Setiap orang, pasti memiliki impian tersendiri. Namun, terkadang hal itu sulit tercapai karena hayalan kita yang terlalu tinggi.
Seperti halnya yang dialami wanita bernama Acha Ahyuni. Ia bermimpi dapat bertemu pria yang dicintai nya, si idola kampus. Pria bernama Brian itu adalah idola di kampus tempat Acha berada.
Pada malam hari, wanita bernama Acha itu sedang menatap langit yang dipenuhi bintang sambil menggambar seseorang di buku gambarnya.
Siapa lagi kalau bukan Brian? Acha menggambar sketsa wajah Brian dengan hati yang gembira juga senyuman yang terlukis di wajahnya.
Baginya, seperti ini pun bisa menghapus rasa rindu pada Brian walau hanya satu hari tidak bertemu.
Hari sudah tambah gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 11:27. Tapi, Acha masih meniatkan dirinya tuk bangun dan melukis wajah cintanya itu.
Tanpa sadar, dirinya tertidur di atas sketsa gambarnya.
"Hum, dimana ini?" batin Acha bertanya-tanya.
Di depan nya, terlihat istana mewah nan megah. Gerbang istana itu juga di jaga oleh beberapa pengawal dengan pakaian perang lengkap dengan pedang mereka.
"Huft, apa ini? Sebenarnya, dimana aku?" tanya Acha.
Melihat baju yang bergaya kerajaan, Acha mengira mereka sedang mengadakan syuting film disana. Ia pun tidak ingin mengganggu hal itu dan duduk di rerumputan yang ada di balik istana.
"Yang Mulia Tuan putri!" panggil seorang pengawal yang menoleh ke arah Acha.
"Eh, siapa?" tanya Acha.
"Tuan putri, pertunangan anda dengan pangeran akan segera berlangsung! Sebaiknya anda menurut dan menjalankan pertunangan itu dengan baik" ucap pengawal itu pada Acha.
"Hei! Apa kamu bercanda? Siapa kamu? Aku bahkan tidak mengenalmu!" sahut Acha.
"Tuan Putri Acha, anda tidak boleh keras kepala! Pertunangan ini adalah hubungan yang bisa mengikat dua negara!" jelas si pengawal itu seraya menarik lengan Acha.
"Hei! Sudah kubilang, aku tidak tahu siapa kamu!" Acha merengek dan meminta pengawal itu melepas tangannya.
"Tuan putri, tenanglah! Ini hanya sebentar, saya mohon bersabarlah ya, Putri!" ucap wanita dengan pakaian pelayan-pelayan kerajaan.
"Aku tidak pernah mendaftar syuting film dengan kalian! Jangan mengada-ada deh" kesal Acha.
"Acha!" teriak pria dengan pakaian mewah dan berjubah dengan bahan bulu dan mahkota emas di kepalanya. Seperti hal nya raja, ia ditemani beberapa pengawal di sampingnya.
"Oh apa lagi ini? Apa..ada seseorang yang mendaftarkan aku ikut syuting film?" batin Acha.
"Acha, berdirilah! Sikap apa yang kamu tunjukkan sebagai seorang putri ini?" tegas pria berjubah itu.
"Hum, ya sudah deh aku ikuti saja alurnya!" ucap Acha.
"Aw" pekik Acha yang tersandung oleh sepatu heels yang ia pakai.
"Hah? Sejak kapan aku memakai gaun dan sepatu heels ini?" gumam Acha bingung.
Meski begitu, Acha memilih diam dan mengikuti setiap alurnya.
Hingga sampai di dalam istana...
"Kawan, maaf putri saya agak terlambat tadi" ucap pria tadi.
"Tenang saja, Raja Orn! Putra saya juga baru datang" ucap pria yang singgah di kursi merah nan megah itu.
Pria berjubah yang dipanggil dengan sebutan "Raja Orn" tadi menghampiri pria yang sebelumnya singgah di kursi merah. Ia juga ikut duduk di samping pria itu.
Mata Acha terbuka lebar, saat melihat pria yang ada di atas tangga istana itu. Siapa dia? Dia adalah...
"Brian!" panggil Acha agak teriak.
"No..nona.." para pelayan di sampingnya memanggil Acha serentak.
Dua pria dengan pakaian hal nya raja, membuka matanya lebar-lebar.
"Acha! Apa yang kau lakukan! Panggil dia pangeran" teriak Raja Orn.
Acha terdiam, "Hah? Emang apa salahku? Kan, dia memang Brian! Temanku..." Batin Acha.
