera duduk. Menyeka air mataku. Lalu, tanpa sengaja aku melihat buku catatanku telah bergeser dari posisi semula.
Apakah dia membacanya? Aku menduga Cloud telah memberanikan tangannya untuk mengetahui apa yang telah aku tulis.
Aku segera menginjakkan kakiku di lantai dingin. Dengan sepasang kaki yang berkaos aku berjalan kembali ke nakas. Aku menggeser perlahan tiang infus bersamaku. Aku duduk perlahan, meraih buku catatanku. Membuka lembaran terakhir yang aku tulis.
Pada lembaran itu. Aku menulis dengan judul sangat besar.
DAFTAR ORANG YANG KU BENCI!
Lalu, seluruh inderaku mati total. Kala, satu garis lurus terlihat mencoret nama Wind.
"Aku tidak akan pernah mencoretnya!" rengekku. Saat ini, aku ingin membenci Cloud yang berani menggunakan pena milikku untuk mencoret nama Wind.
"Orang lain boleh aku maafkan. Wind ... Aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Aku memukul dadaku. Tidak perduli dengan selang infus yang mengencang, dan menyedot darah dalam arteriku merangkak naik ke selang. Lalu, merembes jatuh dari celah lubang jarum di atas punggung tanganku.
Aku menangis tersedu. Air mataku jatuh menetes pada lembar buku harianku. Membentuk bayang basah pada kertas. Lalu, aku baru menyadari ada catatan lain di belakang kertas selanjutnya.
Aku menyeka air mataku. Lalu,membacanya.
"Aku mencoret nama Wind dari daftarmu. Sebagai gantinya, bencilah aku. Cloud. Jangan membenci Wind."
Aku marah membaca hal itu. Segera merobek lembaran itu. Menjadikan kertas itu menjadi serpihan kertas kecil-kecil yang jatuh ke lantai.
"Terus saja kau membela wanita itu! Kau gila! Wanita itu gila! Aku pun gila karena membencinya! Apakah kau tau alasan besarku membencinya? Karena, kau selalu menjaga wanita itu! Penjagaanmu padanya, membuatku iri!"
Aku terus merengek dalam kesesakan. Berharap Tuhan mendengar dan menolongku. Lalu, melenyapkan Wind dalam kehidupan ini.
Tangisku terus meledak, dan aku jatuh pingsan kemudian. Hanya kegelapan yang aku lihat. Lalu, seakan ada sisa satu napas yang tersisa dalam kehidupanku saat ini, seakan melihat tali resleting di langit yang gelap, resleting itu terlihat turun, merobek langit, dan sinar menyeruak masuk ke dalam kegelapanku.
Mimpiku pun di mulai.
Mendadak kegelapan ruang dimensiku menjadi taman indah yang ku pijak. Ada bunga warna warni, dengan kupu-kupu indah warna warni yang menghias ruang dimensiku. Aku berjalan. Lalu, aku baru menyadari jika aku memiliki raga baru yang cantik,dan berseri. Bukan seperti mayat hidup.
"Apakah aku sudah sembuh?" pikirku.
"Sudah."
Satu suara yang tidak asing terdengar dari belakang tubuhku. Aku menduga itu adalah suara milik Wind. Aku segera memutar tubuhku, berpaling dan melihat sosok wanita yang paling aku benci telah tersenyum padaku.
Wind. Wanita aneh dan gila.
"Kenapa kau di sini? Aku tidak ingin melihatmu!" teriakku penuh amarah.
Wind mencibirkan bibirnya dan berkata padanya, "Kala kau sakit, kau membenciku. Kala kau sudah kembali sehat, kau membenciku pula."
Aku menatap tidak senang.
"Sehat dan sakit diriku tidak ada hubungannya denganmu."
"Jika tidak ada hubungannya. Jangan menuduhku lagi. Telingaku sakit, karena setiap amarahmu datang. Kau selalu menyebut namaku. Padahal, aku tidak pernah berada dalam lingkaranmu."
Aku menghela napas. Tiba-tiba saja spatula besar ada dalam tanganku. Aku mengarahkannya pada jantung Wind. Menusuknya. Setelah itu, Wind lenyap.
