Inspirasi lagu Panggung Sandiwara yang populer ditahun 90-an oleh penyanyi Ahmad Albar adalah sedikit memberikan gambaran aneka ragam tingkah polah manusia.
Setiap manusia karakternya berbeda, ada yang jahat banget, jahat standar hingga jahat tiba-tiba karena kepepet, ada juga manusia baik, sampai baik banget, itulah panggung sandiwara.
Dua sisi baik dan buruk hanyalah garis besar didalam kehidupan di dunia ini. Sedangkan karakteristik, sifat dan tabiat manusia merupakan bumbu-bumbu dalam panggung sandiwara hingga menghasilkan dinamika dalam kehidupan.
Kita tak pernah tahu untuk apa kita dilahirkan. Apa dan bagaimana peran kita di dalam kehidupan ini? Kejadian demi kejadian yang aku alami membuatku berdefinisi bahwa semua ini adalah tugasku yang diberikan oleh Tuhan.
Aku bekerja pada siaran radio swasta di Wilayah Cirebon sebagai penyiar. Profesi ini mulanya hanya sebagai hobi yang menyenangkan karena dapat menghibur orang banyak, menyenangkan banyak orang. Bahkan disanjung, dipuja banyak orang layaknya sebritis.
Suatu ketika, ada fans dua wanita datang ke studio radio menemuiku. Wanita gemuk bernama Puput sekitar usia 30 tahun wajahnya biasa saja, sedangkan satunya wajahnya cantik berkulit putih dengan tubuh semampai namanya Lovely usia sekitar 27 tahun.
"Bang, aku ngefans banget loh.. Setiap hari selalu dengerin abang siaran," cerocos Puput. "Masa..?" Jawabku basa-basi dengan bangga hati.
Kulirik Lovely hanya senyum-senyum simpul. Rupanya agak pemalu tak seperti Puput yang langsung mengakrabkan diri hingga membuat suasana canggung jadi hilang.
Seiring berjalannya waktu tanda-tanda Lovely tertarik jatuh hati mulai kurasakan. Secara intens kami selalu komunikasi baik melalui sms (tahun 2000-an) belum ada WA dan telponan hingga bercerita problema didalam kehidupannya. Ternyata Lovely sudah bersuami dan memiliki satu anak berusia 3 tahunan.
Namanya penyiar sangat lumrah digila-gilai oleh banyak wanita. Katanya sih ngefans sama suaranya namun untungnya aku memiliki wajah yang lumayan ganteng sebagai penyiar sehingga setiap kali ada fans wanita yang ingin menemuiku, mereka tak kecewa melihat kegantenganku, hehehe...
Tak jarang pula berlanjut dengan telpon dan sms sama persis seperti yang terjalin dengan Lovely.
Selain Lovely, seorang fans wanita muda cantik berasal dari Majalengka pun terpikat padaku, nama udaranya Andin, usianya 20 tahunan. Secara bersamaan aku bermain hati dengan dua wanita tersebut. Gilanya lagi keduanya sama-sama sudah bersuami tapi Andin belum memiliki anak.
Aku jadi memahami kenapa Andin sukarela berselingkuh denganku ternyata karena kehidupan rumah tangganya sudah tak nyaman.
"Suamiku memiliki tabiat buruk, suka mabuk dan bahkan seringkali aku memdapat kekerasan. Aku sering dipukul dan di tampar," tutur Andin, saat berduaan didalam kamar hotel.
Andin lebih gila dibandingkan Lovely. Andin berani ngajak ketemuan di sebuah hotel di daerahnya di Majalengka. Dia juga yang boking hotelnya dia juga yang membayarnya. Dan sampai peristiwa tak patut pun kami lakukan. (maaf sensor).
Hampir setiap bulan sampai dua kali Andin mengajak ketemuan ditempat yang sama. Tiap kali bertemu ada saja barang yang dikasihkan buatku, entah uang, hape hingga cincin emas.
Disisi lain Lovely harus pindah ke Bandung untuk menyekolahkan anak perempuannya yang berkebutuhan khusus. Anak semata wayangnya menderita cacat fisik sejak lahir. Dia lahir prematur memiliki bentuk kaki yang tak sempurna, sehingga harus disekolahkan berkebutuhan khusus untuk bisa berjalan sekaligus belajar membaca, menulis dan menghitung seperti anak-anak normal umumnya.
"Kapan kesini (Bandung)," kata Lovely dari seberang telpon. "Nanti kalau aku kesana mau dikasih apa?" ujarku sedikit menggoda. "Apa aja deh aku kasih.." sahut Lovely meyakinkan.
"Aku kasih apa aja deh" kalimat itu yang terus terngiang-ngiang ditelingaku. Pikiran kotor langsung mendominasi diotakku. Penuh semangat juang 45 aku berangkat ke Bandung. Dari rumahku (Cirebon) berangkat pukul 06.00 WIB dengan naik sepeda motor untuk menemui Lovely yang ngekost di daerah sekitar Gedung Sate Bandung.
Sepanjang jalan dari mulai keluar Cirebon, menyusuri jalan pegunungan yang berkelok naik turun melintasi Majalengka, Sumedang hingga memasuki jalanan padat kota Bandung. Aku beristirahat sejenak di sebuah mini market di daerah Tanjung Sari perbatasan Sumedang-Bandung untuk membeli minuman setelah 3 jam berkendara dan meluruskan kaki serta punggung dari capek.
