Carlie menatap kosong rumah huniannya. Kini, rumah besar bercat putih itu tampak sunyi dan sepi. Pasca kecelakaan sepuluh hari yang lalu. Merenggut nyawa istri dan dua anaknya.
Carlie adalah pewaris tunggal dari keluarga besar Tuan Brian. Sayangnya, Tuan Brian dan Nyonya Rose telah meninggal satu tahun yang lalu.
Hai, Kak. Bantu like, dan komennya, ya. Terima kasih. Selamat membaca!
Carlie hampa tanpa keluarganya. Ia sendirian. Hanya ada orang-orang kepercayaannya.
Fiuh!
Carlie melepaskan napasnya secara kasar.
Ia jatuh kan bobotnya di atas sofa mocca yang empuk.
Menatap seisi ruangan.
"Merry," ucapnya lirih. Ia merindukan mendiang istrinya. Butir air mata meluncur di pipi putihnya.
Hari demi hari telah berlalu. Ia lewati tanpa belahan jiwa dan buah hati. Jiwanya kosong pikirannya, entah di mana.
"Akan aku jual rumah ini." Terlintas idenya.
Carlie beranjak dari duduknya.
Tap!
Tap!
Tap!
Ia menaiki anak tangga berjumlah dua puluh.
Ceklek!
Carlie membuka pintu kamarnya. Ia tatap sekeliling ruangan bernuansa ungu. Tentu, itu adalah warna favorit Merry.
Begitu banyak kenangan manis dan indah bersama Merry.
Carlie berjalan ke arah lemari coklat dan menarik gagang laci ia mencari sesuatu yang berharga.
Map bewarna biru ia ambil dan membukanya.
"Merry, Sean dan George. Maafkan, Papa. Rumah ini akan papa jual. Papa tak sanggup melihat kenangan indah kita." Bahunya terguncang. Tubuhnya merosot ke bawah.
Begitu rapuh relung jiwanya.
*
*
*
Sebulan kemudian ....
Carlie menjual rumah mewah miliknya. Dan ia membeli rumah villa sederhana. Dikelilingi pohon pinus dan cemara.
Ketika ia berniat berkeliling Carlie mendapatkan selebaran kertas.
"Pesta Halloween." Carlie membacanya. Terbesit keinginannya untuk menghadiri pesta tersebut. Senyum tersungging di bibirnya.
Menjelang malam Halloween Carlie mengenakan kostum layaknya drakula. Jubah berwarna hitam, pita merah melingkar di lehernya. Ia memakai topeng hitam tepat di kedua matanya saja.
Carlie mengetuk pintu disetiap rumah.
Tok!
Tok!
Tok!
Ceklek!
Anak laki-laki membuka pintu. Setidaknya mengobati kerinduannya pada Sean.
"Hai, Tuan. Selamat malam," sapanya.
Carlie tak menyahut ia menyodorkan sekeranjang kecil. Berisi coklat berbentuk bulat.
Kemudian ia pergi sebelum anak kecil itu menutup pintu.
Ketika Carlie berbalik ke belakang anak itu telah hilang. Entah, pintunya pun masih terbuka.
Carlie melanjutkan lagi ke rumah berikutnya, hingga habis keranjang berisi coklat bawaannya untuk dibagikan.
Di tengah perjalanan pulang Carlie melihat mobil truk di balik pepohonan. Ia pun tak menggubris dan melanjutkan perjalanan menuju pesta Halloween.
*
*
*
Keesokan harinya ....
Tersebar kertas bergambar potret pada tiang listrik.
"Hilang," ucap Carlie. Membaca isi tulisan tersebut.
Carlie mengenalinya.
"Bukankah, anak kecil ini ...," Kalimatnya menggantung.
Carlie melanjutkan langkahnya.
Tunggu!
"Kenapa hari ini banyak selebaran kertas pencarian orang hilang?"
Sepuluh anak hilang tanpa jejak.
Dua hari kemudian di kediaman Carlie.
Tok!
Tok!
Tok!
"Keluar kau!" Seseorang menggedor pintu.
"Hai, penculik! Keluar kau!" teriak seseorang riuh di luar.
Carlie mengintip di balik gorden. Ia pun ke luar.