"Sudahlah kawan, jangan terlalu galak pada putrimu! Kedua anak kita kan tidak lama lagi menikah, jadi, jika Putri Acha memanggil putraku dengan namanya langsung, bukankah itu lebih baik?" jelas pria yang disebut "Raja Ferd" itu. Disitu, ia berperan sebagai ayah dari Brian.
"Eh? Me-menikah? Ma... maksudnya, aku mau nikah sama Brian? Takdir apa ini...." Acha tersenyum manis.
"Oh? Apa ini sebuah mimpi? Akhh tidak tau lah" Acha berlari ke arah Brian.
"Brian, eummm, ini dimana ya? Apa...ada sebuah syuting film?" tanya Acha yang sedikit mendekati Brian.
"Hei putri, apa yang kau lakukan? Menjauh dariku!" kesal pria itu yang disebut Pangeran Brian.
"Jangan bercanda lah! Ish, siapa yang daftarin gue yah?" tanya Acha.
"Gue?" Pangeran Brian merasa keheranan.
Acha mulai curiga pada semua kejadian ini.
"Btw, ini dimana yah?" tanya Acha.
"Btw? Hah? Apa itu? Ini kan, di negeri dongeng" ucap Pangeran Brian.
"Eh? Negeri apa itu si?" tanya Acha kembali.
Acha mencubit pipinya keras, "tidak sakit" ucap Acha.
Dilihatnya, sebuah pisau dengan piring dan sendok garpu di ruang makan. Acha berlari ke ruang makan dan menggores tangannya dengan pisau tajam disana.
Acha duduk bersimpuh di lantai, "Huftt, sudah kuduga! Ini mimpi...hanya mimpi!" Acha meneteskan air matanya.
Dari belakang, ada seseorang yang menarik bahunya.
"Apa kamu gila?" tanya Brian.
"Ya, aku gila! Aku gila karena terlalu berharap" Acha kembali meneteskan air matanya.
"Berharap? Maksudnya?" tanya Brian lagi.
Kedua raja menghampiri anak mereka itu.
"Tuan Putri, apa yang anda lakukan?" tanya Raja Fred.
Begitupun Raja Orn sebagai ayahnya, ia tak kalah khawatir pada putri "dalam dunia dongeng" nya itu.
"Pergi! Kalian semua pergi dari sini!" Teriak Acha.
"Nak, apa putraku melakukan hal yang tidak baik padamu? Atau, aku mempunyai kesalahan padamu, nak?" Tanya Raja Fred lembut.
"Kenapa kalian mengadakan pertunangan ini? Ini hanya sebuah keinginan kalian tersendiri sebagai seorang raja! Tanpa ikatan cinta, kalian seenaknya menjodohkan kami! Benar begitu kan, Pangeran Brian?" Acha menghapus air matanya, dan kembali berdiri.
"Pergi kalian semua! Kumohon.." ucap Acha kembali.
Kedua raja mengiyakan dan pergi berlalu meninggalkan Acha dan Brian dengan rasa cemas. Mau bagaimana lagi, ia juga harus memikirkan perasaan Acha bukan?
"Semua ini hanyalah mimpi semata!" ucap Acha tersenyum.
"Putri.." panggil Brian.
"Jangan panggil aku putri" ucap Acha dengan senyum pahitnya.
"Acha.." panggil Brian.
Acha menoleh, "ada apa lagi?" tanya Acha.
"Aku...tidak pernah merasa keberatan bertuangan, bahkan dijodohkan bersamamu!" Ucap Brian.
"Lalu, kenapa..sikapmu begitu cuek?" Acha kembali bertanya.
"Huhh...ya, sikap ku memang seperti itu! Semenjak kepergian ibuku, aku..jarang sekali bersosialisasi dengan orang lain" jelas Brian.
"Sama seperti kehidupan nyata, ibunya...telah meninggal. Brian, aku..aku tidak tahu harus kasihan, atau merasa kesal padamu" batin Acha.
"Acha, jangan lakukan hal yang aneh-aneh lagi ya! Sekalipun kau menolakku, jangan sakiti dirimu sendiri" ucap Brian tersenyum dan ingin berlalu.
Acha memeluk Brian dari belakang. "Siapa bilang? Kau...adalah jodoh dan anugerah terbaik untukku!" Ucap Acha dan disahut dengan senyuman indah dari bibir Brian.
"Hidup seperti ini juga baik. Di dunia nyata, aku selalu saja mendapat konflik masalah! Sementara, disini...aku disayang. Ya Tuhan, seandainya ini betul-betul mimpi, biarkan aku hidup lebih lama lagi! Aku..aku ingin menikmati hidup bahagia, walau, hanya sebentar" Acha meneteskan air mata gembira sekaligus sedih.