"Halo, A sampe mana.." suara Lovely di telpon. "Udah di Tanjungsari, lagi rehat dulu neng." jawabku.
"yaudah, hati-hati. Nanti kabari kalau udah sampe depan Gedung Sate ya.." kata Lovely dengan nada penuh harap dan cemas.
Jantungku semakin berdebar manakala melihat Lovely datang menghampiri dimana aku menungguinya ditepi jalan persis depan Gedung Sate sekitar pukul 10.15 wib.
Rambutnya yang sepunggung dicat merah jagung tersibak-sibak oleh lalu-lalang angkot. Berbalut t-shirt ketat putih menonjolkan buah dadanya dipadu celana jeans sobek-sobek dilututnya semakin menambah kebinalan ibu muda ini.
Pikiran ngeresku langsung bergolak merangkai imajinasi tinggi sampai semuanya buyar oleh tepukan dipundakku. "Woy! Ayo jalan.." kata Lovely yang sudah duduk diboncengan. Dengan mengikuti petunjunjuknya akhirnya sampai di kost-an masuk gang kecil sekitar 1,5 meteran lebaranya.
Motorku langsung masuk kedalam kost-an karena nggak ada tempat parkirnya. Kost-annya itu sebuah rumah bertingkat didalamnya banyak kamar-kamar yang dihuni oleh mahasiswi semua.
Setelah selasai kurapihkan helm dan sepatu ditempatnya, aku bergegas mengikuti Lovely masuk kedalam kamarnya. "Mana si kecilnya," tanyaku basa-basi. "Sengaja kutitipkan sama pembatu yang biasa bersih-bersih kostan disini" ujar Lovely.
Dalam hati kecilku bergumam, "wah ini memang udah diniatkan. Udah disetting, hihihi..." sambil senyum-senyum tak karuan.
"Apasih senyum-senyum.." hardik Lovely.
Tak kuhiraukan pertanyaan itu, aku langsung tubruk dari belakang tubuhnya yang sedang menutup pintu.
Lovely langsung balik badan hingga posisinya sangat rapat. Sejenak kutatap matanya, ada binar-binar pengharapan yang besar atau lebih tepatnya "Jablay" jarang dibelai. Terlihat dari agresifitasnya seakan haus belaian kasih sayang, Tak terasa kami sudah saling berpagutan. Lovèly bègitu agresif memainkan tangannya yang sudah jauh menyusuri kemana-mana dari tubuhku.
Huhungan tak selayaknya suami istri itu kembali terjadi seperti yang kulakukan bersama Andin di Majalengka. Entah berapa kali, aku nggak mau menghitungnya, namun kalau diingat-ingat pertama saat datang, kemudian kembali terulang pukul 16.00 wib usai bobo siang. Malam harinya nyaris tak tidur sepanjang malam hingga menjelang subuh.
Rutinitas Cirebon-Bandung nyaris kulakukan dua minggu sekali selama setahunan karena Lovely harus kembali ke rumah tak lagi ngekost. Kebetulan sama-sama berada di wilayah Cirebon hubungan terlarang pun kembali berlanjut. Lovely sangat pintar mengatur waktu dan memberikan alasan pada suaminya ketika ingin bertemu denganku.
"Setelah kenal denganmu hidupku kembali bergairah," tutur Lovely.
"Aku kembali merasakan kasih sayang, cinta bahkan kepuasan batin yang selama ini nggak pernah aku rasakan. Aku melakukan ini karena dendam dengan suamiku. Dia pecandu obat-obatan terlarang bahkan sampai sempat nyaris mencelakaiku akibat mabuk pengaruh obat-obatan haram itu. Sejak saat itu aku sudah tak mau lagi disentuh oleh suamiku, aku merasa sangat benci, sebenci-bencinya." ucap Lovely dengan pandangan nanar.
Alasan-alasan klise itu nyaris sama seperti yang diutarakan Andin. Keduanya akibat dikecewakan dan disakiti oleh suaminya. Perselingkuhan adalah satu-satunya cara agar membuat dirinya kembali hidup bergairah. Menemukan kembali kasih sayang hingga kepuasan batin yang selama itu tak keduanya dapatkan.
Namun yang menjadikanku terperangah, kedua wanita itu nyaris bunuh diri dalam keputus-asaanya sebelum bertemu denganku.
Kini keduanya kembali menjalani hidup dengan caranya masing-masing. Lovely tetap menjaga jarak dengan suaminya tetapi bahagia dengan aktifitasnya bersama komunitas ibu-ibu pengajian. Sedangkan Andin , dia sudah berganti suami dan hidup bahagia dengan mengelola warung makanan ditempat wisata didaerahnya.
Setelah 15 tahun berlalu kini aku, bertanya-tanya dalam hati sanubariku terdalam. Apakah aku diutus ke dunia ini menjadi penyelamat wanita-wanita dari keputus-asaannya? Meski dengan cara dan kisah yang sangat hina.
Dalam pembenaranku, ya aku memang menyelamatkan hidup kedua wanita itu dari keputus-asaan. Menjadikannya kembali dapat menjalani hidup dengan normal dan benar. Andai saja tak bertemu denganku dengan segala kisah laknatnya mungkin saja keadaannya tak lebih baik dari sekarang.
****************