Begitu Carlie ke luar ia dilempari batu krikil.
"Tunggu!" Carlie menutup kepalanya dengan tangan. Agar tidak terkena lemparan.
"Dasar penculik!" Maki orang-orang.
"Ada apa ini?" tanya Carlie bingung.
"Aku bersumpah melihat orang ini mengetuk pintu." Tuduh seseorang.
"Jangan-jangan dia penculiknya," balas seseorang lagi.
"Jangan asal menuduh. Aku hanya berbagi coklat," sanggah Carlie.
"Jangan bohong kau! Aku tahu latarbelakang mu. Keluargamu tewas semua kan?"
Pria gemuk berkumis itu memanasi keadaan agar kacau.
Carlie terdiam.
"Seret, dia! Bakar!"
Carlie tak bisa berbuat apa-apa. Ia telah dikepung dan diarak.
"Siapkan tali. Ikat dia sekarang juga!" Seseorang memerintahkan kepada yang lain.
Carlie diikat di batang pohon.
"Bakar dia!"
"Tunggu! Aku mohon ...."
Salah satu dari mereka menyiramkan bensin ke tubuh Carlie.
Lalu, menyalakan pemantik api.
"Jangan! Aku mohon ...." Carlie memohon. Ia juga menangis. Tapi, tak ada yang mendengarkan.
Api menyala besar melahap tubuh Carlie.
"Tolong! Aku tak bersalah. Jika terbukti aku tak menyulik, anak. Aku bersumpah arwahku bergentayangan menuntut keadilan!"
Jduarr!
Halilintar menyambar setelah Carlie mengucapkan sumpahnya.
Di balik semak-semak seseorang tersenyum lebar.
Carlie hangus terbakar ia pun tewas di tangan orang-orang biadab yang main hakim sendiri.
Sirine mobil polisi nyaring memekakkan telinga. Mereka datang, sayang sudah terlambat. Carlie hangus tak bernyawa.
Orang-orang pun membubarkan diri.
*
*
*
Tiga hari kemudian kepolisian Los Angeles memeriksa dan menyelidiki kasus yang menimpa Carlie.
Hasilnya adalah Carlie bukan pelakunya. Terbukti dari rekaman CCTV. Carlie mengetuk pintu dan membagikan sekeranjang coklat. Setelah Carlie berbalik anak kecil itu hilang. Mulutnya dibekap, lalu anak kecil itu digendong oleh seseorang yang memakai baju serba hitam. Dan menggunakan topeng badut.
Orang-orang yang mengetahui hal itu mereka menyesali perbuatannya. Dan mereka takut akan sumpah Carlie.
Di malam hari ....
Hujan di sertakan angin kencang. Di rumah penculik sebenarnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketika pintu dibuka. Tak ada seorangpun berada di sana.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan itu kembali terdengar.
Ceklek!
Carlie berdiri dengan tubuh hangus dan mengenaskan. Angin membawa aroma tubuhnya yang hangus.
Aaaa!
Bruk!
Tubuh pria itu ambruk tak sadarkan diri. Dia lah orang yang menjadi provokator.
Wusssh!
Sosok Carlie hilang.
Di rumah lain ....
Tok!
Tok!
Tok!
Ceklek!
Aaaa!
Pria yang membakar Carlie gemetar ketakutan.
Ia bersimpuh memohon.
"Carlie ... Ampuni aku," ucapnya mengiba.
Carlie menyeringai menakutkan. Dan tubuhnya, hancur bak daging yang telah busuk serta gosong.
"Ampuni aku, Carlie." Tubuhnya gemetaran.
"Hahaha!" Carlie tertawa terbahak-bahak.
"Kau ingat, apa yang kau lakukan terhadapku?"
Carlie mencekik pria itu.
"Aku mohon---,"
Tubuhnya meronta-ronta. Kemudian kehabisan napas dan meninggal.
Satu per satu orang-orang yang telah membakarnya. Telah diteror hingga mati.
Sebagian orang menabur bunga di tempat kejadian pembakaran Carlie. Sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maaf.
Meskipun demikian teror Carlie terus menghantui.
Bila peringatan Halloween maka ia akan mengetuk pintu dari rumah ke rumah.
Selesai