Aku duduk mematung di taman. Memulai sebuah cerita yang aku inginkan. Aku melenyapkan Wind dalam kehidupan mimpiku. Lalu, aku mengajak Cloud, menikah denganku. Aku membuat pria itu seakan tidak memiliki pilihan. Yang penting aku menikah dan memiliki seorang anak. Aku bahagia dalam mimpiku. Bahagia telah menikah dengan Cloud dan melenyapkan Wind.
"Apakah kau bahagia?"
Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaaan Cloud.
"Aku harap kau akan selalu bahagia, dan sehat selalu."
Aku tersenyum. Walau, wajah pria itu terlihat nelangsa dan aneh.
"Apakah kau sedih?"
Cloud tidak menjawab.
"Karena, aku melenyapkan Wind. Oleh itu, kau bersedih."
Cloud menggelengkan kepala.
"Wind berkata padaku. Agar aku membuatmu bahagia. Agar kau berhenti membencinya."
Aku tersenyum. Memeluk Cloud kemudian. Erat. Namun, aku tidak menyadari jika air mata Cloud telah jatuh. Yang aku tahu, saat ini, aku tidak ingin terbangun dari mimpiku.
Dring!
Dering alarm mengejutkan alam sadarku. Aku terbangun dari kebahagiaan semuku. Aku kembali ke ruang dimensi nyataku. Aku melihat sekeling kamarku. Warna biru. Birunya rumah sakit.
"Cloud? Suamiku?" lirihku memanggil.
Tidak ada jawaban.
Kret! Suara pintu terbuka. Seorang suster datang dan tersenyum padaku.
"Apakah melihat Cloud, pria yang selalu menjagaku?"
Suster terlihat menghela napas, dan dia menggeleng kepala lemas, "Nona, bukankah berapa kali aku berkata padamu. Jika, kau tidak memiliki teman pria bernama Cloud, dan musuh bernama Wind. Kau selalu sendiri dalam ruangan ini."
Aku tidak bergeming. Namun, membiarkan suster melepas selang infus dari pergelangan tanganku.
"Nona, boleh pulang."
"Bukankah aku mengidap kanker stadium 4. Aku tidak boleh pulang. Aku membutuhkan perawatan. Karena, setiap hari aku selalu mudah muntah."
"Nona, anda bukan kanker. Anda hanya terkena penyakit Maag kronis. Itu akan membaik setelah kau menjaga pola makan."
"Hah?" Aku heran. Aku berjalan ke atas nakas. Melihat setiap lembar catatan harianku. Aku ingat jika aku selalu menulis kedinginan pada Wind, dan kehangatanku pada Cloud. Namun, setiap catatan itu hilang. Bagai sihir yang menghapus jejak. Perasaan dingin dan panas itu bagai perasan deja vu.
"Suster," ujarku memanggil lirih.
Suster mendekat.
"Cubit aku," pintaku.
Suster tersenyum. Seakan, hal ini bukanlah pertama kali aku meminta padanya.
"Aw!" ringisku kala cubitan itu sakit menggigit daging tanganku.
"Aku tidak bermimpi. Aku bukan pengidap penyakit kanker." Aku menatap diriku pada cermin. Aku tidak sekurus ingatanku. Aku tampak berisi. Wajahku berseri. Ada warna merah di bawah kulitku.
Namun, aku menatap suster nelangsa.
"Apakah Cloud dan Wind itu nyata?"
Suster menggelengkan kepala.
"Cloud dan Wind itu tidak ada. Bahkan tidak pernah mengunjungi Nona."
Suster mencubit hidungku, dan bersuara rendah kemudian, "Hanya ada Winter yang sedang galau di dalam kamar perawatan."
Aku terbahak bingung dan heran. Seakan perkenalanku dengan Cloud dan Wind itu bukanlah sekedar Deja Vu. Mereka nyata. Namun, mereka memutuskan lenyap bersama. Tenggelam dan hilang. Atau keegoisanku telah melenyapkan mereka berdua? Melenyapkan Wind. Sekaligus Cloud yang tidak rela melepas Wind. Sejak itu, aku belajar melupakan Wind dan Cloud.
Bagai teka-teki. Aku tidak mampu menjawabnya. Hanya saja, aku menyadari jika kita memaafkan seseorang, melepaskan seseorang, aku akan menjemput kebahagiaan dan kesehatan dari semesta yang perduli padaku.
***